8 November 2026

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto

MoneyTalk, Jakarta – Pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di Solo pada Minggu (13/10) menarik perhatian publik. Bukan sekadar pertemuan biasa, atau makan siang biasa.

Yang jelas momen seperti ini penuh spekulasi. Pasalnya, isu Gibran dengan seputar akun Fufufafa ditambah makan siang biasa dan dibumbui pertemuan Jokowi dengan Prabowo menjadi kontroversi.

Dan Isu ini disebut-sebut telah membuat Jokowi cukup pusing. Karena muncul ke permukaan, terutama terkait dengan dugaan sikap Gibran Rakabuming yang disebut “mesum” dan “jahat.”

Tetapi sudah ada Narasi dan Spekulasi di Balik Pertemuan Jokowi, Prabowo dan Gibran di video di kanal YouTube-nya, Edy Mulyadi  yang langsung menyoroti pertemuan ini dengan beberapa dugaan menarik.

Menurut Edy, pertemuan ini bukan sekadar makan siang santai seperti yang diungkapkan oleh Gibran.

Bagi Edy, pertemuan tersebut lebih menyerupai upaya Jokowi untuk menenangkan Prabowo, terutama terkait isu-isu yang melibatkan anaknya, Gibran.

Wow betulkah ?

“Fufufafa” yang disebut Edy mungkin merujuk pada skandal yang melibatkan Gibran dan menjadi alasan ketegangan antara Jokowi dan Wapres terpilih.

Narasi ini membangkitkan banyak tanda tanya di kalangan publik, apakah Jokowi dan Prabowo sedang merapatkan barisan terkait pemilu mendatang? Atau, apakah ini semata-mata untuk menjaga citra politik masing-masing?

Dalam analisis Edy, dampak Fufufafa tidak hanya mencemari nama Gibran tetapi juga menggoyahkan hubungan Jokowi dengan wakil presiden terpilih.

Pendapat Spekulasi ini menambah bumbu politik, terutama mengingat bahwa Prabowo dan Jokowi, meskipun memiliki hubungan baik, berasal dari partai berbeda dan memiliki basis pendukung yang berbeda pula.

Ketidakcocokan ini dapat berdampak pada kestabilan politik pasca pemilu. Edy meyakini bahwa pertemuan mereka di Solo adalah upaya untuk memperbaiki keretakan itu.

Dan Jokowi mungkin sedang berusaha meyakinkan Prabowo bahwa dukungannya kepada Gibran tidak akan mengganggu hubungan politik di masa mendatang.

Gibran menggambarkan pertemuan tersebut sebagai makan siang biasa. Namun, spekulasi yang beredar mengatakan sebaliknya. Apakah mungkin Jokowi dan Prabowo sedang membicarakan masa depan politik Indonesia? Dan isu pertemuan seperti ini memiliki bobot yang besar dan menjadi perhatian serius bagi kedua belah pihak.

Jika ini benar, maka makan siang ini bukan sekadar makan siang biasa. Ini adalah forum untuk membahas strategi politik, meminimalkan dampak negatif isu Fufufafa, dan mencari solusi yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Bagaimanapun, keduanya punya alasan kuat untuk memastikan tidak ada yang merusak stabilitas politik yang sedang dibangun.

Edy Mulyadi dengan jelas menampilkan pandangan kritisnya terhadap pertemuan ini, mempertanyakan apa yang sebenarnya dibicarakan antara Jokowi dan Prabowo. Apakah pertemuan ini memang sekadar makan siang santai, atau ada pembahasan lebih dalam terkait isu yang menimpa Gibran?

Dengan konten yang penuh spekulasi dan analisis tajam, video Edy telah mengundang banyak respons dari publik, yang juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Publik kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari isu ini, sambil bertanya-tanya apakah Jokowi dan Prabowo akan melangkah maju dengan solusi yang bisa menjaga keseimbangan politik di tengah kontroversi.(c@kra)

JAKARTA, MoneyTalk – Presiden Joko Widodo menyaksikan langsung penyerahan pesawat C-130J-30 Super Hercules A-1339 dan C-130H A-1315 oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Laksamana Yudo Margono. Acara penyerahan digelar di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu, 8 Maret 2023.

Dalam keterangannya selepas acara, Presiden Joko Widodo menyebut bahwa pesawat Super Hercules tersebut merupakan pesawat yang sangat canggih. Pesawat tersebut bisa digunakan untuk mengangkut pasukan maupun kargo dengan berat hingga 19,9 ton.

“Ini adalah pesawat C-130J-30 Super Hercules yang kita terima pada pagi hari ini. Ini adalah pesawat yang sangat canggih, tadi saya sudah masuk, sudah dijelaskan bisa mengangkut kalau pasukan yang pakai komplet dengan parasut—artinya penerjun—itu bisa mengangkut 98, tapi kalau hanya pasukan bukan penerjun bisa 128 pasukan, dan bisa mengangkut 19,9 ton,” ujar Presiden.

Dengan daya angkut yang besar tersebut, Presiden menyebut bahwa pesawat Super Hercules bagus digunakan untuk berbagai jenis operasi. Selain itu, pesawat tersebut juga memiliki kemampuan terbang yang lama sehingga bisa digunakan untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

“Ini bagus untuk operasi militer maupun nonmiliter, untuk bencana alam juga bisa. Bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia karena pesawat Super Hercules ini bisa terbang 11 jam,” jelasnya.

Pesawat Super Hercules yang diterima pada pagi ini merupakan satu dari lima pesawat yang telah dipesan oleh pemerintah. Empat pesawat lainnya akan diterima pada bulan Juni 2023, Juli 2023, Oktober 2023, dan Januari 2024.

“Yang kita pesan ada lima, tadi Pak Menhan menyampaikan, hari ini datang satu, nanti Juni tambah satu lagi, Juli tambah satu lagi, Oktober tambah satu, Januari tahun depan tambah satu. Lima pesawat yang akan datang ke negara kita,” ungkapnya.

Dengan tambahan pesawat tersebut, Presiden Jokowi mengatakan bahwa pemerintah terus berupaya untuk memenuhi minimum essential forces Indonesia. “Ya semuanya disesuaikan dengan anggaran yang kita miliki. Tapi kita ingin berusaha agar terpenuhi,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengatakan bahwa seluruh kegiatan perbaikan pesawat Super Hercules ini akan dilaksanakan di Tanah Air. Hal tersebut mencakup perbaikan dan overhaul berat seperti penggantian center wing box.

“MRO-nya, maintenance repair overhaul akan di Indonesia dilaksanakan. Sebagaimana pesawat yang kedua ini sudah dilaksanakan di Indonesia semua. Ini termasuk overhaul berat pergantian center wing box ini sangat sulit, pertama kali kita lakukan di Indonesia,” ungkap Prabowo.

Turut hadir dalam acara tersebut yaitu Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid, dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Sung Yong Kim.[MT]