Ekonom Senior: Selama Rezim Prabowo Berkuasa, Pelarian Modal Terus Berlangsung

  • Bagikan
Ekonom Senior: Selama Rezim Prabowo Berkuasa, Pelarian Modal Terus Berlangsung
Ekonom Senior: Selama Rezim Prabowo Berkuasa, Pelarian Modal Terus Berlangsung

MoneyTalk.id,Jakarta – Ekonom senior Ferry Latuhihin memperingatkan risiko berlanjutnya pelarian modal dari Indonesia di tengah tekanan pasar saham dan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai ketidakpastian kebijakan dan persoalan struktural ekonomi dapat memperburuk kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia.

Dalam pernyataannya di sebuah podcast, Ferry menyoroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang disebut merosot hampir 11 persen pada sesi perdagangan pagi hingga menyentuh level 5.233.

Menurut dia, penurunan tersebut jauh lebih dalam dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menempatkan IHSG berpotensi turun ke level 5.500.

“Hari ini benar-benar menjadi neraka bagi para pemain saham di pasar modal kita. Kita sudah jelas akan dihindari oleh investor,” ujarnya, Ahad (18/10/2026).

Ia menilai tekanan di pasar saham bukan persoalan yang bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, pergerakan indeks mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi, meskipun penyebab penurunan pasar perlu ditelaah melalui data transaksi dan perkembangan ekonomi secara menyeluruh.

Ferry memperkirakan pelarian modal atau capital flight berpotensi terus berlangsung selama pemerintahan Prabowo berkuasa apabila arah kebijakan ekonomi tidak memberikan kepastian kepada dunia usaha dan investor.

“Pelarian modal atau capital flight saya yakin masih akan terus berlangsung selama rezim Prabowo ini berkuasa. Karena apa? Karena kebijakan-kebijakan ekonominya tidak ada yang masuk akal. Dan kesannya adalah anti bisnis,” katanya.

Pernyataan tersebut mencerminkan kritik keras terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Namun, untuk memastikan apakah benar terjadi peningkatan pelarian modal, diperlukan data arus investasi, transaksi investor asing di pasar saham dan obligasi, serta pergerakan dana lintas negara.

Dalam situasi pasar yang bergejolak, investor umumnya mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menempatkan dananya, mulai dari kepastian regulasi, prospek pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, hingga kondisi pasar keuangan global.

Perhatian Ferry juga tertuju pada Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks pasar modal global yang menjadi salah satu rujukan investor institusional internasional.

Ia menyinggung pengumuman MSCI yang disebut membuka konsultasi mengenai perubahan klasifikasi pasar Indonesia menjadi stand-alone market.

Menurut dia, perubahan status tersebut dapat menimbulkan persoalan serius bagi persepsi investor internasional terhadap pasar modal Indonesia. Ia bahkan membandingkan status yang dimaksud dengan negara-negara yang selama ini dipandang memiliki akses terbatas terhadap investasi berbasis indeks global.

Meski demikian, rincian pengumuman MSCI, alasan perubahan klasifikasi, serta implikasinya terhadap arus investasi perlu merujuk pada dokumen resmi MSCI. Perubahan klasifikasi pasar tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh investor asing akan meninggalkan Indonesia.

Apabila perubahan tersebut benar-benar diberlakukan, dampaknya terhadap investasi akan bergantung pada ketentuan klasifikasi, respons pengelola dana, dan penyesuaian portofolio investor yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.

Selain pasar modal, Ferry menyoroti struktur ekonomi nasional, terutama kontribusi sektor industri pengolahan atau manufaktur terhadap perekonomian.

Ia menyebut kontribusi sektor manufaktur terus mengalami penurunan secara sistematis dan kini berada di kisaran 18 hingga 18,5 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tantangan mendasar bagi perekonomian Indonesia. Industri manufaktur berperan dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat ekspor, dan mendorong produktivitas.

Jika peran industri pengolahan terus melemah, Indonesia menghadapi tantangan untuk memperluas basis produksi dan menciptakan pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi.

Namun, penilaian mengenai penurunan kontribusi manufaktur perlu disertai data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk perbandingan kontribusi sektor tersebut dari tahun ke tahun. Persentase kontribusi terhadap produk domestik bruto juga perlu dibedakan dari pertumbuhan riil produksi industri.

Ferry juga memperingatkan risiko apabila nilai tukar rupiah terus melemah hingga dolar Amerika Serikat menembus Rp20.000.

Ia mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat memicu tekanan ekonomi yang lebih serius pada tahun berikutnya.

“Kita tidak bisa terus-menerus keep going on like this. Saya yakin banget tahun depan bisa terjadi sesuatu yang kritis dengan ekonomi kita kalau sampai dolar itu lari ke atas 20 ribu. Nah ini sangat berbahaya sekali,” katanya.

Pelemahan rupiah yang tajam berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku, barang modal, dan energi yang dibayar dalam dolar AS. Perusahaan yang memiliki kewajiban dalam valuta asing juga dapat menghadapi beban pembayaran lebih besar apabila tidak memiliki lindung nilai yang memadai.

Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah tidak selalu sama bagi setiap sektor. Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS dapat memperoleh keuntungan tertentu, bergantung pada struktur biaya dan kewajiban mereka.

Karena itu, risiko ekonomi perlu dinilai dengan melihat pergerakan nilai tukar, inflasi, kondisi utang luar negeri, cadangan devisa, serta kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas keuangan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *