7 November 2026

Basarnas

MoneyTalk, Jakarta – Tim SAR gabungan menemukan salah satu korban tewas dalam peristiwa longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, dalam kondisi mengenaskan.

‎Korban ditemukan tanpa kepala dan diduga terpotong alat berat excavator saat proses pencarian di lokasi longsor.

‎Hingga Senin (9/3/2026) petang, jumlah korban tewas akibat longsor di tempat pengelolaan sampah tersebut tercatat 6 orang, sementara 1 korban lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR.

‎Kronologi Longsor Gunungan Sampah

‎Peristiwa longsor terjadi pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di Zona 4C TPST Bantargebang, tepatnya di wilayah Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang.

‎Gunungan sampah setinggi puluhan meter tiba-tiba longsor dan menimbun sejumlah truk sampah serta warung di sekitar lokasi.

‎Awalnya tim menemukan tiga korban tewas, yang terdiri dari dua pemilik warung dan seorang sopir truk.

‎Namun jumlah korban terus bertambah setelah proses pencarian dilakukan menggunakan alat berat.

‎Identitas Korban Longsor

‎Beberapa korban yang telah teridentifikasi di antaranya:

‎Sumine (60), pemilik warung

‎Enda Widayanti (25)

‎Dedi Sutrisno, sopir truk

‎Irwan Suprihatin, sopir truk

‎Salah satu korban ditemukan pada Minggu malam sekitar pukul 19.45 WIB dan langsung dievakuasi ke rumah sakit untuk proses identifikasi.

‎Sementara jenazah korban terbaru berhasil dievakuasi Senin sekitar pukul 18.30 WIB dan kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk proses visum dan identifikasi lebih lanjut.

‎Tim SAR gabungan yang terdiri dari petugas Basarnas, BPBD Kota Bekasi, serta personel TNI dan Polri terus melakukan pencarian korban yang masih tertimbun.

‎Proses evakuasi dilakukan dengan menggunakan alat berat excavator untuk menggali tumpukan sampah yang diperkirakan mencapai ketinggian 10 hingga 15 meter.

‎Dalam proses pencarian tersebut, salah satu korban ditemukan dalam kondisi tubuh rusak yang diduga akibat terkena alat berat saat proses penggalian sampah.

‎Dugaan Penyebab Longsor

‎Longsor diduga terjadi akibat hujan deras yang mengguyur kawasan Bantargebang sebelumnya, sehingga membuat tumpukan sampah menjadi labil.

‎Selain menimbulkan korban jiwa, longsor juga menyebabkan sejumlah truk sampah dan bangunan warung rusak berat di sekitar lokasi.

‎Operasi SAR Masih Berlangsung

‎Tim SAR masih melanjutkan proses pencarian terhadap satu korban yang masih hilang, bernama Riki

‎Pencarian dilakukan secara intensif dengan memperluas area penggalian di sekitar titik longsor.

‎Insiden ini kembali menyoroti risiko penumpukan sampah di TPST Bantargebang, yang merupakan tempat pengelolaan sampah utama milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di wilayah Bekasi.

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Umum DPP Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), Erick Sitompul, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Basarnas, TNI, BNPB, serta seluruh elemen pemerintah yang telah bergerak cepat menembus seluruh titik isolasi korban banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pernyataan tersebut disampaikannya Minggu (7/12/2025), sepekan setelah bencana besar yang meluluhlantakkan puluhan kabupaten di tiga provinsi tersebut.

Menurut laporan Marsda TNI Muhammad Safii, seluruh titik yang sebelumnya terputus, termasuk tiga titik kritis di Aceh Tamiang yang mendapat perhatian luas publik, kini sudah berhasil ditembus oleh tim gabungan Basarnas dan TNI. Ribuan personel diterjunkan, menembus medan yang ekstrem akibat banjir bandang, longsor, hingga hujan deras yang masih mengguyur wilayah terdampak.

“Ini adalah progres sangat penting agar BNPB, instansi terkait, dan relawan dapat masuk memberikan bantuan makanan, minuman, serta layanan medis bagi warga yang selamat,” kata Erick.

Erick mengakui bahwa upaya menembus desa-desa terisolasi bukan pekerjaan ringan. Selain medan berat di perbukitan dan hutan, tim penyelamat harus mengejar waktu untuk menyelamatkan nyawa korban.

“Ketika muda saya pernah menjadi mapala dan ikut operasi pencarian pendaki hilang di Sumut dan Sumbar. Medannya sangat berat dan bisa memakan waktu berhari-hari. Kali ini puluhan kabupaten terdampak secara bersamaan di tiga provinsi. Tapi saya yakin Basarnas, TNI, dan BNPB sangat tangguh di lapangan,” ujarnya.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasojo, melaporkan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto bahwa seluruh titik terdampak di tiga provinsi kini telah kembali dialiri listrik. Pemulihan itu dapat dilakukan cepat berkat dukungan armada truk, kapal, dan helikopter TNI–Polri untuk mengangkut genset serta perangkat pendukung lainnya.

Kehadiran listrik, gas, dan BBM, menurut Erick, merupakan unsur vital untuk keselamatan dan pemulihan kepercayaan masyarakat.

Erick menegaskan bahwa banjir bandang tahun ini menjadi yang terburuk dalam sejarah Indonesia, bukan hanya karena curah hujan ekstrem akibat siklon tropis senyap yang melintasi Sumatera, tetapi juga akibat masifnya kerusakan hutan di hulu perbukitan.

“Jutaan ton tanah pekat dan jutaan kubik kayu gelondongan ikut terbawa arus. Itu bukan fenomena alam biasa itu akibat penebangan liar, land clearing serampangan, dan kebijakan yang teledor,” tegas Erick.

Ia menambahkan bahwa publik memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku perusakan hutan, baik korporasi maupun pejabat yang lalai.

“Harus ada sanksi pidana, pencabutan izin, dan denda seberat-beratnya. Jangan hanya sebatas pencabutan izin formal untuk meredam kemarahan publik,” kata Erick.

Meski demikian, Erick menekankan bahwa prioritas saat ini adalah penyelamatan korban selamat, pencarian korban hilang, serta relokasi permukiman yang hancur. Ia menegaskan bahwa penanganan kemanusiaan harus menjadi fokus utama pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.

“Kita satu bangsa, satu saudara. Kita harus memastikan para penyintas mendapatkan penanganan terbaik. Nyawa manusia jauh lebih penting,” ujarnya.

Erick tidak menutupi keprihatinannya karena dua kampung halamannya menjadi titik terdampak paling parah: Takengon di Aceh Tengah, tempat ia dilahirkan, dan Batang Toru di Tapanuli Selatan, kampung ibunya.

“Kerusakan di sana sangat parah dan korban jiwa banyak. Ini sangat memilukan,” ungkapnya.

Erick menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi titik balik bagi Indonesia untuk memperkuat perlindungan hutan, memperbaiki tata kelola lingkungan, dan menghentikan praktik-praktik eksploitasi yang membahayakan keselamatan rakyat.

MoneyTalk, Jakarta – Keputusan pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk tidak terburu-buru membuka peluang bantuan asing dalam penanganan banjir besar di Sumatera menuai perhatian publik. Sejumlah pihak menafsirkan kebijakan ini sebagai sikap hati-hati yang berlebihan. Namun, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah justru menilai langkah tersebut sangat tepat dan strategis dalam konteks pertahanan nasional dan kedaulatan negara.

Menurut Amir Hamzah, keputusan Prabowo bukan sekadar persoalan teknis penanganan bencana, tetapi terkait kepentingan jangka panjang dalam menjaga kedaulatan Indonesia.

“Asing sering memanfaatkan momentum bencana untuk melakukan penetrasi dan penyusupan. Mereka datang atas nama kemanusiaan, tapi sebagian bisa berperan sebagai agen intelijen,” ujar Amir, Kamis (4/12/2025).

Ia menegaskan bahwa dalam sejarah hubungan internasional, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah, bencana alam kerap dijadikan pintu masuk operasi intelijen. Negara-negara besar memanfaatkan kondisi chaos, lemahnya kontrol keamanan di lapangan, hingga terbukanya akses ke wilayah yang sebelumnya tertutup.

Dalam analisisnya, Amir Hamzah menjelaskan setidaknya tiga modus umum yang biasa dipakai intelijen asing saat masuk ke negara terdampak bencana:

1. Pengumpulan Data Strategis

Tim bantuan kemanusiaan yang datang bisa saja membawa perangkat penginderaan jarak jauh, pemetaan, atau perangkat komunikasi non-standar. Data yang dikumpulkan meliputi:

-Struktur geografis dan infrastruktur vital

-Kondisi pertahanan setempat

-Titik-titik strategis seperti jalur logistik dan energi

2. Infiltrasi Jaringan Lokal

Dalam situasi darurat, kontrol pemerintah melemah. Intelijen asing memanfaatkan kondisi ini untuk:

-Membangun jaringan di tingkat masyarakat

-Mengakses pejabat lokal yang sedang tertekan situasi

-Menyusup ke LSM lokal yang menjadi mitra distribusi bantuan

3. Operation Influence (Operasi Pengaruh)

Bantuan kemanusiaan sering digunakan sebagai cara membentuk citra baik dan ketergantungan negara terdampak. Setelahnya:

-Negara donor mendapat leverage diplomatik

-Kebijakan tertentu dapat ditekan untuk disesuaikan dengan kepentingan mereka

-Bencana Sebagai Panggung Gepolitik

Amir Hamzah menekankan bahwa dalam konteks geopolitik global, Sumatera adalah kawasan yang sangat strategis. Dengan Selat Malaka sebagai jalur pelayaran tersibuk kedua di dunia dan konsentrasi industri strategis dari Aceh hingga Lampung, setiap dinamika keamanan di Sumatera menjadi sangat sensitif.

Bagi negara-negara besar, Indonesia adalah:

-Lokasi buffer antara pengaruh Amerika Serikat dan Tiongkok

-Aset penting dalam rantai pasok global

-Target pengaruh pada sektor energi, pertambangan, dan kehutanan

“Karena itu, ketika terjadi bencana besar, negara-negara besar sangat cepat menunjukkan ‘kepedulian’. Inilah yang perlu diwaspadai,” tambah Amir.

Dalam kondisi darurat, biasanya negara akan segera meminta bantuan internasional. Namun Prabowo memilih mengoptimalkan kekuatan nasional terlebih dahulu, mulai dari: BNPB, TNI-Polri, Basarnas, Pemerintah daerah, Relawan dan organisasi kemasyarakatan

Keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah:

-Tidak ingin kehilangan kendali atas wilayah bencana

-Menjaga rahasia strategis negara ketika kontrol keamanan sedang melemah

-Menghindari ketergantungan politik terhadap negara donor

-Menegaskan bahwa Indonesia mampu mengatasi krisis internal secara mandiri

Dalam beberapa kasus internasional, bantuan bencana memang terbukti dimanfaatkan untuk operasi rahasia:

-Haiti 2010: beberapa negara memanfaatkan kekacauan pasca-gempa untuk mengirim personel keamanan berkedok relawan.

-Suriah 2012–2015: aktivitas LSM asing menjadi jalur logistik intelijen dan senjata.

-Tsunami Aceh 2004: sejumlah negara mencoba mengakses jalur strategis di Aceh, hingga TNI melakukan pembatasan area.

Sumatera saat ini menghadapi banjir besar yang merendam beberapa wilayah strategis. Dalam kondisi politik domestik yang dinamis setelah pergantian pemerintahan, keputusan Prabowo menjadi sangat penting untuk menjaga: kedaulatan internal, keamanan wilayah strategis, stabilitas politik nasional, independensi diplomasi Indonesia

Melihat dinamika intelijen dan geopolitik, keputusan untuk tidak membuka pintu bantuan asing secara cepat bukanlah tindakan isolatif, melainkan kebijakan strategis yang mempertimbangkan aspek keamanan nasional di tengah bencana.

Amir Hamzah menegaskan: “Ini bukan soal menolak bantuan, tetapi soal memastikan bahwa Indonesia tidak kehilangan kontrol. Prabowo tahu bahwa ketika negara sedang lemah, saat itulah asing paling mudah masuk.”