21 Oktober 2026

ex Tenaga Ahli DPR RI

MoneyTalk, Jakarta – Bagaimana bisa proyek besar yang mangkrak menyebabkan banyak konsumen yang rugi. Namun hanya kepada yang mengadu yang mendapatkan pergantian. Bukankah seharusnya Pemerintah melalui Kementerian Perumahan Kawasan Permukiman (PKP) bisa bersikap tegas memaksa Meikarta membuka data seluruh konsumennya dan mengembalikan uangnya? Bukankah Meikarta sudah memenuhi unsur penipuan?

Lemahnya hukum ternyata tidak berubah dari satu presiden ke presiden berikutnya. Ketika seorang presiden dipandang seperti seekor Kucing. Maka menterinya pun bertindak seperti Kambing. Pihak Konglomerat dapat leluasa memangsa rakyat. Kasus Meikarta adalah contoh.

Bermula dari laporan banyak jemaat gereja kepada Hasyim Djojohadikusumo tentang uang mereka yang tidak dikembalikan pihak Meikarta. Hasyim lalu meminta pertanggung jawaban Konglomerat James Riady, pemilik Meikarta. Dan meminta Menteri PKP Maruarar Sirait sebagai fasilitator.

Namun Ara justru bermanuver terbalik. Membuat penyelesaian kasus Meikarta berpihak pada Konglomerat bukan Konsumen. Ara membuat kanal pengaduan BENAR PKP. Dalam kasus Meikarta, konsumen harus membuat laporan yang disertai bukti-bukti yang sangat-sangat komplit. Dan mengirimkannya ke BENAR PKP. Apabila tidak komplit maka tidak ditindaklanjuti.

Artinya penyelesaian kasus Meikarta dibuat Bottom Up. Pengaduan dari bawah (konsumen) ke atas (pemerintah). Yang tentu saja ini menguntungkan pihak Meikarta. Beda bila dibuat Top Down alias Pemerintah menekan Meikarta. Untuk membuka data konsumen dan mengembalikan uangnya. Bila ada yang disembunyikan, Meikarta akan mendapatkan hukuman.

Perlu diketahui, jumlah konsumen yang mengadu hanyalah puncak gunung es. Yang tidak mengadu jauh lebih banyak. Hingga hampir satu bulan sejak layanan pengaduan BENAR PKP diluncurkan. Dalam kasus Meikarta, hanya 118 orang yang mengadu. Itupun hanya 102 orang yang dokumennya lengkap dan dapat ditindaklanjuti (Data Kementerian PKP). Jumlah konsumen Meikarta sendiri hampir 20.000 orang (Data di Pengadilan).

Ara meluncurkan kanal pengaduan BENAR PKP (26 Mar 2025) dengan mengatakan, “Tegakkan hukum dengan benar tanpa pandang bulu.” Dalam kasus Meikarta, seolah Ara ingin menegakkan hukum dengan benar. Berani berpihak kepada konsumen melawan Meikarta. Padahal strateginya terbukti berpihak pada Meikarta bukan pada seluruh konsumen

Selanjutkan Ara mengatakan, “Ibu saya tidak bangga saya dilantik menjadi menteri, tapi beliau bangga kewenangan saya bermanfaat bagi banyak orang.” Dalam kasus Meikarta, seolah Ara melakukan tindakan yang bermanfaat bagi banyak konsumen atas dasar pesan ibunya. Padahal strateginya bermanfaat bagi Meikarta dan sedikit konsumen, bukan seluruh konsumen.

Saat Ara melakukan pertemuan dengan pemilik Meikarta, James Riady dan John Riady serta konsumen Meikarta di Kementerian PKP (23 Apr 2025). Dalam rangka penyelesaian masalah ganti rugi konsumen Meikarta yang tak kunjung selesai selama beberapa tahun. Ara membuka acara dengan berdoa kepada Tuhan agar memberikan yang terbaik.

Padahal jelas Ara memberikan yang terbaik kepada Meikarta bukan kepada seluruh konsumen. Sehingga dalam penyelesaian kasus Meikarta di tangan Ara. Tampak Ara melakukan tipu daya dengan nama hukum, orang tua, dan Tuhan, demi menguntungkan pihak Meikarta. Apakah menteri seperti ini pantas dipertahankan? Bobrok, tidak bermoral !

Penulis : Nirmal Ilham, ex Tenaga Ahli DPR RI

MoneyTalk, Jakarta – Setelah banyak kasus keracunan terjadi, instruksi Presiden Prabowo hanya perbaiki sistem dan perkuat tata kelola program MBG secara menyeluruh. Instruksi yang tidak tegas, di tengah banyak siswa keracunan. Instruksi yang tidak jelas, di tengah banyak orang tua murid ketakutan. Seorang pemimpin “Berjiwa Kucing”, tidak akan sanggup “Berhati Singa”.

Berdasarkan data Global Child Nutrition Foundation (GCNF) tahun 2024, program seperti MBG sudah dilakukan oleh 146 negara. Baik negara kaya seperti Amerika Serikat dan Jepang, negara menengah seperti Brazil dan China, hingga negara miskin Afrika seperti Kenya dan Namibia. Namun dari semua itu tidak ada penyelenggara proyeknya orang dekat presiden, orang pendukung presiden, orang partainya presiden dan anggota dewan dari partainya presiden.

Negara-negara yang menyelenggarakan seperti MBG itu, pada umumnya dilakukan pihak sekolah. Dengan anggaran dari Kementerian Pendidikan, baik ditanggung semuanya atau berbagi biaya dengan pihak sekolah dan orang tua murid. Manfaatnya, banyak pihak terlibat seperti pihak sekolah, orang tua murid, pemerintahan daerah dan pertanian lokal. Makanan yang diberikan memenuhi gizi, sesuai keinginan orang tua dan selera anak.

Dalam sebuah diskusi kecil antara Burhan Rosidi, John Mempi, Salamuddin Daeng dan Nirmal Ilham tentang Prabowo tidak berfikir Filosofis dan Historis dalam program MBG. Menarik kesimpulan;

Pertama, Presiden Prabowo membuat kebijakan program MBG yang bagus tapi pelaksanaannya buruk. Karena masih menggunakan sistem proyek. Dimana dibentuk badan yang melaksanakan dan mengawasi, ada pemenang tender proyek dan ada sub pelaksana proyek.

Secara filosofis bagaimana mungkin program memberi makan anak sekolah yang sangat sosial diberikan kepada swasta yang sangat ekonomis, mencari untung sebesar-besarnya. Ada resiko yang sangat besar. Dan terbukti terjadi keracunan yang sangat masif.

Kedua, Prabowo tergesa-gesa dalam melaksanakan program MBG. Tanpa terlebih dahulu memperhatikan produksi pangan nasional dan impor pangan yang terjadi. Atau tanpa berswasembada pangan terlebih dahulu. Bahkan tanpa persiapan bagi produksi wadah makanan, sehingga harus impor dari China.

Secara historis Prabowo tidak belajar dari pembangunan pertanian Suharto dan aturan pengendalian harga pangan yang tegas Orde Baru. Dimana Menteri Penerangan, Harmoko mengumumkan secara langsung harga-harga bahan kebutuhan pokok yang harus berlaku di beberapa pasar induk utama dalam negeri.

Ketiga, Presiden Prabowo tidak menganggap serius kasus keracunan yang banyak terjadi. Seharusnya pemimpin yang “Berhati Singa” akan dengan tegas mengusut dan menghukum pihak penyelenggara proyek MBG yang membuat terjadinya keracunan.

Untuk itu sebuah tim kecil dari diskusi ini akan mengusut dan mengumumkan siapa saja nama pemilik dapur MBG yang menyebabkan terjadinya keracunan. Berdasarkan data investigasi Majalah Tempo, banyak pemilik proyek MBG itu orang dekat Prabowo atau orang Partai Gerindra.

Atas dasar ketiga kesimpulan tersebut, seluruh nara sumber dalam diskusi ini merekomendasikan kepada Presiden Prabowo agar;

Pertama, menghentikan sementara program MBG untuk menenangkan kepanikan dan ketakutan yang menghantui siswa dan orang tua murid.

Kedua, memperhatikan bagaimana MBG di negara lain yang sudah mapan pelaksanaannya dan sesuai dengan kemampuan keuangan serta budaya agraris Indonesia.

Ketiga, membuka data secara terbuka terkait impor pangan Indonesia setelah program MBG berlangsung. Termasuk impor wadah makanan dari China yang dipersoalkan oleh Asosiasi Produsen Wadah Makanan Indonesia (APMAKI).

Sudah selayaknya di dunia yang terbuka ini rakyat mendapatkan informasi tentang adanya permasalahan dalam soal produksi pangan, impor pangan, rantai pasok pangan, kualitas pangan dan harga pangan. Dimana program MBG dilaksanakan di atas dasar semua permasalahan itu. Yang semuanya belum diselesaikan oleh Presiden Prabowo. Sehingga dalam program MBG ini, seolah Prabowo ingin menunjukkan dirinya “Berhati Singa” , padahal “Berjiwa Kucing”.

Penulis : Nirmal Ilham,ex Tenaga Ahli DPR RI