6 November 2026

reformasi 1998

MoneyTalk.id,Jakarta – Tiga puluh enam tahun perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA) mempertemukan kembali aktivis lintas generasi dalam Reuni dan Silaturahmi 36 Tahun HUMANIKA di Cerita Rasa Nusantara, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Mengusung tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dengan tagline #AktivisSepanjangMasa, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi perjalanan organisasi yang lahir pada 1990 dan berkembang dalam dinamika gerakan masyarakat sipil Indonesia.

Sejumlah aktivis yang kini berkiprah di berbagai bidang hadir dalam acara tersebut. Di antaranya pendiri HUMANIKA yang kini menjabat Bupati Lahat Bursah Zarnubi, aktivis senior Malari Hariman Siregar, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kepala Badan Komunikasi Kantor Presiden Muhammad Qodari, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Fauzi Amro, Puadi, Iwan Sumule, Hakim Mahkamah Agung Erwin Partogi, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Ma’mun Murod Al-Barbasy.

Namun, salah satu isu yang mencuri perhatian dalam reuni tersebut adalah pandangan politik Bursah Zarnubi mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bursah yang merupakan pendiri sekaligus Ketua pertama HUMANIKA secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan pemerintahan Prabowo.

Menurut Bursah, pemerintahan Prabowo perlu diberikan kesempatan menjalankan siklus pemerintahan selama lima tahun dan, dalam pandangannya, dilanjutkan hingga dua periode.

“Pak Prabowo kan mesti dua periode gitu loh maksudnya. Dan ini mesti kita dukung, enggak boleh kita jatuhkan sebelum dia berhasil,” ujar Bursah dalam acara tersebut.

Ia meminta pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan Prabowo untuk bersabar dan memberikan ruang bagi pemerintahan menyelesaikan agenda yang telah dijalankan.

“Minimal siklus lima tahun itu dijaga. Kita mesti siklus lima tahun dipertahankan. Enggak boleh jatuh bangun, jatuh bangun, demokrasi nanti rusak,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan politik yang muncul di tengah pertemuan aktivis HUMANIKA dari berbagai generasi.

Bursah menempatkan stabilitas pemerintahan sebagai salah satu prasyarat agar agenda pembangunan dan pengelolaan sumber daya ekonomi dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Selain persoalan keberlanjutan pemerintahan, Bursah juga menyoroti agenda ekonomi yang dikaitkannya dengan Pasal 33 UUD 1945.

Ia menilai pemerintahan Prabowo memiliki pekerjaan besar dalam mengubah pengelolaan kekayaan nasional.

“Tapi saya berpandangan itu dia ada tugas besar yang menurut saya belum pernah digagas oleh Presiden sebelumnya. Revolusi Pasal 33,” kata Bursah.

Menurut dia, agenda tersebut perlu diarahkan agar kekayaan nasional dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Bursah juga berharap pemerintahan Prabowo mampu mengubah struktur penguasaan kekayaan nasional yang menurut pandangannya selama ini terlalu banyak berada di tangan kelompok oligarki.

“Kita tunggu beberapa tahun ke depan ini mudah-mudahan kita akan kaya. Dan kasih kesempatan Pak Prabowo untuk mengambil alih kekayaan dari oligarki yang serakah ini,” ujarnya.

Dalam laporan lain mengenai acara tersebut, Bursah juga mengaitkan gagasan perubahan ekonomi dengan kebutuhan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Ia menilai regenerasi HUMANIKA perlu melibatkan anak muda yang mampu mendorong percepatan transformasi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Pembina HUMANIKA sekaligus Ketua Umum kedua, Andrianto, mengingatkan kembali sejarah panjang organisasi tersebut.

HUMANIKA berdiri pada 18 September 1990, dalam situasi politik Orde Baru ketika ruang gerak organisasi mahasiswa dan kelompok kritis menghadapi berbagai pembatasan.

Dari kelompok studi dan diskusi intelektual, HUMANIKA kemudian berkembang menjadi salah satu simpul aktivisme yang terlibat dalam dinamika gerakan menjelang Reformasi 1998.

Andrianto menilai Reformasi 1998 tidak dapat dilepaskan dari rangkaian gerakan yang telah tumbuh jauh sebelumnya.

“Gerakan ’98 itu tidak bisa dikatakan gerakan murni dari teman-teman ’98 saja,” ujarnya.

Karena itu, menurut Andrianto, perjalanan HUMANIKA selama 36 tahun harus dipahami sebagai mata rantai gerakan lintas generasi.

Ia juga menegaskan bahwa HUMANIKA tetap menempatkan konstitusi sebagai salah satu pijakan dalam perjalanan organisasinya.

Dalam forum tersebut, Andrianto menyampaikan pandangannya bahwa sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih sejalan dengan agenda menjalankan amanat UUD 1945.

Reuni 36 tahun HUMANIKA tidak hanya diisi dengan pembicaraan mengenai politik dan kebijakan pemerintah. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kembali aktivis yang selama puluhan tahun telah menempuh jalan pengabdian masing-masing.

Ada yang kemudian masuk ke pemerintahan, parlemen, lembaga negara, dunia akademik, organisasi masyarakat maupun berbagai profesi lainnya.

Aktivis senior Hariman Siregar turut memberikan kata penutup dalam acara tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah gerakan masyarakat sipil dan perjalanan aktivisme di Indonesia.

Sejumlah tokoh lain yang hadir antara lain Trimedya Panjaitan, Hamid Basyaib, Arif Rahman, Puti Haryanto, Puadi, Andi Arief, Umar Juoro, Herdi Sahrasad, Ariadi Ahmad, Haris Moty, Hatta Taliwang, Kisman Latumakila, Andi Rahmat, Effendi Choirie, Sri Melyana dan sejumlah aktivis lainnya.

Pertemuan lintas generasi itu memperlihatkan bagaimana jaringan HUMANIKA yang dibangun sejak 1990 masih bertahan hingga hari ini. Laporan mengenai kegiatan tersebut juga mencatat adanya pemutaran video testimoni dari sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam perjalanan HUMANIKA.

Bagi HUMANIKA, usia 36 tahun bukan hanya penanda bertambahnya umur organisasi. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan gerakan, mempertahankan solidaritas dan membuka ruang kolaborasi baru.

Dari kelompok studi pada awal 1990-an, dinamika menjelang Reformasi 1998, hingga aktivisme lintas profesi pada masa kini, HUMANIKA berupaya mempertahankan jejaring yang telah terbentuk selama lebih dari tiga dekade.

Tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dan tagline #AktivisSepanjangMasa pun menjadi penanda bahwa bagi para aktivisnya, perjalanan organisasi tidak berhenti pada satu generasi.

MoneyTalk, Jakarta – Perdebatan mengenai wacana Reformasi Jilid II kembali mengemuka setelah diskusi antara Fahri Hamzah dan Feri Amsari dalam sebuah program televisi nasional pada 11/6/2026. Keduanya sama-sama dikenal sebagai aktivis reformasi 1998, namun kini berada pada posisi pandang yang berbeda dalam menilai kondisi demokrasi dan pemerintahan saat ini.

Dalam perdebatan tersebut, Fahri Hamzah yang saat ini berada di dalam lingkar pemerintahan menilai Presiden Prabowo Subianto memiliki niat baik untuk membawa perubahan bagi Indonesia. Menurutnya, kritik dan demonstrasi merupakan bagian dari demokrasi, namun situasi saat ini tidak tepat disamakan dengan kondisi menjelang Reformasi 1998.

Fahri juga berpendapat bahwa sistem demokrasi Indonesia saat ini sudah memiliki perangkat yang relatif lengkap, sehingga berbagai persoalan seharusnya dapat diselesaikan melalui mekanisme hukum dan konstitusi yang tersedia.

Di sisi lain, akademisi hukum tata negara Feri Amsari menegaskan bahwa niat baik pemimpin tidak cukup menjadi ukuran. Menurutnya, yang harus dinilai publik adalah kebijakan nyata yang diterapkan pemerintah dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Feri menyoroti sejumlah perkembangan yang menurutnya patut menjadi perhatian, antara lain meningkatnya keterlibatan unsur militer dalam ruang sipil serta menurunnya independensi lembaga legislatif dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah.

Perbedaan mendasar keduanya terlihat pada cara memandang kekuasaan dan mekanisme kontrol terhadap pemerintahan.

Fahri Hamzah menekankan pentingnya kepercayaan kepada presiden serta upaya melakukan perbaikan dari dalam sistem pemerintahan. Ia menilai keterlibatan dalam kekuasaan memungkinkan seseorang ikut memengaruhi arah kebijakan secara langsung.

Sebaliknya, Feri Amsari berpendapat bahwa ukuran utama harus tetap berdasarkan data, fakta lapangan, dan kondisi objektif yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, posisi di luar pemerintahan justru memberikan ruang yang lebih bebas untuk menyampaikan kritik tanpa terikat kepentingan kekuasaan.

Meski berbeda pandangan, keduanya memiliki kesamaan latar belakang sebagai aktivis Reformasi 1998 dan sama-sama menyatakan kecintaannya terhadap Indonesia. Namun perjalanan politik dan pilihan peran yang berbeda membuat keduanya kini berada pada sisi yang berseberangan dalam membaca kondisi demokrasi nasional.

Perdebatan tersebut memunculkan pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan publik: apakah seorang aktivis yang masuk ke dalam lingkar kekuasaan masih dapat mempertahankan sikap kritisnya, ataukah pada akhirnya akan lebih banyak berperan sebagai pembela kebijakan pemerintah?

Pertanyaan itu menjadi relevan mengingat sejarah reformasi Indonesia juga diwarnai oleh banyak aktivis yang kemudian memilih masuk ke pemerintahan, sementara sebagian lainnya tetap berada di luar kekuasaan untuk menjalankan fungsi kontrol dan kritik terhadap negara.

Catatan redaksi: Berita ini merupakan rangkuman pandangan yang disampaikan dalam Kompas TV bersama Rossi Simanjuntak dan tidak dimaksudkan sebagai penilaian terhadap individu maupun lembaga tertentu. Pandangan yang disampaikan masing-masing narasumber menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel, melontarkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto usai menerima putusan hakim di Pengadilan Negeri Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Di hadapan wartawan, Noel menyebut adanya potensi eskalasi politik yang menurutnya dapat berkembang menjadi gerakan besar menyerupai peristiwa Reformasi 1998. Ia menilai berbagai elemen masyarakat telah melakukan konsolidasi dan hanya menunggu momentum tertentu untuk bergerak.

“Pak Prabowo, di bulan Juni–Juli ini akan ada peristiwa besar. Ada eskalasi politik yang ujungnya adalah menggulingkan pemerintahan Prabowo,” kata Noel kepada wartawan seusai sidang.

Menurut Noel, berbagai kelompok masyarakat telah menjalin komunikasi dan konsolidasi dalam beberapa waktu terakhir.

“Dan konsolidasi ini sudah selesai, dan sudah matang. Konsolidasi sipil, konsolidasi mahasiswa, konsolidasi buruh, konsolidasi kelompok civil society, semuanya,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut bahwa kondisi tersebut hanya membutuhkan satu faktor pemicu agar gelombang gerakan sosial-politik itu meledak ke permukaan.

“Tinggal satu, butuh satu pemicu. Dan ‘98 Jilid 2 akan terjadi tidak lama lagi,” tegasnya.

Noel menilai pemerintah perlu lebih peka terhadap berbagai perkembangan ekonomi yang menurutnya dapat menjadi indikator munculnya gejolak sosial di tengah masyarakat. Ia menyoroti pelemahan sejumlah indikator ekonomi sebagai sinyal yang tidak boleh diabaikan.

“Jika Prabowo tidak peka terhadap kejadian ini. Kita sudah lihat dolar semakin tinggi, Indeks Harga Saham Gabungan. Kita juga sudah babak belur,” katanya.

Menurutnya, persoalan ekonomi kerap menjadi pintu masuk lahirnya ketidakpuasan publik yang kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas.

“Itu adalah salah satu indikator bahwa ke depan nanti ada gejala sosial, yang indikatornya adalah gejala ekonomi,” tambah Noel.

Pernyataan Noel tersebut muncul di tengah dinamika politik dan ekonomi nasional yang terus menjadi sorotan publik. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana maupun pemerintah terkait peringatan yang disampaikan mantan Wamenaker tersebut.

Terlepas dari berbagai pandangan yang berkembang, pernyataan Noel dipastikan akan menambah perdebatan mengenai kondisi sosial-politik Indonesia saat ini, sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas nasional sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah dalam merespons berbagai persoalan ekonomi dan aspirasi masyarakat secara tepat.

MoneyTalk, Jakarta – Perjuangan melawan tindakan-tindakan inkonstitusional yang dilakukan oleh Jokowi, tidak bisa direduksi hanya pada persoalan pertentangan kontroversial lama antara Jokowi dan Bu Mega.

Persoalan Jokowi dan Bu Mega adalah persoalan internal partainya, namun persoalan Jokowi yang melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional, serta mengencingi hasil pencapain pergerakan Reformasi ’98, harus diadili oleh kekuatan revolusioner rakyat itu sendiri.

Kemudian apabila rakyat itu diam-diam saja, tidak memberi reaksi pada Jokowi atau bahkan malah sebagian turut mendukungnya, itu artinya mereka rakyat yang masih harus dicerahkan, bahwa kepastian hukum dan keadilan lebih utama daripada yang lainnya.(SHE)

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer, Jurnalis dan Aktivis ’98, 28 November 2024.

MoneyTalk, Jakarta – Pada 14 Oktober 2005, tepatnya di Hotel Cemara, Jakarta, Antonius Benny Susetyo, sebagai agamawan Katolik menyampaikan pikirannya tentang pluralisme dan kondisi kebangsaan yang saat itu tampak rapuh, karena reformasi 1998 baru bisa mencetak perubahan sebagian struktur formal kenegaraan dan belum menyentuh segi-segi fundamental bernegara. Pandangan kritis tokoh dan aktivis yang biasa dipanggil Romo Benny ini melampaui para tokoh agama pada umumnya.

Sekalipun tergolong junior di forum kecil tidak lebih dari 22 orang, yang dihadiri Abdurrahman Wahid, Azyumardi Azra, Hendardi, Rocky Gerung, dan pendiri Setara Institute lainnya termasuk saya, pandangan Benny menjadi salah satu peneguh pilihan SETARA Institute menjadikan agenda penguatan pluralisme dan pemajuan HAM sebagai pilar gerakan dan pemikiran organisasi yang kami dirikan di 19 tahun lalu.

Kini Benny Susetyo telah mangkat dan dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Duka mendalam kami rasakan. Selama 15 tahun Benny Susetyo terus menjadi Sekretaris Dewan Nasional organisasi yang didirikannya, dengan menemani para peneliti dan aktivis di Setara Institute dan mewarnai berbagai gerakan sosial yang dinamis, baik dalam soal ancaman nyata atas ideologi Pancasila, ancaman pluralisme dan HAM, pelemahan KPK hingga demokrasi yang dirusak oleh rezim yang justru lahir dari berkah demokrasi.

Pergaulan yang luas dan luwes, menjadikan Romo Benny bisa diterima di banyak kalangan dan terus mengobarkan aneka gerakan sosial, meski lebih dari 8 tahun terakhir dirinya dipercaya menjadi Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP. BPIP sebelumnya UKP PIP sendiri dibentuk salah satunya merupakan hasil pergulatan Romo Benny, Setara Institute dan Ketua MPR Almarhum Taufik Kiemas, yang mengomunikasi ke berbagai pihak memastikan rekomendasi riset Setara Institute-MPR RI di 2011 untuk melakukan rejuvenasi Pancasila melalui gerakan kebudayaan dan dialektika yang terus hidup, bisa diwujudkan saat PDIP dan Jokowi memenangi kontestasi di 2014. Makanya kami sering bercanda dengan menyebut Romo Benny sebagai duta Setara di BPIP.

Kami bersaksi Benny Susetyo adalah orang baik. Soal kegigihan dan dedikasinya yang tanpa batas diakui banyak pihak. Benny sering berganti baju saat ingin menyampaikan pikiran dan kegelisahan. Kadang menyebut diri sebagai wakil BPIP, kadang Pendiri Setara Institute, rohaniawan dan budayawan. Predikat-predikat itu menandakan bahwa Benny bisa berganti peran, tetapi idealismenya untuk kemanusian, pluralisme dan HAM serta demokrasi tidak berubah. Makanya Hendardi, Coki Naipospos, Rocky Gerung, kolega di Setara Institute, sering menyebutnya sebagai Romo Forkot. Forkot merujuk pada Forum Kota, gerakan mahasiswa 98 yang salah satu tokohnya Adian Napitupulu dan terdepan dalam menyampaikan kritik jelang dan sesudah reformasi.

Pertemuan 27 Agustus 2024 lalu ternyata pertemuan terakhir saya dan Benny Susetyo. Dan saat itu, dalam forum diskusi pakar, Benny mengingatkan soal kemerosotan etika bernegara, korupsi, dan vetokrasi republik. Pembudayaan ideologi Pancasila dan disiplin dengan prinsip negara hukum demokratis atau demokrasi konstitusional harus tetap menjadi pemandu untuk mewujudkan Indonesia emas 2045.

Selamat jalan, Pak Benny Susetyo. Istirahat dalam tenang dan damai. Setara Institute dan banyak kawan tokoh dan aktivis serta komunitas korban dan marjinal yang dibela, berduka mendalam, dan merasa kehilangan.

Penulis: Ismail Hasani, Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Jakarta, 6 Oktober 2024