31 Oktober 2026

Dokter Tifauzia Tyassuma

MoneyTalk, Jakarta – Sehari setelah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, dokter Tifauzia Tyassuma menulis siaran pers. Kata-kata yang dirangkai dokter pejuang ini sangat menyentuh, berani, inspiratif, dan memotivasi. Ia juga menjadi semacam refleksi yang amat berharga.

Dia memulai pointernya dengan: “Rakyat harus berani bersatu ketika muncul dugaan bahwa kekuasaan di masa lalu digunakan secara tidak semestinya.” Lugas. Tak bertele-tele. Langsung menancap ke ulu hati pergerakan menuju perubahan.

Kamis, 13 November 2025, Polda Metro memeriksa tiga tersangka terkait ijazah palsu Jokowi. Selain dr. Tifa, dua lainnya adalah Roy Suryo dan Rismon Sianipar. Setelah pemeriksaan, justru makin terasa bahwa bangsa ini sedang memasuki persimpangan penting dalam sejarah moralnya.

Isu dugaan pemalsuan ijazah bukan perkara administratif. Ia menyentuh integritas seorang kepala negara. Kasus ini menentukan apakah Indonesia masih punya keberanian untuk membedakan yang benar dari yang menyesatkan. Rakyat berhak mempertanyakan. Berhak meminta bukti. Juga berhak memperoleh kejelasan. Itu bukan tindakan subversif. Itu kewajiban moral untuk menjaga akal sehat Indonesia.

Pada titik ini dokter Tifa teringat pada Perang Jawa 1825–1830, ketika Pangeran Diponegoro memimpin perang semesta melawan ketidakadilan kolonial. Bukan karena hari ini kita sedang mengangkat senjata. Tetapi karena saat itu, seperti sekarang, ada penghinaan terhadap nalar rakyat yang memaksa seorang pemimpin berdiri. Perang Diponegoro digerakkan oleh moral. Oleh perasaan “ada yang salah” dan “ini harus diluruskan”. Begitu pula hari ini. Ketika gelagat manipulasi mengemuka. Muncul kekhawatiran bahwa kekuasaan di masa lalu digunakan tidak semestinya. Karenanya publik wajib bersatu menjaga martabat negara.

Dokter Tifa berdiri bukan karena dendam atau kebencian. Dia bergerak karena ada sesuatu yang mengganggu nurani kolektif bangsa. Ketika dokumen pendidikan seorang presiden diperdebatkan selama bertahun-tahun tanpa jawaban ilmiah dan terbuka, itu tanda bahwa erosi kepercayaan sedang berlangsung. Dan bangsa yang membiarkan erosi itu mengalir tanpa koreksi artinya sedang menuju kehancuran perlahan-lahan.

Perlu keberanian di atas rata-rata

Indonesia terlalu besar untuk dikelola dengan manipulasi. Terlalu mahal dipertaruhkan oleh kebohongan. Dan terlalu berharga untuk dipimpin dengan standar etika yang rendah. Karena itu, keberanian di atas rata-rata menjadi syarat minimum untuk memperbaiki negeri ini. Keberanian bertanya, menguji, meneliti, dan mengungkap. Jika perkara seperti dugaan pemalsuan ijazah saja rakyat gentar menyuarakan, bagaimana mungkin bangsa ini bisa menghadapi oligarki, korupsi sistemik, atau perampasan hak rakyat yang jauh lebih besar skalanya?

Dokter Tifa yakin, jika dugaan pemalsuan ijazah ini tidak diselesaikan secara terang-benderang, ia akan jadi luka sejarah. Perkara ini harus dituntaskan secara ilmiah, terbuka, dan final. Jangan sampai luka seperti ini diwariskan kepada generasi mendatang. Anak cucu bangsa ini kelak mungkin bertanya: Mengapa kalian membiarkan ketidakjujuran menjadi preseden? Mengapa kalian lebih memilih nyaman daripada jujur? Dan kita takkan punya jawaban yang pantas.

Dalam ketegasannya, dr. Tifa memilih percaya pemerintahan Presiden Prabowo punya peluang besar untuk menuntaskan persoalan-persoalan warisan rezim sebelumnya. Apa pun dinamika politik yang terjadi. Keyakinan dokter ini sederhana: negara tidak boleh memelihara keraguan publik. Ketika integritas seorang presiden dipertanyakan, negara wajib hadir. Wajib menyelesaikan, bukan menutup-nutupi. Dia percaya Prabowo tidak ingin memimpin negara dengan fondasi yang rapuh akibat ketidakjelasan masa lalu.

Itulah sebabnya langkah dokter Tifa bersama Roy dan Rismon menuju Polda Metro dilakukan dengan tenang. Tanpa gemetar. Tanpa beban. Sebab sejak awal dia hanya menuntut satu hal: kebenaran. Sesuatu yang mestinya menjadi kebutuhan semua pihak, termasuk negara. Dan bila perjuangan ini berujung tekanan politik maupun risiko hukum, biarlah. Sejarah sudah terlalu lama membuktikan bahwa kebenaran memang kerap menuntut pengorbanan.

Harapannya, proses ini menjadi momentum pembelajaran nasional. Momentum untuk mengoreksi kesalahan masa lalu. Momentum untuk mengembalikan standar moral bangsa ke titik normalnya. Dan momentum bagi Presiden Prabowo untuk membuktikan bahwa dirinya ingin menegakkan keadilan, bukan mewarisi manipulasi.

Pada akhirnya, perjuangan ini bukan soal selembar ijazah. Ini soal apakah Indonesia masih menghargai kejujuran? Masih punya keberanian, dan masih peduli pada integritas?

Penulis : Edy Mulyadi, Jurnalis Senior

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menghadiri reuni 45 tahun Angkatan 80 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Sabtu (26/7/2025). Kehadiran Jokowi dinilai sebagai bantahan kuat terhadap tudingan ijazah palsu yang selama ini menyeret namanya. Terkait hal tersebut dikomentari Dokter Tifauzia Tyassuma atau dikenal Dokter Tifa di akun media sosial yang diunggah di X, Sabtu, 26/7/2025.

“Kalau Ijazah saya diragukan, berarti 88 ijazah yang lain juga diragukan,” kata dokter Tifa. Ia juga meminta untuk tidak mentertawakan ucapannya “Jangan ikut ketawa dengan ucapannya ini. Karena sebetulnya ucapan ini adalah ancaman sekaligus intimidasi.

“Tapi ya memang orang-orang UGM apalagi yang mainnya kurang jauh, rata-rata lugu-lugu. Jadi ya pada ikut ketawa dengan candaan mengerikan ini,” lanjutnya.

Diungkapkan Dokter Tifa dalam hati mereka sebetulnya banyak tanya. Terutama karena orang yang datang reuni ini, dan tidak punya kaos seragam reuni, kemarin baru alasan sakit sehingga POLDA METRO Jaya sekonyong-konyong harus datang ke Solo, dengan biaya besar pasti, yang dibayar dari APBN, dibayar dari uang pajak rakyat.

“Hanya agar orang yang mengaku sakit ini bisa diperiksa dengan nyaman,” cetusnya.

“Ealah, baru selesai, besok pagi dia sudah keluyuran! Reuni keluar kota!,” imbuhnya.

Iapun lantas menuding sudah lupa dengan kehebohan dan kerepotan yang dia buat kemarin, memaksa POLDA METRO Jaya ke Solo segambreng-gambreng, karena Mbahnya Jan Ethes mengaku sakit

“Dan ya dari penampilan memang betul-betul sakit sih,” jelasnya.

Dokter Tifa menyebutkan wajah bengkak sampai mata tinggal segaris karena injeksi steroid untuk menekan autoimun. Kulit merah belang putih dimana-mana terjadi skleroderma atau kulit mengkilat akibat proses fibrosis yang terjadi.

“Jalan terhuyung tertatih karena nyeri itu kalau dibawa jalan seluruh sendi-sendi tulangnya,” ujarnya.

“Artinya memang alasan yang cukup lengkap, dan walaupun merepotkan, tetapi undang-undang mengizinkan demikian, POLDA mendekat ke kediaman yang mau diperiksa agar tidak bertambah sakit,” tutur dokter Tifa.

“Tapi, Yang nggapleki ya ini. Kemarin alasan sakit, hari ini malah melancong! Reuni!,” tambahnya.

Dalam pandangan Dokter Tifa betul-betul senegara ini dipermainkan habis-habisan sama kelakuan orang ini.

“Dan kedatangannya ternyata hanyalah untuk memanfaatkan orang-orang yang reuni untuk jadi tameng sekaligus memaksa mereka jadi alibi tanpa mereka sadari,” ungkapnya.

Menurutnya, bahwa dia berani datang reuni, seakan ingin menunjukkan, dulu memang betul-betul teman kuliah.

Dia mengingatkan persis seperti 8 tahun lalu di tahun 2017, ketika pertama kali kecurigaan keabsahan ijazahnya diuji oleh Bambang Tri. Yang berujung pemenjaraan Bambang Tri.

Tahun 2017, bikin heboh. Mengibul di panggung punya Dosen Pembimbing skripsi galak bernama Pak Kasmudjo.

Yang belakangan karena ketahuan ngibul, dia ralat dengan enteng.

“Pak Kasmudjo memang bukan pembimbing skripsi saya. dia dosen pembimbing akademik” ujarnya.

“Padahal Pak Kasmudjo sudah mengaku, beliau bukan Pembimbing Skripsi, juga bukan Pembimbing Akademik,” imbuh dokter Tifa.

Di sini saya perlu sampaikan kata dokter Tifa bahwa REUNI ITU BUKAN BUKTI!

Pertanyaan tetap harus ditanyakan dengan lantang: MANA IJAZAHMU, JOKOWI?

Ia meminta untuk tidak mengintimidasi Alumnus fakultas kehutanan UGM.

“Jangan kau intimidasi Alumnus Kehutanan UGM angkatan 1980, bahwa kalau Ijazahmu palsu, maka semua orang itu ijazahnya juga palsu!,” tandanya.

Itu sesat pikir namanya!, Logika Pasar Pramuka ! Saya yakin kata dokter Tifa dengan datang ke Reuni dengan penampilan wajah bengkak kepu-kepu, kulit merah mengkilat, rambut tambah botak, dan penampilan 20 tahun lebih tua dari usia

“Mereka semua membatin. Dan karena mereka orang Jawa, pertanyaan yang ada dalam batin itu tak mampu mereka utarakan. Sambil diam-diam mereka mengamati, membatin, mengamati, membatin,” ungkapnya.