5 November 2026

Hamid Basyaib

MoneyTalk.id,Jakarta – Lebih dari seribu orang, kemarin malam, berkerumun di ruang utama dan banyak sudut dan selasar restoran Cerita Rasa yang besar tapi terasa terlalu kecil. Mereka, dari semua partai dan spektrum politik Indonesia, tumpah untuk merayakan ulang tahun ke-36 Humanika (Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan), sebuah ormas yang pelan-pelan menjadi legenda di kalangan aktivis politik Tanah Air.

Status legendaris itu tidak berlebihan. Begitu banyak “alumni” Humanika hadir, dan tak sedikit di antara mereka yang menjadi menteri atau wakil menteri, anggota DPR (dari semua parpol), bupati di berbagai daerah atau para komisaris BUMN.

Ketika lahir pada 1990, Humanika seakan memenuhi dahaga para aktivis yang gelisah merasakan kepengapan politik. Sementara organisasi mahasiswa intra-kurikuler praktis lumpuh sebagai ekor panjang dari program sterilisasi politik pemerintah Orde Baru melalui program NKK/BKK dan kebijakan-kebijakan yang menyertainya.

Meskipun pemicu pembentukannya adalah pelepasan tokoh mahasiswa Universitas Jayabaya Erlangga dari penjara politik, tapi Humanika dengan cepat memikat kaum aktivis dari semua warna ideologis. Basis awalnya adalah mereka yang dikenal sebagai “Kelompok Cipayung”, sebuah federasi longgar para aktivis HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan GMKI.

Bursah Zarnubi, sebagai penggagas dan ketua pertama Humanika, datang dari unsur HMI, meski ia tidak resmi mewakili organisasi mahasiswa terbesar itu. Dan di belakangnya ada sejumlah aktivis senior yang mendukung dan menyemangatinya, seperti Ekky Syahrudin dan, tentu saja, Hariman Siregar, the living legend dan tokoh utama aksi Malari 1974.

“Bang Hariman adalah tokoh yang menginspirasi langsung pendirian Humanika ini,” kata Bursah dalam sambutannya. “Rasanya ada dua kelompok yang waktu itu diinspirasi oleh beliau, yang satunya adalah Pijar.”

Bursah sendiri, yang kemudian menjalin persahabatan seumur hidup dengan Hariman, adalah contoh terbaik kesuksesan alumni Humanika. Selain pernah menjadi anggota DPR dan Ketua Partai Bintang Reformasi, ia kini bupati Lahat dan Ketua Umum Apkasi, himpunan lebih dari 400 bupati di seluruh Indonesia.

Arus tamu yang besar dari berbagai daerah itu praktis mengalir karena magnet Bursah, yang sedikitnya dalam empat dekade terakhir tetap membumi, selalu tampil apa adanya, selalu hangat dalam pergaulan, dan mashur dengan kesetiakawanannya yang kuat. Keotentikannya perlahan-lahan menjadikan dirinya sebagai pemimpin organik.

Tapi bintang malam itu bagi saya adalah Sri Meliyana alias Melly Zarnubi, yang mengaku “datang dari keluarga baik-baik dan tertib.” Karena menikah dengan Bursah, ia “terpaksa” menyesuaikan diri dengan langgam hidup suaminya yang tak menentu. Tiap hari Bursah pulang pagi, seolah sangat sibuk memikirkan masa depan negara bersama kawan-kawan yang bernasib sama tak menentunya — yang ia deklarasikan dengan heroik sebagai “harta saya yang paling berharga.” Ekonomi keluarga tentu saja masuk dalam daftar masalah.

Melly tampil sangat mengesankan, dan menunjukkan diri sebagai great storyteller. Ia bercerita dengan lancar, tanpa sikap pretensius.

Ceritanya meliput dengan ringkas sejarah Humanika, dan bagaimana ia ikut merawat perjalanan awalnya dengan selalu menyediakan sate ayam dan lontong untuk peserta diskusi bulanan di rumah kontrakan mereka di Gang Poncol yang sempit di Jakarta Selatan. Sumber biayanya adalah 20an persen dari gajinya (bukan gaji suaminya; di mana-mana sejak dahulu kala penganggur tentu tidak bergaji).

Ia merasa wajib menyediakan sajian itu sebisa-bisanya karena, katanya, peserta diskusi bulanan Humanika adalah para mahasiswa dan demonstran yang kesehatan fisiknya harus dijaga dengan baik.

Melly dengan kocak juga buka kartu: ia membujuk Bursah supaya mengadakan diskusi rutin di rumah saja, tanpa mengungkapkan maksud aslinya. Yaitu untuk memutus rantai kebiasaan suaminya, yang kadang baru pulang jam 6 pagi — seolah lebih sibuk dari panglima pasukan yang sedang berperang melawan musuh negara.

Melly tahu kegiatan Humanika dan gerak-gerik suaminya dipantau konstan oleh jaringan intel Orba yang seakan hadir di tiap tikungan jalan. Ia memutuskan untuk mengambil risiko itu. Ia kini bertugas untuk periode ke-3 di DPR mewakili Partai Gerindra, mengalahkan Bursah yang hanya satu kali duduk di Senayan — satu lagi bukti sukses alumni universitas Humanika.

Setelah merangkum dengan ringkas sejarah pembentukan Humanika, ia dengan ketulusan yang mengharukan mengucapkan terima kasih kepada para senior yang sebagian besar sudah tiada, yang telah menginspirasi dan mendukung aktivitas Humanika.

Ia menyampaikan terima kasih khusus kepada Hariman Siregar. “Saya sangat berterima kasih kepada Bang Hariman..”, kata Melly, agak terbata. “Dengan adanya Bang Hariman, kami merasa selalu terlindungi.” Kita hanya bisa meraba-raba betapa beratnya kondisi keluarganya di masa-masa yang sulit itu, dengan tekanan ganda politik dan ekonomi.

Dengan segala kemapanan hidup yang kini dinikmati Melly dan keluarganya, penutup sambutannya tetap berpegang teguh pada garis cita-cita Humanika: “Kepada teman-teman dan para junior, teruslah berjuang. Teruslah berusaha untuk menghadirkan keadilan di negeri kita tercinta.”

Kami semua mendengar, kami mengikuti dan kami semua menaruh hormat tinggi kepada Ibu Humanika Melly Zarnubi.

Perayaan ultah Humanika berlangsung sederhana tapi meriah. Dengan itu kita menyaksikan bagaimana sebuah organisasi kaum intelektual-demonstran, yang boleh dikata memelopori aksi dan gerakan perubahan — di masa ketika kelesuan daya juang melumpuhkan kelompok-kelompok serupa di banyak tempat — merawat stamina perjuangan.

Kita juga menyaksikan bagaimana kehangatan persahabatan dirawat dengan tekun, sedikitnya selama 36 tahun.

Penulis : Hamid Basyaib

MoneyTalk.id,Jakarta – Tiga puluh enam tahun perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA) mempertemukan kembali aktivis lintas generasi dalam Reuni dan Silaturahmi 36 Tahun HUMANIKA di Cerita Rasa Nusantara, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Mengusung tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dengan tagline #AktivisSepanjangMasa, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi perjalanan organisasi yang lahir pada 1990 dan berkembang dalam dinamika gerakan masyarakat sipil Indonesia.

Sejumlah aktivis yang kini berkiprah di berbagai bidang hadir dalam acara tersebut. Di antaranya pendiri HUMANIKA yang kini menjabat Bupati Lahat Bursah Zarnubi, aktivis senior Malari Hariman Siregar, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kepala Badan Komunikasi Kantor Presiden Muhammad Qodari, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Fauzi Amro, Puadi, Iwan Sumule, Hakim Mahkamah Agung Erwin Partogi, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Ma’mun Murod Al-Barbasy.

Namun, salah satu isu yang mencuri perhatian dalam reuni tersebut adalah pandangan politik Bursah Zarnubi mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bursah yang merupakan pendiri sekaligus Ketua pertama HUMANIKA secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan pemerintahan Prabowo.

Menurut Bursah, pemerintahan Prabowo perlu diberikan kesempatan menjalankan siklus pemerintahan selama lima tahun dan, dalam pandangannya, dilanjutkan hingga dua periode.

“Pak Prabowo kan mesti dua periode gitu loh maksudnya. Dan ini mesti kita dukung, enggak boleh kita jatuhkan sebelum dia berhasil,” ujar Bursah dalam acara tersebut.

Ia meminta pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan Prabowo untuk bersabar dan memberikan ruang bagi pemerintahan menyelesaikan agenda yang telah dijalankan.

“Minimal siklus lima tahun itu dijaga. Kita mesti siklus lima tahun dipertahankan. Enggak boleh jatuh bangun, jatuh bangun, demokrasi nanti rusak,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan politik yang muncul di tengah pertemuan aktivis HUMANIKA dari berbagai generasi.

Bursah menempatkan stabilitas pemerintahan sebagai salah satu prasyarat agar agenda pembangunan dan pengelolaan sumber daya ekonomi dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Selain persoalan keberlanjutan pemerintahan, Bursah juga menyoroti agenda ekonomi yang dikaitkannya dengan Pasal 33 UUD 1945.

Ia menilai pemerintahan Prabowo memiliki pekerjaan besar dalam mengubah pengelolaan kekayaan nasional.

“Tapi saya berpandangan itu dia ada tugas besar yang menurut saya belum pernah digagas oleh Presiden sebelumnya. Revolusi Pasal 33,” kata Bursah.

Menurut dia, agenda tersebut perlu diarahkan agar kekayaan nasional dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Bursah juga berharap pemerintahan Prabowo mampu mengubah struktur penguasaan kekayaan nasional yang menurut pandangannya selama ini terlalu banyak berada di tangan kelompok oligarki.

“Kita tunggu beberapa tahun ke depan ini mudah-mudahan kita akan kaya. Dan kasih kesempatan Pak Prabowo untuk mengambil alih kekayaan dari oligarki yang serakah ini,” ujarnya.

Dalam laporan lain mengenai acara tersebut, Bursah juga mengaitkan gagasan perubahan ekonomi dengan kebutuhan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Ia menilai regenerasi HUMANIKA perlu melibatkan anak muda yang mampu mendorong percepatan transformasi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Pembina HUMANIKA sekaligus Ketua Umum kedua, Andrianto, mengingatkan kembali sejarah panjang organisasi tersebut.

HUMANIKA berdiri pada 18 September 1990, dalam situasi politik Orde Baru ketika ruang gerak organisasi mahasiswa dan kelompok kritis menghadapi berbagai pembatasan.

Dari kelompok studi dan diskusi intelektual, HUMANIKA kemudian berkembang menjadi salah satu simpul aktivisme yang terlibat dalam dinamika gerakan menjelang Reformasi 1998.

Andrianto menilai Reformasi 1998 tidak dapat dilepaskan dari rangkaian gerakan yang telah tumbuh jauh sebelumnya.

“Gerakan ’98 itu tidak bisa dikatakan gerakan murni dari teman-teman ’98 saja,” ujarnya.

Karena itu, menurut Andrianto, perjalanan HUMANIKA selama 36 tahun harus dipahami sebagai mata rantai gerakan lintas generasi.

Ia juga menegaskan bahwa HUMANIKA tetap menempatkan konstitusi sebagai salah satu pijakan dalam perjalanan organisasinya.

Dalam forum tersebut, Andrianto menyampaikan pandangannya bahwa sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih sejalan dengan agenda menjalankan amanat UUD 1945.

Reuni 36 tahun HUMANIKA tidak hanya diisi dengan pembicaraan mengenai politik dan kebijakan pemerintah. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kembali aktivis yang selama puluhan tahun telah menempuh jalan pengabdian masing-masing.

Ada yang kemudian masuk ke pemerintahan, parlemen, lembaga negara, dunia akademik, organisasi masyarakat maupun berbagai profesi lainnya.

Aktivis senior Hariman Siregar turut memberikan kata penutup dalam acara tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah gerakan masyarakat sipil dan perjalanan aktivisme di Indonesia.

Sejumlah tokoh lain yang hadir antara lain Trimedya Panjaitan, Hamid Basyaib, Arif Rahman, Puti Haryanto, Puadi, Andi Arief, Umar Juoro, Herdi Sahrasad, Ariadi Ahmad, Haris Moty, Hatta Taliwang, Kisman Latumakila, Andi Rahmat, Effendi Choirie, Sri Melyana dan sejumlah aktivis lainnya.

Pertemuan lintas generasi itu memperlihatkan bagaimana jaringan HUMANIKA yang dibangun sejak 1990 masih bertahan hingga hari ini. Laporan mengenai kegiatan tersebut juga mencatat adanya pemutaran video testimoni dari sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam perjalanan HUMANIKA.

Bagi HUMANIKA, usia 36 tahun bukan hanya penanda bertambahnya umur organisasi. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan gerakan, mempertahankan solidaritas dan membuka ruang kolaborasi baru.

Dari kelompok studi pada awal 1990-an, dinamika menjelang Reformasi 1998, hingga aktivisme lintas profesi pada masa kini, HUMANIKA berupaya mempertahankan jejaring yang telah terbentuk selama lebih dari tiga dekade.

Tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dan tagline #AktivisSepanjangMasa pun menjadi penanda bahwa bagi para aktivisnya, perjalanan organisasi tidak berhenti pada satu generasi.