7 November 2026

ET Hadi Saputra

MoneyTalk.id,Jakarta – Jurnalis ET Hadi Saputra menilai hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mengenai simulasi pasangan calon presiden 2029 menjadi sinyal serius terhadap dinamika politik nasional. Menurutnya, tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menunjukkan perubahan besar dalam cara publik menentukan pilihan politik.

Dalam keterangannya, Hadi menyebut hasil survei tersebut bukan lagi sekadar peringatan, melainkan sebuah “alarm bahaya nasional”. Pernyataan itu disampaikannya sebagai pandangan pribadi terhadap tren politik yang menurutnya semakin dipengaruhi oleh popularitas di media sosial.

“Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) bukan lagi peringatan, melainkan alarm bahaya nasional. Bayangan lahirnya seorang Presiden Konten kini menjadi mimpi buruk yang kian mendekati kenyataan,” kata Hadi.

Ia merujuk pada hasil survei SMRC yang menempatkan Dedi Mulyadi memperoleh dukungan sebesar 59 persen, sedangkan Presiden Prabowo Subianto berada di angka 28,3 persen dalam salah satu simulasi yang beredar. Menurut Hadi, selisih tersebut menunjukkan adanya pergeseran preferensi politik yang signifikan.

Meski demikian, Hadi mengingatkan bahwa survei merupakan potret opini publik pada saat pengambilan data dan bukan hasil akhir pemilihan umum. Ia menilai angka tersebut tetap perlu menjadi perhatian seluruh aktor politik.

Lebih jauh, Hadi mengkritisi fenomena meningkatnya pengaruh media sosial terhadap pembentukan citra politik. Menurutnya, muncul kecenderungan masyarakat lebih mudah tertarik pada konten yang viral dibandingkan mengkaji rekam jejak, kapasitas, maupun gagasan seorang calon pemimpin.

Ia berpendapat, apabila popularitas digital menjadi faktor dominan dalam menentukan pilihan politik, maka kualitas demokrasi berpotensi mengalami penurunan.

“Membayangkan negara berpenduduk ratusan juta ini diurus dari balik layar ponsel adalah kecemasan yang teramat nyata,” ujarnya.

Hadi juga menilai berbagai aktivitas yang dikemas dalam bentuk konten media sosial, termasuk penanganan persoalan masyarakat dan penertiban di lapangan, berpotensi lebih menonjolkan aspek visual dibandingkan substansi kebijakan apabila tidak diimbangi tata kelola pemerintahan yang kuat.

Menurutnya, penyelenggaraan negara membutuhkan kepastian hukum, perencanaan yang matang, serta kemampuan mengambil keputusan strategis, bukan hanya kemampuan membangun citra di ruang digital.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh popularitas instan yang dibangun melalui algoritma media sosial.

“Kita harus tetap menilai seorang pemimpin berdasarkan integritas, kapasitas, rekam jejak, dan kemampuan menyelesaikan persoalan bangsa, bukan semata-mata karena kontennya viral,” ujarnya.

Hadi menutup pernyataannya dengan mempertanyakan kesiapan Indonesia menghadapi kemungkinan lahirnya kepemimpinan yang menurutnya lebih bertumpu pada pencitraan digital dibandingkan kualitas kepemimpinan.

Terlepas dari pandangan tersebut, hasil survei tetap merupakan salah satu indikator dinamika opini publik yang dapat berubah seiring perkembangan politik, kinerja para tokoh, maupun situasi nasional menjelang Pemilu Presiden 2029.

MoneyTalk, Jakarta – Luar biasa kreatifnya mantan imam Istiqlal ini. Setelah naik jet, menentukan hilal kok malah di Hotel Borobudur, bukan di Masjid Istiqlal yang megahnya sudah mendunia. Sepertinya kesaksian hilal memang butuh aroma Sop Buntut legendaris agar lebih cepat menembus langit kebijakan yang makin sulit dicerna nalar.

Inilah seni toleransi yang sungsang; mencampuradukkan urusan ibadah dengan kenyamanan hotel berbintang yang biayanya sanggup membuat rakyat kecil menangis berjamaah. Kalau di masjid dianggap kurang mentereng untuk sorotan kamera, jangan-jangan besok penetapan hari raya harus pindah ke ballroom mewah demi sepiring hidangan kelas atas para pemegang kuasa.

Kita sedang dipaksa menelan gimik visual yang dibungkus jubah keberagaman, padahal esensinya hanyalah kebingungan prioritas dari penguasa yang lebih haus panggung daripada haus akan ketakwaan yang tulus.

Masih mau bicara soal kemurnian syariat, atau sudah terlalu nyaman dengan akrobat pencitraan yang aromanya lebih kental bau kuah kaldu daripada bau keberkahan?

Penulis : ET Hadi Saputra

MoneyTalk, Jakarta – Entah apa yang ada di kepala Zita Anjani. Namanya, yang kini menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, mendadak jadi perbincangan. Bukan karena prestasi, melainkan karena ketidakhadirannya.

Unpad, salah satu kampus terbaik di Indonesia, sudah menyiapkan segalanya: seminar, mahasiswa, panitia. Semua siap menyambut Zita, sang tamu istimewa.

Bukan persiapan satu atau dua hari. Panitia sudah berbulan-bulan bolak-balik berkoordinasi. Bahkan ketika Zita meminta format acara diubah dari luring menjadi daring, mereka turuti. Sesi tanya jawab pun dihapus demi menyesuaikan keinginannya. Namun, Zita tidak datang.

Seminar molor, panitia kalang kabut, peserta kecewa. Padahal waktu itu sangat berharga waktu yang tak bisa dibeli. Yang lebih mengherankan, di saat bersamaan Zita justru mengunggah foto-foto aktivitasnya di gym. Publik marah. Wajar saja. Bagaimana mungkin seorang pejabat yang sudah berjanji, justru mengkhianati janjinya sendiri?

Zita kemudian membuat klarifikasi dan permintaan maaf yang bertebaran di media sosial. Katanya, foto-foto itu hanya “latepost” dan jadwalnya padat.

Tapi alasan itu menimbulkan pertanyaan lain: jika jadwal begitu padat, mengapa masih sempat mengunggah foto di media sosial? Dari sekian banyak agenda, mengapa seminar di kampus di depan para calon pemimpin masa depan justru yang diabaikan?

Ini bukan sekadar soal Zita Anjani. Ini soal etika, profesionalisme, dan tanggung jawab. Jabatan Utusan Khusus Presiden bukanlah jabatan main-main. Di baliknya ada nama Presiden, ada harapan rakyat.

Ketika seorang pejabat tidak menghargai waktu orang lain dan institusi pendidikan, itu berarti ia tidak menghargai jabatannya sendiri. Lebih fatal lagi, ia mengabaikan kepercayaan publik.

Mungkin sudah saatnya kita meninjau kembali: apakah jabatan-jabatan seperti ini masih relevan? Atau jangan-jangan hanya tempelan untuk kepentingan pencitraan?

Zita memang sudah meminta maaf. Tapi, apakah maaf itu cukup? Publik kini lebih cerdas. Mereka tidak hanya menilai kata-kata, tetapi juga perbuatan.

Seharusnya, seorang pemimpin datang ketika janji sudah terucap. Karena kehormatan seorang pemimpin terletak pada kata-katanya.

Penulis : ET Hadi Saputra (Alumni Warung Bu Tatang Fikom Unpad Sekeloa)