7 November 2026

Ahmad Muzani

MoneyTalk.id,Jakarta – Pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dinilai bukan semata-mata rotasi jabatan, melainkan bagian dari langkah strategis Presiden Prabowo Subianto untuk menata ulang kekuatan politik dan institusi negara.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyebut Prabowo sedang menjalankan strategi perubahan cepat atau blitzkrieg, istilah militer dalam bahasa Jerman yang berarti serangan kilat.

Menurut Amir, Prabowo memahami bahwa pembenahan pemerintahan tidak mungkin dilakukan sekaligus. Karena itu, diperlukan langkah bertahap, tetapi terukur, dengan memprioritaskan posisi-posisi strategis yang menentukan efektivitas kekuasaan.

“Prabowo melakukan blitzkrieg. Tidak mungkin semuanya bisa dilunasi sekaligus. Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Harapan publik, reshuffle ini menjadi momentum untuk membebaskan pemerintahan dari pengaruh rezim lama,” ujar Amir Hamzah dalam keterangannya, Rabu (1/10/2026).

Ia menilai, pergantian Kapolri merupakan salah satu langkah penting dalam rangka mengelola kekuasaan Prabowo. Sebab, kekuasaan tidak cukup hanya ditopang oleh legitimasi politik, tetapi juga membutuhkan kekuatan institusional yang solid.

Amir mengaitkan strategi tersebut dengan pemikiran Sun Tzu dalam The Art of War dan Carl von Clausewitz, ahli strategi militer Jerman.

Menurutnya, Sun Tzu menekankan pentingnya strategi, kecermatan membaca situasi, dan kemampuan mengalahkan lawan melalui perhitungan yang matang. Sementara Clausewitz memberikan perhatian besar terhadap penggunaan kekuatan dalam mencapai tujuan politik.

“Kalau Clausewitz memperlihatkan pentingnya kekuatan, Sun Tzu mengajarkan bagaimana kekuatan itu digunakan melalui strategi. Prabowo tampaknya memahami bahwa mengelola kekuasaan membutuhkan keduanya,” katanya.

Amir menilai pilihan Prabowo terhadap Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai calon Kapolri bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba.

Menurut dia, Suyudi memiliki pengalaman di bidang intelijen dan reserse yang menjadi modal penting untuk memimpin institusi kepolisian, terutama dalam menghadapi tantangan penegakan hukum dan pembenahan internal.

Ia menduga Prabowo telah mengamati rekam jejak Suyudi sejak menjabat Kapolda Banten.

“Prabowo sudah mengintip Suyudi ketika menjadi Kapolda Banten. Dia melihat kapasitas, pengalaman intelijen, dan kemampuan reserse yang dimiliki Suyudi. Ini bukan keputusan tanpa pertimbangan,” ungkap Amir.

Pada Kamis (1/10/2026), DPR RI menyetujui Suyudi sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Persetujuan tersebut diberikan dalam Rapat Paripurna ke-8 DPR RI setelah sebelumnya Komisi III menyepakati pencalonan Suyudi secara aklamasi.

Amir juga menghubungkan langkah Prabowo tersebut dengan pola kepemimpinan Presiden Soeharto yang, menurut pandangannya, memiliki strategi tersendiri dalam mengadopsi dan menempatkan kader bangsa pada posisi-posisi penting pemerintahan.

Ia melihat Prabowo sedang membangun konfigurasi kekuasaan yang tidak hanya bergantung pada satu institusi, melainkan melibatkan berbagai simpul strategis dalam pemerintahan dan lembaga negara.

Amir mencontohkan bagaimana kekuatan politik di lembaga legislatif menjadi bagian dari konfigurasi tersebut.

Di MPR, posisi Ketua dijabat Ahmad Muzani. Sementara di DPR, Puan Maharani secara formal menjabat sebagai Ketua DPR, tetapi Amir menilai Sufmi Dasco Ahmad memiliki peran penting dalam dinamika politik dan komunikasi antar kekuatan di parlemen.

Menurut Amir, konfigurasi tersebut memperlihatkan bagaimana Prabowo membangun hubungan politik dengan berbagai institusi untuk memastikan agenda pemerintahan dapat berjalan.

“Prabowo sedang membangun kekuatan. Ada MPR, DPR, dan berbagai simpul politik yang saling berkaitan. Ini bagian dari cara mengelola kekuasaan agar pemerintahan berjalan efektif,” ujarnya.

Ia menilai konsolidasi tersebut tidak berhenti pada lembaga legislatif. Institusi penegak hukum dan pertahanan juga menjadi bagian penting dalam strategi pemerintahan.

Setelah pergantian Kapolri, Amir memperkirakan penataan kepemimpinan pada institusi strategis lainnya akan menjadi perhatian publik, termasuk Panglima TNI dan Jaksa Agung.

Namun, ia menekankan bahwa perubahan pada institusi-institusi tersebut harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan strategi pemerintahan, bukan semata-mata pergantian individu.

Menurutnya, keberhasilan konsolidasi kekuasaan akan sangat ditentukan oleh kemampuan Prabowo membangun koordinasi antarlembaga, menjaga loyalitas terhadap konstitusi, serta memastikan setiap institusi bekerja sesuai kewenangannya.

“Kapolri, Panglima TNI, dan Jaksa Agung merupakan posisi strategis. Kalau pemerintah ingin melakukan pembenahan secara menyeluruh, tentu hubungan antarlembaga ini menjadi sangat penting,” katanya.

Amir menilai tantangan langsung bagi Suyudi setelah resmi menjabat Kapolri adalah melakukan penataan internal Polri, terutama di Bareskrim dan jajaran Kepolisian Daerah (Polda).

Menurutnya, pembenahan tidak cukup dilakukan pada tingkat pimpinan tertinggi. Reformasi harus menyentuh mekanisme penegakan hukum, tata kelola penyidikan, profesionalisme aparat, serta pengawasan terhadap anggota kepolisian.

Ia menilai Bareskrim memiliki posisi penting karena menangani berbagai perkara pidana yang berdampak luas terhadap kepentingan publik.

“Penataan internal harus dimulai dari Mabes Polri, khususnya Bareskrim dan Polda. Jangan sampai pergantian Kapolri hanya mengubah pucuk pimpinan, tetapi persoalan di bawahnya tetap berjalan seperti sebelumnya,” tegas Amir.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga independensi penyidik agar penegakan hukum tidak menjadi alat kepentingan politik kelompok tertentu.

Dalam pandangan Amir, perubahan kepemimpinan Polri juga memunculkan harapan publik terhadap penegakan hukum atas berbagai perkara yang menjadi sorotan nasional.

Ia menyebut tidak tertutup kemungkinan Bareskrim melakukan pemanggilan terhadap Joko Widodo (Jokowi) apabila terdapat dasar hukum, bukti permulaan, dan kebutuhan penyidikan yang relevan dengan perkara tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan Amir dalam kaitannya dengan berbagai pengakuan dan tuduhan yang berkembang di ruang publik mengenai dugaan keterlibatan sejumlah pihak dalam kasus korupsi.

Meski demikian, pemanggilan seseorang dalam proses hukum harus didasarkan pada alat bukti dan prosedur yang berlaku, bukan semata-mata tekanan atau ekspektasi politik.

Amir menilai, independensi penegakan hukum akan menjadi salah satu tolok ukur penting bagi kepemimpinan Suyudi.

“Kalau memang ada perkara yang membutuhkan pemeriksaan, Bareskrim harus bekerja secara profesional. Siapa pun orangnya, semua harus diperlakukan sama di hadapan hukum,” ujarnya.

Menurut Amir, pergantian Kapolri menjadi momentum untuk menguji sejauh mana Prabowo mampu menerjemahkan konsolidasi kekuasaan menjadi pembenahan institusi negara.

Baginya, kekuatan pemerintahan tidak hanya diukur dari kemampuan presiden menempatkan orang-orang kepercayaannya dalam jabatan strategis, tetapi juga dari keberanian membangun sistem hukum yang adil, transparan, dan tidak tebang pilih.

Dengan demikian, langkah Prabowo melakukan reshuffle dan memilih Suyudi sebagai Kapolri akan terus menjadi perhatian publik, terutama dalam melihat arah hubungan kekuasaan, independensi aparat, dan masa depan reformasi penegakan hukum di Indonesia.

MoneyTalk.id,Jakarta – Buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi sorotan publik. Polemik tersebut mendapat perhatian dari pengamat politik dan hukum Muslim Arbi yang menilai munculnya buku tersebut perlu dilihat secara kritis, terutama terkait proses pembuatannya dan pencantuman nama Presiden Prabowo Subianto.

Muslim Arbi menduga pihak yang menginisiasi buku tersebut merupakan bagian dari operasi politik untuk melakukan pembusukan terhadap Presiden Prabowo.

Menurut Muslim, dugaan tersebut perlu dicermati karena, berdasarkan informasi yang berkembang, buku itu dibuat tanpa sepengetahuan dan izin langsung dari Prabowo.

“Inisiator buku Islam ala Prabowo diduga bagian dari operasi pembusukan terhadap Presiden,” kata Muslim Arbi kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).

Ia menilai penggunaan nama kepala negara dalam sebuah buku yang mengangkat isu agama merupakan persoalan yang sensitif. Apalagi, judul buku tersebut secara langsung mengaitkan sosok Prabowo dengan perspektif keislaman tertentu.

Muslim meminta agar proses di balik penerbitan buku tersebut dibuka secara terang kepada publik. Menurut dia, masyarakat perlu mengetahui siapa yang menggagas, siapa yang menyusun, bagaimana proses pengumpulan bahan dilakukan, serta sejauh mana Presiden Prabowo mengetahui dan menyetujui penerbitannya.

“Pembuatan buku itu tanpa sepengetahuan dan izin Prabowo. Karena itu, Prabowo harus mewaspadai orang-orang di sekelilingnya yang diduga melakukan pembusukan,” ujarnya.

Muslim mengatakan, penggunaan nama seorang presiden dalam sebuah karya yang berkaitan dengan agama memiliki konsekuensi politik dan citra yang besar.

Karena itu, menurut dia, apabila benar Prabowo tidak mengetahui proses pembuatan maupun penerbitan buku tersebut, persoalan itu tidak semestinya dianggap sebagai perkara kecil.

“Jangan sampai nama Presiden justru dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan yang tidak diketahui Presiden,” katanya.

Muslim juga menilai Presiden perlu mengetahui secara utuh siapa saja pihak yang berada di balik pembuatan buku tersebut. Hal itu penting agar tidak terjadi pembentukan narasi mengenai Presiden yang kemudian justru menjadi bumerang secara politik.

Berdasarkan katalog Gramedia, Islam ala Prabowo tercatat disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Buku tersebut diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House.

Pemberitaan terbaru juga menyebut buku tersebut pertama kali terbit pada 2025 dan diinisiasi oleh Ketua MUI Anwar Iskandar serta Ketua MPR Ahmad Muzani. Buku itu kemudian diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS 2025.

Di tengah polemik tersebut, sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku memberikan klarifikasi mengenai keterlibatan mereka. Salah satunya Yusril Ihza Mahendra yang menyatakan dirinya bukan penulis buku, melainkan narasumber yang diwawancarai tim penyusun.

Persoalan pencantuman nama sejumlah tokoh inilah yang kemudian menambah pertanyaan publik mengenai mekanisme penyusunan buku tersebut. Sejumlah pemberitaan menyebut ada tokoh yang mempertanyakan atau membantah pernah memberikan tulisan khusus untuk buku itu.

Muslim Arbi berpandangan, kontroversi tersebut semestinya menjadi momentum bagi pihak yang berada di balik buku untuk memberikan penjelasan secara terbuka.

“Presiden harus waspada terhadap orang-orang di sekelilingnya. Jangan sampai ada pihak yang mengatasnamakan atau menggunakan nama Presiden, tetapi justru akhirnya merugikan Presiden,” tegas Muslim.

Ia menambahkan, dugaan adanya operasi pembusukan tersebut tentu perlu dibuktikan melalui fakta dan penelusuran lebih lanjut. Namun, menurutnya, Presiden tidak boleh mengabaikan potensi munculnya narasi politik yang dapat merugikan dirinya.

“Ini harus dilihat secara serius. Siapa yang punya kepentingan, siapa yang menginisiasi, dan untuk tujuan apa buku itu dibuat, semuanya perlu dibuka,” pungkasnya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Peneliti SMRC Muchlis A Rofiq menyoroti munculnya buku Islam ala Prabowo yang mengulas sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto. Muchlis mempertanyakan keterlibatan sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang Muhammadiyah dalam penulisan buku tersebut, Senin (7/9/2026).

Melalui akun media sosialnya, Muchlis menulis, “Islam ala Prabowo. Yang nulis ada Muhajir. Ada Mu’ti. Ada Dahnil. Semua tokoh-tokoh Muhammadiyah.” Ia kemudian melontarkan kritik tajam dengan kalimat, “Nafsu kuasa menutup akal sehat.”

Buku Islam ala Prabowo sendiri diluncurkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada Agustus 2025. Buku tersebut mengangkat kiprah dan praktik keislaman Prabowo dari berbagai sisi. Peluncurannya antara lain diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI KH Anwar Iskandar.

Sorotan Muchlis terutama menarik perhatian karena sejumlah nama yang dikaitkan dengan buku tersebut memang memiliki hubungan kuat dengan Muhammadiyah.

Muhajir Effendy, misalnya, merupakan tokoh Muhammadiyah yang pernah dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada pemerintahan sebelumnya. Ia juga tercatat sebagai bagian dari jajaran pejabat Kabinet Prabowo pada periode 2024–2029.

Sementara Abdul Mu’ti merupakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027. Dalam pemerintahan Presiden Prabowo, Mu’ti dipercaya menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Nama Dahnil Anzar Simanjuntak juga memiliki rekam jejak panjang di Muhammadiyah. Dahnil pernah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2014–2018. Dalam pemerintahan Prabowo, ia kemudian dipercaya menduduki posisi di bidang penyelenggaraan haji dan umrah.

Kedekatan sejumlah tokoh Muhammadiyah dengan pemerintahan Prabowo sebenarnya bukan fenomena baru. Pada 2018, ketika Dahnil menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, ia bergabung sebagai koordinator juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandiaga. Saat itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Pemuda Muhammadiyah mempunyai kemandirian dalam menentukan sikap politik.

Di sisi lain, keberadaan buku tersebut tidak serta-merta berarti seluruh Muhammadiyah memiliki satu sikap politik yang sama terhadap Prabowo. Organisasi Muhammadiyah merupakan organisasi masyarakat keagamaan yang memiliki struktur dan kader dengan pilihan politik yang beragam.

Pemerintah sendiri dalam sejumlah kesempatan memang aktif membangun komunikasi dengan tokoh dan organisasi Islam. Pada Maret 2026, misalnya, Prabowo menggelar silaturahmi dengan ulama dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam untuk membahas sejumlah isu strategis, termasuk diplomasi Indonesia terkait perdamaian di Timur Tengah.

Karena itu, pernyataan Muchlis lebih tepat dibaca sebagai kritik politik terhadap keterlibatan sejumlah tokoh Muhammadiyah dalam narasi keislaman Prabowo, bukan sebagai bukti bahwa Muhammadiyah secara kelembagaan telah menjadi bagian dari politik kekuasaan.

MoneyTalk, Jakarta – Kegiatan lomba baris-berbaris dan pengibaran bendera yang selama ini identik dengan aktivitas siswa sekolah kini menjadi sorotan tajam. Pasalnya, anggaran kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR berupa Lomba Kreasi Baris Berbaris dan Pengibaran Bendera disebut melonjak fantastis hingga miliaran rupiah.

Koordinator Center For Budget Analisis (CBA), Jajang Nurjaman, mempertanyakan lonjakan anggaran proyek tersebut yang dinilai tidak wajar.

“Pada tahun 2026 proyek Lomba Kreasi Baris Berbaris dan Pengibaran Bendera dijadikan satu proyek besar. Sedangkan pada tahun 2025 dipecah menjadi 14 proyek,” ujar Jajang dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, pada tahun 2025 total anggaran kegiatan tersebut hanya sekitar Rp1,1 miliar. Namun pada tahun 2026 melonjak menjadi Rp3,1 miliar.

“Jadi dari tahun 2025 ke tahun 2026 ada peningkatan anggaran yang luar biasa fantastis mencapai Rp1,9 miliar. Cukup lumayan untuk membuat barisan tegak dan bendera berkibar dengan gagah,” sindirnya.

Jajang menilai kegiatan tersebut berpotensi menjadi “lahan basah” anggaran apabila tidak diawasi secara serius. Karena itu, CBA meminta Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Ahmad Muzani serta Sekjen MPR Siti Fauziah memberikan penjelasan terbuka terkait penggunaan anggaran tersebut.

Bahkan, ia menyampaikan usulan satir agar peserta lomba baris-berbaris dan pengibaran bendera tidak lagi berasal dari kalangan pelajar, melainkan dari anggota MPR dan DPD sendiri.

“Karena ternyata kegiatan ini sekarang sudah jadi proyek kelas kakap. Jadi sekalian saja anggota MPR dan DPD yang ikut lomba,” katanya.

Menurut Jajang, belum tentu para anggota dewan mampu melakukan baris-berbaris dengan disiplin dan formasi yang baik.

“Kalau para wakil rakyat saja belum tentu mampu melakukan baris-berbaris dengan rapi dan penuh kekuatan, masa anak-anak sekolah yang polos harus dibebani proyek semahal itu?” ujarnya.

Ia juga meminta Badan Pemeriksa Keuangan turun tangan melakukan audit agar penggunaan anggaran benar-benar transparan dan akuntabel.

“Dengan anggaran yang sedemikian besar, tentunya kita berharap BPK segera melakukan audit yang benar agar barisan yang terbentuk bukan sekadar rapi di mata, tapi juga rapi dalam pengelolaan dan pertanggungjawabannya,” pungkas Jajang.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, memberikan apresiasi tinggi kepada Liga Muslim Dunia (Rabithah al-‘Alam al-Islami) atas perannya dalam menyatukan umat Islam sedunia serta membangkitkan kembali peradaban Islam. Pujian itu disampaikan dalam sambutan singkatnya pada pertemuan bersama Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Sekjen Liga Muslim Dunia, Dr. Muhammad Abdel Karim al-‘Isa, di Gedung Nusantara V MPR RI, Senayan, Rabu (4/12/2025).

Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 500 tokoh ulama, zuama, cendekiawan Muslim, pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah, serta mahasiswa dari perguruan tinggi Islam di Jakarta. Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Umum MUI KH Dr. Cholil Nafis, serta Ketua dan Sekjen Forum Ponpes Alumni Gontor, KH Dr. Zulkifli Muhadli dan KH Dr. Anang Riqza. Acara dikordinasikan oleh KH Anizar Masyhadi, Lc., MA.

Dalam sambutannya mewakili ulama dan zuama Indonesia, Din Syamsuddin menilai bahwa Rabithah al-‘Alam al-Islami di bawah kepemimpinan Dr. Al-‘Isa sangat aktif mempromosikan konsep Wasatiyyat Islam dan mendorong dialog lintas agama di berbagai negara. Upaya tersebut, menurut mantan Ketua Umum MUI Pusat itu, memberikan kontribusi besar dalam memperkuat citra Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Din Syamsuddin, yang juga Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam (Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam), menegaskan bahwa umat Islam saat ini menghadapi tantangan global yang sangat besar dan kompleks. Ia menekankan pentingnya strategi “perjuangan menghadapi” (al-jihad li al-muwajahah/struggle for) dibandingkan strategi “perjuangan melawan” (al-jihad li al-mu’aradhah/struggle against). Menurutnya, Dunia Islam perlu menawarkan peradaban alternatif yang berorientasi pada jalan tengah, perdamaian, inklusivitas, dan kerukunan.

Terkait hal tersebut, Din menilai peluncuran platform internet Minhaj oleh Rabithah al-‘Alam al-Islami pada pekan lalu sebagai langkah strategis. Platform itu dinilai dapat menjadi sarana penting untuk mengarusutamakan Islam sebagai agama perdamaian, keadilan, dan kemajuan.

“Walau terlambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujar Din Syamsuddin mengakhiri sambutannya.

MoneyTalk, Jakarta –  Ketua Umum Lintas Kajian dan Pemerhati Pembangunan Indonesia (LKPPI), Herlina Butar Butar, buka suara terkait polemik yang kembali menyeret nama Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dalam dugaan keterkaitan dengan jaringan judi online di Kamboja isu yang sebelumnya pernah dimuat dalam laporan Majalah Tempo pada 6 April 2025.

Herlina menilai bahwa sikap diam Dasco hingga saat ini justru semakin memancing tanda tanya publik, terlebih isu judi online telah merugikan banyak keluarga di Indonesia.

“Beliau itu wakil rakyat. Ketika namanya dikaitkan dengan kasus sebesar ini, sudah seharusnya beliau memberikan klarifikasi, bukan diam. Diamnya seorang pejabat publik justru menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat,” ujar Herlina.

Herlina juga menyoroti pernyataan sejumlah pimpinan lembaga negara yang dianggap tidak memberikan kejelasan.

Fraksi Gerindra tempat Dasco bernaung sebelumnya menegaskan bahwa laporan Tempo adalah fitnah, dalam pernyataan resmi pada 10 April 2025. Namun Herlina menilai bantahan tersebut masih belum didukung fakta yang memadai dan tetap meninggalkan ruang pertanyaan publik.

Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, pada 9 April 2025, menyatakan “tidak yakin” Dasco terlibat. Menurut Herlina, pilihan kata tersebut justru janggal.

“Pernyataan Ketua MPR itu menurut saya abu-abu. Kalau beliau benar-benar yakin, seharusnya mengatakan ‘Saya yakin Pak Dasco tidak terlibat’. Bukan ‘saya tidak yakin’. Itu dua hal yang sangat berbeda dan menimbulkan multitafsir,” tegasnya.

Sementara itu, dalam pemberitaan sebelumnya, nama Wanda Assyura sempat dikutip sejumlah media sebagai salah satu narasumber. Namun belakangan muncul pihak yang mengatasnamakan perwakilan Wanda, menyatakan bahwa Wanda tidak memiliki sangkut paut dengan pemberitaan tersebut dan akan menempuh jalur hukum terhadap media yang memuat namanya tanpa konfirmasi.

Pihak tersebut menegaskan bahwa sumber pemberitaan yang mengatakannya sebagai narasumber telah diklarifikasi dan tidak sesuai fakta.

Herlina menanggapi hal ini dengan menegaskan bahwa isu yang diangkat LKPPI bukan bertujuan menyeret nama Wanda maupun pihak manapun secara personal.

“Fokus kami bukan pada nama Wanda atau siapapun. Ini murni soal bagaimana judi online telah menjadi penyakit masyarakat yang merusak kehidupan banyak keluarga, termasuk keluarga saya sendiri yang pernah menjadi korban,” ujar Herlina.

Herlina menegaskan bahwa publik menunggu keberanian Dasco untuk memberikan klarifikasi langsung agar polemik tidak berkembang menjadi fitnah berkepanjangan.

“Judi online ini masalah besar, memukul rakyat bawah, dan merusak generasi. Jika seorang pejabat setingkat Wakil Ketua DPR RI tidak memberikan klarifikasi saat namanya disebut, ini menjadi preseden buruk,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, LKPPI menyatakan akan terus mengawal isu pemberantasan judi online serta mendesak para pemimpin dan pejabat negara agar lebih transparan kepada publik.

MoneyTalk, Jakarta – Jika filsuf Barat Descartes terkenal dengan ucapannya _Cogito Ergo Sum_, aku ada karena aku berpikir, maka ingin saya mengatakan _Significo Ergo Sum_, aku ada karena aku bermakna, demikian tandas Prof. Dr. M. Din Syamsuddin pada Wisuda 26 Universitas Darunnajah, Jakarta, 27 September 2025. Sebagai Anggota Dewan Penyantun Universitas Darunnajah M. Din Syamsuddin memberi sambutan dan mengomentari Tema Wisuda yg berbunyi “Berakhlah, Berilmu, Bermakna”. Selain 166 sarjana baru dan wali wisudawan yg memenuhi Aula Serbaguna Universita Darunnajah Wisuda dihadiri oleh Ketua MPR-RI H. Ahmad Muzani yg memberi Orasi Ilmiah tentang tema tersebut.

Menurut Din Syamsuddin yg juga Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, keberadaan manusia dalam kehidupannya bukan sekedar utk berada, yakni menjalani kehidupab dari lahir hingga mati, tapi hendaklah manusia itu berada untuk mengada. Kata terakhir (mengada) mengandung arti manusia haruslah berkiprah dalam kehidupannya, dan kiprah itu hendaklah bermakna yakni memberi arti dan manfaat bagi sesama manusia.

Maka seorang sarjana, menurut Din Syamsuddin haruslah terus belajar dan belajar untuk dapat berkiprah dalam kehidupan. Din Syamsuddin menganjurkan sarjana baru Universitas Darunnajah utk melanjutkan studi ke strata lanjutan baik S2 maupun S3.

Pada bagian lain dari sambutannya, Din Syamsuddin memberi apresiasi kepada Pimpinan Universitas Darunnajah, dari Presiden, Rektor dan para Pimpinan atas jerih payahnya yg telah membawa Universitas Darunnajah meraih berbagai prestasi dan capaian yg menggembirakan. Pada usianya yg masih muda Universitas Darunnajah telat menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai universitas di dalam dan luar negeri, serta menjadi anggota dari Asosiasi Universitas-Universitas Islam Sedunia.

Orasi Ilmiah Ketua MPR-RI Ahmad Muzani menekankan pentingnya akhlak mulian, di samping ilmu pengetahuan. Bangsa Indonesia dan Umat Islam membutuhkan Sumber Daya Insani yg berilmu sekaligus berakhlak mulia. Maka, apa yg sudah dilakukan Universitas Darunnajah yaitu membina mahasiswa dan sarjana yg berilmu dan berakhlak mulia adalah pilihan tepat yg perlu dikembangkan di masa depan.

MoneyTalk, Jakarta -Pernyataan Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal larangan rangkap jabatan menteri dan wakil menteri kembali mengundang sorotan publik. Dalam keterangannya, Muzani menyebut bahwa tidak ada kewajiban untuk melaksanakan isi pertimbangan hukum Putusan MK Nomor 80/PUU-XVII/2019, karena menurutnya itu hanya sebatas “pertimbangan hukum”, bukan keputusan yang bersifat mengikat.

Pernyataan tersebut langsung mendapat dukungan dari Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah. Dalam pernyataan yang sarat sindiran dan nada ironi, Febri mengatakan bahwa sudah sepatutnya publik mendukung opini Ahmad Muzani.

“Kasian para Wamen yang sedang enak-enak duduk dengan gaji dan tunjangan tinggi sebagai komisaris BUMN, tiba-tiba harus dipecat atau disingkirkan. Jelas ini tindakan tidak berperikemanusiaan,” ujar Febri, Jumat (25/7/2025).

Tak tanggung-tanggung, Febri bahkan menyebut para wakil menteri sebagai kelompok dhuafa yang patut disantuni oleh negara.

“Wamen itu fakir miskin, anak yatim, dan makhluk terlantar. Mereka butuh diselamatkan dari PHK sebagai komisaris BUMN. Ini jelas semangat Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945: ‘Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara’. Jangan biarkan mereka kelaparan hanya karena putusan MK,” tegasnya.

Menurut Febri, langkah Ketua MPR Ahmad Muzani sudah sangat tepat dalam membela para menteri dan wakil menteri yang sedang menikmati kursi empuk di perusahaan-perusahaan negara.

“Pak Muzani tidak usah berpikir soal banyaknya pengangguran. Tidak usah peduli dengan ribuan sarjana yang belum kerja. Yang penting, para Wamen tetap dapat kursi, tetap dapat gaji. Toh, mereka ini lebih butuh daripada rakyat biasa. Mereka makhluk spesial,” sindir Febri.

Pernyataan ini tentu mengundang kontroversi di tengah kondisi ekonomi nasional yang sedang sulit, di mana banyak rakyat kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di sisi lain, para pejabat justru kerap kali menikmati lebih dari satu jabatan dengan penghasilan berlipat ganda.

Fenomena rangkap jabatan di kalangan pejabat negara, khususnya di lingkup kementerian dan BUMN, bukanlah isu baru. Namun yang menjadi sorotan adalah keberanian sebagian elit politik untuk terus mempertahankan praktik tersebut, meskipun secara etika pemerintahan, hal itu dipertanyakan.

Putusan MK memang menyebut bahwa praktik rangkap jabatan menteri dan wakil menteri sebagai komisaris BUMN bertentangan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Namun, karena disampaikan dalam pertimbangan hukum (obiter dictum), maka dianggap tidak memiliki kekuatan hukum yang memaksa.

Hal ini lantas dimanfaatkan oleh sebagian elite untuk tetap mempertahankan kenyamanan para pejabat, meskipun menabrak semangat reformasi birokrasi dan efisiensi anggaran negara.

MoneyTalk, Jakarta – Para jenderal purnawirawan kumpul. Diantaranya adalah seorang mantan panglima TNI hingga sejumlah Kepala Staf Angkatan. Satu kesepakatan: “Makzulkan Gibran”.

Surat tuntutan pemakzulan No 003/FPPTNI/V/2025 sudah mereka tanda tangani. Bahkan sudah pula dikirim ke MPR (2/6/2025). Ketua MPR adalah Ahmad Muzani. Seorang tokoh yang sekaligus menjadi sekjen Gerindra. Orang kepercayaan Presiden Prabowo. Apa ini kebetulan? Tentu saja tidak. Dengan sangat cerdas, semua sudah dipersiapkan.

Surat tuntutan pemakzulan Gibran ada di meja Ahmad Muzani. Ketua MPR, sekaligus sekjen Gerinda. Ini poin pentingnya. Apa artinya? Muzani pegang tombol. Kapan tombol dipencet? Terserah dia. Tentu atas petunjuk ketum partai Gerindra.

Kapan MPR mensidangkan usulan pemakzulan Gibran? Bergantung kapan ketua MPR memencet tombol itu? Nasib Gibran ada di tombol itu.

Saat ini, posisi Gibran melemah. Kapan saja bisa di-impach? Setiap saat, kasus hukum bisa dimunculkan. Ubaidillah Badrun adalah salah satu aktifis yang pernah melaporkan Gibran ke KPK. Artinya, posisi Gibran rentan.

Di Indonesia, tidak sulit mencari kesalahan para pejabat. Apalagi, pejabat yang sebelumnya cukup lama menjadi anak walikota, anak gubernur dan anak presiden. Akan selalu ada celah jika punya niat untuk mencari kesalahan.

Di sisi lain, Sang ayah, Joko Widodo, tak lagi berkuasa. Sebagai wakil presiden, Gibran tak ubahnya Jusuf Kalla dan Makruf Amin. Apalagi, Gibran tak punya partai. Tak ada kekuatan politik yang bisa back up Gibran. PSI, partai yang dipimpin oleh Kaesang tidak punya kursi di DPR. Jadi, mengimpach Gibran bukan masalah yang sulit.

Ingat Tom Lembong? Ia adalah salah satu dari sekian banyak contoh pejabat, karena posisinya yang berseberangan dengan penguasa, ia harus hadapi tuntutan hukum. Pendukung Anies Baswedan ini hanya setahun menjabat sebagai mendag. Posisinya saat ini jadi tersangka kaus korupsi. Meski di persidangan, terbukti ia tidak menerima uang suap. Ini juga diakui sendiri oleh penuntut umum, yakni kejaksaan. Meski tak menerima uang suap dalam kasus korupsi yang dituduhkan, Tom Lembong tetap “harus” jadi tersangka. Tom dituntut 7 tahun penjara. Kenapa harus? Karena ada pihak yang mengharuskan Tom Lembong dipenjara.

Bagaimana dengan Gibran? Saat ini, Gibran wakil presiden. Selama posisi Gibran tidak menjadi ancaman buat Prabowo, Gibran aman. Aman sebagai wapres hingga 2029.

Saat ini, apakah Gibran jadi ancaman bagi Prabowo? Disinilah tema utamanya.

Jokowi bersedia memenangkan Prabowo di pilpres 2024. Syaratnya? Gibran jadi wakil. Berapa lama? Ini pertanyaan bagus.

Masih ingat ungkapan Connie Bakrie, pengamat militer Indonesia yang sekarang bermukim di Rusia? Connie pernah bilang: “ada deal kalau Gibran akan menggantikan Prabowo di tahun ke-2. Menurut Connie, informasi ini ia dapatkan dari Roslan Roeslani, ketua TKN (Tim Kemenangan Nasional) Prabowo-Gibran. Benarkah ungkapan Connie ini? Sulit diverifikasi faktanya. Tapi, tak berarti sulit dianalisis.

Bukti empirisnya, sulit anda dapatkan. Itu rahasia. Bahkan super rahasia. Anda tidak akan bisa verifikasi dan validasi menggunakan data empiris. Di dunia politik, pembuktian empirisme tidak berlaku. Panggung belakang seringkali tak tersentuh oleh mata anda. Tapi, anda punya logika. Logika, kata filosof Perancis Immanuel Kant (1742-1804) mampu menembus ruang dan waktu. Logika memiliki kemampuan untuk menjangkau apa yang ada di panggung belakang.

Mari kita mainkan logikanya. Jokowi menangkan Prabowo. Artinya, Jokowi menjadi faktor penentu kemenangan Prabowo di pilpres 2024 kemarin. Clear dan ini jangan dibantah. Lalu, Jokowi “menyiapkan” Gibran sebagai cawapres dengan semua dinamika dan dramanya di MK (Mahkamah Konstitusi). Pertanyaannya: “apakah Gibran hanya disiapkan untuk menjadi wakil presiden Prabowo hingga 2029? Atau Gibran disiapkan untuk menjadi presiden pengganti Prabowo?”. Coba anda renungkan sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Kalau Gibran hanya disiapkan sebagai wakil presiden, mendampingi Prabowo hingga 2029, maka riwayat karir Gibran akan tamat. Mungkin juga karir semua keluarga Jokowi. Kenapa?

Pemilu 2029, Prabowo akan nyalon presiden untuk periode kedua. Gibran belum tentu jadi wakilnya. Tim Prabowo akan lihat survei. Di survei 2029, nama Gibran belum tentu jadi “Top Score” sebagai cawapres Prabowo.

Pilpres 2029 akan memunculkan banyak nama. Diantaranya Anies Baswedan. AHY (ketum Demokrat) dan Muhaimin Iskandar (ketum PKB) masih dalam posisi tawar yang seksi.

Dalam posisi ketika tidak dipilih jadi cawapres Prabowo, apakah Gibran akan punya nyali untuk nyapres dan melawan Prabowo di pilpres 2029? Gibran bukan tandingan Prabowo. Track record Gibran cukup kontroversial. Ini akan semakin menyulitkan posisi tawarnya di 2029.

Dari logika ini, kita bisa membaca bahwa Gibran tidak disiapkan untuk menjadi cawapres Prabowo di pilpres 2029. Rentan !Apakah ini berarti bahwa “Gibran disiapkan Jokowi untuk mengganti Prabowo di tengah jalan”, sebagaimana informasi Connie Bakrie? Bagi publik, informasi Connie lebih masuk akal. Benar-tidaknya, selain Tuhan, hanya Prabowo dan Jokowi yang tahu.

Kalau informasi Connie benar, realisasinya akan sulit. Apalagi posisi saat ini, Gibran tersandera oleh surat tuntutan pemakzulan. Nasib Gibran ada di meja ketua MPR yang juga merupakan sekjen Gerindra, orang kepercayaan Prabowo.

Penulis : Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

MoneyTalk,Jakarta – Sekretaris Jenderal Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Relly Reagen sependapat dengan pernyataan Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens, menilai ada tujuan politis lebih besar di balik isu ijazah palsu. Katanya, tuduhan terhadap Presiden ke-7 Joko Widodo tersebut sampai saat ini masih terus bergulir, bahkan pernah digugat ke pengadilan.

“Saya sependapat dengan pernyataan Boni Hargens, Sabtu (26/4/2025), yang menilai ada tujuan politis yang lebih besar di balik isu tudingan ijazah palsu Jokowi. Walaupun meski tak lagi menjabat presiden, Jokowi terus disudutkan,” kata Reagan, Minggu pagi (27/4/2025) kepada wartawan senior Syafrudin Budiman di Jakarta.

Reagen, menegaskan adanya gerakan dari kelompok-kelompok tertentu, khususnya dari RT 16 dan RT 24. Yang mana merasa dirugikan selama dimasa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, kelompok-kelompok ini merasa tersisihkan saat jabatannya diganti dan tidak berdaya selama era kepemimpinan Jokowi. Sehingga kini berupaya membentuk afiliasi untuk mengacaukan arah politik nasional.

“Kita sudah tahu tujuan dan ending dari gerakan ini. Mereka berusaha mempengaruhi opini publik dan berupaya keras menjatuhkan reputasi pemerintahan Jokowi,” ujar Reagen.

Namun, lanjutnya, kelompok tersebut lupa bahwa “pasukan lingkar luar” Jokowi tersebar di berbagai daerah dan tetap solid menjaga agenda perubahan.

“Kami sepakat dengan Boni Hargens. Ini bukan sekadar prediksi, tapi fakta di lapangan,” tegas Reagen.

Namun, lanjutnya, kelompok ini adalah barisan sakit hati pada Jokowi, yang tersebar di berbagai daerah dan tetap solid menjaga agenda perubahan.

“Walau sudah  tidak menjabat Presiden RI, kelompok ini terus menyudutkan Jokowi. Kan mereka pilih RT 16 dan RT 24,” seloroh reagen yang juga mendukung pernyataan Ketua MPR RI Ahmad Muzani.

Reagen juga mengingatkan, jika pihak-pihak tersebut merasa tidak puas dengan hasil Pilpres 2024, jalur konstitusional tersedia.

“Kalau kalah di Pilpres, bergabunglah kembali secara sehat. Tapi jika sudah mulai bergerak untuk bermain curang demi 2029, hentikan permainanmu, kawan,” tandasnya.

DPP Bara JP memastikan akan terus mengawal jalannya demokrasi secara damai dan konstitusional serta tidak akan tinggal diam terhadap upaya-upaya yang merusak stabilitas nasional.