7 November 2026

KH Nur Ihya

MoneyTalk, Jakarta – Pengurus Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS), KH Nur Ihya, menyesalkan aksi sejumlah santri yang mendatangi kantor Trans7 setelah tayangan program televisi stasiun tersebut dinilai menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo.

Menurut KH Nur Ihya, kritik yang disampaikan Trans7 seharusnya disikapi dengan kepala dingin, bukan dengan tindakan emosional. Ia menilai reaksi berlebihan justru menunjukkan ketidaksiapan sebagian pihak menerima masukan.

“Trans7 menyampaikan kritik terhadap Pondok Pesantren Lirboyo. Langsung alumni Lirboyo bangkit menduduki studio Trans7, lalu PBNU KH Yahya Staquf juga langsung tampil. Ada apa?” ujarnya dalam pernyataan yang beredar di YouTube, Kamis (16/10/2025).

Ia mempertanyakan sikap sebagian pihak yang begitu cepat bereaksi terhadap kritik media, tetapi diam ketika para kiai dihina oleh individu lain. “Ketika 70 kiai seperti Gus Nur Huda kalah dengan habib yang pemalak, mabuk, dan dawiri, kenapa tidak marah? KH Hasyim Asy’ari dihina Faizal Assegaf, PBNU juga tidak marah,” kata KH Nur Ihya dengan nada heran.

Lebih lanjut, ia menilai kritik yang disampaikan Trans7 tidak bersifat tajam atau menyerang. Karena itu, ia meminta para santri dan alumni pesantren untuk bersikap terbuka terhadap kritik demi perbaikan diri dan lembaga.

“Menurut saya, kritik Trans7 itu tidak begitu tajam. Jangan terlalu sensi. Ambil sisi positifnya sebagai bahan introspeksi. Kadang-kadang saya juga menegur santri untuk membersihkan kamarnya  itu bagian dari pendidikan,” ucapnya.

KH Nur Ihya juga mengingatkan bahwa orang yang tidak pernah mengenyam kehidupan pesantren seharusnya tidak terburu-buru mengambil tindakan emosional atau mengancam pihak lain. “Kalau yang tidak pernah mondok, jangan langsung marah, mengancam, tidak sebegitunya. Ketika kiai dihina habib, tidak terketuk hatinya. Ini dunia yang terbalik,” tegasnya.

Pernyataan KH Nur Ihya tersebut menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi antara kalangan pesantren dan media setelah tayangan yang dianggap merendahkan lembaga pendidikan Islam tradisional itu viral di media sosial.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan kontroversial kembali muncul dari Pengurus Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) (PWI-LS), KH Nur Ihya. Dalam sebuah pernyataan yang beredar di media sosial, Nur Ihya mengutip pandangan ulama berhaluan Wahabi, Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri, yang menyebut Habib Umar bin Hafidz sebagai “Dajjal”.

Dalam pernyataannya, KH Nur Ihya mengutip langsung narasi panjang dari Syaikh Yahya Al Hajuri, yang dikenal sebagai tokoh Wahabi asal Yaman. Dalam kutipan itu, Al Hajuri menuding bahwa Habib Umar bin Hafidz telah menyebarkan ajaran yang dianggap menyimpang dan menyerupai pemujaan terhadap dirinya sendiri.

“Bencana terburuk dari semua bencana adalah apa yang disebarkan oleh Umar bin Hafidz dan apa yang dia katakan dalam salah satu ceramahnya, di mana dia berkata: Barangsiapa meletakkan fotoku di bawah bantalnya ketika tidur akan melihat Rasulullah dalam mimpinya,” kutip KH Nur Ihya dari Al Hajuri.

Dalam narasi itu pula, Al Hajuri mengaku pernah menyaksikan langsung sejumlah fenomena di Tarim, Yaman—tempat di mana Habib Umar bin Hafidz memimpin lembaga pendidikan Islam Dar al-Musthafa. Ia menuduh sejumlah murid Habib Umar, termasuk yang berasal dari Indonesia, melakukan tindakan berlebihan terhadap foto sang habib, seperti mencium dan menyimpannya dengan penuh penghormatan.

Lebih lanjut, Al Hajuri juga disebut mengutip pandangan Syekh Ahmed al-Moallem, Ketua Dewan Ulama Sunni di Hadhramaut, yang pernah menulis buku berjudul Para Penyembah Kuburan di Yaman serta Kunjungan ke Hud dan Kekejian serta Kesesatan di Dalamnya—keduanya berisi kritik terhadap praktik keagamaan yang dianggapnya berlebihan di wilayah tersebut.

Pernyataan KH Nur Ihya yang mengutip pandangan keras tersebut memicu reaksi dari sejumlah kalangan, terutama di lingkungan pesantren dan majelis taklim yang selama ini menjadikan Habib Umar bin Hafidz sebagai panutan dalam dakwah Islam moderat dan tasawuf.

Habib Umar bin Hafidz sendiri dikenal luas sebagai ulama asal Tarim, Yaman, yang menekankan ajaran cinta Rasulullah dan adab dalam dakwah. Ribuan santrinya tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Habib Umar bin Hafidz ataupun lembaga Dar al-Musthafa terkait pernyataan yang dikutip KH Nur Ihya tersebut.