1 November 2026

HUT TNI 79

MoneyTalk, Jakrta – Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-79 di tengah berbagai tantangan global, termasuk konflik perang dunia yang kini melanda. Di tengah situasi tersebut, pertanyaan besar muncul: mampukah TNI menjaga marwahnya sebagai garda terdepan dalam mempertahankan kedaulatan negara?

Dalam waktu dekat, presiden terpilih Prabowo Subianto akan menghadapi tugas besar untuk menjaga dan memperkuat posisi TNI di tengah tekanan global dan ancaman yang semakin kompleks.

Podcast Madilog Forum Keadilan yang tayang pada Sabtu, 4 Oktober, mengupas secara mendalam mengenai kebutuhan pertahanan yang akan dihadapi oleh TNI ke depannya. Diskusi tersebut menghadirkan Selamat Ginting, seorang pengamat politik, militer, dan pertahanan, yang berbicara mengenai langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk memastikan TNI tetap tangguh dan mampu menjaga kedaulatan bangsa.

Sebagai salah satu institusi yang memainkan peran penting dalam menjaga kedaulatan negara, TNI menghadapi berbagai tantangan baru, termasuk ancaman perang siber, perang informasi, serta dinamika geopolitik yang terus berubah. Tidak hanya ancaman eksternal, TNI juga perlu terus beradaptasi dengan perubahan internal, terutama dalam hal modernisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) dan peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.

Dalam menghadapi konflik global yang semakin kompleks, kemampuan TNI untuk mempertahankan marwahnya sebagai garda terdepan negara akan sangat tergantung pada strategi pertahanan yang efektif, inovatif, dan adaptif. Peran kepemimpinan dari Presiden Prabowo Subianto juga akan menjadi krusial dalam menentukan arah dan kebijakan pertahanan yang sejalan dengan kepentingan nasional.

Sebagai presiden terpilih, Prabowo Subianto memiliki visi besar dalam memperkuat TNI dan memodernisasi sistem pertahanan Indonesia. Strategi utama yang kemungkinan akan diusung oleh Prabowo adalah mengedepankan diplomasi pertahanan, meningkatkan anggaran militer, serta mendorong peningkatan teknologi pertahanan dalam negeri. Prabowo juga diperkirakan akan fokus pada peningkatan kesejahteraan prajurit serta pengembangan strategi militer yang tangguh dan responsif terhadap ancaman global.

Selamat Ginting menekankan pentingnya kebijakan pertahanan yang tidak hanya berfokus pada aspek militer, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia yang kuat, cerdas, dan berdaya saing. Ini berarti bahwa investasi dalam pelatihan dan pendidikan bagi prajurit TNI menjadi sangat penting agar mampu menghadapi ancaman-ancaman non-konvensional di masa depan.

Menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, TNI harus beradaptasi dengan kebutuhan pertahanan modern yang melibatkan penggunaan teknologi canggih dan perang asimetris. Dalam hal ini, modernisasi alutsista dan integrasi sistem pertahanan cerdas akan menjadi kunci untuk mempertahankan kedaulatan negara.

Tantangan Perang Siber dalam Pertahanan Negara

Perang siber telah menjadi ancaman nyata dalam era digital ini, di mana serangan-serangan tidak lagi hanya menggunakan senjata fisik tetapi juga menyasar infrastruktur digital, jaringan komunikasi, serta sistem pertahanan negara. TNI tidak hanya harus bersiap menghadapi serangan militer konvensional tetapi juga harus meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam menangkal serangan siber yang berpotensi melumpuhkan sistem negara dari dalam.

Dalam konteks ini, menjaga marwah TNI sebagai penjaga kedaulatan negara bukan hanya tentang kekuatan militer fisik tetapi juga tentang kemampuan siber yang tangguh. Cyber defense bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan bagi Indonesia agar tetap mampu menjaga stabilitas dan kedaulatan di tengah ancaman dunia maya yang semakin kompleks.

Sebagai presiden terpilih, Prabowo Subianto diharapkan memiliki visi yang jelas dalam mengarahkan TNI untuk lebih siap menghadapi ancaman cyber. Mengingat latar belakangnya di bidang militer, banyak yang berharap Prabowo akan mendorong modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) serta integrasi teknologi informasi dan keamanan siber dalam strategi pertahanan nasional.

Prabowo dituntut untuk tidak hanya fokus pada pengembangan kekuatan fisik militer tetapi juga memperkuat sektor pertahanan siber yang menjadi ujung tombak dalam melindungi infrastruktur kritis negara. Ini termasuk meningkatkan kolaborasi dengan para ahli di bidang keamanan siber, pengembangan sumber daya manusia yang terlatih, dan adopsi teknologi terbaru untuk mendeteksi dan merespons ancaman siber dengan lebih cepat dan efisien.

Selamat Ginting menyoroti pentingnya membangun sistem pertahanan siber yang kuat, mengingat bahwa serangan siber bisa datang dari mana saja dan kapan saja, bahkan tanpa peringatan. Oleh karena itu, TNI harus bekerja sama dengan berbagai institusi, baik nasional maupun internasional, untuk memperkuat kemampuan siber Indonesia.

Penting untuk menyusun strategi komprehensif dalam menghadapi ancaman siber, termasuk dengan membangun pusat komando siber yang mampu melakukan deteksi dini, analisis ancaman, serta respons cepat terhadap serangan. Selain itu, peningkatan keterampilan siber bagi personel TNI dan kolaborasi dengan sektor swasta serta komunitas siber juga menjadi langkah yang krusial.

Selamat Ginting menyoroti bahwa salah satu aspek penting yang harus diperhatikan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia di dalam tubuh TNI. Menurutnya, prajurit yang cerdas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi adalah aset penting dalam menghadapi tantangan keamanan yang bersifat dinamis dan tak terduga.

Seperti yang disampaikan dalam Podcast Madilog Forum Keadilan, kekuatan TNI tidak hanya diukur dari kemampuan militernya, tetapi juga dari seberapa baik institusi ini dapat bekerja sama dengan elemen-elemen lain di dalam negeri, termasuk masyarakat sipil, sektor swasta, dan institusi pendidikan. Prabowo Subianto diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih erat antara TNI dengan berbagai pihak untuk menciptakan strategi pertahanan yang lebih komprehensif dan terintegrasi.

Pembangunan ketahanan nasional yang kuat memerlukan pendekatan holistik, di mana seluruh elemen bangsa bersatu dalam semangat gotong royong untuk menghadapi tantangan yang ada. Prabowo Subianto, dengan latar belakang militer yang kuat, diharapkan mampu membawa visi pertahanan yang tidak hanya fokus pada aspek militer, tetapi juga pada aspek kemanusiaan dan pembangunan sosial-ekonomi yang lebih luas.

Dengan tantangan yang semakin kompleks, TNI harus mampu bertransformasi menjadi kekuatan pertahanan yang modern, yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik tetapi juga memiliki daya tangkal siber yang mumpuni. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, diharapkan arah kebijakan pertahanan akan semakin berfokus pada peningkatan teknologi dan strategi siber guna menjaga kedaulatan dan keamanan negara dari ancaman global yang semakin canggih.

Menjaga marwah TNI bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang kesiapan mental dan teknologi dalam menghadapi ancaman era digital. Modernisasi pertahanan siber adalah langkah penting untuk memastikan bahwa TNI tetap menjadi garda terdepan dalam melindungi Indonesia dari segala ancaman, baik nyata maupun virtual.

Di usianya yang ke-79, TNI dihadapkan pada tantangan besar dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah. Dengan kepemimpinan Prabowo Subianto yang akan segera dilantik, harapannya adalah agar TNI mampu beradaptasi dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, serta tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah bangsa.

Hal ini menjadi bukti bahwa kebutuhan pertahanan Indonesia terus berkembang dan memerlukan strategi yang lebih matang dan terencana. Dengan dukungan dari berbagai pihak dan kolaborasi lintas sektor, TNI dapat terus memperkuat posisinya sebagai institusi yang tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penopang kestabilan dan kesejahteraan bangsa.(c@kra)

Money-Talk, Jakarta – Kemarin, Sabtu 05/10/2024, bangsa ini memperingati usia 79 tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pada awal pembentukannya, lembaga ini bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lalu, TKR dibubarkan dan kemudian berdirilah Tentara Republik Indonesia (TRI), dan berganti nama menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kemudian setelah pemisahan antara militer dengan kepolisian maka diubah kembali menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga saat ini.

Pada masa Orde Lama alias Demokrasi Terpimpin hingga masa Orde Baru, TNI pernah digabung dengan Kepolisian. Penggabungan ini dikenal secara kolektif dengan singkatan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Sesuai Ketetapan MPR nomor VI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan POLRI serta Ketetapan MPR nomor VII/MPR/2000 tentang peran TNI dan POLRI, maka sejak tanggal 18 Agustus 2000 keduanya kembali terpisah.

Indonesia pada awal berdirinya sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara. Kemudian dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di sidang PPKI tanggal 22/08/1945 dan diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23/08/1945. Namun, BKR bukanlah tentara sebagai suatu organisasi kemiliteran yang resmi. Baru melalui Maklumat Pemerintah tanggal 05/10/1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 07/01/1946, TKR berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian pada 26/01/1946, diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Sejak 1959, tanggal 05/10 ditetapkan sebagai Hari Angkatan Perang atau Hari Angkatan Bersenjata, yang saat ini disebut sebagai Hari Tentara Nasional Indonesia, yaitu hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16/12/1959 untuk memperingati peristiwa kelahiran angkatan bersenjata Indonesia. Oleh karenanya saat ini TNI sudah berusia 79 tahun dihitung saat pembentukan TKR pada 05/10/1945 silam.

Oleh karenanya, saat Peringatan HUT TNI ke-79 yang dipusatkan di Monumen Nasional (Monas) kemarin, ditampilkan 1.059 jenis Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) dan melibatkan 100.000 prajurit aktif. Alutsista modern yang tampil mulai dari milik TNI-AU Pesawat-pesawat Tempur Sukhoi SU-27 Flanker, F-16 Fighting Falcon, T-50 Golden Eagle, Hercules C-130J, HS Hawk 100/200 hingga berbagai jenis Drone (Geospasial, Surveillance, Tactical Combat, Angkut Logistik, hingga Drone CH4). Sementara melalui Videotron juga ditampilkan Alutsista milik TNI-AL yang terdiri atas All Terrain Assault Vehicle (ATAV), Indonesian Light Strike Vehicle (ILSV), Rigid/Rubber Hulled Inflatable Boat (RHIB), hingga Explosive Ordnance Disposal (EOD).

Sementara TNI-AD tak kalah garang menampilkan jajaran produksi PINDAD mulai dari Anoa (APC dan Morse), Komodo, Komob Kopassus, P2 Tiger, Panser Badak & Pandur, Panser V-150 Kanon,Tank Harimau,Tank Marder, Tank Armoured Recovery Vehicle (ARV), Tank Armoured Engineer Vehicle (AEV), juga kebanggaan TNI AD Tank Leopard 2 dan Tank Scorpion. Ada juga LML (Lightweight Multiple Launcher) dan RapidRanger Multi Mission System (RapidRanger MMS) dengan rudal Starstreak/rudal mistral ATLAS dan Multi Purpose Combat Vehicle (MPCV). Ada juga Radar bergerak CM200/Shikra dan Mistral Coordination Post (MCP) dari Decon Nubika (nuklir, biologi, kimia), lidik Nubika, Spider Excavator, Unit M3I Amphibious Pontoon, unit Treva, dan Faun Trackaway, Monob Hubad, Komob Hubad, SOTM Hubad, ECS Hubad dan Jammer Hubad.

Menariknya, Alutsista-alilutsista TNI ini beberapa di antaranya kemarin sengaja diperbolehkan untuk dinaiki masyarakat yang ikut tumpah ruah di lokasi, sehingga tercipta Manunggal antara Rakyat dan Tentara. Hal ini bagus dan patut diapresiasi karena rakyat memang ingin agar TNI dan alutsistanya yang dibeli dengan uang masyarakat tersebut memang harus menyatu dan tidak boleh justru digunakan untuk melawan rakyatnya sendiri. Demikian juga rakyat juga berharap agar TNI tetap berpihak kepada rakyat dan negara, bukan hanya kepada pemerintah apalagi rezim tertentu, karena kalau mengigat sejarah kelahirannya dulu TNI adalah Tentara Keamanan Rakyat (TKR yang berpihak kepada rakyat.

Namun ironisnya, kemeriahan di Jagad Nyata tersebut tampak sedikit berbeda di alam maya. Netizen +62 justru lebih banyak menyoroti kemunculan Wapres terpilih yang kemarin saat Acara Pelantikan Anggota DPR-RI sama sekali tak tampak batang hidungnya, padahal saat itu bahkan semua mantan wapres dan Presiden terpilih, Prabowo Subianto, hadir khidmat mengikuti acara.

Berbagai cuitan di X / Twitter-pun terbaca antara lain dari @CakKhum: “Setelah dicari-cari akhirnya Gibran Wapres terpilih hadir bersama Prabowo di Perayaan HUT ke-79 TNI. Coba perhatikan, Gibran tidak berani di samping Prabowo, malah sempat ngintil di belakang Bapaknya”.

Ada juga @Boediantar4: “Setelah Dicari cari Akhirnya Si Gibran Bocil Tengil Fufufafa Cawapres Dipilih .Hadir Bersama Prabowo di Acara Perayaan HUT ke 79 TNI. Tapi pak Prabowonya malah menggandeng wapres Ma’ruf Amin 😀” kemudian @Dalam_temaram: “Gaya canggung Gibran didekat Prabowo acara HUT TNI. Cocok berlindung dibalik ketek Mulyono. 😁😁”. Lucunya beberapa media-pun berkomentar serupa, misalnya @liputan6dotcom : ” Beda Gaya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka Saat Hadiri HUT ke-79 TNI” kemudian @Kilat_com : “Kehadiran Gibran Rakabuming Saat HUT TNI ke 79 Jadi Sorotan, Tak Berani Disamping Prabowo” dan @geloraco : “Sejak Heboh ”Fufufafa”, Gibran Kini Terlihat Bersama Prabowo di HUT TNI”.

Kesimpulannya, sayang sekali kemegahan HUT TNI ke-79 dan citra positif yang sudah terbentuk antara TNI dan Rakyat kemarin tampak malah terganggu oleh penampilan wapres terpilih yang secara raut mukanya juga banyak dikomentari oleh Netizen dan berbagai media (karena terlihat sangat tegang dengan kantung mata menebal seperti kurang tidur atau tampak seperti over dosis tertentu).

Kalau hal ini terus terjadi, maka bukan hanya citra TNI yang dipertaruhkan, namun citra bangsa Indonesia secara keseluruhan di masa depan. Akankah semua prediksi yang sudah dikritisi oleh Para Pengamat Politik, Ahli Kesehatan dan Pakar Hukum Tatanegara, bahkan sampai dipentaskan oleh Ki Dalang Jlitheng Suparman dengan WKS / Sayang Kampung Sebelah-nya akan kejadian di Indonesia? Tidak ada jalan lain, masyarakat harus membuat penyelamatan terhadap negeri tercinta. Tidak ada jalan lain …

Ditulis oleh Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes – Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen – Jakarta, 06 Oktober 2024.