3 November 2026

Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin menyerukan pentingnya pembaruan strategi dalam kerja sama bisnis dunia Islam. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara pada Global Muslim Business Forum (GMBF) 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (8/12/2025).

Acara bergengsi yang dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai negara itu mempertemukan para pelaku bisnis, pengambil kebijakan, akademisi, hingga pegiat ekonomi syariah internasional. Sejumlah tokoh penting turut hadir, antara lain Ketua Senat Pakistan sekaligus mantan Perdana Menteri Pakistan Syed Yousaf Raza Gilani, Utusan Khusus Pemerintah Kamboja untuk OKI Neak Oknha Datok Othman Hassan, Gubernur Malaka Tun Seri Mulia Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam, Ketua Islamic Chamber of Commerce and Development Saleh Kamel, serta jajaran pimpinan GMBF seperti Dato Seri Mohammad Iqbal Rawther dan Tan Sri Michael Yeoh.

Dalam paparannya, Din Syamsuddin memulai dengan sebuah disclaimer bahwa dirinya bukan pelaku bisnis, melainkan tokoh yang peduli terhadap kemajuan ekonomi umat Islam. Ia menegaskan bahwa potensi ekonomi dunia Islam sangat besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Namun, menurutnya potensi itu belum termanifestasi secara optimal.

“Potensi besar ini belum muncul karena rendahnya kerja sama antarnegara Islam, lemahnya self defence mechanism dalam menghadapi liberalisasi ekonomi global, serta minimnya dukungan negara terhadap pemajuan ekonomi umat,” ujarnya.

Din menilai negara-negara Islam perlu mengembangkan strategi bisnis yang inovatif dan berorientasi pasar. Salah satunya dengan menciptakan produk-produk baru yang relevan dengan kebutuhan global serta mendorong perdagangan antarnegara (inter-states trading) secara lebih intensif.

“Diperlukan database dan analisis supply-demand yang kuat, serta pola kemitraan yang saling menguntungkan,” tegasnya.

Dalam konteks global, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta tersebut menekankan pentingnya peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk lebih aktif bahkan proaktif dalam memajukan kolaborasi ekonomi, perdagangan, dan investasi antarnegara anggotanya.

Menutup presentasinya, Din Syamsuddin mengingatkan bahwa kerja sama ekonomi umat Islam tidak boleh bersifat eksklusif. Kolaborasi dengan negara dan bangsa manapun tetap diperlukan selama tidak mengandung unsur dominasi dan eksploitasi.

“Kerja sama ekonomi dan perdagangan harus inklusif, selama prinsip keadilan dan kesetaraan tetap dijaga,” tandasnya.

Demikian disampaikan Din Syamsuddin pada forum GMBF 2025 di Kuala Lumpur yang kembali menegaskan posisi strategis dunia Islam dalam peta ekonomi global.

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, diterima secara resmi oleh Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Thayyib di kantor Al-Masyikhah, Kairo, pada 15 Oktober 2025.

Dalam pertemuan tersebut, Din Syamsuddin yang juga menjabat sebagai Ketua Kehormatan Inter Religious Council (IRC) Indonesia menyampaikan undangan resmi kepada Syaikh Al-Azhar untuk hadir dan memberikan sambutan pada Perayaan Hari Persaudaraan Kemanusiaan Sedunia (International Day of Human Fraternity) yang akan digelar 4 Februari 2026 di Jakarta.

Hari Persaudaraan Kemanusiaan Sedunia merupakan ketetapan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai tindak lanjut dari Piagam Persaudaraan Kemanusiaan (Document on Human Fraternity) yang ditandatangani oleh Syaikh Al-Azhar dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019.

Sejak tahun 2020, IRC-Indonesia secara konsisten menyelenggarakan perayaan tersebut bekerja sama dengan lembaga tinggi negara. Pada tahun 2024, kegiatan ini digelar bersama DPD RI di kompleks parlemen Senayan, Jakarta. Untuk perayaan tahun 2026, Din berharap acara dapat diadakan secara lebih besar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, agar masyarakat lintas agama dapat berkumpul dan merayakan nilai-nilai kemanusiaan bersama.

“Insya Allah kami berharap yang hadir langsung adalah kedua penandatangan Piagam Persaudaraan Kemanusiaan itu sendiri Syaikh Al-Azhar dan Paus Leo, sebagai penerus Paus Fransiskus. Namun tentu sesuai protokoler, undangan resmi akan disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia,” ujar Din Syamsuddin, Senin (20/10/2025).

Menurut Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam (Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam) itu, perayaan Hari Persaudaraan Kemanusiaan Sedunia memiliki makna mendalam di tengah dunia yang kian porak-poranda akibat egoisme dan konflik kemanusiaan.

“Bagi Indonesia, persaudaraan kemanusiaan adalah keniscayaan. Bangsa ini dibangun atas dasar kemajemukan agama, suku, dan kepentingan sosial-ekonomi-politik. Karena itu, perayaan semacam ini penting untuk terus dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman dan kemanusiaan,” tegasnya.

Din Syamsuddin berada di Kairo pada 15–19 Oktober 2025 dalam rangka mendampingi rombongan santri Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Sumbawa, dalam kegiatan EduTrip ke Mesir, Arab Saudi, dan Indonesia (Jakarta–Bogor–Bandung).

EduTrip yang telah berlangsung tiga tahun berturut-turut ini menjadi bagian dari program pembelajaran internasional para santri. Dalam setiap kunjungan ke Mesir, rombongan Dea Malela selalu mendapat kehormatan diterima oleh Syaikh Al-Azhar.