31 Oktober 2026

Cagub DKI Jakarta

MoneyTalk, Jakarta – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) selalu menjadi ajang pertempuran politik yang penuh sensasi. Tapi, ada yang lebih menghibur daripada saling klaim kemenangan: quick count (qc) yang jadi bahan bakar optimisme membabi-buta. Siapa yang butuh Netflix kalau drama Pilkada Jakarta sudah menawarkan cliffhanger gratis di setiap penghitungan sementara?

Untuk Pilkada Jakarta, Ketua Tim Pemenangan paslon Pramono Anung-Rano Karno, Lies Hartono alias Cak Lontong, dengan percaya diri menyatakan, “Kami menang di atas 50 persen. Pilkada selesai di putaran pertama.” Pernyataan ini mungkin cocok untuk headline, tapi tidak untuk buku statistik. Orang yang ngerti statistik pasti berteriak, “Ada margin of error, Pak!”

Cak Lontong mengacu pada enam lembaga survei, yang memberi QC untuk paslon Ridwan Kamil-Suswono vs Pramono Anung-Rano Karno dengan angka ini: SMRC 38,80 vs 51,03%, Charta Politika 39,25 vs 50,15%, Poltraking 39,14 vs 50,48%, Voxpol Center 39,4 vs 50,11%, LSI 39,29 vs 50,10%, LSI DJA 39,18 vs 50,14%. Hanya SMRC yang memberi nilai 51% untuk Pram-Rano, sementara lima lembaga survei lainnya di angka 50 plus kecil.

Angka ini bukan penentu tunggal. Sebagaimana diingatkan Denny JA, si jawara survei, angka di quick count itu bisa saja mirip bayangan di cermin retak: sedikit berlekuk-lekuk, kadang bikin salah sangka. Jika hasil quick count menunjukkan 50,14% seperti hasil rekap lembaganya —sekilas sudah cukup untuk satu putaran— padahal margin of error sebesar ±1% bisa membuat angka itu turun jadi 49,14%.

Dan, di Jakarta kalau angka 50% tidak terpenuhi, kita otomatis meluncur ke putaran kedua. Dan itulah yang ditunjukkan oleh hasil quick count kelima lembaga survei selain SMRC. Bagi tim pemenangan, ini seperti membayar tiket film dua kali untuk cerita yang sama, tapi dengan ending tak terduga.

Jakarta, masih sebagai ibu kota, memang punya kebiasaan unik. Kalau daerah lain cukup menentukan pemenang dengan suara terbanyak, di sini tidak. UU Nomor 2 Tahun 2024 memastikan hanya pasangan Pilkada Jakarta dengan 50%+1 suara yang bisa menang dalam satu putaran. Kurang sedikit saja? Selamat, Anda masuk babak tambahan.

Kasus ini terjadi di Pilkada 2017. Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) harus bertarung dua kali meski sudah unggul jauh di putaran pertama. Apakah ini karena warga Jakarta punya adrenalin politik? Bisa jadi. Tapi alasan sebenarnya, regulasi yang memanjakan statistik sambil menghukum kandidat yang terlalu percaya diri.

Optimisme berlebihan dari tim pemenangan sering kali tidak berlandaskan fakta. Bahkan kadang data sengaja direkayasa untuk mengelabuhi ketidak-tahuan publik. Mereka mungkin melihat quick count seperti episode akhir sinetron, padahal itu baru teaser. Ada beberapa penyebab kenapa salah paham ini terus terjadi.

Pertama, ketergesaan informasi. Dalam dunia politik, siapa cepat dia dapat sorotan. Tapi kecepatan ini seringkali mengorbankan keakuratan. Berikutnya, klaim sepihak yang berlebihan. Pernyataan seperti, “Kami sudah menang,” seringkali muncul meski hitungan belum selesai. Ini seperti menyalakan kembang api sebelum gol dibuat.

Nah, terakhir, minimnya pemahaman statistik. Publik awam sering mengabaikan margin of error. Margin of error (MoE) adalah istilah dalam statistik yang merujuk pada rentang ketidakpastian atau variasi yang mungkin terjadi dalam hasil survei atau polling. Istilah ini menggabungkan dua konsep: “margin,” yang berarti batas atau rentang, dan “error,” yang tidak merujuk pada kesalahan langsung, melainkan pada ketidakpastian yang wajar akibat metode sampling.

Dalam praktiknya, margin of error menunjukkan sejauh mana hasil survei dapat berbeda dari nilai sebenarnya dalam populasi. Misalnya, jika hasil survei menunjukkan seorang kandidat memperoleh 50% dukungan dengan margin of error ±3%, maka dukungan sebenarnya di populasi diperkirakan berada di antara 47% hingga 53%. Hal ini terjadi karena survei tidak melibatkan seluruh populasi, melainkan hanya sampel yang representatif.

MoE dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ukuran sampel, distribusi jawaban, dan metode sampling. Semakin besar ukuran sampel, semakin kecil margin of error, karena sampel yang lebih besar cenderung lebih representatif. Namun, jika jawaban responden sangat bervariasi, margin of error bisa meningkat. Selain itu, metode sampling yang acak dan bebas dari bias membantu menjaga margin of error tetap kecil.

Konsep ini penting karena mengingatkan kita bahwa hasil survei bukan angka pasti, melainkan perkiraan yang mengandung ketidakpastian. Tanpa margin of error, orang bisa salah memahami hasil survei sebagai fakta mutlak, padahal itu hanyalah gambaran situasi berdasarkan sampel tertentu. Mereka lantas mengira quick count adalah skor final, padahal itu hanya babak pengumpulan data parsial, lagi pula tidak resmi.

Jika Pilkada ini harus berlanjut ke putaran kedua, pertarungan antara dua kandidat akan semakin intens. Tim pemenangan yang sebelumnya terlihat santai akan berubah menjadi serigala lapar, siap menerkam apa saja untuk mengamankan suara tambahan. Dalam suasana seperti ini, Jakarta bukan hanya panggung demokrasi, tetapi juga arena survival politik.

Apa yang bisa kita pelajari dari semua ini? Quick count sudah jadi bagian dari seni politik modern: menyeimbangkan antara harapan dan realita dengan sedikit bumbu hiperbola. Jadi, sebelum kita terlalu serius menelan klaim kemenangan, mari ingat satu hal: politik, terutama di Jakarta, adalah gabungan statistik, strategi, dan sedikit lawakan gelap.

Margin of error? Itu hanya cara alam semesta untuk memastikan kita tidak terlalu cepat puas. Jakarta, kita siap untuk episode berikutnya?

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha, Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 28/11/2024

MoneyTalk, Jakarta – Dalam hiruk-pikuk politik, masyarakat Jakarta, seperti di kota-kota lain, pun bersiap menghadapi pesta demokrasi. Tiga pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta bertarung untuk merebut hati pemilih. Namun, berdasarkan rilis Poltracking Indonesia yang dipandu oleh Masduri Amrawi, para pengamat harus memasang sabuk pengaman menghadapi kelokan tak terduga. Pilkada ini tak hanya penuh kejutan, tapi juga berpotensi menjadi dua babak penuh ketegangan.

Menurut survei terbaru Poltraking, paslon M. Ridwan Kamil (RK)-Suswono dan Pramono Anung-Rano Karno (Si Doel) beradu kuat. Dengan elektabilitas masing-masing 43,3% dan 40,6%, selisih suara mereka bak tipisnya kerupuk yang dicelupkan ke kuah soto. Sementara itu, pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana Abyoto, dengan elektabilitas 4,5%, harus puas menjadi kuda hitam, yang bahkan belum tentu memiliki cukup pelana untuk balapan hingga garis akhir.

Tentu, survei tak lupa menyebutkan pemilih yang masih bingung atau malu-malu menyimpan rahasia pilihan, istilah kerennya undecided voters, sebesar 11,6%. Artinya, mereka yang belum memutuskan pilihan ini merupakan elemen X yang mampu mengubah jalannya pertandingan. Jika mereka memutuskan secara kolektif pada pagi hari pencoblosan, dan memutuskan pilih RK-Suswono, Jakarta bisa saja menyaksikan momen ajaib ala film superhero.

Model prediksi Poltracking yang canggih (terima kasih pada istilah keren seperti SMOTE Random Forest) mencoba memetakan arah suara undecided voters tadi. Hasilnya? RK-Suswono mendapat 48,1%, sedikit unggul dibanding Pramono-Doel dengan 47,0%. Data ini mengindikasikan bahwa kemenangan RIDO akan sangat tipis, seperti upaya seorang pengemudi ojek online menemukan nomer alamat kiriman tanpa plang.

Namun, angka ini masih dalam margin of error ±3,1%. Jadi, jika Anda bertanya siapa yang menang, jawabannya adalah: siapa pun yang berhasil merayu undecided voters dengan paling banyak jargon, senyuman, dan stiker kampanye. Bahkan, jika ada paslon yang punya duit bergunung-gunung, bisa saja menggaet dengan “serangan fajar.” Jangan lupa, orang Jakarta seperti manusia pada umumnya, cenderung berubah pikiran seperti gonta-ganti playlist lagu saat macet.

Skenario Pilkada ini seperti main catur dengan dua alternatif akhir. Pilihan pertama: Pilkada berlangsung dua putaran, dan kita harus bersabar menyaksikan duel lanjutan RK vs Pram —sebuah sequel yang mungkin lebih menarik dari Clash of the Titans. Pilihan kedua: RK menang tipis di putaran pertama, dengan bantuan undecided voters yang akhirnya memutuskan untuk “pilih yang ini aja, deh”, atau “karena sesuai pilihan ulama.”

Namun, di tengah segala prediksi ini, satu hal yang perlu kita ingat, hasil survei hanyalah potret sesaat —seperti selfie dengan filter, hasil akhirnya bisa berbeda tergantung sudut pandang dan pencahayaan. Hasil pastinya berada di tangan warga yang menyadari, Pilkada ini bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga soal menentukan siapa yang akan memikul beban menghadapi banjir, macet, kemiskinan, kekumuhan, kemajemukan, dan protes di media sosial.

Lebih afdal jika Anda sudi merenungkan pesan bijak dari para tokoh dunia yang mengingatkan pentingnya partisipasi dalam politik. Ali bin Abi Thalib ra, sepupu Nabi Muhammad Saw yang juga seorang politisi, pernah berkata, “Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Dalam konteks Pilkada, diamnya orang baik berarti menyerahkan keputusan masa depan kepada mereka yang mungkin tidak memprioritaskan kepentingan bersama. Ini saatnya warga Jakarta bersuara, karena pilihan Anda bukan hanya tentang nama di surat suara, tetapi juga tentang arah masa depan kota ini.

Sejalan dengan itu, Syaikh Yusuf Qardhawi memberikan panduan moral untuk memilih: jika ada pilihan yang baik, pilih yang terbaik; jika semua buruk, pilih yang lebih sedikit keburukannya (akhaffu al-dhararain). Pesan ini didukung pula oleh Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, yang mengingatkan bahwa dengan tidak memilih, Anda justru menyerahkan kendali kepada mereka yang tak peduli pada nilai-nilai yang Anda junjung.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menegaskan, jika orang baik tidak terlibat, politik akan dipenuhi mereka yang tidak bertanggung jawab. Ingatlah pula pesan Necmettin Erbakan: “Muslim yang tidak peduli politik akan dipimpin oleh politikus yang tidak peduli pada Islam.” Maka, gunakan hak pilih Anda, karena perubahan dimulai dari bilik suara. Jangan biarkan kejahatan dan ketidakadilan menang hanya karena diamnya orang baik.

Jadi, siapakah yang akan menang? Satu putaran atau dua? Itu semua tergantung pada Anda, warga Jakarta. Selamat mencoblos, dan jangan lupa siapkan popcorn untuk menikmati pesta demokrasi ini hingga akhir.

Penulis: Cak AT Ahmadie Thaha, Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 26/11/2024

MoneyTalk, Jakarta – Pemilihan umum maupun Pilkada adalah salah satu gerbang proses pergantian kepemimpinan yang konstitusional berdasarkan undang-undang.

Akan tetapi, sering sekali bahkan hampir setiap kontestasi baik Pilpres maupun Pilkada bahkan Pileg, penyakit perusak demokrasi dalam bentuk “Money Politik” menjadi fenomena yang kerap terjadi di negeri ini.

Ada sesuatu yang menarik dalam Pilkada DKI Jakarta menuju Jakarta Baru dan Jakarta Maju. Tim Pemenangan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yaitu Ridwan Kamil-Suswono, mengajak rakyat khususnya warga Jakarta untuk menolak money politik.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Tim Pemenangan Ridwan Kamil-Suswono, Basri Baco, dalam Konferensi Pers yang digelar di Sekretariat Bersama di hadapan wartawan pada Senin, (25/11/ 2024).

“Kami mengajak rakyat Indonesia, khususnya warga Jakarta untuk menolak berbagai tindakan yang dapat menodai nilai-nilai demokrasi,” kata Basri Baco.

“Kami juga menginstruksikan dan mengimbau kepada seluruh partai pendukung, relawan-relawan yang setia, ormas-ormas yang setia untuk menggerakan kadernya dari tingkat RT hingga ke TPS untuk sama-sama menjaga dan mengawasi jalannya pilkada di Jakarta,” sambungnya.

“Selain itu, kami juga mengapresiasi rakyat, kader-kader partai pendukung, relawan-relawan serta ormas-ormas yang berhasil menangkap basah dan melaporkan kepada Gakumdu terhadap tindakan-tindakan yang dapat menodai demokrasi berupa money politik. Sebaran amplop dan sembako pada masa tenang menjelang pencoblosan pada Pilkada DKI Jakarta,” tegas Basri Baco.

Sementara salah satu anggota Tim Pemenangan RIDO, Ramdhan Alamsyah, mengatakan bahwa telah terjadi pendistribusian beras-beras haram.

“Kami mendapatkan informasi yang begitu masif dan banyak terkait permasalahan adanya rencana-rencana menjelang pemilu besok antara lain,” katanya.

Menurutnya, sudah berjalan distribusi beras-beras haram dan uang-uang haram yang akan diberikan kepada warga oleh oknum tertentu guna memenangkan Paslon tertentu. Ada juga perencanaan secara tersistem melalui warung-warung kopi untuk mendistribusikan uang yang akan diberikan kepada warga.

“Kita semua di sini pun terbuka. Jika memang ada dari pihak kami yang melakukan silakan ditindak. Dan kami meminta kepada seluruh relawan dan seluruh kader, untuk mengintip ulang kegiatan-kegiatan terselubung yang dilakukan menjelang hari ‘H’. Oleh karena itu, kita meminta kepada masyarakat, kepada penegak hukum tentunya kepada BAWASLU untuk mengantisipasi agar hal ini tidak terjadi,” ungkap Ramdhan.

Dalam konferensi pers tersebut, Ramdhan menjelaskan bahwa dirinya sudah mendapatkan laporan dan bukti-bukti.

Ketua Tim Pemenangan Ridwan Kamil-Suswono, Ahmad Riza Patria, juga meminta kepada masyarakat dan relawan agar melaporkan kepada Bawaslu jika mendapatkan peristiwa dan tindakan tersebut.

Menyikapi hal tersebut, Ketua relawan Barisan Bela Ridwan Kamil-Suswono (BABE RIDO), Jalih Pitoeng, memuji langkah yang diambil oleh tim pemenangan RIDO tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi langkah yang telah diambil oleh tim pemenangan RIDO,” ungkap Jalih Pitoeng.

“Dan ini langkah yang sangat edukatif bagi kita semua,” imbuhnya. “Baik kepada masyarakat dan Rakyat, juga bagi para kandidat,” sambungnya.

“Karena bagaimana mungkin kita akan melahirkan seorang pemimpin yang baik, jujur, amanah serta pro rakyat jika dalam proses kontestasi pergantian kepemimpinannya dilakukan dengan cara-cara yang tidak bermartabat.” Jalih Pitoeng mengingatkan.

Sementara itu, Ketua umum Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (FORMASI) yang sedang giat, meminta agar pihak Kejati DKI Jakarta lakukan bersih-bersih di DKI Jakarta. Ia mengungkapkan, jika hal tersebut dibiarkan, sama saja bangsa ini sedang berternak koruptor-koruptor baru.

“Jika money politik ini kita biarkan, maka sama saja kita sedang beternak koruptor-koruptor baru,” katanya pedas.

“Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat Indonesia khususnya warga Jakarta untuk menolak segala upaya penyuapan dalam bentuk apa pun. Baik melalui money politik maupun pemberian beras-beras serta sembako haram menjelang pencoblosan pada pilkada serentak tanggal 27 November 2024,” pungkas Jalih Pitoeng.