8 November 2026

PLN Persero

MoneyTalk, Jakarta – PLN, perusahaan listrik milik negara, mengungkapkan bahwa mereka tidak dapat membangun pembangkit listrik baru secara mandiri. Dalam sebuah pernyataan, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menekankan perlunya keterlibatan investor swasta dan internasional untuk memastikan pembangunan listrik yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan dalam acara Rakornas REPNAS 2024 di Jakarta, Senin (14/10/2024). Hal ini mengundang perhatian, terutama karena Indonesia menghadapi kebutuhan mendesak akan pasokan energi yang lebih andal dan bersih.

Darmawan menyatakan bahwa ke depan, PLN akan mengandalkan investasi swasta nasional untuk sekitar 60% dari proyek pembangkit listrik baru. Menurutnya, kolaborasi dengan penyedia teknologi dan pembiayaan internasional adalah kunci dalam menciptakan ekosistem kondusif untuk investasi. Dengan demikian, PLN memposisikan diri sebagai fasilitator dalam pengembangan ekosistem energi yang terintegrasi, bukan sebagai pelaksana proyek tunggal.

PLN telah menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan proyek infrastruktur listrik yang ambisius. Salah satu faktor utama yang mendorong ketergantungan pada investasi swasta adalah keterbatasan anggaran. Pembangunan pembangkit listrik, terutama yang berbasis energi terbarukan, memerlukan investasi besar yang PLN tidak dapat penuhi sendiri. Untuk memenuhi target pembangunan yang ambisius dan memajukan transisi energi, PLN harus menggandeng pihak swasta yang memiliki akses lebih besar pada teknologi dan modal.

Selain itu, sektor energi di Indonesia juga dihadapkan pada masalah tarif listrik yang sering kali tidak mencerminkan biaya produksi sebenarnya. Ini mengakibatkan margin keuntungan yang rendah bagi PLN, sehingga mengurangi kemampuan perusahaan untuk mendanai proyek-proyek baru secara mandiri.

Tantangan dalam Investasi Energi

Darmawan menyoroti bahwa investasi dalam proyek energi harus memiliki tingkat pengembalian yang wajar. Menurutnya, jika pengembalian investasi terlalu rendah, sementara biaya pendanaan tinggi, maka investasi tersebut tidak akan berkelanjutan. Ia memberikan contoh bahwa jika tingkat pengembalian hanya 3% sementara biaya pendanaan mencapai 9%, maka akan lebih baik jika uang tersebut diinvestasikan di tempat lain atau disimpan.

Pernyataan ini menyoroti ketidakseimbangan antara biaya investasi dengan potensi keuntungan, yang bisa menjadi tantangan bagi investor dalam proyek listrik. Untuk menarik minat investor, tingkat pengembalian harus cukup menarik, namun tetap dalam batas yang adil dan menguntungkan bagi negara. Darmawan juga menekankan pentingnya tingkat pengembalian yang “win-win,” di mana negara dan investor swasta dapat saling menguntungkan.

Kolaborasi untuk Membangun Ekosistem Kondusif

Untuk menghadapi keterbatasan internal, PLN berencana untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Darmawan mengungkapkan bahwa ekosistem ini melibatkan kerjasama antara penyedia teknologi, pembiayaan internasional, dan pelaku industri lokal. PLN diharapkan tidak hanya menyediakan listrik bagi masyarakat Indonesia tetapi juga memainkan peran sebagai fasilitator dalam ekosistem energi nasional.

Untuk mencapai hal ini, PLN perlu mempersiapkan regulasi dan kebijakan yang mendukung. Salah satu hal penting adalah menghilangkan hambatan-hambatan dalam proses investasi, seperti birokrasi yang rumit dan perizinan yang lambat. Kolaborasi dengan pihak swasta tidak hanya memungkinkan PLN untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga membantu dalam pengembangan tenaga kerja lokal, dengan transfer teknologi dan pengetahuan.

Dampak Ketergantungan pada Investasi Swasta

Ketergantungan PLN pada investasi swasta menimbulkan berbagai pertanyaan. Di satu sisi, kolaborasi ini dapat mempercepat pengembangan infrastruktur energi, meningkatkan kapasitas pasokan, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa keterlibatan swasta yang berlebihan dapat menyebabkan privatisasi sektor energi yang berlebihan, di mana kontrol pemerintah terhadap harga dan distribusi energi menjadi berkurang.

Privatisasi yang berlebihan bisa berisiko mengakibatkan harga listrik yang tinggi bagi konsumen. Oleh karena itu, dalam kolaborasi dengan swasta, PLN harus menjaga keseimbangan antara kepentingan komersial dan kepentingan publik. Pemerintah harus memastikan bahwa keterlibatan swasta tidak mengorbankan akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau dan adil.

Keputusan PLN untuk menggandeng swasta dalam pembangunan proyek pembangkit listrik menunjukkan perubahan paradigma besar dalam pendekatan perusahaan terhadap pembangunan infrastruktur energi. Dengan membuka pintu bagi investasi swasta dan internasional, PLN berharap dapat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan energi yang berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Namun, PLN dan pemerintah perlu berhati-hati dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan negara dan swasta, memastikan bahwa energi tetap dapat diakses oleh masyarakat luas. Langkah ini bisa menjadi bagian dari solusi untuk memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi hanya jika dilaksanakan dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan yang kuat.(c@kra)

JAKARTA, MoneyTalk – Menyambut Idul Fitri 1444 H, PT PLN (Persero) telah mengelar apel siaga kelistrikan di Jakarta pada Rabu (5/4). Setidaknya PLN menyiagakan sekitar 2.300 posko siaga dan sebanyak 82.690 personel guna menjaga pasokan listrik aman dan andal selama perayaan Hari Raya Idul Fitri 2023.

PLN perseroan menyiagakan 20.130 personel PLN dan 61.560 tenaga alih daya yang terdiri dari tim pelayanan teknik dan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB). Tidak hanya personel, PLN juga menyiapkan sekitar 2.300 posko siaga kelistrikan yang tersebar di seluruh tanah air.

“PLN memastikan kesiapan pasokan listrik untuk kelancaran periode Ramadan dan Idul Fitri 1444 H ini mulai dari sisi pembangkit, transmisi, personel hingga peralatan pendukung,” ujar Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo di Jakarta, Rabu (5/4/23).

“Masyarakat Indonesia akan merayakan Idul Fitri, tidak boleh ada listrik yang mati, tidak boleh ada ibadah yang terganggu, tidak ada fasilitas umum yang boleh bermasalah listriknya. Ketika semua merayakan lebaran di rumah, PLN juga lebaran tetapi ada di lapangan memastikan seluruh masyarakat Indonesia bisa aman, tentram dan bisa menjalankan ibadah dan kumpul keluarga yang hangat,” tambahnya.

Lebih jauh Darmawan memastikan untuk memastikan kesiapsiagaan, telah diinstruksikan agar seluruh posko ditempatkan di titik-titik krusial dan seluruh personel bersiaga dan bersinergi dengan berbagai pihak.

“Saya minta posko-posko siaga bisa dibangun di seluruh tempat-tempat publik. Kita hadir dimana masyarakat butuh keberadaan PLN,” ujar Darmawan.

Darmawan menambahkan, dalam memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat, PLN juga menyiapkan alat pendukung dalam periode Siaga di antaranya menyediakan 1.478 Genset, 559 uninterruptible power supply (UPS), 925 unit gardu bergerak (UGB), 16 unit Trafo Mobile, 259 Crane, 3.260 Mobil dan 3.395 Motor.

Di samping itu, kata Darmawan, PLN terus memperkuat pasokan energi primer untuk memastikan setiap pembangkit dalam kondisi prima. Begitu juga kondisi seluruh tranmisi, PLN telah melakukan pemeliharaan rutin lebih awal sehingga saat ini dalam kondisi yang aman.

Menurutnya, untuk menjaga jaringan kelistrikan nasional selama periode lebaran, PLN memprediksi kelistrikan yang andal dengan daya mampu pasok sebesar 46,2 Gigawatt (GW), dengan beban puncak mencapai 29 GW. Terkait, pasokan energi primer, PLN menjamin dalam kondisi aman dengan ketersediaan pasokan energi rata-rata di atas 20 hari operasional (HOP).

“Kita buat sistem pasokan energi primer yang lebih kokoh. Tahun ini, kita sudah cek, setiap pembangkit kita HOP stok batubara di atas 20 hari operasi. Artinya, kondisi pembangkit kita sangat aman,” tutup Darmawan.[MT]