MoneyTalk.id,Jakarta – Di balik sensasi rasa asam, manis, dan menyegarkan, minuman kemasan ternyata menyimpan persoalan yang patut menjadi perhatian masyarakat. Kandungan gula yang tinggi dalam minuman ringan berpotensi menjadi ancaman kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.
Sorotan tersebut mencuat setelah pengamat media sosial dan analis data, Ismail Fahmi, mengungkap kandungan gula dalam produk minuman bersoda rasa nipis dan madu, Nipis Madu. Melalui unggahannya di media sosial X (Twitter), Ismail mengaku terkejut setelah membaca informasi nilai gizi pada kemasan produk tersebut.
“Saya pikir kecut seger, ternyata gulanya 22 gr / 5.5 sendok teh,” tulis Ismail Fahmi dalam unggahannya yang disertai foto label informasi nilai gizi.
Temuan tersebut memantik perhatian publik. Pasalnya, minuman yang identik dengan rasa segar dan asam-manis itu ternyata mengandung gula dalam jumlah yang cukup besar untuk satu kali konsumsi.
Persoalan lainnya adalah ukuran tulisan pada tabel informasi nilai gizi yang dinilai terlalu kecil sehingga menyulitkan konsumen untuk membaca kandungan produk sebelum membelinya.
Kejadian ini kembali membuka diskusi mengenai transparansi informasi pangan olahan, kebiasaan masyarakat mengonsumsi minuman manis, serta tanggung jawab produsen dalam memberikan informasi yang mudah dipahami konsumen.
Berdasarkan angka yang ditampilkan pada label produk dalam unggahan Ismail Fahmi, satu botol Nipis Madu mengandung 22 gram gula atau setara dengan sekitar 5,5 sendok teh.
Angka tersebut perlu diperhatikan jika dibandingkan dengan anjuran konsumsi gula harian dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau empat sendok makan per orang per hari. Artinya, satu botol minuman dengan kandungan gula 22 gram telah menyumbang sekitar 44 persen dari batas konsumsi harian tersebut.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pembatasan asupan gula bebas kurang dari 10 persen total kebutuhan energi harian. WHO juga menyarankan pengurangan hingga kurang dari 5 persen untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan, yang setara dengan sekitar 25 gram atau enam sendok teh gula pada pola konsumsi 2.000 kalori sehari.
Dengan demikian, kandungan gula 22 gram dalam satu botol Nipis Madu sudah mendekati angka 25 gram tersebut.
Perlu dicatat, angka 25 gram merupakan sasaran pengurangan asupan gula bebas untuk manfaat kesehatan tambahan, bukan batas yang secara otomatis berlaku sama bagi setiap orang. Kebutuhan energi dan kondisi kesehatan masing-masing individu tetap perlu diperhitungkan.
Namun, persoalan tidak berhenti pada satu botol minuman. Konsumen masih memperoleh asupan gula dari nasi, makanan ringan, kopi, teh manis, saus, dan berbagai produk pangan lainnya sepanjang hari.
Jika konsumsi minuman manis dilakukan berulang kali tanpa memperhitungkan asupan dari makanan lain, jumlah gula harian dapat dengan mudah melampaui anjuran kesehatan.
WHO telah mengingatkan bahwa konsumsi gula bebas secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko berat badan berlebih, obesitas, dan kerusakan gigi. Konsumsi minuman berpemanis juga menjadi perhatian karena dapat menambah asupan kalori tanpa memberikan rasa kenyang yang setara dengan makanan padat.
Dalam publikasi mengenai pengurangan konsumsi minuman berpemanis, WHO menjelaskan bahwa kalori dari minuman manis dapat meningkatkan total asupan energi dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan apabila tidak diimbangi pengeluaran energi yang memadai.
Sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain:
1. Diabetes melitus tipe 2
Konsumsi minuman tinggi gula secara rutin dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan kalori dan peningkatan berat badan. Kondisi tersebut merupakan faktor risiko diabetes tipe 2, terutama apabila disertai pola makan tidak seimbang dan kurang aktivitas fisik.
2. Obesitas dan penumpukan lemak tubuh
Kalori dari minuman manis sering kali tidak memberikan rasa kenyang yang sama dengan makanan padat. Akibatnya, seseorang berpotensi mengonsumsi kalori tambahan tanpa menyadarinya. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu kenaikan berat badan dan obesitas.
3. Penyakit jantung dan gangguan metabolisme
Asupan gula berlebihan dapat berkontribusi terhadap gangguan metabolisme, termasuk peningkatan trigliserida dan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Risiko ini semakin perlu diperhatikan apabila konsumsi gula tinggi disertai obesitas, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat.
4. Penyakit hati berlemak
Konsumsi gula tambahan dalam jumlah tinggi, khususnya dari minuman berpemanis, dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak di hati. Risiko tersebut berkaitan dengan pola konsumsi kalori berlebih dan gangguan metabolisme, bukan semata-mata akibat satu kali mengonsumsi minuman manis.
5. Kerusakan gigi
Gula yang dikonsumsi bakteri di dalam mulut menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan enamel gigi. Konsumsi minuman manis secara berulang, terutama ketika kebersihan gigi tidak terjaga, meningkatkan risiko gigi berlubang.
Risiko-risiko tersebut tidak berarti seseorang akan langsung mengalami penyakit setelah meminum satu botol minuman manis. Ancaman kesehatan lebih berkaitan dengan pola konsumsi, jumlah asupan gula secara keseluruhan, kondisi tubuh, serta gaya hidup dalam jangka panjang.
Label Gizi Kecil, Konsumen Bisa Kehilangan Hak atas Informasi
Selain kandungan gula, kritik Ismail Fahmi juga menyoroti ukuran tulisan pada tabel informasi nilai gizi yang dinilai sulit dibaca.
Padahal, informasi tersebut merupakan salah satu instrumen penting bagi konsumen untuk mengetahui kandungan gula, energi, lemak, dan zat gizi lainnya sebelum memutuskan membeli produk.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui edukasi resminya mengimbau masyarakat membiasakan diri membaca informasi nilai gizi pada pangan olahan agar dapat menghindari konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan.
Persoalannya, informasi yang tersedia tidak akan memberikan manfaat optimal apabila konsumen kesulitan membacanya.
Ukuran huruf, kontras warna, tata letak, dan kejelasan penyajian informasi menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam desain kemasan.
Kritik terhadap keterbacaan label juga relevan dengan upaya pemerintah memperkuat edukasi gizi. Konsumen seharusnya dapat memahami kandungan produk secara cepat tanpa harus menggunakan alat bantu atau mencari informasi tambahan di internet.
Dalam hal ini, transparansi bukan hanya persoalan mencantumkan informasi, melainkan juga memastikan informasi tersebut dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat luas.
Produsen Punya Tanggung Jawab, Konsumen Berhak Memilih
Dari sisi industri, minuman ringan berkarbonasi seperti Nipis Madu merupakan produk yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap minuman praktis dengan karakter rasa tertentu.
Pencantuman informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan menjadi bagian dari kewajiban informasi produk pangan olahan. Namun, keberadaan label tersebut tidak serta-merta menghilangkan pentingnya edukasi mengenai konsumsi gula secara bijak.
Produsen juga menghadapi tantangan untuk menghadirkan produk dengan rasa yang disukai konsumen sekaligus memperhatikan aspek kesehatan masyarakat.
Pengembangan formulasi dengan pengurangan gula, penyediaan pilihan ukuran kemasan, dan penyajian informasi gizi yang lebih mudah dibaca dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan tanggung jawab industri.
Di sisi lain, konsumen perlu memahami bahwa rasa asam, sensasi bersoda, atau kesan menyegarkan tidak selalu mencerminkan rendahnya kandungan gula dalam suatu produk.
Membaca label menjadi langkah sederhana yang dapat membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan informasi, bukan hanya berdasarkan rasa dan tampilan kemasan.
Pemerintah Perlu Memperkuat Edukasi dan Pelabelan Gizi
Perbincangan mengenai kandungan gula Nipis Madu juga menjadi pengingat bahwa persoalan minuman berpemanis tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada konsumen.
Pemerintah, regulator, dan industri memiliki peran masing-masing dalam membangun lingkungan konsumsi yang lebih sehat.
BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Regulasi tersebut antara lain mengatur penerapan label gizi pada bagian depan kemasan atau Nutri-Level sebagai salah satu upaya membantu konsumen mengenali kandungan gizi produk.
Sistem pelabelan yang lebih sederhana diharapkan dapat membantu masyarakat membandingkan produk dengan lebih mudah, terutama ketika berhadapan dengan berbagai pilihan minuman di toko maupun supermarket.
Edukasi juga perlu diperluas ke sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat agar kebiasaan membaca label gizi terbentuk sejak dini.
Pada akhirnya, persoalan 22 gram gula dalam satu botol Nipis Madu bukan semata-mata tentang satu merek minuman. Isu ini menggambarkan tantangan yang lebih luas mengenai pola konsumsi masyarakat, keterbukaan informasi produk, dan pentingnya menjaga kesehatan di tengah maraknya minuman manis dalam kemasan.
Sensasi segar memang dapat dinikmati dalam sekejap. Namun, dampak pola konsumsi yang tidak terkendali dapat berlangsung jauh lebih lama.
Karena itu, sebelum membuka botol minuman berikutnya, ada baiknya konsumen terlebih dahulu membaca labelnya. Sebab, rasa manis yang menyenangkan di lidah belum tentu sejalan dengan kebutuhan tubuh.





