MoneyTalk, Jakarta – Keputusan pemerintah Indonesia untuk membeli kapal induk ringan Giuseppe Garibaldi dari Italia menjadi langkah strategis yang menandai ambisi baru Indonesia sebagai kekuatan maritim regional. Kapal induk ini diyakini akan memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik, khususnya di kawasan Laut China Selatan yang kian memanas.
Kabar mengenai pembelian kapal induk ini telah menimbulkan perhatian luas. Kapal Giuseppe Garibaldi, yang sebelumnya menjadi tulang punggung Angkatan Laut Italia sejak era 1980-an, kini bersiap masuk ke dalam jajaran armada TNI Angkatan Laut. Meski sudah dinonaktifkan oleh Italia pada 2024, kapal ini tetap dipandang sebagai aset berharga setelah melalui proses refit dan modernisasi.
Dengan panjang lebih dari 180 meter, dek penerbangan luas, serta kemampuan membawa helikopter dan pesawat tempur dengan teknologi lepas landas pendek, kapal ini diyakini akan menjadi simbol kekuatan baru Indonesia.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang berasal dari kalangan militer. Menurutnya, Prabowo memahami pentingnya kekuatan maritim dalam menjaga kedaulatan negara kepulauan seperti Indonesia.
“Dengan kapal induk, Indonesia tidak hanya menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara, tetapi juga mampu memperlihatkan deterrence di kawasan Laut China Selatan. Ini sinyal kuat bahwa Indonesia serius menjaga kepentingannya di jalur pelayaran internasional,” ujar Amir, Jumat (3/10/2025).
Ia menambahkan, kapal induk juga akan memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia. “Kehadiran kapal induk di kawasan bisa menjadi alat negosiasi dan diplomasi maritim. Negara lain akan lebih menghitung posisi Indonesia,” tambahnya.
Selama ini, TNI AL mengandalkan kapal fregat, korvet, hingga kapal perusak kawal rudal (PKR) untuk menjaga kedaulatan maritim. Dengan masuknya kapal induk, postur TNI AL akan berubah drastis. Kapal induk akan menjadi pusat kendali udara-laut, memungkinkan pengoperasian helikopter anti-kapal selam, drone maritim, hingga pesawat patroli.
Selain untuk pertahanan, kapal induk juga bisa dimanfaatkan untuk misi non-militer, seperti bantuan kemanusiaan saat bencana, evakuasi warga, maupun operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).
Meski membawa kebanggaan, langkah ini tidak lepas dari tantangan besar. Biaya akuisisi yang diperkirakan mencapai US$450 juta hanyalah awal. Pengoperasian kapal induk membutuhkan anggaran miliaran dolar setiap tahunnya untuk bahan bakar, pemeliharaan, suku cadang, hingga pelatihan ribuan awak kapal dan pilot helikopter.
Selain itu, kata Amir infrastruktur pendukung di pelabuhan utama seperti Surabaya, Jakarta, atau Bitung juga harus ditingkatkan agar mampu menampung kapal induk. “Tanpa kesiapan infrastruktur, kapal ini bisa menjadi “macan kertas” yang lebih banyak diam di dermaga daripada berlayar,” paparnya.
Di tingkat regional, pembelian kapal induk ini akan mengundang perhatian serius negara-negara tetangga.
-Singapura mungkin melihatnya sebagai tantangan, karena selama ini mereka mengandalkan kekuatan udara canggih untuk menjaga wilayahnya.
-Malaysia dan Vietnam, yang juga bersinggungan dengan Laut China Selatan, akan mencermati langkah Indonesia sebagai peningkatan postur militer yang signifikan.
-China, meski Indonesia bukan klaim utama Laut China Selatan, bisa menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa Indonesia siap menghadapi tekanan, khususnya di wilayah Natuna.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa selama Indonesia menekankan fungsi non-agresif kapal induk, seperti patroli keamanan laut dan operasi kemanusiaan, maka kehadirannya bisa diterima sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan.
Setelah kesepakatan tercapai, kapal akan melalui proses refit di galangan Fincantieri di Italia. Proses ini mencakup:
-Modernisasi sistem navigasi dan radar.
-Konversi dek penerbangan agar optimal untuk helikopter dan drone.
-Peremajaan mesin dan sistem propulsi.
-Penyesuaian fasilitas awak kapal sesuai kebutuhan TNI AL.
-Proses refit diperkirakan memakan waktu 2–3 tahun sebelum akhirnya kapal tiba di Indonesia.
Pembelian kapal induk Giuseppe Garibaldi menandai ambisi besar Indonesia untuk naik kelas menjadi kekuatan maritim utama di Asia Tenggara. Keputusan ini mencerminkan visi Presiden Prabowo Subianto yang berupaya menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kemampuan pertahanan laut yang kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Namun, tantangan ke depan tidak kecil. Anggaran operasional, kesiapan sumber daya manusia, dan diplomasi kawasan harus ditangani dengan serius agar kapal induk ini benar-benar menjadi simbol kekuatan sekaligus instrumen strategis bagi Indonesia, bukan sekadar ikon militer yang mahal.




