8 November 2026

Geng Jokowi

MoneyTalk, Jakarta – Wacana penempatan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian kembali memantik ketegangan politik di lingkar kekuasaan nasional. Penolakan tegas Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo terhadap gagasan tersebut dinilai bukan sekadar sikap institusional, melainkan mencerminkan pertarungan kekuatan politik di level elite.

Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyebut keberanian Listyo Sigit menolak opsi Polri di bawah kementerian diduga kuat karena dukungan jaringan kekuasaan lama yang masih berpengaruh, yang ia sebut sebagai “geng Jokowi”.

“Ini bukan sikap biasa. Ini keberanian politik. Listyo Sigit diduga dibekingi kekuatan politik sisa rezim sebelumnya dan bahkan disebut-sebut memiliki data atau informasi sensitif yang menjadi kelemahan Presiden Prabowo,” kata Sutoyo dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).

Sutoyo menyoroti diterbitkannya Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 10 Tahun 2025 sebagai bukti konkret bahwa Kapolri berani menabrak putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam putusan MK, aparat kepolisian aktif secara tegas dilarang menduduki jabatan di lembaga sipil maupun jabatan non-keamanan.

Namun, Perpol 10/2025 justru membuka ruang luas bagi perwira Polri aktif untuk mengisi posisi strategis di berbagai lembaga negara dan kementerian.

“Ini jelas melanggar semangat konstitusi dan putusan MK. Yang lebih berbahaya, Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas Polri terkesan membiarkan,” ujar Sutoyo.

Ia menilai, jika benar Presiden Prabowo tidak mampu mengoreksi atau membatalkan kebijakan Kapolri, maka ada persoalan serius dalam relasi kekuasaan antara sipil dan aparat keamanan.

Kritik juga diarahkan pada Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian yang dibentuk Presiden Prabowo. Menurut Sutoyo, keberadaan komisi tersebut sejauh ini belum menunjukkan taringnya.

“Komisi ini seperti macan ompong. Tidak ada satu pun langkah tegas terhadap kebijakan Kapolri yang jelas-jelas menuai kontroversi publik dan kritik luas,” katanya.

Sutoyo bahkan menyebut Presiden Prabowo dan komisi tersebut seolah tak berdaya menghadapi manuver Listyo Sigit.

“Kalau Presiden tidak bisa mengendalikan Kapolri, pertanyaannya: siapa sebenarnya yang memegang kendali Polri hari ini?” tegasnya.

Lebih jauh, Kajian Politik Merah Putih melihat adanya dugaan “politik sandera” dalam dinamika ini. Sutoyo menyebut Listyo Sigit diduga menyimpan data atau informasi strategis terkait elite kekuasaan, termasuk Presiden Prabowo, yang membuat posisinya nyaris tak tersentuh.

“Ini yang membuat Kapolri sangat percaya diri. Ia tidak hanya mengandalkan jabatan, tetapi juga kekuatan informasi,” ujar Sutoyo.

Ia juga menilai posisi Listyo Sigit sebagai Kapolri merupakan warisan langsung dari Presiden Joko Widodo, sehingga secara politik masih terikat kuat dengan kepentingan dan jaringan lama.

“Polri hari ini belum sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintahan baru. Ini transisi kekuasaan yang belum tuntas,” imbuhnya.

Kajian Politik Merah Putih memperingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, reformasi sektor keamanan yang diperjuangkan sejak era Reformasi 1998 berpotensi mundur jauh ke belakang.

“Polisi semakin dominan di ranah sipil, sementara kontrol sipil melemah. Ini sangat berbahaya bagi demokrasi,” kata Sutoyo.

Ia mendesak Presiden Prabowo untuk bersikap tegas, baik dengan mengevaluasi Perpol 10/2025 maupun menata ulang relasi Polri dengan kekuasaan sipil.

“Kalau tidak, publik akan menilai Presiden kalah oleh Kapolri. Dan itu preseden buruk dalam sistem ketatanegaraan kita,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyindir keras gaya komunikasi politik Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP), yang kerap menggunakan istilah “kampungan” untuk menyerang pihak yang tidak sejalan dengannya.

Dalam diskusi Kajian Politik Merah Putih pada Minggu malam, 19 Oktober 2025, yang semula direncanakan membahas satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, arah pembahasan justru berbelok pada tema tajam:

“LBP Kampungan: Pasca Rencana Pendirian Family Office dan Bayar Utang Whoosh Ditolak Purbaya Yudhi Sadewa, Kapan LBP Akan Menuduh Purbaya dan Prabowo Subianto Kampungan?”

Menurut Sutoyo, istilah politik kampungan sebenarnya memiliki dua makna. Pertama, bernilai positif bila merujuk pada politik yang berakar pada nilai-nilai lokal dan semangat gotong royong—seperti konsep kampung demokrasi. Kedua, bermakna negatif bila digunakan untuk menggambarkan gaya politik yang primitif, arogan, dan berorientasi kekuasaan.

“Makna kedua inilah yang layak disematkan kepada LBP,” tegas Sutoyo.

Ia menilai, LBP kerap melabeli proses politik, hukum, maupun ekonomi yang tidak sesuai dengan keinginannya sebagai tindakan kampungan. Sutoyo mengutip pernyataan Luhut di Gedung KPK pada 18 Juli 2023, yang menyebut operasi tangkap tangan (OTT) tidak efektif.

“Kalau mau bersih-bersih amat, di surga saja,” ucap Luhut kala itu.

Bagi Sutoyo, komentar semacam itu mencerminkan sikap arogan dan ketidakmampuan berpikir sistematis. Ia bahkan menyebut LBP berperilaku layaknya “komandan GALI (Gabungan Amal Liar)” yang asal menyerang tanpa dasar keilmuan dan solusi konstruktif.

“LBP makin liar karena merasa tanpa lawan tanding sebagai komandan Geng Jokowi (GengJo). Ucapannya asal nabrak dan menuduh lawan politiknya kampungan,” katanya.

Sutoyo juga menyinggung sikap LBP terhadap kontroversi pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden. Ia menilai, LBP gagal memahami bahwa proses politik yang meloloskan Gibran justru menggambarkan politik kampungan yang sebenarnya.

Selain itu, Sutoyo mengingatkan bahwa pada Mei 2025 Luhut juga menyebut delapan kritik dari LPP-TNI termasuk seruan pemakzulan Gibran sebagai tindakan kampungan.

“LBP tidak sadar, justru ucapannya sendiri yang kampungan. Ia melecehkan para senior yang lebih bijak dan negarawan,” ujarnya.

Lebih jauh, Sutoyo menuding Luhut sebagai simbol bandit oligarki yang dekat dengan kepentingan asing, termasuk Tiongkok.

“Pada Juni 2023, indikasi kuat ia menjadi operator koruptor kelas kakap dalam penguasaan sumber daya alam,” kata Sutoyo.

Ia juga mengingatkan, pada Juli 2023, LBP sempat menyebut Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai kampungan karena menuding adanya upaya penguasa menjegal Anies Baswedan.

“Celaka otak kampungan model LBP. Perilakunya liar, bengis, dan logikanya primitif,” ucap Sutoyo dengan nada tajam.

Sutoyo menutup pernyataannya dengan sindiran psikologis:

“LBP mungkin tengah terjebak dalam defense mechanism mekanisme pertahanan diri dari tekanan dan ketakutan kehilangan pengaruh. Tapi kalau terus dipakai, mekanisme itu akan merusak kewarasan politiknya sendiri.”