MoneyTalk, Jakarta – Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Ayang Utriza Yakin, melontarkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan bencana yang dinilai tidak maksimal dan minim empati terhadap korban di lapangan.
Dalam pernyataannya, Ayang menegaskan bahwa kemanusiaan seharusnya ditempatkan di atas hukum dan peraturan, terutama dalam situasi darurat bencana yang menimpa rakyat.
“Kemanusiaan, Pak Prabowo. Di atas hukum dan peraturan itu ada kemanusiaan,” ujar Ayang di akun media sosialnya, Sabtu (20/12/2025).
Menurutnya, kegagalan pemerintah dalam merespons secara cepat dan menyeluruh tidak lepas dari pola kepemimpinan yang hanya mengandalkan laporan administratif, tanpa turun langsung melihat penderitaan rakyat.
“Kenyataan di lapangan, pemerintahan Anda tidak maksimal membantu karena Anda hanya mendengar laporan,” tegasnya.
Ayang bahkan menyebut Presiden Prabowo kehilangan rasa empati, karena tidak pernah merasakan langsung menjadi rakyat kecil yang tertimpa bencana.
“Anda tidak punya rasa, karena Anda tidak pernah jadi rakyat yang tertimpa bencana,” katanya dengan nada keras.
Ia menilai, dalam situasi krisis kemanusiaan, kepekaan dan empati pemimpin jauh lebih penting dibanding prosedur birokrasi yang berbelit. Negara, kata dia, tidak boleh hadir hanya sebatas simbol, tetapi harus benar-benar dirasakan kehadirannya oleh korban.
Ayang pun menyerukan agar Presiden Prabowo mengutamakan rasa kemanusiaan, bukan sekadar kepatuhan pada aturan formal yang justru memperlambat pertolongan.
“Kedepankan rasa kemanusiaan,” pungkasnya.
Pernyataan ini menambah daftar kritik publik terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan bencana, yang belakangan dinilai lamban, tertutup, dan minim empati terhadap penderitaan rakyat.





