8 November 2026

Effendi Gazali

MoneyTalk.id,Jakarta – Pakar komunikasi politik Effendi Gazali membandingkan gaya politik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gibran Rakabuming Raka dalam membaca kemungkinan peta politik menuju Pemilu 2029.

Menurut Effendi, jika harus memilih antara AHY dan Gibran, dirinya secara pribadi lebih condong kepada AHY. Ia menilai perjalanan politik AHY berlangsung lebih bertahap dan tidak terkesan terburu-buru.

“Kalau saya pribadi, saya terang-terangan di sini, ketimbang Gibran, mendingan AHY-lah,” kata Effendi Gazali di acara Kompas TV, Senin (14/9/2026).

Effendi menyebut AHY juga dapat dipandang sebagai sosok yang memiliki latar belakang keluarga politik atau “putra mahkota”. Namun, menurut dia, AHY menempuh perjalanan politik secara lebih perlahan.

“Saya bayangkan seorang AHY itu juga putra mahkota. Tapi majunya pelan-pelan. Nggak langsung nabrak-nabrak konstitusi. Pelan-pelan saja,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi menarik karena Effendi kemudian mengajak publik membayangkan bagaimana jika Gibran menyampaikan pidato politik dengan gaya komunikasi seperti AHY.

Menurut dia, situasi politik akan menjadi jauh lebih sulit diprediksi apabila Gibran mulai menyampaikan pesan-pesan politik secara terbuka, terutama jika dikaitkan dengan sinyal menuju Pilpres 2029.

“Dan saya nggak bisa bayangkan ini bola yang lebih liar kalau Gibran yang pidato seperti AHY. Coba saja sama-sama, kita bayangkan Gibran yang pidato seperti AHY,” katanya.

Effendi menilai persoalannya bukan hanya mengenai siapa yang memiliki peluang maju dalam kontestasi politik mendatang, tetapi juga bagaimana pesan yang disampaikan seorang tokoh dapat dibaca sebagai sinyal politik.

Ia pun mengajak publik mencermati kemungkinan pesan yang muncul apabila Gibran mulai berbicara dengan gaya politik seperti AHY.

“Apa yang mau dia katakan dalam konteks sinyal politik 2029? Itu saja dulu,” ujar Effendi.

Pernyataan Effendi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan menuju 2029 bukan hanya akan ditentukan oleh elektabilitas dan dukungan partai politik, tetapi juga oleh kemampuan para tokoh membangun komunikasi politik dan mengirimkan sinyal kepada publik.

AHY sendiri merupakan Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Sementara Gibran merupakan Wakil Presiden RI yang mendampingi Presiden Prabowo Subianto.

Dengan posisi keduanya saat ini, setiap pernyataan maupun gerak politik AHY dan Gibran berpotensi menjadi perhatian publik, terutama ketika mulai dikaitkan dengan konfigurasi politik menuju Pemilu 2029.

MoneyTalk, Jakarta – Juru bicara era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie Massardi, kembali melontarkan kritik tajam terhadap keberadaan lembaga survei politik di Indonesia. Dalam pernyataan terbarunya, ia menyentil peran lembaga survei yang dinilainya tidak netral dan cenderung berpihak kepada pemilik modal. Bahkan, Adhie menyampaikan sindiran historis yang menohok: “Bersyukurlah bangsa +62 karena lembaga-lembaga survei baru lahir sekarang. Bayangkan jika mereka sudah muncul tahun 1940-an,” ungkapnya di akun X (Twitter), Senin (14/7/2025).

Ia kemudian melanjutkan imajinasinya dengan sebuah skenario satir. “Setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan Kemerdekaan, mereka lalu survei: Rakyat ikut Soekarno-Hatta atau ikut Belanda? NKRI tak akan merdeka, karena yang bisa bayar survei waktu itu ya Belanda!” sindir Adhie.

Sindiran Adhie itu merujuk pada maraknya lembaga survei politik yang kerap kali disebut-sebut tidak independen dan hanya menyuarakan kehendak pihak yang menjadi donatur atau klien mereka. Dalam beberapa dekade terakhir, terutama menjelang pemilu, nama-nama lembaga survei ramai bermunculan dengan hasil riset yang kerap kali kontradiktif satu sama lain, sehingga publik pun bingung membedakan mana data yang otentik dan mana yang dipesan.

“Kondisi saat ini menunjukkan degradasi kepercayaan publik terhadap lembaga survei. Mereka seolah bukan alat demokrasi, tetapi alat propaganda kekuasaan,” ujar Adhie.

Ia menilai, jika lembaga-lembaga seperti itu sudah ada sejak masa perjuangan kemerdekaan, maka sejarah bangsa ini bisa saja berbeda. “Bisa saja hasil survei menunjukkan mayoritas rakyat masih ingin dijajah karena propaganda kolonial dan ketakutan akan ketidakpastian kemerdekaan. Lalu apa jadinya kita? Tidak akan ada Republik Indonesia,” tegasnya.

Pernyataan Adhie juga mempertegas kritik lama terhadap adanya praktik politik uang di balik publikasi survei. Tak sedikit pengamat yang menyebut survei kini kerap dijadikan alat untuk membentuk opini publik, bukan sekadar memotret realitas yang ada.

Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali, juga pernah menyampaikan bahwa survei telah berubah dari alat ilmiah menjadi alat legitimasi politik. “Jangan-jangan yang dikutip bukan kebenaran statistik, tapi kebenaran pesanan,” katanya dalam diskusi publik.

Fenomena ini menurut banyak pihak justru merugikan demokrasi. Ketika lembaga survei tidak lagi berdiri di atas prinsip objektivitas dan netralitas, maka publik tidak lagi mendapat informasi jernih untuk mengambil keputusan politik. Bahkan, hasil survei bisa menjadi alat untuk menggiring opini massa, menciptakan efek “ikut pemenang” (bandwagon effect), dan menekan calon alternatif.

Dalam konteks itu, sindiran Adhie Massardi menjadi pengingat akan pentingnya integritas dalam dunia riset opini publik. Sebab jika survei berubah menjadi alat propaganda, maka demokrasi akan berjalan tanpa kompas.

Sebagai juru bicara Gus Dur, Adhie Massardi kerap melanjutkan warisan pemikiran presiden ke-4 RI tersebut dalam mempertahankan independensi nalar publik. Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang tidak mudah tunduk pada opini mayoritas yang digiring oleh media atau survei, melainkan teguh pada prinsip dan visi moralnya.

“Rakyat itu harus cerdas. Jangan mau dibodohi oleh angka-angka survei yang tidak jelas sumber dan metodologinya. Lebih baik percaya pada akal sehat dan rekam jejak para calon pemimpin,” tutup Adhie.