7 November 2026

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)

MoneyTalk, Jakarta – Selain kasus dugaan korupsi di Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina kembali diterpa isu serius menyangkut tata kelola anak usahanya. Pada November 2024 lalu, Senayan sempat diramaikan dengan dugaan skandal pengadaan geomembrane di PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), perusahaan yang mengelola Blok Rokan di Riau.

Dugaan rasuah dalam proyek tersebut pertama kali disampaikan Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Pandjaitan. Saat itu, Hinca secara terbuka meminta Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk turun tangan mengusut kasus pengadaan geomembrane di PHR, lantaran laporan yang masuk ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau dinilai tidak menunjukkan perkembangan berarti.

“Kalau laporan di daerah mandek, Kejaksaan Agung harus mengambil alih. Ini menyangkut BUMN strategis dan uang negara,” kata Hinca Pandjaitan dalam rapat di kompleks parlemen, November 2024 lalu.

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan perusahaan yang mengelola Blok Rokan, salah satu blok migas terbesar dan paling produktif di Indonesia. PHR berada di bawah naungan Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE), yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan hulu minyak dan gas bumi Pertamina.

Sebagai perusahaan publik yang mengelola sektor strategis migas nasional, setiap dugaan penyimpangan di tubuh PHR dinilai memiliki dampak luas, tidak hanya terhadap keuangan negara, tetapi juga terhadap kepercayaan publik pada reformasi tata kelola BUMN energi.

Menanggapi isu dugaan rasuah tersebut, Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai kasus PHR seolah menggambarkan adanya persoalan serius dalam tata kelola anak perusahaan PT Pertamina.

“Dugaan korupsi di PT Pertamina Hulu Rokan ini seperti memperlihatkan ada yang salah dalam tata kelola anak perusahaan PT Pertamina,” ujar Uchok Sky dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sejatinya merupakan perusahaan yang mengelola sektor hulu minyak dan gas, sementara entitas anak usahanya bergerak di bidang usaha hulu migas dan gas metana batubara. Dengan posisi strategis tersebut, standar pengawasan dan akuntabilitas seharusnya dijalankan secara ketat.

Tak hanya soal dugaan korupsi, Uchok Sky juga menyoroti kinerja keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yang dinilainya menunjukkan tren mencurigakan. Ia menyebut PHE mengalami penurunan pendapatan usaha dalam setahun terakhir.

“Pada tahun 2025, pendapatan usaha PT Pertamina Hulu Energi hanya sebesar 10,4 miliar dolar AS. Padahal pada tahun 2024 masih bisa mencapai sekitar 10,8 miliar dolar AS,” ungkap Uchok.

Ia menambahkan, bila dibandingkan antara tahun 2025 dan 2024, PHE disebut kehilangan pendapatan usaha sekitar 375,3 juta dolar AS dalam satu tahun.

Akibat penurunan pendapatan tersebut, menurut Uchok, laba PHE juga ikut tergerus signifikan.

“Pertamina Hulu Energi yang dipimpin oleh Awang Lazuardi harus kehilangan laba sekitar 302,2 juta dolar AS,” ujarnya.

Lebih jauh, Uchok Sky menilai turunnya pendapatan dan laba PHE menjadi sinyal lemahnya kepemimpinan di tingkat holding. Ia secara terbuka mengkritik Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.

“Turunnya pendapatan usaha dan laba PT Pertamina Hulu Energi ini memperlihatkan bahwa Direktur Utama PT Pertamina tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk mengelola perusahaan negara sebesar Pertamina,” tegas Uchok.

Ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap manajemen Pertamina, termasuk audit tata kelola dan transparansi pengelolaan anak usaha, khususnya di sektor hulu migas yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.

Sementara itu, desakan agar Kejaksaan Agung turun tangan mengusut dugaan korupsi pengadaan geomembrane di PHR terus menguat. Publik dan DPR berharap penanganan kasus ini dilakukan secara transparan dan tidak berhenti di level laporan semata.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Pertamina Hulu Rokan maupun PT Pertamina Hulu Energi belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan rasuah maupun kritik atas kinerja keuangan perusahaan.

MoneyTalk, Jakarta – Hari ini, 9 Agustus 2025, adalah genap empat tahun penuh Wilayah Kerja Migas Blok Rokan diambil alih pengelolaannya oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada 9 Agustus 2021 silam. Hari ini pula, terbukti PT Pertamina Hulu Rokan gagal menaikan produksi minyak Blok Rokan menjadi 400.000 barel perhari sesuai harapan ketika Presiden Joko Widodo meninjau Blok Rokan pada 5 Januari 2023 silam.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, Sabtu (9/8/2025) di Jakarta.

“Ironisnya, kegagalan tersebut disertai arus kasnya yang berdarah-darah. Ini adalah suatu realitas yang menyedihkan akibat beban-beban salah strategi meningkatkan produksi yang membuat keekonomian WK Blok Rokan jadi tekor,” ungkap Yusri.

Sebelumnya, lanjut Yusri, Tempo edisi 22 September 2023 telah memberitakan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) akan beralih skema kontrak dari Gross Split ke Cost Recovery untuk menyelamatkan diri dari berdarah-darahnya keuangannya. Termasuk PT PHR, salah satu anak usaha Subholding PT Pertamina Hulu Energi yang lagi menunggu persetujuan Pemerintah yang diwakili oleh Menteri ESDM.

“Achandra Tahar mantan Wakil Menteri ESDM sebagai penggagas skema Gross Split dengan menggunakan konsultan Mackenzie saat itu tampaknya harus ikut bertanggungjawab juga karena diduga sebagai salah satu faktor menurunnya minat investor untuk berinvestasi di sektor hulu migas,” kata Yusri.

Menurut Yusri, begitu juga dengan tokoh Jaffee Arizon Suardin alias Buyung Jafee.

“ntah bagaimana prestasinya, kok bisalah BPI Danantara menunjuk dia sebagai Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero) sejak 13 Juni 2025? Dia adalah mantan Dirut PHR dan penebar angin sorga produksi minyak nasional 1 juta barel perhari yang tampaknya harus ikut tanggung renteng atas kegagalan pengelolaan Blok Rokan, posisi strategis Direktur Infrastuktur dan Logistik adalah kordinator Optimasi Hilir yang sangat menentukan skema impor minyak mentah dan BBM. Hubungan Achandra dengan Buyung Jafee ibarat lepat dengan daun,” ungkap Yusri.

Sebab, kata Yusri, jor-joran melakukan pemboran sekitar 1.600 sumur mulai saat transisi hingga saat ini dan kesalahan pemilihan tehnologi Enhanced Oil Recovery (EOR) telah menjadi biang kerok penyebab kegagalan untuk lapangan yang sudah mature yang tingkat penurunan produksinya secara alamiah cukup tinggi.

“Padahal, PT CPI sejak lama sudah mengharamkan melakukan pemboran jor-joran untuk menahan laju penurunan dan peningkatan produksi Blok Rokan. Mereka lebih memilih menerapkan metoda EOR yang terbukti berhasil. Namun Pertamina malah sejak awal melakukan langkah kebalikannya,” beber Yusri.

Setidak-tidaknya, kata Yusri, dibutuhkan biaya rata-rata sekitar USD 2,5 juta per sumur, mulai dari biaya persiapan lokasi dan infrastruktur serta sewa rig dan proses pemboran (lumpur bor dan cementing) serta pengelolaan limbah bor hingga pemasangan kepala sumur dan memasang pipa ke stasiun pengumpul minyak (gathering station). Jika 1.600 sumur, maka kocek PHR sudah sobek sebesar sekitar USD 4 miliar.

“Kemudian penggunaan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) yang kurang tepat oleh PHR bisa menambah sobek kantongnya sebesar Rp 5,18 Triliun. Nilai tersebut berdasarkan persetujuan Plan of Development PoD CEOR oleh SKK Migas Lapangan Minas Tahap 1 senilai Rp 1,48 triliun dan PoD Steam flood EOR Lapangan Rantau Bais Tahap 1 sebesar Rp 3,7 triliun, yang katanya bagian dari Komitmen Kerja Pasti PHR sebesar USD 500 juta ketika menang tender WK Rokan di Ditjen Migas Kementerian ESDM,” ungkap Yusri lagi.

Lebih lanjut Yusri membeberkan, indikasi kegagalan penggunaan metode CEOR tersebut sudah terlihat nyata saat ini akibat kurang tepatnya pilihan jenis CEOR atau injeksi kimia senilai Rp 1,48 triliun.

“Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari beberapa kali pengujian core flood menggunakan native core (core riil asli) lapangan Minas, ketiganya menghasilkan total Recovery Faktor (RF) setelah water flood, chemical flood dan chase water di kisaran 60 persenan, masih jauh dari pengujian menggunakan core synthetic yang bisa mencapai 90 persenan,” ungkap Yusri.

Dikatakan Yusri, CERI memberikan peringatan dini. “Kesemberonoan pemilihan tehnologi CEOR dan apalagi berbau amis atur-mengatur, kami pastikan akan berujung pahit di gedung bundar atau kantor kuningan Jakarta,” tegas Yusri.

Jadi, kata Yusri, jika mau dihitung secara sederhana dan bodoh-bodohan, dengan asumsi rata-rata harga minyak mentah USD 70 perbarel, maka total biaya pengeboran ditambah biaya CEOR sebesar USD 4,3 miliar, maka kita akan memperoleh minyak mentah sebanyak 61.430 juta barel atau 42.000 barel perhari selama 4 tahun.

“Selain itu, pembangunan pipa Blok Rokan sepanjang 365 Km hasil investasi PT Pertagas sebesar USD 300 juta atau setara Rp 5 triliun (kurs USD Rp 16.250) juga diduga bermasalah yang akan menambah daftar panjang kerumitan di Blok Rokan,” papar Yusri.

Hal tersebut menurut Yusri terungkap ketika Dirut PHR, Rubi Mulyawan dalam program Energy Corner kepada CNBC Indonesia pada 10 Mei 2025 enggan menyebut angka produksi Blok Rokan dan hanya berkata untuk semester 1 tahun 2025 belum mencapai target.

“Sementara di media yang sama dikatakan produksi minyak Blok Rokan di tahun 2024 hanya 158.167 barel perhari. Namun ketika alih kelola pada 9 Agustus 2021 dari PT CPI kepada PT PHR angka produksi Blok Rokan 158.500 barel perhari,” imbuh Yusri.

Yusri mengingatkan, Blok Rokan adalah salah satu tulang punggung Pertamina selain Blok Banyu Urip sebagai penopang lifting minyak nasional saat ini.

“Jika baru-baru ini Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 30 Juli 2025 sudah sesumbar menyatakan produksi minyak nasional sekarang 608.000 barel perhari dan pertama kali melampaui target ABPN 2025, sebaiknya bersabar sedikit dan peningkatan itu lebih disebabkan on streamnya beberapa blok migas yang sudah lama proses penyelesaian fasilitas produksinya. Lantaran hingga saat ini kita belum dengar adanya giant discovery migas yang bisa membuat lompatan yang tinggi untuk produksinya. Lazimnya nanti di akhir tahun 2025 akan terlihat secara utuh dan nyata produksi migas nasional sepanjang tahun 2025,” ungkap Yusri.

Oleh sebab itu, kata Yusri, Presiden Prabowo Subianto harus berhati-hati atas semua masukan dari pembantunya terkait peningkatan lifting migas nasional. “Jangan sampai kena prank oleh pembantunya yang punya agenda lain,” pungkas Yusri.