7 November 2026

isu ijazah Jokowi

MoneyTalk, Jakarta – Pendiri Jaringan Nusantara, Aam S, secara tegas membantah tudingan yang mengaitkan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan mencuatnya kembali isu dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Aam, upaya menyeret nama SBY dalam isu tersebut tidak didukung fakta empiris dan lebih mencerminkan rekayasa politik berbasis spekulasi.

“Tidak ada satu pun bukti objektif yang menunjukkan keterlibatan SBY dalam desain, orkestrasi, atau penyebaran isu dugaan ijazah Jokowi. Tuduhan ini murni fitnah politik yang dikonstruksi untuk kepentingan tertentu,” kata Aam dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).

Aam menilai, sebagai seorang negarawan, SBY memiliki rekam jejak yang konsisten dalam menjaga etika kekuasaan. Selama dua periode menjabat sebagai presiden, SBY tidak pernah menggunakan isu personal, termasuk latar belakang pendidikan, sebagai instrumen politik terhadap lawan maupun penerusnya.

“SBY tidak memiliki preseden politik untuk melakukan praktik semacam itu. Sepanjang masa kepemimpinannya, beliau justru dikenal menghindari politik personal dan memilih jalur institusional,” ujarnya.

Menurut Aam, mencuatnya kembali isu ijazah Jokowi dalam konteks politik pasca-kekuasaan justru menunjukkan adanya krisis narasi dan konflik internal di sejumlah kelompok politik. Dalam situasi tersebut, figur besar seperti SBY kerap dijadikan sasaran karena dianggap mampu mengalihkan perhatian publik.

“Ini pola klasik dalam politik Indonesia: ketika konflik substantif tidak terselesaikan, maka dibangun isu simbolik dengan menyeret nama besar agar kegaduhan meningkat,” kata Aam.

Ia juga menegaskan bahwa upaya mengaitkan SBY melalui figur Roy Suryo merupakan logika yang keliru. Roy Suryo, menurut Aam, sudah tidak lagi memiliki hubungan struktural maupun politis dengan Partai Demokrat maupun SBY.

“Roy Suryo berdiri sebagai individu. Bahkan yang bersangkutan secara terbuka menyatakan bahwa SBY tidak terlibat dalam isu ijazah Jokowi. Secara logika dan fakta, narasi keterlibatan SBY gugur dengan sendirinya,” tegasnya.

Aam melihat adanya pola serangan sistematis terhadap SBY dalam beberapa waktu terakhir, yang menurutnya bukan sekadar kritik, melainkan upaya membangun persepsi negatif melalui framing berulang di ruang publik, terutama media sosial.

“Isu ijazah Jokowi hanyalah pintu masuk. Target utamanya adalah delegitimasi moral SBY sebagai tokoh bangsa yang masih memiliki pengaruh simbolik,” ujarnya.

Ia menilai, posisi SBY yang tetap menjaga jarak dari hiruk-pikuk kekuasaan justru membuatnya rentan diserang, karena tidak terlibat langsung dalam konflik politik praktis yang sedang berlangsung.

“SBY tidak menyerang siapa pun. Namun justru karena sikap itu, beliau dijadikan sasaran untuk dilemahkan secara reputasional,” kata Aam.

Lebih jauh, Aam mengingatkan publik agar membedakan antara kritik berbasis data dengan tuduhan tanpa dasar. Demokrasi, menurutnya, tidak akan sehat jika ruang publik dipenuhi spekulasi dan fitnah yang dikemas seolah-olah sebagai kebenaran.

“Kritik harus berbasis verifikasi, bukan asumsi. Jika tidak, yang rusak bukan hanya individu, tetapi kualitas demokrasi itu sendiri,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Aam mengajak masyarakat bersikap rasional dan tidak terjebak dalam narasi adu domba antar tokoh bangsa.

“Demokrasi membutuhkan klarifikasi dan fakta, bukan framing dan fitnah. Publik harus cerdas memilah mana informasi dan mana manipulasi,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Nama Menteri Sekretaris Negara Pratikno kembali menjadi sorotan publik setelah kunjungannya ke Solo untuk menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo memicu spekulasi luas. Pemerhati Politik dan Kebangsaan, M Rizal Fadillah, menilai pertemuan tersebut tidak bisa dilepaskan dari menguatnya kembali isu dugaan ijazah palsu Jokowi.

Dalam tulisannya yang beredar luas di ruang publik, Rizal menyebut Pratikno “wajar terseret” ke pusat pusaran isu karena kedekatannya yang sangat panjang dan strategis dengan Jokowi, baik sebelum maupun selama menjabat sebagai presiden.

“Datang tergesa-gesa dan menghindari media adalah sinyal kuat. Entah dipanggil atau inisiatif sendiri, yang jelas relasi keduanya bukan relasi biasa,” tulis Rizal, Rabu (31/12/2025).

Rizal menilai Pratikno bukan sekadar pejabat administratif, melainkan aktor penting yang diduga memahami detail sejak awal perjalanan politik Jokowi, termasuk persoalan dokumen akademik yang kini kembali dipersoalkan publik.

Ia menyoroti sikap Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dinilai tidak memberikan jawaban substansial terkait keaslian ijazah Jokowi. Pernyataan pihak kampus bahwa fisik ijazah berada pada yang bersangkutan dinilai tidak menjawab inti persoalan.

“Status kelulusan disampaikan tanpa bukti memadai. Ini mencederai kejujuran akademik,” tulisnya.

Menurut Rizal, kondisi ini justru memperkuat dugaan adanya peran figur kuat di balik institusi, yang disebutnya memiliki pengaruh besar dalam dinamika internal UGM selama bertahun-tahun.

Dalam tulisannya, Rizal juga mengaitkan Pratikno dengan berbagai isu lain, mulai dari dugaan peran politik sejak Pilkada Solo, relasi dengan proses pendaftaran di KPUD dan KPU, hingga pengaruh dalam pemilihan rektor UGM pasca kepemimpinannya.

Ia bahkan menyebut dugaan penyalahgunaan kekuasaan selama Pratikno menjabat Menteri Sekretaris Negara, termasuk kepemilikan aset besar, meski hingga kini tudingan tersebut belum pernah dibuktikan melalui proses hukum.

Selain itu, Pratikno juga disebut-sebut dalam narasi publik terkait putusan Mahkamah Konstitusi yang meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden, meski tudingan tersebut juga tidak pernah dikonfirmasi secara resmi.

Rizal menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap Pratikno oleh kepolisian menjadi kunci untuk membuka apa yang ia sebut sebagai missing link dalam polemik ijazah Jokowi.

“Tanpa memeriksa Pratikno, mata rantai akan selalu terputus dan persoalan tidak pernah tuntas,” tulisnya.

Ia juga menilai aparat penegak hukum terkesan enggan menyentuh figur tersebut, meski namanya berulang kali muncul dalam berbagai polemik nasional.

Hingga berita ini ditulis, Pratikno belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan yang disampaikan M Rizal Fadillah. Pihak Istana maupun UGM juga belum merespons secara khusus narasi terbaru yang kembali mengaitkan nama Pratikno dalam isu ijazah Jokowi.