6 November 2026

Muhammad Huda

MoneyTalk, Jakarta – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan presiden dan wakil presiden di Istana Negara menjadi sorotan publik. Agenda yang disebut-sebut sebagai upaya merajut persatuan nasional di tengah dinamika global itu dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

Namun absennya Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, memantik spekulasi dan perdebatan politik. Sejumlah pengamat menilai ketidakhadiran Ketua Umum PDI Perjuangan itu tidak sekadar soal agenda, melainkan mencerminkan dinamika relasi politik yang belum sepenuhnya pulih.

Pertemuan para eks presiden dan wakil presiden di Istana dinilai sebagai langkah simbolik Presiden Prabowo dalam merespons situasi global yang penuh ketidakpastian. Isu geopolitik kawasan, tekanan ekonomi global, hingga dinamika domestik disebut menjadi latar penting di balik inisiatif tersebut.

Secara simbolik, kehadiran para mantan pemimpin negara menunjukkan kesinambungan dan soliditas elite nasional. Karena itu, absennya Megawati dinilai menciptakan ruang tafsir politik yang luas.

Pengamat politik Muhammad Huda menilai, ketidakhadiran Megawati tidak bisa dilepaskan dari relasi historisnya dengan sejumlah tokoh yang hadir. “Ada memori politik panjang antara Megawati dengan SBY dan Jokowi. Politik Indonesia tidak pernah sepenuhnya steril dari faktor personal,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Hubungan Megawati dan SBY memiliki sejarah kompetisi yang panjang sejak Pemilu 2004, ketika SBY mengalahkan Megawati dalam pemilihan presiden langsung pertama di Indonesia. Kompetisi tersebut bukan sekadar kontestasi elektoral, tetapi membentuk polarisasi politik yang terasa hingga bertahun-tahun kemudian.

Sementara relasi Megawati dengan Jokowi juga mengalami dinamika. Jokowi yang diusung PDI Perjuangan dalam Pilpres 2014 dan 2019 sempat dianggap sebagai kader ideologis partai. Namun menjelang akhir masa jabatannya, hubungan keduanya dinilai merenggang, terutama setelah arah politik Jokowi dalam Pilpres 2024 berbeda dengan garis partai.

Muhammad Huda menyebut, faktor-faktor inilah yang bisa menjelaskan sikap Megawati. “Dalam politik, memori dan persepsi soal loyalitas itu penting. Ketidakhadiran bisa dibaca sebagai pesan politik,” katanya.

Pernyataan bahwa Megawati bersikap “pendendam” memicu respons beragam. Sebagian menilai label tersebut terlalu simplistik dan cenderung mengabaikan kompleksitas strategi politik.

Dalam konteks elite nasional, ketidakhadiran dalam forum simbolik bisa memiliki banyak makna: menjaga jarak politik, menegaskan posisi oposisi, atau sekadar pertimbangan teknis dan agenda internal partai.

Muhammad Huda menilai Megawati dikenal sebagai figur yang tegas dan konsisten terhadap garis politik partainya. Jika ia memilih tidak hadir, itu bisa menjadi sinyal bahwa relasi politik dengan pemerintahan saat ini belum sepenuhnya menemukan titik temu.

Bagi Presiden Prabowo, mengundang seluruh mantan presiden dan wapres adalah bagian dari upaya membangun konsensus elite di tengah tekanan global—termasuk ketegangan geopolitik dan ancaman perlambatan ekonomi dunia.

Langkah ini juga bisa dibaca sebagai strategi memperkuat legitimasi pemerintahan dengan menunjukkan bahwa komunikasi lintas generasi kepemimpinan tetap terjalin.

Namun dinamika elite Indonesia memang sarat sejarah panjang rivalitas dan aliansi yang berubah-ubah. Politik nasional tidak hanya ditentukan oleh kepentingan jangka pendek, tetapi juga oleh relasi personal dan warisan kompetisi masa lalu.

Absennya Megawati memunculkan pertanyaan: apakah ini hanya episode kecil dalam dinamika politik, atau pertanda jarak yang semakin melebar?

Kata Muhammad Huda, dalam politik Indonesia, simbol sering kali lebih keras berbicara daripada pernyataan resmi. Publik kini menanti, apakah akan ada pertemuan tersendiri antara Prabowo dan Megawati, atau justru konfigurasi politik baru yang semakin menegaskan diferensiasi posisi PDI Perjuangan di luar lingkar kekuasaan.

“Yang jelas, pertemuan di Istana telah membuka kembali memori rivalitas lama sekaligus menguji kemampuan para elite untuk menempatkan kepentingan nasional di atas sentimen politik,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Permintaan Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar agar Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mundur dari jabatannya memicu dinamika besar di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Pengamat politik Muhammad Huda menilai, langkah mengejutkan ini justru menjadi kemenangan politik bagi Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), meskipun ia secara terbuka tidak mencampuri urusan internal PBNU.

Menurut Huda, keputusan KH Miftachul Akhyar meminta Gus Yahya mundur bukan sekadar persoalan etika organisasi, melainkan menjadi sinyal kuat kepada publik bahwa tensi konflik antara kubu Gus Yahya dan kubu Cak Imin mencapai puncaknya.

“Cak Imin tidak perlu turun tangan. Ketika Rais Aam meminta Gus Yahya mundur, publik otomatis membaca bahwa ada konflik yang tak bisa ditutup-tutupi antara Gus Yahya dan jaringan NU yang dekat dengan Cak Imin. Secara politik, ini poin kemenangan bagi Cak Imin,” ujar Huda, Sabtu (22/11/2025).

Muhammad Huda menjelaskan bahwa ketegangan ini bukan muncul tiba-tiba. Sejak satu tahun terakhir, sejumlah PWNU diberitakan mengalami pergantian pimpinan yang diduga kuat terkait afiliasi mereka dengan Cak Imin.

Gus Yahya disebut Huda mengambil langkah konsolidasi untuk memperkuat kendali PBNU dari dinamika politik eksternal, terutama dari pengaruh PKB yang sejak lama memiliki akar kuat di basis nahdliyin.

“Ketika beberapa ketua PWNU yang dianggap dekat dengan Cak Imin dicopot atau digeser, itu dianggap sebagai bentuk resistensi terhadap ekspansi jaringan PKB. Langkah ini memperuncing ketegangan,” jelas Huda.

Situasi ini memunculkan persepsi bahwa terdapat pertarungan kendali atas basis massa NU menjelang pemilu dan dinamika politik nasional. Meskipun PBNU selalu menegaskan posisinya berada di luar politik praktis, friksi antara elite yang memiliki kedekatan dengan tokoh partai tak bisa dihindari.

Huda juga menyoroti dimensi lain yang memperburuk posisi Gus Yahya: munculnya dugaan keterlibatan dirinya dalam aliran dana terkait kasus kuota haji.

Meski belum ada bukti hukum yang menguatkan, isu ini telah beredar di kalangan internal NU dan menyeret reputasi Ketua Umum PBNU tersebut.

“Permintaan mundur dari Rais Aam tidak bisa dilepaskan dari isu aliran dana kuota haji. Meski sebatas dugaan, hal ini menambah tekanan moral dan politik kepada Gus Yahya,” kata Huda.

Isu dana kuota haji, lanjutnya, membuat posisi Gus Yahya semakin lemah di mata para kiai sepuh. Bahkan sebagian kalangan menilai PBNU membutuhkan figur yang tidak terbebani kontroversi untuk menjaga marwah organisasi.

Menurut Huda, setidaknya ada tiga alasan mengapa dinamika ini menguntungkan Cak Imin:

1. Menguatkan Narasi bahwa Gus Yahya Kehilangan Dukungan Ulama Sepuh

Jika Rais Aam posisi tertinggi dalam struktur syuriah turun tangan meminta mundur, artinya legitimasi moral Gus Yahya dinilai goyah. Dalam kultur Nahdliyin, dukungan kiai sepuh sangat menentukan.

2. Membuka Ruang Baru untuk Jaringan PKB

Jika Gus Yahya mundur atau melemah, maka ruang gerak bagi kiai dan pengurus yang dekat dengan PKB berpotensi terbuka kembali, terutama di PWNU.

3. Menguatkan Persepsi Publik tentang Rivalitas yang Dimenangkan PKB

Huda menekankan bahwa dalam persepsi politik, siapa yang terlihat “bertahan” dan siapa yang “diminta mundur” sudah membentuk pemenang dan pecundang.

“Persepsi adalah segalanya dalam politik. Dan saat ini, persepsi kemenangan itu jatuh kepada Cak Imin.”

Konflik elite ini berpotensi membawa PBNU ke titik kritis, terutama dalam menjaga jarak dari politik praktis. Kiai-kiai di daerah disebut mulai resah karena polemik internal berimbas pada kegiatan struktural dan kegiatan keumatan di wilayah masing-masing.

Bagi Huda, masa depan kepemimpinan PBNU pasca polemik ini akan menentukan arah hubungan organisasi dengan partai-partai politik dan stabilitas internal NU sendiri.

“Jika PBNU tidak segera menemukan titik keseimbangan, polarisasi bisa melebar. Apalagi NU memiliki peran strategis dalam menjaga moderasi sosial dan stabilitas kebangsaan,” ujarnya.

MoneyTalk, Jakarta – Kabar mengejutkan berembus di kalangan wartawan bahwa Budi Arie Setiadi, Menteri Koperasi di bawah Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto, disebut-sebut telah “didepak secara halus” dari jajaran kabinet. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari Istana, namun sinyal politik dan dinamika internal kabinet memunculkan spekulasi reshuffle besar-besaran tengah dipersiapkan.

Rumor ini bermula dari bocoran obrolan antar wartawan parlemen dan sumber di lingkaran dalam koalisi, yang menyebut nama Budi Arie termasuk dalam daftar menteri yang akan diganti. Beberapa nama pengganti bahkan telah santer dibicarakan, salah satunya berasal dari lingkaran dekat Presiden Prabowo.

“Sudah ada sinyal dari Presiden. Beberapa menteri yang dianggap kurang perform, atau punya beban masa lalu, kemungkinan besar akan diganti dalam waktu dekat. Salah satunya Budi Arie,” ujar seorang sumber dari partai koalisi yang enggan disebutkan namanya.

Budi Arie, yang sebelumnya menjabat sebagai Menkominfo dan kini memimpin Kementerian Koperasi memang tak lepas dari sorotan. Saat menjabat Menkominfo, ia sempat terseret dalam pemberitaan miring terkait penanganan kasus judi online yang marak di tanah air. Meski tidak pernah terbukti terlibat secara langsung, sejumlah tokoh masyarakat dan LSM sempat menudingnya gagal membersihkan kementerian dari praktik terselubung.

Spekulasi makin kuat ketika dalam beberapa pekan terakhir, Budi Arie terlihat jarang muncul di media atau mengikuti rapat kabinet terbuka. Selain itu, pernyataannya yang sempat menyiratkan kemungkinan bergabung dengan Partai Gerindra memunculkan tafsir politik baru bahwa ia tengah mencari ‘tiket aman’ di tengah turbulensi internal kabinet.

“Pernyataan Budi Arie soal ‘tegak lurus perintah presiden’ bisa dibaca sebagai sinyal bahwa dia sadar posisinya tidak aman. Dia sedang coba menjaga jalur politiknya agar tetap relevan,” ujar analis politik Muhammad Huda, Rabu (6/8/2025).

Namun, pihak Istana hingga kini belum memberikan klarifikasi terkait kabar Budi Arie Didepak dari Kabinet Merah Putih.

Di tengah ketidakpastian ini, publik hanya bisa menanti langkah Presiden. Apakah rumor ini akan menjadi kenyataan atau sekadar guncangan politik musiman, hanya waktu yang akan menjawab.

MoneyTalk, Jakarta – Peluang Nusron Wahid untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) dinilai sangat besar. Pengamat politik dari Indonesian Political Institute, Muhammad Huda, menegaskan bahwa posisi Nusron saat ini sangat strategis karena telah melakukan konsolidasi menyeluruh dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar se-Indonesia.

Menurut Huda, kekuatan Nusron tidak hanya terletak pada kapasitas organisasional dan jejaring politiknya di internal Golkar, tetapi juga pada akar sosial-budaya yang sangat kuat di kalangan Nahdliyyin—basis massa terbesar di Indonesia. “Nusron itu kader tulen Nahdlatul Ulama, pernah menjadi Ketua Umum GP Ansor, dan Ketua Umum PB PMII. Akar sosialnya jelas, dan itu membuatnya menjadi magnet politik tersendiri di mata elite pemerintahan saat ini,” ujar Huda saat dihubungi, Senin (4/8/2025).

Sejak Airlangga Hartarto dinilai melemah secara politik usai Pemilu 2024, kontestasi di tubuh Golkar mulai memanas. Nusron disebut sebagai figur yang konsisten bergerak senyap membangun dukungan dari bawah. Konsolidasi DPD-DPD provinsi hingga kabupaten/kota yang ia lakukan berlangsung jauh dari sorotan media, namun menunjukkan efektivitas yang luar biasa.

“Nusron memahami betul bagaimana bekerja di sistem politik partai lama seperti Golkar. Dia tahu bahwa kekuatan riil itu ada di DPD. Tanpa dukungan mayoritas DPD, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi ketua umum Golkar di forum Munaslub,” tegas Huda.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kata Huda, melihat pentingnya figur yang mampu menjembatani komunikasi antara kekuasaan dan kalangan Nahdliyyin. Dalam konteks ini, Nusron dipandang sebagai aset strategis. “Pemerintah Prabowo sedang membangun fondasi politik yang luas, dan Nahdliyyin adalah bagian penting dari itu. Kalau Nusron jadi Ketum Golkar, maka pemerintahan Prabowo akan terbantu secara politik maupun elektoral,” ujarnya.

Huda juga menyebut bahwa Nusron memiliki kemampuan komunikasi yang cair dengan berbagai kelompok—baik nasionalis maupun Islam tradisional. “Nusron itu politisi rasional yang bisa menjembatani banyak kelompok, dan itu modal besar di tengah polarisasi politik,” tambahnya.

Nusron Wahid merupakan salah satu figur langka yang bisa mengintegrasikan pengalaman aktivisme dengan kapasitas birokrasi dan politik formal. Ia pernah menjadi anggota DPR RI dari Golkar, memimpin Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan kini aktif kembali di partai serta lingkungan ke-NU-an.

“Track record Nusron adalah kombinasi dari grassroots, pemerintahan, dan elit politik. Dia bukan orang yang muncul dadakan, tapi prosesnya panjang dan organik,” ungkap Huda.

Jika Munaslub benar-benar digelar, maka peluang Nusron Wahid untuk memimpin Partai Golkar kian terbuka lebar. Dukungan struktural dari DPD, rekam jejak panjang di NU, serta relasi positif dengan pemerintahan Prabowo menjadikan dirinya sebagai figur yang patut diperhitungkan. Di saat Golkar membutuhkan konsolidasi baru dan positioning ulang dalam pemerintahan, kehadiran Nusron dinilai bisa menjadi solusi politik yang rasional dan menguntungkan bagi semua pihak.

“Golkar bisa kembali menjadi kekuatan sentral jika dipimpin oleh figur yang paham akar rumput dan punya akses ke pusat kekuasaan. Nusron punya keduanya,” pungkas Huda.