7 November 2026

Jaringan Nusantara

MoneyTalk, Jakarta – Di tengah politik nasional yang dinamis, pernyataan dari kalangan intelektual kembali menjadi sorotan. Pendiri Jaringan Nusantara, Harun Sulkam yang biasa disapa Aam S, menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah sah dalam iklim demokrasi, namun dalam mengkritik harus obyektif agar rakyat tidak terprovokasi.

Sorotan Aam kali ini tertuju pada Saiful Mujani, yang dinilainya sebagai figur intelektual publik dengan tanggung jawab moral besar dalam menjaga keseimbangan wacana. Menurut Aam, kritik yang disampaikan seharusnya memperkuat kualitas demokrasi, bukan malah memprovokasi atau menciptakan opini negatif pada pemerintah.

“Saiful Mujani sebagai intelektual harusnya obyektif melihat Presiden Prabowo, karena visi dan misi Presiden Prabowo Subianto yang jelas-jelas pro rakyat,” ujar Aam dalam keterangannya, Jumat (9/4/2026).

Aam menilai, konteks global saat ini tidak bisa diabaikan. Ketidakpastian ekonomi dunia, tensi geopolitik, hingga potensi krisis pangan dan energi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi pemerintah. Dalam situasi tersebut, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional.

Menurutnya, perdebatan politik yang terlalu tajam dan tidak proporsional justru berisiko melemahkan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Jika hal itu terjadi, dampaknya tidak hanya pada stabilitas politik, tetapi juga pada kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi nasional.

“Rakyat Indonesia saat ini membutuhkan ketenangan dan kepastian. Jangan sampai narasi-narasi yang berkembang justru memicu perpecahan,” tegasnya.

Aam juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai berpihak pada masyarakat kecil, antara lain, Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Kedua program pro rakyat itu, bagi Aam S, merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekonomi berbasis komunitas serta pembangunan sumber daya manusia.

Meski mengapresiasi berbagai program tersebut, Aam tidak menutup mata terhadap berbagai kendala di lapangan. Namun demikian, ia menilai pemerintah telah menunjukkan ketegasan dengan melakukan koreksi dan perbaikan atas sejumlah kekurangan dan pelanggaran yang terjadi.

“Langkah tersebut menjadi indikator bahwa pemerintah serius menjaga kualitas dan integritas program tersebut,” ujarnya.

Aam juga mempertanyakan, kenapa Saiful Mujani melontarkan pernyataan keras disaat pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo sedang giat-giatnya menangkap para koruptor dan disaat pemerintah punya tujuan baik mewacanakan pemilihan kepala daerah lewat anggota DPRD.

MoneyTalk, Jakarta – Pendiri Jaringan Nusantara, Aam S, secara tegas membantah tudingan yang mengaitkan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan mencuatnya kembali isu dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Aam, upaya menyeret nama SBY dalam isu tersebut tidak didukung fakta empiris dan lebih mencerminkan rekayasa politik berbasis spekulasi.

“Tidak ada satu pun bukti objektif yang menunjukkan keterlibatan SBY dalam desain, orkestrasi, atau penyebaran isu dugaan ijazah Jokowi. Tuduhan ini murni fitnah politik yang dikonstruksi untuk kepentingan tertentu,” kata Aam dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).

Aam menilai, sebagai seorang negarawan, SBY memiliki rekam jejak yang konsisten dalam menjaga etika kekuasaan. Selama dua periode menjabat sebagai presiden, SBY tidak pernah menggunakan isu personal, termasuk latar belakang pendidikan, sebagai instrumen politik terhadap lawan maupun penerusnya.

“SBY tidak memiliki preseden politik untuk melakukan praktik semacam itu. Sepanjang masa kepemimpinannya, beliau justru dikenal menghindari politik personal dan memilih jalur institusional,” ujarnya.

Menurut Aam, mencuatnya kembali isu ijazah Jokowi dalam konteks politik pasca-kekuasaan justru menunjukkan adanya krisis narasi dan konflik internal di sejumlah kelompok politik. Dalam situasi tersebut, figur besar seperti SBY kerap dijadikan sasaran karena dianggap mampu mengalihkan perhatian publik.

“Ini pola klasik dalam politik Indonesia: ketika konflik substantif tidak terselesaikan, maka dibangun isu simbolik dengan menyeret nama besar agar kegaduhan meningkat,” kata Aam.

Ia juga menegaskan bahwa upaya mengaitkan SBY melalui figur Roy Suryo merupakan logika yang keliru. Roy Suryo, menurut Aam, sudah tidak lagi memiliki hubungan struktural maupun politis dengan Partai Demokrat maupun SBY.

“Roy Suryo berdiri sebagai individu. Bahkan yang bersangkutan secara terbuka menyatakan bahwa SBY tidak terlibat dalam isu ijazah Jokowi. Secara logika dan fakta, narasi keterlibatan SBY gugur dengan sendirinya,” tegasnya.

Aam melihat adanya pola serangan sistematis terhadap SBY dalam beberapa waktu terakhir, yang menurutnya bukan sekadar kritik, melainkan upaya membangun persepsi negatif melalui framing berulang di ruang publik, terutama media sosial.

“Isu ijazah Jokowi hanyalah pintu masuk. Target utamanya adalah delegitimasi moral SBY sebagai tokoh bangsa yang masih memiliki pengaruh simbolik,” ujarnya.

Ia menilai, posisi SBY yang tetap menjaga jarak dari hiruk-pikuk kekuasaan justru membuatnya rentan diserang, karena tidak terlibat langsung dalam konflik politik praktis yang sedang berlangsung.

“SBY tidak menyerang siapa pun. Namun justru karena sikap itu, beliau dijadikan sasaran untuk dilemahkan secara reputasional,” kata Aam.

Lebih jauh, Aam mengingatkan publik agar membedakan antara kritik berbasis data dengan tuduhan tanpa dasar. Demokrasi, menurutnya, tidak akan sehat jika ruang publik dipenuhi spekulasi dan fitnah yang dikemas seolah-olah sebagai kebenaran.

“Kritik harus berbasis verifikasi, bukan asumsi. Jika tidak, yang rusak bukan hanya individu, tetapi kualitas demokrasi itu sendiri,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Aam mengajak masyarakat bersikap rasional dan tidak terjebak dalam narasi adu domba antar tokoh bangsa.

“Demokrasi membutuhkan klarifikasi dan fakta, bukan framing dan fitnah. Publik harus cerdas memilah mana informasi dan mana manipulasi,” pungkasnya.