7 November 2026

Rudi Susmanto

MoneyTalk, Jakarta – Dugaan praktik kotor di balik proyek jalan Bojong–Kemang (Bomang) kembali menyeruak, kali ini disertai aksi brutal terhadap jurnalis. Sejumlah wartawan yang tengah meliput proyek tersebut menjadi korban penganiayaan oleh para pekerja di lokasi pembangunan, Kamis sore (2/10/2025) di Desa Sukmajaya, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Informasi yang dihimpun dari berbagai grup wartawan dan laporan sejumlah media, kejadian berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB. Awalnya, para jurnalis tengah mengambil gambar serta berupaya mewawancarai mandor proyek peningkatan jalan yang dikerjakan oleh PT Tri Manunggal Karya, kontraktor pelaksana proyek senilai Rp31,5 miliar dari APBD Kabupaten Bogor tahun anggaran 2025.

Namun suasana mendadak ricuh. Sejumlah pekerja proyek tiba-tiba menyerang wartawan dengan benda tumpul dan kayu. Salah satu korban berinisial H mengalami luka serius di tangan, kepala, dan tubuh, bahkan giginya patah akibat serangan brutal tersebut.

“Korban sempat berteriak minta tolong, tapi para pekerja malah makin beringas,” kata seorang saksi di lokasi.

Kasus ini langsung menuai kecaman keras dari berbagai organisasi pers di Bogor, yang menilai penganiayaan terhadap jurnalis adalah pelanggaran berat terhadap kebebasan pers. Laporan resmi telah dibuat di Polrestro Depok, namun hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian.

“Kami minta kasus ini diusut tuntas. Jangan ada lagi kekerasan terhadap wartawan di lapangan,” ujar salah satu tokoh organisasi wartawan di Bogor.

Peristiwa penganiayaan ini menambah panjang deretan kontroversi proyek Bomang. Sejak awal, proses lelang proyek senilai puluhan miliar itu disebut-sebut penuh kejanggalan dan indikasi permainan antara oknum pejabat pengadaan dan pihak kontraktor.

Sejumlah kontraktor bahkan secara terbuka menyebut proses lelang di Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (ULPBJ) Kabupaten Bogor tidak transparan.

Salah satu kontraktor, M Husen Djohn Pasaribu, mempertanyakan mengapa penawar terendah tidak dimenangkan dalam lelang tersebut.

“Penawar nomor dua menawarkan Rp30 miliar, tapi yang dimenangkan PT Tri Manunggal Karya dengan Rp31,513 miliar. Ada selisih hampir Rp1,5 miliar yang seharusnya bisa menghemat anggaran daerah,” ujarnya.

Djohn juga menyoroti persyaratan tender yang dianggap tidak masuk akal, seperti kewajiban melampirkan BPKB asli alat berat saat proses verifikasi.

“Masa pengerjaan timbunan harus pakai BPKB asli? Kalau STNK wajar. Tapi BPKB? Itu syarat yang dibuat-buat, seolah untuk menjegal peserta lain,” katanya sinis.

Senada, kontraktor lain berinisial TS mengungkapkan bahwa pemenang tender sebenarnya sudah diatur sejak awal.

“Kami sudah diberi tahu dari dalam kalau proyek Bomang sudah ada pemenangnya, sementara proses lelang masih berjalan. Persyaratan tambahan itu hanya formalitas untuk menyingkirkan peserta lain,”ungkapnya.

Beberapa pejabat dan kontraktor menyebut nama Silo, seorang pengusaha yang disebut dekat dengan Bupati Bogor Rudi Susmanto, diduga memiliki pengaruh kuat dalam menentukan pemenang berbagai tender di ULPBJ.

“Nama Silo itu sering disebut-sebut kalau ada proyek besar. Semua orang tahu dia orangnya kuat di lingkaran bupati,” ujar salah satu sumber internal Pemkab Bogor yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Namun, Kabag ULPBJ Kabupaten Bogor, Asman Dila, membantah adanya permainan dalam tender proyek Bomang.

“Semua proses sudah sesuai prosedur dan transparan. Ini masih masa sanggah, silakan disanggah jika ada yang tidak puas,” katanya singkat saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Proyek pembangunan Jalan Bojong–Kemang (Bomang) sejatinya menjadi proyek strategis Kabupaten Bogor untuk membuka akses ekonomi di wilayah selatan. Namun sejak perencanaan, proyek ini selalu diterpa masalah mulai dari dugaan pengaturan tender, keterlambatan pelaksanaan, hingga kini berujung kekerasan terhadap wartawan.

Warga sekitar pun mengaku kecewa. “Jalan ini tiap tahun dikerjain tapi gak selesai-selesai. Uangnya habis, hasilnya gak kelihatan,” ujar warga Sukmajaya, Yayan (47).

Kini publik menanti langkah tegas Polrestro Depok dan Kejaksaan Negeri Cibinong untuk mengusut dugaan penganiayaan sekaligus kemungkinan adanya praktik korupsi dan kongkalikong proyek di balik tragedi kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

“Serangan terhadap wartawan bisa jadi upaya menutupi kebusukan proyek. Kalau tidak ada masalah, kenapa takut diliput?” ujar seorang aktivis media di Bogor.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak bahwa kekerasan terhadap jurnalis adalah bentuk pengkhianatan terhadap demokrasi dan transparansi publik. Pembangunan tanpa pengawasan hanya akan melahirkan proyek sarat korupsi dan kekuasaan yang sewenang-wenang.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Centre For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk segera menyelidiki dugaan korupsi besar-besaran di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Desakan tersebut akan segera dituangkan melalui surat resmi yang akan dikirim langsung kepada Kapolri.

Uchok menilai praktik dugaan korupsi di Pemkab Bogor sudah tergolong fantastis dan merugikan masyarakat. Ia menyebut ada indikasi pengalihan anggaran APBD 2024 senilai lebih dari Rp1 triliun yang dialokasikan untuk proyek-proyek yang dianggap tidak bermanfaat.

“Belanja pengadaan barang elektronik seperti Smart TV dan drumband di Dinas Pendidikan saja menelan ratusan miliar. Belum lagi pengadaan lampu PJU dan meubeler di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta bus listrik di Dinas Perhubungan,” beber Uchok, Minggu (8/9/2025).

Tak hanya itu, proyek pembangunan Masjid Raya di kompleks olahraga Pakansari, Cibinong, yang menelan anggaran Rp112 miliar juga diduga sarat korupsi. Menurut Uchok, sejak tahap tender pemenangnya sudah diatur, sementara pengerjaan proyek dilakukan secara asal-asalan.

“Pemkab Bogor adalah salah satu kabupaten dengan pengelolaan anggaran paling buruk. Dugaan korupsi jual beli proyek pun makin memperburuk citra pemerintahan daerah. Dari awal lelang saja sudah korupsi, apalagi saat proses pengerjaan,” tegas Uchok.

Selain dugaan pengalihan anggaran, Pemkab Bogor juga disorot dalam kasus jual beli proyek pada 2025. Informasi dari sejumlah kontraktor dan pejabat Pemkab Bogor menyebut praktik ini dijalankan oleh oknum pejabat dinas bersama seorang swasta bernama Silo, yang disebut-sebut dekat dengan Bupati Bogor, Rudi Susmanto.

Praktik jual beli proyek ini diduga dilakukan secara terang-terangan, sehingga membuat sejumlah kontraktor mengancam akan melaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ancaman tersebut langsung ditanggapi KPK. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan pihaknya siap menindaklanjuti dugaan korupsi di Pemkab Bogor.

“KPK meminta masyarakat Kabupaten Bogor segera melaporkan jika memiliki bukti terkait praktik jual beli proyek yang melibatkan oknum bernama Silo tersebut,” ujar Budi.

Hingga berita ini diterbitkan, baik Silo maupun Bupati Bogor, Rudi Susmanto, belum memberikan klarifikasi meski sudah dihubungi berkali-kali melalui pesan WhatsApp oleh awak media. (Roni)

MoneyTalk, Bogor –  Sejumlah kontraktor Kabupaten Bogor, mengancam akan melaporkan kasus dugaan korupsi jual beli proyek di Kantor Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (ULPBJ) Kabupaten Bogor.

Menurut salah seorang kontraktor yang enggan namanya disebut, dia dan Tim konsultan hukumnya, kini, sedang mepersiapkan bukti – bukti dugaan praktik jual beli proyek di Kantor ULPBJ Kabupaten Bogor. Dia mengaku memiliki sejumlah bukti, namun dirinya enggan merinci bukti – bukti yang mereka punya.

“Yang jelas kami sudah mengantongi banyak bukti bahwa lelang di Kantor ULP adalah lelang palsu. Karena semua sudah diatur orang dekatnya penguasa. Saya dan tim hukum sudah menyiapkan sejumlah bukti – bukti permulaan. Sekarang kami tinggal membawa kasus ini ke Kantor KPK,” ungkapnya.

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Budi Prasetyo, meminta, masyarakat Kabupaten Bogor, untuk segera melaporkan dugaan korupsi jual beli proyek di Kantor ULPBJ Kabupaten Bogor. Menurut Budi, pihak KPK akan segera menindak lanjuti jika sudah ada bukti permulaannya.

“Silakan, jika masyarakat mengetahui adanya dugaan tindak pidana korupsi, dapat melaporkan aduannya kepada KPK, dengan melengkapi data awal yang valid, agar dapat ditindak lanjuti,” tegasnya, via pesan Whatsapp, kamis (4/9/2005) kemarin.

Seperti diketahui, sejumlah kontraktor dan Pejabat Pemkab Bogor, mengungkapkan, dugaan korupsi jual beli proyek ini dilakukan oleh salah seorang bernama Silo yang digadang gadang merupakan salah seorang rekannya Bupati Bogor, Rudi Susmanto. Sehingga banyak kalangan menduga ada kerjasama antara Silo dan Bupati Rudi Susmanto.

“Semua kontraktor dan Pejabat Pemda Kabupaten Bogor sudah faham siapa Silo ini. Dia inilah yang mengintervensi seluruh kantor dinas dan Pejabat Kantor ULPBJ. Kami menduga ada dukungan Bupati Bogor juga, sehingga pejabat seluruh kantor dinas di Kabupaten Bogor terpaksa harus mengikuti perintah Silo. Akibatnya semua kontraktor yang tidak melalui orang dekatnya bupati ini (Silo), pasti dikalahkan saat ikut lelang,” ungkapnya.

Hingga berita ini ditayang, baik Silo atau Bupati Bogor Rudi Susmanto, seolah kompak untuk bungkam. Keduanya enggan memberikan keterangan kepada wartawan meski berkali – kali dihubungi via pesan Whatsapp (Roni)

MoneyTalk,Bogor – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Anti Korupsi (KIAK) berdemo di depan Kantor Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (ULPBJ), Kabupaten Bogor, kamis (28/08/2025) kemarin.

Para pendemo membawa spanduk dan berorasi di depan Kantor ULPBJ yang beralamat di Jalan Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong sejak pukul 13.00 Wib, kamis kemarin. Dalam orasinya pendemo juga sempat membakar ban dilokasi demo. Akibatnya situasi menjadi panas lantaran terjadi saling dorong antara pendemo dan aparat keamanan. Mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Bogor itu menuntut agar Bupati Bogor, Rudi Susmanto segera memecat pejabat ULPBJ lantaran diduga banyak melakukan kecurangan dan tidak transfaran saat menentukan pemenang lelang.

Selain itu, pendemo juga meminta agar aparat penegak hukum baik Polri, Kejaksaan bahkan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) segera memeriksa sejumlah Pejabat ULPBJ Kabupaten Bogor, karena diduga kuat melakukan korupsi jual beli proyek.

“Disini diduga banyak kecurangan dan korupsi jual beli peroyek. Kami menemukan adanya praktek kolusi dan nepotisme dalam dugaan pengadaan barang dan jasa yang diselenggarakan ULP Barang dan Jasa Kabupaten Bogor ini. Untuk itu kami meminta APH segera mengusut dugaan korupsi pejabat di kantor ini,” ujar Koordinator Aksi KIAK Fatulloh Fawait.

Menurut Fatulloh, pihaknya mencium adanya aroma dugaan monopoli dan persekongkolan korupsi untuk memenangkan sejumlah proyek di Kabupaten Bogor. “Kami juga menduga ada modus baru di ULPBJ ini. Mereka jika tidak bisa memenangkan perusahaan penyuap, lantas mereka melakukan ditender ulang akan berujung pada penunjukan langsung kepada kontraktor yang sejak awal sudah mereka rancang menjadi pemenangnya” tegasnya.

Seperti diketahui lelang peroyek di ULPBJ Kabupaten Bogor ini diduga sarat dengan korupsi. Akibatnya, sering terjadi gesekan antaran sesama kontraktor. Seperti terjadi pada 5 agustus lalu, hampir terjadi keributan besar antara sejumlah kontraktor didepan Kantor ULPBJ Kabupaten Bogor. Seperti terlihat beredar di Medsos terlihat sempat terjadi bakudorong dan kejar mengejar antar kontraktor. Beruntung kejadian tersebut bisa diamankan sejumlah petugas keamanan kantor tersebut.

Kuatnya dugaan korupsi jual beli peroyek di ULPBJ Kabupaten sudah menjadi rahasia umum. Hal ini diungkap sejumlah kontraktor setempat. Menurut salah seoarang pengusaha kontraktor yang enggan namanya disebut, dirinya kerapkali ditawari sejumlah peroyek dengan membayar 12%, dengan asumsi 10% untuk salah seorang swasta yang mengaku menjadi pemilik peroyek dan 2% untuk Pejabat ULPBJ. “Karena saya tidak mau mengikuti cara suap menyuap akibatnya saya kalah terus, meski penawaran kita paling rendah,” ungkapnya.

Senada dengan itu seorang kontraktor berinisial JP mengungkapkan, dirinya sudah mengetahui salah seorang yang mengendalikan ULP Kabupaten Bogor. Bahkan, menurutnya, hampir semua kontraktor setempat, juga sudah mengetahui siapa oknum kontraktor yang menjadi biang jual beli proyek di ULPBJ Kabupaten Bogor.

Setelah didesak JP mengungkapkan nama oknum kontraktor yang diduga mengatur Pejabat ULPBJ Kabupaten Bogor itu dengan inisial SLO. “Nah, SLO inilah yang mengatur semua peroyek. Dia ini diduga orang dekatnya Bupati. Semua kontraktor sini sudah faham,” ungkapnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditayang Bupati Bogor, Rudi Susmanto, enggan memberikan keterangannya. Meski sudah dihubungi via pesan Whatsapp. (Roni)