8 November 2026

Guru Besar Unair

MoneyTalk, Jakarta – Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto, melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai tidak membuka ruang bagi suara publik. Ia menegaskan, seorang presiden yang merasa paling benar dan menutup diri dari kritik rakyat berpotensi layak dimakzulkan dalam sistem demokrasi.

Pernyataan itu disampaikan Henri sebagai respons atas dinamika politik global, termasuk wacana pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mencuat dalam pemberitaan internasional.

Menurut Henri, prinsip dasar demokrasi menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Karena itu, setiap pemimpin negara wajib mendengarkan aspirasi publik, terutama ketika kebijakan yang diambil berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.

“Presiden yang merasa benar sendiri, padahal kebijakannya merugikan negara secara signifikan, tapi tidak mau mendengar suara kebenaran dari rakyatnya, memang pantas dimakzulkan,” ujar Henri dalam keterangannya, Sabtu (11/4/2026).

Ia menambahkan, mekanisme pemakzulan bukan sekadar alat politik, melainkan bagian dari sistem checks and balances untuk menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan. Dalam konteks ini, kritik publik seharusnya dipandang sebagai bagian dari kontrol sosial, bukan ancaman terhadap stabilitas pemerintahan.

Henri juga menekankan pentingnya sikap kehati-hatian seorang pemimpin dalam mengambil keputusan. Menurutnya, pemimpin yang bijak adalah mereka yang mampu menyerap berbagai pandangan, termasuk kritik keras sekalipun.

“Ini menjadi pelajaran demokrasi agar seorang pemimpin bersedia lebih hati-hati, tidak bertindak seenaknya sendiri, dan tetap berpijak pada kepentingan rakyat,” lanjutnya.

MoneyTalk, Jakarta – Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Prof Henri Subiakto secara terbuka mengungkapkan perubahan pandangannya terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia mengaku dulu begitu percaya pada ketulusan Jokowi sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat kecil, namun kini kehilangan kepercayaan karena melihat banyak kebohongan dan manipulasi politik yang dilakukan selama berkuasa.

“Di keluarga saya sejak kecil diajarkan untuk selalu husnudzon, menghindari suudzon. Karena bagi kami berpikir buruk itu seperti doa. Maka saya selalu berbaik sangka,” ujar Prof Henri dalam pernyataannya, Minggu (19/10/2025).

Ia menuturkan, sebelum 2023 dirinya masih melihat Jokowi sebagai sosok sederhana, pekerja keras, dan teladan bagi rakyat kecil yang berhasil menjadi presiden lewat jalur demokrasi. “Saya dulu menganggap Jokowi sebagai simbol keberhasilan rakyat biasa. Ia besar bukan karena keturunan atau pangkat, tapi karena perjuangan dan kebersamaan dengan rakyat,” ucapnya.

Namun, seiring waktu, kepercayaannya itu perlahan pudar. Henri menyebut banyak kebijakan dan tindakan Jokowi yang menunjukkan sisi manipulatif dan tidak jujur, terutama terkait pengelolaan utang negara, proyek infrastruktur, dan politik dinasti.

“Awalnya informasi negatif tentang Jokowi belum meyakinkan karena tertutup oleh pencitraan kesederhanaan dan keberhasilan infrastruktur. Tapi keburukan dan ketidakjujuran itu tidak bisa disembunyikan selamanya,” katanya.

Ia menyoroti praktik utang besar-besaran yang kini menjadi beban ekonomi berat bagi pemerintahan berikutnya. “Jokowi melakukan rente politik, mengambil keuntungan di depan dengan membiarkan beban dibayar di belakang. Ini korupsi politik tersembunyi yang dibungkus janji dan kebohongan,” tegasnya.

Henri juga menyinggung soal kebohongan pribadi Jokowi, mulai dari pernyataan bahwa anaknya tidak tertarik politik hingga dugaan manipulasi di Mahkamah Konstitusi untuk meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden. “Dulu katanya anaknya hanya jualan martabak dan pisang, tapi kenyataannya didorong jadi penguasa. MK direkayasa, IKN dibiayai APBN meski katanya investor luar negeri. Semua berbalik dari ucapan awalnya,” ujarnya.

Menurutnya, kebohongan demi kebohongan ini membuatnya teringat pada kasus lama soal mobil Esemka yang dinilainya juga penuh sandiwara. “Maaf, saya terlambat menyadari betapa tidak amanahnya tokoh ini. Saya tak menyangka dia bisa begitu enteng berbohong dan mengkhianati orang-orang yang berjasa padanya,” ucap Henri.

Ia mengaku kecewa berat saat mengetahui ambisi Jokowi untuk tetap berkuasa dengan mendorong anaknya menjadi wakil presiden. “Disitulah makin terang betapa ambisius dan tidak jujurnya orang ini. Ia tak hanya mendorong anaknya, tapi juga menanamkan orang-orang kepercayaannya di pemerintahan Prabowo,” tambahnya.

Henri bahkan kini mulai meragukan keaslian ijazah Jokowi. “Kalau dalam hal berbicara saja bisa enteng berbohong, maka tidak menutup kemungkinan untuk urusan ijazah pun sama. Saya dulu percaya karena teman-teman di Facebook mengaku kuliah bareng Jokowi, tapi sekarang saya mulai ragu,” pungkasnya.

Pernyataan terbuka Prof Henri Subiakto ini menambah panjang daftar tokoh akademisi yang mulai mengkritik keras Jokowi di penghujung masa jabatannya. Ia menilai, kejujuran dan integritas adalah fondasi utama seorang pemimpin dan ketika itu hilang, kepercayaan rakyat pun runtuh.