21 Oktober 2026

pesta demokrasi

MoneyTalk, Jakarta – Yang sulit dalam politik itu untuk jujur dan konsisten. Karena umumnya, para politisi itu pembohong dan inkonsisten. Umumnya, janji politik didefinisikan sebagai cara paling praktis untuk membohongi rakyat, agar mendapat dukungan suara.

Agar konsisten, kita perlu membuat kaidah yang konstan dalam memilih pemimpin. Di antaranya, bisa diterjemahkan dengan beberapa kaidah sebagai berikut:

Pertama, kita tidak boleh memilih calon yang akidahnya berseberangan dengan kita. Karena orang muslim, haram memilih pemimpin kafir.

Kedua, kita tidak boleh memilih calon yang didukung Parpol yang jelas berseberangan dengan perjuangan umat Islam. Kalaupun mereka saat ini seolah melawan rezim, itu sebenarnya hanya sandiwara politik.

Ketiga, kita tidak boleh memilih calon yang didukung Jokowi. Karena apa? Banyak dosa politiknya. Saya ringkas saja:

1. Jokowi tukang bohong yang punya dosa membuat Indonesia punya utang besar, dan saat ini Jokowi digugat di PN Jakarta Pusat, karena kebohongan dan utang yang menggunung.

2. Jokowi adalah penguasa, yang punya peran pada tragedi KM 50, sebuah tragedi yang menyebabkan 6 laskar FPI meninggal dunia.

3. Jokowi, hingga saat ini terus berusaha mencengkeram kekuasaan dan mengendalikannya untuk kepentingan dirinya dan keluarganya.

4. Dll.

Lalu, mana yang mau dipilih? Dharma Pongrukeun? Tidak lolos kaidah pertama, karena non muslim.

Pramono – Rano? Keduanya, didukung PDIP. Bahkan, Pramono juga orang kepercayaan Jokowi saat di Seskab. Jadi, tidak lolos kaidah kedua.

RK – Suswono? tidak lolos kaidah ketiga. Karena pasangan ini didukung Jokowi. Bahkan, Jokowi secara khusus datang ke Jakarta untuk mendukung Paslon ini.

Mendukung atau memilih calon dukungan Jokowi, berarti berkhianat pada 6 nyawa pengawal FPI yang telah berjuang dan meraih syuhada, untuk mengawal HRS. Lalu apa pilihan kita?

Berjuang untuk Islam adalah pilihan utama, dengan dakwah amar Ma’ruf nahi mungkar. Golput adalah pilihan taktis di Pilkada, agar terhindar dari dosa mendukung calon yang punya jejak zalim kepada umat Islam.

Saat ini, lebih baik umat Islam konsolidasi gerakan untuk membela rakyat yang terzalimi, seperti korban perampasan tanah PIK 2. Jangan mau terlibat dukung mendukung Pilkada, yang ujungnya hanya mengantarkan politisi ke tampuk kekuasaan, yang setelah berkuasa mereka melupakan kita, bahkan berbuat zalim kepada umat. []

Penulis: Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik

MoneyTalk, Jakarta – Dalam hiruk-pikuk politik, masyarakat Jakarta, seperti di kota-kota lain, pun bersiap menghadapi pesta demokrasi. Tiga pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta bertarung untuk merebut hati pemilih. Namun, berdasarkan rilis Poltracking Indonesia yang dipandu oleh Masduri Amrawi, para pengamat harus memasang sabuk pengaman menghadapi kelokan tak terduga. Pilkada ini tak hanya penuh kejutan, tapi juga berpotensi menjadi dua babak penuh ketegangan.

Menurut survei terbaru Poltraking, paslon M. Ridwan Kamil (RK)-Suswono dan Pramono Anung-Rano Karno (Si Doel) beradu kuat. Dengan elektabilitas masing-masing 43,3% dan 40,6%, selisih suara mereka bak tipisnya kerupuk yang dicelupkan ke kuah soto. Sementara itu, pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana Abyoto, dengan elektabilitas 4,5%, harus puas menjadi kuda hitam, yang bahkan belum tentu memiliki cukup pelana untuk balapan hingga garis akhir.

Tentu, survei tak lupa menyebutkan pemilih yang masih bingung atau malu-malu menyimpan rahasia pilihan, istilah kerennya undecided voters, sebesar 11,6%. Artinya, mereka yang belum memutuskan pilihan ini merupakan elemen X yang mampu mengubah jalannya pertandingan. Jika mereka memutuskan secara kolektif pada pagi hari pencoblosan, dan memutuskan pilih RK-Suswono, Jakarta bisa saja menyaksikan momen ajaib ala film superhero.

Model prediksi Poltracking yang canggih (terima kasih pada istilah keren seperti SMOTE Random Forest) mencoba memetakan arah suara undecided voters tadi. Hasilnya? RK-Suswono mendapat 48,1%, sedikit unggul dibanding Pramono-Doel dengan 47,0%. Data ini mengindikasikan bahwa kemenangan RIDO akan sangat tipis, seperti upaya seorang pengemudi ojek online menemukan nomer alamat kiriman tanpa plang.

Namun, angka ini masih dalam margin of error ±3,1%. Jadi, jika Anda bertanya siapa yang menang, jawabannya adalah: siapa pun yang berhasil merayu undecided voters dengan paling banyak jargon, senyuman, dan stiker kampanye. Bahkan, jika ada paslon yang punya duit bergunung-gunung, bisa saja menggaet dengan “serangan fajar.” Jangan lupa, orang Jakarta seperti manusia pada umumnya, cenderung berubah pikiran seperti gonta-ganti playlist lagu saat macet.

Skenario Pilkada ini seperti main catur dengan dua alternatif akhir. Pilihan pertama: Pilkada berlangsung dua putaran, dan kita harus bersabar menyaksikan duel lanjutan RK vs Pram —sebuah sequel yang mungkin lebih menarik dari Clash of the Titans. Pilihan kedua: RK menang tipis di putaran pertama, dengan bantuan undecided voters yang akhirnya memutuskan untuk “pilih yang ini aja, deh”, atau “karena sesuai pilihan ulama.”

Namun, di tengah segala prediksi ini, satu hal yang perlu kita ingat, hasil survei hanyalah potret sesaat —seperti selfie dengan filter, hasil akhirnya bisa berbeda tergantung sudut pandang dan pencahayaan. Hasil pastinya berada di tangan warga yang menyadari, Pilkada ini bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga soal menentukan siapa yang akan memikul beban menghadapi banjir, macet, kemiskinan, kekumuhan, kemajemukan, dan protes di media sosial.

Lebih afdal jika Anda sudi merenungkan pesan bijak dari para tokoh dunia yang mengingatkan pentingnya partisipasi dalam politik. Ali bin Abi Thalib ra, sepupu Nabi Muhammad Saw yang juga seorang politisi, pernah berkata, “Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Dalam konteks Pilkada, diamnya orang baik berarti menyerahkan keputusan masa depan kepada mereka yang mungkin tidak memprioritaskan kepentingan bersama. Ini saatnya warga Jakarta bersuara, karena pilihan Anda bukan hanya tentang nama di surat suara, tetapi juga tentang arah masa depan kota ini.

Sejalan dengan itu, Syaikh Yusuf Qardhawi memberikan panduan moral untuk memilih: jika ada pilihan yang baik, pilih yang terbaik; jika semua buruk, pilih yang lebih sedikit keburukannya (akhaffu al-dhararain). Pesan ini didukung pula oleh Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, yang mengingatkan bahwa dengan tidak memilih, Anda justru menyerahkan kendali kepada mereka yang tak peduli pada nilai-nilai yang Anda junjung.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menegaskan, jika orang baik tidak terlibat, politik akan dipenuhi mereka yang tidak bertanggung jawab. Ingatlah pula pesan Necmettin Erbakan: “Muslim yang tidak peduli politik akan dipimpin oleh politikus yang tidak peduli pada Islam.” Maka, gunakan hak pilih Anda, karena perubahan dimulai dari bilik suara. Jangan biarkan kejahatan dan ketidakadilan menang hanya karena diamnya orang baik.

Jadi, siapakah yang akan menang? Satu putaran atau dua? Itu semua tergantung pada Anda, warga Jakarta. Selamat mencoblos, dan jangan lupa siapkan popcorn untuk menikmati pesta demokrasi ini hingga akhir.

Penulis: Cak AT Ahmadie Thaha, Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 26/11/2024

MoneyTalk, Jakarta – Tiari Pesta Demokrasi, pemilihan kepala daerah 2024, sudah hampir terbuka lebar. Tinggal menghitung dua pulah empat jam kali dua, rakyat di berbagai penjuru akan menentukan pilihannya. Siapakah yang bakal memimpin mereka ke depan?

Di Tengah pergolakan politik yang mungkin menguras energi lahir dan batin para aktor, terselip catatan mengharu biru tentang drama politik yang menaungi Pilkada 2024. Berikut catatan dari Cak AT, yang mungkin bisa menemani jam ngopi para pembaca:

Pagi itu, 26 Agustus 2024, udara Jakarta cerah namun gerah. Tepat pukul 11.45, Anies Baswedan tiba di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Menteng, penuh percaya diri dalam balutan batik merah. Ia sudah mendengar kabar baik dari kunjungannya dua hari sebelumnya ke kantor DPD PDIP Jakarta di Cakung.

“Ini akan mulus,” pikirnya. Lagi pula, semua tanda tampak mendukung. Mahkamah Konstitusi telah mengubah ketentuan syarat pencalonan gubernur yang 20% dari total suara sah, menjadi 7,5%. Dengan raihan suara PDIP sebesar 14% atau 15 kursi di DPRD Jakarta, harapan Anies pun membumbung. Ia merasa mendapat isyarat kuat bahwa partai ini akan mengusungnya di Pilkada Jakarta.

Namun, siapa yang tahu bahwa lembaran cerita akan berubah menjadi kenangan tragis? Nasib tidak berpihak pada Anies. Pada Senin siang, 26 Agustus, hanya sehari menjelang masa pendaftaran calon Pilkada, harapannya kandas oleh ucapan Megawati, “Mau enggak, nurut.”

Alkisah, dengan langkah yakin, hari itu Anies masuk ke Gedung B di belakang kantor utama PDIP Menteng, langsung menuju lantai 3. Di sana, dia disambut sahabat lamanya, Rano Karno, mantan Gubernur Banten. Obrolan mereka berlangsung lama —dua hingga tiga jam, berdiskusi politik hingga nostalgia Si Doel.

Sementara itu, di ruang lain, rapat penting sedang berlangsung. Mega, Ketua Umum PDIP, tengah berdiskusi serius dengan para petinggi partai, termasuk di antaranya Pramono Anung, Harto Kristiyanto, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan banyak lainnya. Situasi memanas, berbagai argumen dipaparkan.

Anies yang menunggu di luar ruang rapat masih ditemani Rano Karno. Ia mengepit buku catatan seperti mahasiswa yang siap sidang skripsi. Kemudian seorang petugas mendekati Anies, meminta dia bersiap. Anies mungkin membayangkan momen epik itu: pintu terbuka, Mega menyebut namanya sebagai calon gubernur, dan ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan.

Namun, kenyataan berbicara lain. Petugas itu kembali dengan wajah sendu, mengabarkan bahwa pertemuan dengan Mega dibatalkan. Tak lama kemudian, dari corong terdengar nama-nama calon PDIP untuk Pilkada diumumkan di aula, tapi tidak ada nama Anies disebut. Anies pun keluar melalui pintu belakang, membawa hati yang lebih berat dari buku catatannya. Harapannya pupus, bersama asa pendukung setianya yang dikenal sebagai Anak-anak Abah.

Apa yang sebenarnya terjadi? Laporan Pramono Anung dari Istana diduga menjadi salah satu biang kerok. Jokowi, melalui Pratikno, dan disampaikan Pramono, mengingatkan bahwa pencalonan Anies berpotensi mengancam posisi Puan Maharani sebagai Ketua DPR. Ahok menambahkan argumen bahwa jika Anies maju, bagaimana cara mengajak Ahoker mendukungnya? Dua keberatan ini cukup untuk membuat Mega mengubah keputusan.

Keraguan Mega sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Ia menyatakan tidak suka melihat spanduk usulan pencalonan Anies yang dibentangkan di depan kantor PDIP oleh pendukung berbaju hitam. Niat baik itu malah dianggap tidak sopan. Dengan nada tajam, Mega disebut meminta Anies menjadi kader terlebih dahulu jika ingin diusung, seraya berkata, apakah Anies mau nurut?

“Eh enak aja ya, ngapain gua suruh dukung Pak Anies. Dia bener nih kalau mau sama PDIP? Kalau mau sama PDIP jangan gitu dong. Mau enggak, nurut?” ujar Mega di DPP PDIP, Jakarta, Kamis (22/8/2024).

Dia menilai, tak semudah itu memperoleh dukungan dari PDIP. Ia mempertanyakan ke mana saja Anies selama ini, baru muncul ketika butuh dukungan.

“Enak amat, ya. Sekarang kita dicari dukungannya, lalu kamu ke mana kemarin sore. Mbok jangan gitu dong,” ucapnya.

Di belakang layar, berlangsung pula permainan catur politik tingkat tinggi. Jokowi disebut menekan Golkar, bahkan hingga perlu mengganti Ketua Umumnya menjadi Bahlil Lahadalia demi mudahnya mengusung Ridwan Kamil maju di Pilkada Jakarta. Di sisi lain, Prabowo fokus mengamankan Jawa Barat dengan mencalonkan Dedi Mulyadi. Semua ini membuat peluang Anies kian menipis.

Anies menjadi pusat gangguan. Akhirnya, tercapailah kesepakatan: Golkar menarik Ridwan Kamil dari Pilkada Jawa Barat dan memberinya mandat menjadi calon gubernur Jakarta. Sebagai gantinya, Gerindra mengusung Dedi Mulyadi di Jawa Barat. Kedua calon ini didukung oleh Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus), gabungan 12-13 partai. Di Jakarta, kekuatan mereka 91 kursi DPRD, 85% dari total kursi.

Sempat muncul wacana kuat agar Kaesang yang sudah menjadi Ketua Umum PSI diusung jadi calon Gubernur Jakarta. Kaesang diharapkan menjadi penerus cita-cita Jokowi yang belum kesampaian. Segala cara ditempuh, termasuk melalui MK untuk mengubah persyaratan terkait usia calon gubernur. Namun, perlawanan dari publik begitu keras, dan MK membuat keputusan yang menutup peluang Kaesang karena usia.

PKS yang sebenarnya bisa mengusung Anies berkat aturan baru dari MK, memilih tetap setia pada koalisi dengan alasan demi menjaga etika perjanjian. Namun, sebetulnya ada rasa kecewa pula.

“Anies kurang perhatian pada kami saat menjadi gubernur,” keluh mereka, seperti pasangan yang merasa diabaikan.

Dalam percaturan politik ini, Jokowi dan Prabowo tampaknya memiliki kepentingan berbeda, tetapi bersinergi demi memenangkan Pilpres 2029, khususnya di daerah strategis seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Jika tidak bubar, KIM Plus tampaknya akan menjadi kekuatan yang mengkhawatirkan.

Namun, yang perlu kita garis-bawahi adalah ungkapan Megawati tentang Anies, “Mau enggak, dia nurut?” yang mencerminkan dinamika psikologi, khususnya dalam hal kepatuhan dan loyalitas politik. Kepatuhan politik mengacu pada sejauh mana seorang individu atau aktor politik mengikuti arahan dan kebijakan yang ditetapkan oleh otoritas atau pemimpin partai.

Megawati sadar, belum lama ini ia dikecewakan oleh Jokowi, kader luar, yang saat menjadi presiden pun disebutnya sebagai “petugas partai” dengan harapan loyal dan tunduk pada arahan partai. Kekecewaan Megawati terhadap Jokowi yang dianggap tak patuh meneguhkan keraguan hatinya pada Anies, mantan gubernur Jakarta yang tak mudah dikendalikan.

Istilah “nurut” menuntut ketundukan total. Inilah loyalitas politik, yang lebih dalam dari sekadar kepatuhan. Ia mencakup rasa kesetiaan ideologis dan emosional terhadap partai atau pemimpin. Dalam kasus Anies, Megawati tampaknya meragukan komitmen ideologis dan loyalitas politiknya kepada PDIP, meskipun ada peluang strategis untuk mengusungnya.

Ini menunjukkan bahwa loyalitas dalam politik tidak hanya diukur dari kesetiaan formal, tetapi juga dari kepercayaan bahwa seseorang akan mendukung visi, nilai, dan strategi yang disepakati. Ungkapan “Mau enggak dia nurut” ini sekaligus menggambarkan dinamika psikologis dalam hubungan antara pemimpin partai dan aktor politik yang dianggap sebagai “outsider” atau bukan bagian inti dari struktur partai.

Drama ini menjadi pelajaran berharga: politik adalah seni kompromi, strategi, dan sedikit, ehm, pengkhianatan. Anies mungkin telah belajar bahwa di dunia ini, harapan bisa pupus lebih cepat dari lampu panggung yang dipadamkan. Apakah ini akhir kisahnya? Tentu tidak, ini baru babak pertama dari sandiwara politik Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Cak AT – Ahmadie Thaha, Ma’had Tadabbur al-Qur’an, pada 24/11/2024.

MoneyTalk, Jakarta – Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak, Ibu, Kakak, Abang, Adik juga para relawan, timses dan simpatisan Heri-Sholihin, serta seluruh warga Kota Bekasi yang kami hormati dan sayangi.

Dengan berakhirnya masa kampanye pada hari Sabtu, 23 Nov 2024, maka kami menghaturkan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, doa, donasi, waktu, tenaga, pikiran dan cinta yang dicurahkan, sehingga alhamdulilah menjadi energi besar buat kami untuk menunaikan tugas kami sebagai calon walikota, calon wakil walikota maupun juru kampanye.

Dan tentunya permohonan maaf yang sebesar-besarnya pula kami mohonkan, atas segala sikap, perkataan, perbuatan, khilaf, janji dan hutang yang belum tertunaikan, serta gangguan yang baik secara sengaja maupun tidak sengaja kami perbuat. Untuk itu kami mohon ampunan kepada Allah Swt. Astaghfirullahal azhiim.

Semoga pesta demokrasi tahun ini menjadi momentum Kota Bekasi untuk Maju dan Bermartabat. Maju Bareng, Seneng Bareng.

Wassalam, Kota Bekasi, 24 Nov 2024. Hormat Kami, Bang Heri, Bang Sholihin, Kak Nun dan Kak Mutmainnah