7 November 2026

Moch Fajar Agustiawan

MoneyTalk.id,Jakarta – Pakar keamanan siber (cyber security) Moch Fajar Agustiawan mengungkap dugaan penggunaan perangkat lunak mata-mata Pegasus untuk menyadap Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan hasil penelusuran forensik digital yang dilakukannya, dugaan penyadapan tersebut tidak hanya mengarah kepada penggunaan perangkat tertentu, tetapi juga melibatkan orang-orang dekat Presiden dan sejumlah pejabat strategis.

Pernyataan tersebut disampaikan Moch Fajar saat berbincang dengan Indra Piliang dalam program di kanal YouTube Forum Keadilan Madilog, Sabtu (7/11/2026).

Dalam perbincangan itu, Indra Piliang menanyakan kemungkinan Pegasus turut digunakan untuk menyadap Presiden Prabowo.

“Iya, Bang. Bukan hanya LMS yang digunakan. Data-data yang saya kumpulkan dan dari artefak yang sudah saya dapat ketika melakukan forensik itu juga mengarah kepada orang-orang terdekat beliau, kemudian pejabat-pejabat strategis,” ungkap Fajar.

Indra kemudian mempertanyakan apakah hasil penelusuran tersebut berpotensi membuka keterlibatan tersangka baru.

Fajar menyatakan keyakinannya bahwa penyidikan kasus tersebut masih berpeluang berkembang dan menyeret pihak-pihak lain.

“Pasti, yakin ada, Bang. Untuk mengoperasikan ini butuh orang yang paham cyber security. Jadi ada tim luar, kemudian yang mungkin nama-nama sudah diungkap ini hanya menerima laporannya saja,” katanya.

Menurut Fajar, operasi penyadapan dengan teknologi canggih seperti Pegasus tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan tenaga ahli keamanan siber. Karena itu, ia menduga terdapat pihak-pihak dengan kemampuan teknis khusus yang menjalankan operasi tersebut.

Dalam kesempatan itu, Fajar juga membeberkan pengalaman profesionalnya membantu sejumlah institusi penegak hukum dan lembaga negara.

Ia menyebut pernah membantu Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Berbekal pengalaman tersebut, Fajar mengaku melakukan pengumpulan data dan analisis forensik digital atau reverse engineering untuk menelusuri jejak teknis dugaan penyadapan.

Dari proses tersebut, ia mengklaim menemukan sejumlah alamat Internet Protocol (IP address) yang mengarah ke luar struktur Polri.

“Setelah melakukan forensik itu saya mengumpulkan data-data atau bisa kita sebut di dalam dunia security adalah reverse engineering, Bang. Dan memang mengerucut pada beberapa IP address yang ada di luar Polri. Pelakunya tadi berasal dari satu IP yang di luar struktur Polri,” ujarnya.

Fajar menilai persoalan tersebut sangat serius karena menyangkut keamanan Presiden sebagai pimpinan tertinggi negara.

Ia bahkan mengaitkan dugaan operasi penyadapan tersebut dengan kemungkinan adanya kepentingan politik untuk menggulingkan pemerintahan.

“Masalah yang terjadi ini mengancam pimpinan tertinggi negara Republik Indonesia saat ini, Bang. Jadi kita dengan teori terbalik, artinya pasti punya kepentingan untuk menggulingkan pemerintahan,” katanya.

Pembicaraan kemudian berlanjut pada kemungkinan adanya keterkaitan pihak-pihak di Solo dengan dugaan operasi penyadapan tersebut.

Indra Piliang meminta Fajar mengonfirmasi pernyataan Mahfud MD mengenai dugaan bahwa hasil penelusuran penyadapan mengarah ke Solo.

Menanggapi pertanyaan itu, Fajar menyebut kemungkinan tersebut cukup besar dan secara teknis masih dapat ditelusuri.

“Kemungkinan terbesar seperti itu, Bang. Dan itu bisa dilacak. Kalau kita mau sama-sama serius, kita bantu lacak, Bang. Bisa dilacak,” jawabnya.

Pernyataan tersebut menambah dimensi baru dalam polemik dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo. Namun, arah penelusuran teknis menuju Solo belum dapat diperlakukan sebagai bukti keterlibatan individu atau kelompok tertentu.

Hal lain yang menarik perhatian dalam perbincangan tersebut adalah besarnya biaya untuk mengoperasikan perangkat lunak Pegasus.

Ketika Indra Piliang menanyakan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan teknologi penyadapan tersebut, Fajar menyebut nilai lisensinya mencapai ratusan miliar rupiah.

“Per satu lisensinya, Bang, itu nilainya sekitar Rp140 sampai Rp150 miliar. Tiap tahun itu ada lisensi yang harus dibayar ke NSO Group, Bang,” jelas Fajar.

Indra kemudian memastikan bahwa NSO Group merupakan perusahaan asal Israel.

“Iya,” jawab Fajar.

Pegasus sendiri dikenal sebagai perangkat lunak mata-mata yang dikembangkan NSO Group, perusahaan teknologi asal Israel. Perangkat ini menjadi perhatian internasional karena kemampuannya mengeksploitasi perangkat telepon pintar untuk memperoleh akses terhadap data dan komunikasi penggunanya.

Jika dugaan penggunaan Pegasus untuk menyadap Presiden Prabowo terbukti, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut pelanggaran privasi, melainkan juga keamanan nasional dan perlindungan komunikasi pejabat tertinggi negara.