7 November 2026

Muhammad Herindra

MoneyTalk.id, Jakarta – Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, mengungkapkan sejumlah dugaan terkait dinamika aksi massa pada 27 Agustus 2026. Ia menilai terdapat pergantian kelompok massa dan masuknya pihak-pihak baru yang diduga memiliki agenda tertentu.

Menurut Sri Radjasa, setelah kelompok massa sebelumnya menarik diri, muncul kelompok baru yang disebutnya sebagai pihak yang diduga merupakan pelaku bayaran.

“Ketika kelompok Pati mundur, masuklah kelompok baru. Pelaku yang baru datang ini adalah pelaku bayaran,” kata Sri Radjasa di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Senin (31/8/2026).

Ia mengaku memperoleh informasi yang disebutnya sebagai informasi “A1” mengenai adanya upaya untuk mengangkat isu tertentu, termasuk persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sri Radjasa menduga, pengangkatan sejumlah isu tersebut kemudian menjadi bagian dari dinamika yang memancing keterlibatan kelompok massa lain. Ia menyinggung aksi yang terjadi pada malam hari di kawasan Pejompongan dan Slipi yang menurutnya mengalami perubahan situasi setelah munculnya kelompok tertentu.

Menurut dia, situasi kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan. Sri Radjasa bahkan mempertanyakan arah loyalitas kelompok yang disebutnya dalam pernyataannya sebagai GRIB.

“Di sini kita akan melihat ke mana loyalitas GRIB itu diberikan,” ujarnya.

Sri Radjasa mengaku pernah menjadi penasihat GRIB Jaya. Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia menilai terdapat pola aksi yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius aparat keamanan.

Ia menyebut pola tersebut, berdasarkan pandangannya, antara lain berupa tindakan perusakan atau pembakaran terhadap fasilitas tertentu yang dapat menciptakan persepsi bahwa kondisi keamanan berada dalam situasi tidak terkendali.

Menurut Sri Radjasa, kondisi tersebut berpotensi memancing kelompok-kelompok massa lainnya untuk ikut turun ke lapangan sehingga eskalasi situasi menjadi semakin luas.

“Ini hanya untuk menciptakan isu bahwa kondisi keamanan tidak terkendali sehingga akan memancing kelompok-kelompok massa lain untuk hadir,” katanya.

Selain menyoroti dinamika massa, Sri Radjasa juga mempertanyakan munculnya seruan yang menjadikan DPR sebagai sasaran aksi.

Menurut dia, perubahan isu dan sasaran aksi tersebut patut dipertanyakan. Ia mengaku memiliki kecurigaan bahwa terdapat kepentingan politik tertentu di balik munculnya isu tersebut.

“Masuklah kelompok ini dengan isu yang berbeda, ‘ratakan DPR’. Saya tahu persis kenapa mesti DPR jadi sasaran,” ujarnya.

Sri Radjasa kemudian mengaitkan isu tersebut dengan proses politik terkait Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan analisis dan pandangannya atas situasi yang berkembang.

Ia juga mempertanyakan mengapa aksi yang menurutnya sejak awal berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai pihak dapat berkembang hingga menimbulkan situasi yang sulit dikendalikan.

“Ini menjadi tanda tanya buat saya. Kenapa dibiarkan melaksanakan aksi demo yang diduga akan dimanfaatkan oleh banyak pihak?” katanya.

Lebih jauh, mantan anggota BIN itu mempertanyakan sistem penyampaian informasi intelijen kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia menyinggung posisi Kepala BIN Muhammad Herindra yang menurutnya dikenal memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo. Sri Radjasa juga menyinggung jajaran intelijen TNI yang, menurut pandangannya, seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan informasi dan peringatan dini mengenai potensi perkembangan situasi.

Sri Radjasa mempertanyakan bagaimana lembaga-lembaga intelijen tersebut tidak mampu memberikan informasi yang cukup kepada kepala negara apabila memang terdapat indikasi potensi gangguan keamanan.

“Bagaimana mungkin dua lembaga sama sekali tidak bisa memberikan warning yang cukup untuk Presiden?” ujarnya.

Menurut dia, kemungkinan terdapat mekanisme penyaringan informasi yang terlalu ketat sehingga informasi penting tidak sampai kepada Presiden.

“Ada filter yang menyaring begitu ketatnya sehingga ini pun tidak tersampaikan,” katanya.

Sri Radjasa mengaku dapat merasakan adanya dinamika tertentu di lingkungan intelijen. Ia menyebut dirinya masih kerap berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang berada di lingkungan tersebut.

“Saya bisa merasakan situasi itu di kalangan intelijen karena saya sering berkomunikasi dengan mereka,” ujarnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pertemuan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bersama Kepala Badan Intelijen Negara Muhammad Herindra dan Panglima Tentara Nasional Indonesia Agus Subiyanto dalam rapat bersama Badan Industri Mineral (BIM) dinilai bukan sekadar agenda koordinasi biasa.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai rapat tersebut menunjukkan negara mulai memandang pengelolaan mineral strategis sebagai bagian dari pertahanan nasional dan perebutan pengaruh geopolitik global.

Menurut Amir Hamzah, keterlibatan Menhan, BIN, dan Panglima TNI dalam pembahasan pengembangan logam tanah jarang atau rare earth element (REE) di Mamuju, Sulawesi Barat, merupakan sinyal kuat bahwa pemerintah memahami posisi strategis Indonesia di tengah kompetisi global sektor mineral kritis.

“Rare earth hari ini bukan hanya urusan tambang, tetapi menyangkut perang teknologi, industri pertahanan, kendaraan listrik, semikonduktor, sampai perebutan pengaruh antarnegara besar,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China saat ini sedang berlomba menguasai rantai pasok mineral strategis dunia. Dalam situasi itu, Indonesia dinilai memiliki posisi yang semakin penting karena menyimpan cadangan mineral yang dibutuhkan industri masa depan.

Menurut Amir, langkah pemerintah menempatkan sektor pertahanan dan intelijen dalam pengamanan kawasan tambang strategis menunjukkan adanya perubahan paradigma negara.

“Dulu pertahanan identik dengan senjata dan perang terbuka. Sekarang pertahanan juga menyangkut energi, pangan, data digital, dan mineral strategis. Negara yang menguasai mineral masa depan akan memiliki daya tawar geopolitik sangat besar,” ujarnya.

Ia menilai Mamuju berpotensi menjadi kawasan yang akan mendapat perhatian internasional apabila pengembangan rare earth berjalan besar-besaran. Karena itu, pengamanan kawasan strategis menjadi penting untuk mencegah konflik kepentingan, penyelundupan sumber daya, hingga infiltrasi ekonomi asing.

Amir Hamzah juga menyoroti pentingnya tata kelola nasional yang kuat agar kekayaan mineral Indonesia tidak hanya menjadi objek eksploitasi global.

“Indonesia jangan hanya menjadi pemasok bahan mentah. Negara harus memastikan hilirisasi berjalan dan teknologi pengolahan dikuasai secara bertahap. Kalau tidak, kita hanya menjadi penonton dalam industri strategis dunia,” katanya.

Menurut dia, keterlibatan BIN dalam pembahasan tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya negara melakukan pemetaan ancaman nonmiliter di sekitar kawasan sumber daya strategis.

“Intelijen tentu membaca banyak dimensi. Mulai dari potensi konflik sosial, perebutan lahan, permainan korporasi global, sampai operasi pengaruh asing. Ini bukan paranoia, tetapi bagian dari mitigasi geopolitik modern,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Badan Industri Mineral menggelar rapat di Kantor BP BUMN Jakarta Pusat.

Dalam keterangannya, Sjafrie menyebut Indonesia memiliki potensi mineral yang harus dikelola secara aman, tertib, dan berorientasi pada kepentingan nasional. Ia menegaskan pertahanan negara memiliki peran penting dalam mendukung stabilitas wilayah dan pengamanan objek strategis nasional.

Sementara itu, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan rapat tersebut turut membahas pengembangan tambang logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat.

MoneyTalk, Jakarta – Jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2024, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Muhammad Herindra, memberikan peringatan keras kepada aparat intelijen di berbagai daerah. Dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (7/11), Herindra menekankan pentingnya kerja sama dan koordinasi antar aparat intelijen dari berbagai instansi demi menjaga stabilitas dan keamanan Pilkada.

Herindra mengawali pesannya dengan ucapan salam dan penghormatan kepada seluruh peserta Rakornas, termasuk Wakil Presiden RI yang hadir. Dalam sambutannya, ia menyoroti masih adanya ego sektoral di kalangan aparat intelijen, seperti antara TNI, Polri, Kejaksaan, dan lembaga intelijen daerah. Herindra menyampaikan, sikap seperti ini berpotensi melemahkan upaya deteksi dini terhadap berbagai ancaman yang mungkin muncul menjelang Pilkada.

“Koordinasi antara intelijen daerah sangat penting. Saya melihat banyak yang masih ego sektoral. Ada yang TNI-Polri, pindah ke kejaksaan, namun tidak ada sinergi yang optimal,” tegas Herindra.

Menurutnya, banyak aparat intelijen yang justru sibuk ‘memata-matai’ sesama rekan dari instansi lain alih-alih berbagi informasi yang dimiliki. Ia menyebut fenomena ini sebagai “intel makan informasi sendiri” — sebuah sindiran tajam yang menggambarkan kecenderungan para aparat untuk menyimpan informasi tanpa membaginya, padahal informasi tersebut sangat krusial untuk menjaga keamanan bersama.

Herindra mengingatkan bahwa Pilkada 2024 akan dihadapkan pada berbagai tantangan serius yang harus diantisipasi oleh aparat keamanan, termasuk intelijen. Terdapat tiga fase kritis yang menjadi fokus BIN.

Pada tahap ini, potensi ancaman gangguan keamanan seperti intimidasi, disinformasi, hingga manipulasi politik sangat tinggi. Herindra menegaskan bahwa kampanye sering kali menjadi ajang adu kekuatan berbagai kelompok yang bisa memicu konflik di lapangan. Meski disebut “minggu tenang”, kenyataannya tidak selalu demikian.

“Banyak kegiatan tertutup yang sering tidak terdeteksi, seperti mobilisasi massa yang justru terjadi di minggu tenang. Di sini, peran intelijen sangat penting untuk mendeteksi gerakan bawah tanah yang berpotensi merusak kondusifitas Pilkada,” ujarnya.

Setelah tahapan kampanye, saat penetapan calon juga rawan sengketa. Perselisihan hasil pemungutan suara dapat memicu konflik horizontal yang membahayakan stabilitas daerah. Herindra menegaskan, intelijen harus mampu memberikan informasi yang akurat dan cepat untuk mencegah eskalasi konflik.

Lebih lanjut, Herindra mengungkapkan beberapa ancaman utama yang telah dipetakan oleh BIN menjelang Pilkada. Ancaman-ancaman ini mencakup:

Radikalisme dan Separatisme: Meski tidak terjadi di semua wilayah, ancaman ini tetap menjadi perhatian khusus.

Tangan-tangan Tak Terlihat (Invisible Hands): Herindra mengingatkan akan adanya pihak-pihak yang tidak terlihat namun berpotensi mengganggu jalannya Pilkada, termasuk terorisme yang walaupun eskalasinya rendah, tetap perlu diwaspadai.

Serangan Siber (Cyber Attack): Dalam era digital ini, serangan siber dan penyebaran hoax, hate speech, maupun fake news menjadi ancaman nyata yang dapat mempengaruhi opini publik.

Konflik Horizontal dan Bencana Alam: Konflik antarpendukung, black campaign, serta isu netralitas ASN juga disebut sebagai gangguan yang perlu diantisipasi. Selain itu, faktor bencana alam yang bertepatan dengan musim hujan bisa mempengaruhi pendistribusian logistik pemilu.

Herindra melontarkan sindiran tajam kepada aparat intelijen, khususnya kepada Badan Intelijen Daerah (Binda) dan pihak terkait lainnya.

“Biasanya aparat intelijen itu kerjanya senyap, tapi kadang senyap karena tidur. Jangan begitu! Koordinasi antar aparat intelijen daerah itu penting,” ujarnya sambil menekankan bahwa informasi intelijen harus segera dibagikan dan tidak disimpan sendiri.

Herindra mengingatkan bahwa informasi yang lambat tidak lagi berguna. Prinsip “velox et exactus” atau cepat dan tepat harus dipegang oleh seluruh aparat intelijen. Intelijen bukan hanya sekadar mengumpulkan data, namun juga harus memastikan informasi yang akurat dapat disebarluaskan dengan cepat ke seluruh instansi terkait.

Pesan Herindra yang tegas ini diharapkan mampu memecah sekat-sekat ego sektoral di lapangan. Menurutnya, koordinasi yang baik akan memudahkan deteksi dini terhadap potensi ancaman, sehingga bisa diantisipasi sebelum terjadi eskalasi konflik.

Dengan tantangan Pilkada yang semakin kompleks, kerja sama antar lembaga menjadi kunci utama. Tidak ada lagi ruang bagi sikap ‘saling memata-matai’ di internal aparat intelijen. Sebaliknya, sinergi dan kolaborasi menjadi solusi untuk memastikan Pilkada 2024 dapat berlangsung aman, damai, dan tertib.

Pesan Kepala BIN Muhammad Herindra menjadi pengingat penting bagi aparat intelijen di seluruh Indonesia untuk memperkuat kerja sama dan berbagi informasi demi menjaga stabilitas politik dan keamanan jelang Pilkada 2024. Koordinasi antar instansi, percepatan deteksi ancaman, dan penghapusan ego sektoral menjadi fokus utama yang harus segera diimplementasikan oleh seluruh jajaran aparat intelijen.