30 Oktober 2026

Anwar Abbas

MoneyTalk.id,Jakarta – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyoroti munculnya istilah “Islam ala Prabowo” yang dikaitkan dengan pemikiran dan sosok Presiden Prabowo Subianto. Menurut Anwar Abbas, Islam tidak semestinya ditempelkan pada nama seorang tokoh politik karena berpotensi menimbulkan persoalan teologis sekaligus perpecahan di tengah umat.

Anwar Abbas mempertanyakan dasar penyematan nama Prabowo pada Islam. Menurutnya, Islam memiliki dimensi yang luas, mulai dari akidah, ibadah, akhlak hingga muamalah.

“Bolehkah Islam diberi embel-embel nama seorang tokoh politik tertentu? Kalau ditempelkan kepada pribadi selain Nabi, itu memang bermasalah, akan menimbulkan perpecahan,” kata Anwar Abbas di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (11/9/2026).

Ia kemudian mempertanyakan apakah Prabowo memiliki konsep akidah yang berbeda atau menawarkan pemahaman Islam yang baru.

“Apakah Prabowo menawarkan konsep akidah yang berbeda? Apakah Prabowo tahu Al-Qur’an dan hadits? Pak Prabowo tidak terlalu banyak tahu,” ujarnya.

Anwar Abbas juga mencium adanya kepentingan politik di balik penggunaan istilah “Islam ala Prabowo”. Ia menduga istilah tersebut berpotensi lahir dari upaya membangun citra politik tertentu terhadap Prabowo.

“Ada tendensi bahwa buku ini, Islam ala Prabowo, dibuat untuk upaya menjilat. Bau itu ada, ada bau yang tercium. Karena ada kepentingan-kepentingan politik sempit,” katanya.

Meski demikian, Anwar Abbas menyatakan tidak yakin sejumlah tokoh yang terlibat dalam pemerintahan maupun penulisan buku tersebut sengaja melakukan praktik menjilat kepada Prabowo.

“Saya yakin Pak Yusri Ihza Mahendra tidak akan melakukan itu. Pak Muhadjir Effendy juga tidak akan seperti itu dan Pak Mu’ti yang ada di situ, saya juga tidak percaya mereka melakukan praktik-praktik menjilat itu,” ujar Anwar.

Dalam kesempatan itu, Anwar Abbas juga menyinggung beberapa kali pernyataan Prabowo yang mengungkapkan kekagumannya terhadap Mustafa Kemal Ataturk, tokoh pendiri Republik Turki modern.

Anwar Abbas mengingatkan agar Ataturk tidak dijadikan personifikasi atau identifikasi tentang keberislaman seseorang.

“Janganlah jadikan Mustafa Kemal Ataturk sebagai tokoh personifikasi, tokoh identifikasi secara sejauh itu. Keislamannya enggak baik,” kata Anwar Abbas.

Menurut dia, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut politik, tetapi juga memiliki dimensi teologis dan ubudiah.

“Itu secara teologis bermasalah, secara ubudiah bermasalah. Dia meninggalkan ajaran agamanya,” ujarnya.

Anwar kemudian mengutip ungkapan keagamaan tentang konsekuensi dari setiap tindakan manusia.

“Barang siapa yang menebar angin, dia akan menuai. Dan saya melihat gejala-gejala Pak Prabowo akan menuai sudah mulai kelihatan,” katanya.

Anwar juga mengungkapkan cerita yang diperolehnya dari salah seorang wakil menteri yang berasal dari partai yang sama dengan Prabowo.

Menurut cerita tersebut, ketika Prabowo menyampaikan instruksi atau pandangan dalam suatu kesempatan, menteri yang berada di hadapannya memberikan respons dengan mengatakan siap.

“Ketika Pak Prabowo ngomong, ditanya menteri bagaimana? ‘Siap, Pak. Siap, Pak,’ begitu,” ujar Anwar.

Namun, menurut Anwar, setelah itu wakil menteri tersebut justru mempertanyakan apakah instruksi yang disampaikan Prabowo benar-benar akan dilaksanakan.

“Lalu oleh wakil menteri yang dari partai yang sama ditanya, ‘Bapak bilang siap-siap apa? Itu akan dilaksanakan?’ Ya enggaklah,” kata Anwar.

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Muhammadiyah Jakarta, Farid Idris, secara terbuka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mencopot Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, setelah dinilai menyindir sesepuh Muhammadiyah, Anwar Abbas, dengan kata-kata kasar.

Pernyataan keras Farid datang setelah video dan kutipan pernyataan Dahnil tersebar luas, menampilkan penggunaan kata “cangkem” yang diarahkan pada komentar Anwar Abbas terkait sektor katering haji. Menurut Farid, penggunaan diksi tersebut tidak hanya tidak pantas, tetapi juga melukai etika keorganisasian Muhammadiyah yang menjunjung tinggi kesantunan dalam perbedaan pendapat.

Konflik bermula ketika Anwar Abbas — salah satu tokoh sepuh Muhammadiyah menyampaikan pandangannya agar pemerintah memperhatikan berbagai perusahaan katering haji yang selama ini melayani jemaah Indonesia.

Anwar menilai penting bagi pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh agar layanan haji lebih transparan, profesional, dan tidak tersandera kepentingan tertentu. Imbauan itu dipandang sebagai bentuk perhatian moral dan institusional dari Muhammadiyah terhadap pelayanan publik.

Namun, respons Dahnil justru dianggap keluar dari batas kewajaran. Bukannya memberikan penjelasan teknis atau argumentatif, Dahnil malah melontarkan sindiran bernada keras yang dinilai menghina. “Cangkem,” demikian kata yang disebut-sebut Dahnil dalam konteks menanggapi pernyataan Anwar Abbas.

Farid Idris tidak menutupi kekecewaannya. Menurutnya, Dahnil sebagai pejabat negara semestinya mengedepankan kebijaksanaan dan komunikasi yang matang, apalagi yang disindir adalah tokoh besar Muhammadiyah.

“Pemerintah harus tegas. Pejabat publik tidak boleh menggunakan bahasa pasar, apalagi bahasa kasar, untuk menjawab kritik. Dahnil telah merendahkan marwah organisasi dan merusak citra pemerintah. Presiden Prabowo perlu mempertimbangkan pencopotan Dahnil dari posisi Wakil Menteri Haji dan Umrah,” ujar Farid, Sabtu (29/11/2025).

Ia menambahkan bahwa publik Muhammadiyah memiliki sensitivitas tinggi terhadap penggunaan public office untuk kepentingan politik dan personal. Kata-kata Dahnil, menurutnya, menunjukkan arogansi dan ketidakmatangan emosional.

Hubungan Dahnil dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah memang bukan kali pertama memanas. Sejak tidak lagi aktif di struktur resmi persyarikatan, Dahnil beberapa kali dianggap membawa nama Muhammadiyah dalam manuver politiknya.

Beberapa kader muda menilai Dahnil kerap menggunakan identitas kedekatannya dengan Muhammadiyah sebagai kendaraan legitimasi di ruang publik. Namun tokoh-tokoh senior mengingatkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik, dan tidak boleh dipersepsikan sebagai penyambung suara siapa pun.

Kata-kata kasar kepada Anwar Abbas dianggap memunculkan kembali keprihatinan tentang cara Dahnil berperan dalam pemerintahan maupun di komunitas Muhammadiyah.

Farid menegaskan bahwa desakan ini bukan untuk memperuncing konflik, tetapi untuk menjaga wibawa institusi dan etika pejabat publik.

“Negara ini besar karena adab. Jika Wakil Menteri saja tidak mampu menjaga lisan, bagaimana kita berharap pelayanan haji berjalan dengan profesional? Presiden Prabowo harus melihat masalah ini sebagai peringatan serius,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa permintaan pencopotan bukanlah tindakan emosional, melainkan langkah pemulihan moral di tengah upaya pemerintah memperbaiki tata kelola haji.

Hingga artikel ini ditulis, belum ada klarifikasi langsung dari Dahnil Anzar Simanjuntak terkait desakan pencopotannya. Sementara pihak pemerintah juga belum memberikan tanggapan atas polemik ini.

Di sisi lain, perbincangan di kalangan aktivis Muhammadiyah dan publik luas kian menghangat. Banyak yang menilai kritik Anwar Abbas adalah bagian dari tradisi intelektual persyarikatan, sehingga respons kasar dari pejabat negara tidak dapat dibenarkan dalam konteks apa pun.

Polemik ini diperkirakan masih akan terus berlanjut, terutama karena terkait langsung dengan tata kelola haji isu sensitif yang menyentuh kepentingan jutaan jemaah Indonesia. Bagi Muhammadiyah, persoalan ini bukan hanya tentang satu kata, tetapi tentang etika, penghormatan terhadap tokoh sepuh, dan sikap pejabat negara dalam menghadapi kritik.