22 Oktober 2026

Sandra Caya Binthahir

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Mutiara Sinar Indonesia yang juga Aktivis 98 Sandra Caya Binthahir, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Gubernur Elisa Kambu dalam membongkar dugaan praktik korupsi yang melibatkan sejumlah oknum pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. Dukungan tersebut disampaikan menyusul mencuatnya dugaan penyaluran dana hibah kepada Yayasan Golden Gate yang kini menjadi sorotan publik.

Menurut Sandra, langkah tegas gubernur dalam mendorong pengusutan dugaan penyalahgunaan anggaran daerah merupakan bentuk keberanian politik yang patut diapresiasi. Ia menilai, komitmen pemberantasan korupsi di wilayah Papua Barat Daya menjadi sangat penting demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan daerah yang masih relatif baru.

“Papua Barat Daya membutuhkan pemerintahan yang bersih dan transparan. Kami mendukung penuh sikap Bapak Gubernur Elisa Kambu untuk mengusut tuntas dugaan korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat. Tidak boleh ada kompromi terhadap penyalahgunaan uang rakyat,” ujar Sandra Caya Binthahir dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).

Sandra menegaskan, kasus dugaan hibah kepada Yayasan Golden Gate harus dibuka secara terang benderang kepada publik. Menurutnya, masyarakat Papua Barat Daya berhak mengetahui bagaimana proses penyaluran dana hibah dilakukan, siapa pihak yang bertanggung jawab, hingga apakah terdapat pelanggaran prosedur dan potensi kerugian negara.

Ia juga meminta aparat penegak hukum, baik kejaksaan maupun kepolisian, bekerja secara profesional dan independen tanpa tekanan politik. Sandra menilai pengusutan kasus korupsi tidak boleh berhenti pada level pelaksana teknis, melainkan harus menyentuh aktor utama apabila ditemukan adanya keterlibatan pejabat yang memiliki kewenangan dalam proses pencairan dana hibah tersebut.

“Jangan sampai ada kesan hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Jika memang ada empat oknum pejabat yang diduga terlibat, maka semuanya harus diperiksa secara transparan sesuai hukum yang berlaku,” katanya.

Lebih lanjut, Sandra menyebut praktik penyalahgunaan dana hibah merupakan persoalan serius karena anggaran tersebut seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat, pembangunan sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan warga. Apabila dana hibah justru disalahgunakan untuk kepentingan tertentu, maka dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat luas.

Ia mengingatkan bahwa Papua Barat Daya saat ini tengah menghadapi tantangan besar dalam pembangunan daerah, termasuk peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, setiap rupiah anggaran daerah harus dipastikan digunakan secara tepat sasaran.

Dukungan terhadap langkah pemberantasan korupsi, lanjut Sandra, juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat sipil dalam mengawal tata kelola pemerintahan yang baik. Mutiara Sinar Indonesia, kata dia, siap menjadi mitra kritis pemerintah dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas anggaran.

Sementara itu, sorotan terhadap dugaan penyalahgunaan dana hibah di Papua memang sebelumnya pernah menjadi perhatian aparat penegak hukum. Kejaksaan Negeri Sorong, misalnya, pernah menangani kasus dugaan korupsi dana hibah di wilayah Papua Barat yang menyebabkan kerugian negara ratusan juta rupiah.

Sandra berharap pengusutan dugaan hibah Yayasan Golden Gate dapat menjadi momentum bersih-bersih birokrasi di Papua Barat Daya. Ia menilai pemerintahan yang bersih akan memperkuat kepercayaan investor, mempercepat pembangunan, serta menciptakan stabilitas politik dan sosial di daerah tersebut.

“Ini momentum untuk memperlihatkan bahwa Papua Barat Daya mampu menjadi provinsi yang bersih dan berintegritas. Jangan biarkan praktik korupsi merusak harapan masyarakat terhadap masa depan daerah,” pungkasnya

MoneyTalk, Jakarta – Tanah Papua adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Hutan-hutannya menjadi paru-paru dunia, gunung-gunungnya menyimpan emas dan tembaga terbesar, lautnya kaya ikan, dan tanahnya subur. Papua seperti ibu yang terus memberi tanpa pernah meminta balasan yang berlebihan. Tetapi pertanyaannya: apakah negeri ini sudah benar-benar membalas kebaikan Papua dengan keadilan?

Papua selama puluhan tahun telah memberikan “air susu” bagi Indonesia. Dari bumi Cenderawasih mengalir kekayaan yang menopang perekonomian nasional. Tambang emas dan tembaga di Mimika menjadi salah satu penghasil devisa terbesar negara. Kayu, gas alam, perikanan, hingga potensi energi masa depan tersimpan di wilayah paling timur Indonesia itu. Namun ironisnya, di tengah limpahan kekayaan tersebut, masih banyak rakyat Papua hidup dalam keterbatasan.

Di banyak kampung pedalaman, masyarakat masih berjalan kaki berjam-jam untuk mendapatkan layanan kesehatan. Anak-anak sekolah menyeberangi sungai tanpa jembatan memadai. Harga sembako melambung berkali-kali lipat dibandingkan daerah lain di Indonesia. Banyak ibu melahirkan tanpa fasilitas kesehatan layak. Listrik belum menyala penuh di berbagai wilayah. Bahkan persoalan stunting dan kemiskinan masih menjadi wajah sehari-hari di tanah yang justru kaya raya.

Inilah ironi besar Indonesia modern: tanah paling kaya justru dihuni rakyat yang belum menikmati kekayaan itu secara adil.

Papua seperti memberikan air susu kepada republik ini, tetapi yang diterima kembali justru terasa seperti air tuba—kepahitan, ketimpangan, dan rasa terasing di tanah sendiri.

Masalah Papua sesungguhnya bukan semata persoalan keamanan seperti yang sering disederhanakan. Akar persoalan Papua jauh lebih dalam: ketidakadilan ekonomi, ketimpangan pembangunan, diskriminasi, dan luka sejarah yang belum benar-benar disembuhkan. Ketika rakyat merasa tidak dilibatkan dalam pengelolaan kekayaan alamnya, maka rasa memiliki terhadap negara perlahan terkikis.

Kita harus jujur mengatakan bahwa pembangunan di Papua selama ini sering lebih sibuk mengejar angka statistik dibanding menyentuh martabat manusia Papua itu sendiri. Jalan dibangun, tetapi masyarakat adat merasa tersingkir dari tanah ulayatnya. Investasi masuk, tetapi warga lokal hanya menjadi penonton. Kekayaan alam dikeruk, tetapi kualitas hidup rakyat tidak melonjak signifikan.

Padahal, masyarakat Papua tidak meminta kemewahan berlebihan. Mereka hanya ingin diperlakukan adil sebagai sesama anak bangsa.

Di sebuah kampung di pegunungan Papua, seorang mama tua pernah berkata dengan mata berkaca-kaca, “Tanah kami kaya, tapi anak-anak kami masih lapar.” Kalimat sederhana itu sesungguhnya lebih tajam daripada ribuan pidato politik. Ada luka batin yang panjang di balik ucapan tersebut. Luka karena merasa kekayaan alam diambil jauh keluar Papua, sementara rakyat di sekitar tambang justru tetap hidup sederhana.

Banyak anak Papua tumbuh dengan mimpi besar tetapi fasilitas terbatas. Mereka memiliki semangat belajar tinggi, tetapi akses pendidikan berkualitas masih timpang. Ada yang harus berjalan berkilo-kilometer menuju sekolah. Ada yang belajar dalam bangunan reyot. Ada pula yang kehilangan kesempatan kuliah karena faktor ekonomi.

Sementara itu, elit-elit di Jakarta sibuk berbicara tentang pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan hanya akan melahirkan kemarahan sosial. Negara tidak boleh sekadar hadir sebagai pengambil hasil bumi, tetapi harus hadir sebagai pelindung martabat rakyat Papua.

Papua tidak membutuhkan belas kasihan. Papua membutuhkan keadilan.

Keadilan itu berarti memberi ruang sebesar-besarnya kepada orang asli Papua untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Keadilan berarti memastikan dana otsus benar-benar menyentuh rakyat, bukan habis di meja birokrasi. Keadilan berarti pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama, bukan sekadar proyek politik lima tahunan. Keadilan juga berarti menghormati budaya dan identitas masyarakat adat Papua.

Selama ini, terlalu banyak pendekatan yang bersifat keamanan dibanding pendekatan kemanusiaan. Padahal, hati manusia tidak bisa ditaklukkan hanya dengan senjata atau kekuasaan. Hati manusia disentuh dengan keadilan, penghormatan, dan kesejahteraan.

Bangsa ini harus belajar mendengar suara rakyat Papua, bukan hanya mendengar laporan pejabat tentang Papua.

Karena sesungguhnya Papua tidak pernah berhenti mencintai Indonesia. Banyak anak muda Papua tetap mengibarkan Merah Putih dengan bangga. Banyak tokoh adat dan agama terus menyerukan perdamaian. Banyak rakyat kecil tetap berharap negara hadir membawa keadilan. Namun harapan itu tidak boleh terus-menerus dikhianati.

Indonesia harus berhenti melihat Papua semata sebagai ladang tambang. Papua adalah manusia. Papua adalah budaya. Papua adalah masa depan bangsa.

Jika negara hanya mengambil kekayaan alam tanpa membangun manusianya, maka sejarah akan mencatat bahwa republik ini gagal membalas pengorbanan Papua.

Sudah waktunya paradigma pembangunan Papua diubah total. Yang dibangun bukan hanya jalan dan gedung, tetapi rasa percaya. Yang diperkuat bukan hanya investasi, tetapi kualitas manusia Papua. Yang dijaga bukan hanya stabilitas keamanan, tetapi juga keadilan sosial.

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang kaya sumber daya alamnya, melainkan bangsa yang mampu berlaku adil kepada seluruh rakyatnya, termasuk rakyat di ujung timur Indonesia.

Papua telah terlalu lama memberi. Kini saatnya Indonesia benar-benar membalas dengan keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat rakyat Papua.

Penulis : Sandra Caya Binthahir, Aktivis 98 asal Papua

MoneyTalk, Jakarta – Film dokumenter “Pesta Babi” bukan hanya tontonan. Film ini cermin luka panjang Papua yang selama bertahun-tahun disimpan dalam sunyi. Film ini menggugah emosi, membuka ingatan kolektif, sekaligus menghadirkan pertanyaan besar tentang arah pembangunan di tanah paling timur Indonesia: mengapa Papua yang begitu kaya justru menyimpan begitu banyak kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan?

Di banyak ruang diskusi, Papua sering dibicarakan melalui angka investasi, proyek strategis nasional, pertumbuhan ekonomi, atau potensi sumber daya alam. Namun film ini membawa publik masuk ke ruang yang lebih manusiawi. Kamera tidak hanya merekam hutan yang hilang, tanah adat yang berubah fungsi, atau alat berat yang masuk ke kampung-kampung. Kamera merekam wajah-wajah orang Papua yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Ada kesedihan yang terasa nyata ketika masyarakat adat berbicara tentang tanah leluhur yang dulu menjadi tempat berburu, berkebun, dan menjaga tradisi, kini berubah menjadi hamparan sawit. Ada nada putus asa ketika warga menceritakan bagaimana perusahaan datang dengan janji kesejahteraan, tetapi yang tertinggal justru konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan ekonomi.

Film “Pesta Babi” seolah ingin mengatakan bahwa pembangunan tanpa keadilan hanya akan melahirkan kemarahan yang dipendam lama.

Papua selama ini dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan alam luar biasa. Emas, tembaga, kayu, gas alam, hingga jutaan hektare hutan tropis berada di tanah itu. Ironisnya, masyarakat asli Papua masih menghadapi persoalan mendasar seperti akses pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lapangan pekerjaan.

Kontradiksi inilah yang membuat banyak orang Papua merasa asing di negerinya sendiri.

Di sejumlah wilayah, masyarakat adat menyaksikan tanah ulayat mereka dilepas untuk investasi besar. Perusahaan sawit masuk dengan dukungan izin yang kuat. Hutan dibuka atas nama pertumbuhan ekonomi. Namun setelah puluhan tahun, perubahan yang dijanjikan tidak benar-benar dirasakan masyarakat lokal.

Banyak warga hanya menjadi buruh kasar di tanahnya sendiri. Sebagian kehilangan sumber pangan tradisional. Sungai tercemar. Satwa menghilang. Ruang hidup menyempit. Ketika tanah adat hilang, yang hilang bukan hanya ekonomi masyarakat, tetapi juga identitas budaya dan spiritual mereka.

Bagi orang Papua, tanah bukan benda mati. Tanah adalah ibu. Tanah adalah sejarah. Tanah adalah kehidupan.

Karena itu, konflik agraria di Papua selalu memiliki dimensi emosional yang jauh lebih dalam dibanding persoalan bisnis biasa.

Film “Pesta Babi” memperlihatkan kenyataan tersebut dengan pendekatan yang menyentuh. Ada nuansa feature yang terasa kuat ketika warga bercerita tentang perubahan kampung mereka. Anak-anak bermain di tengah jalan tanah berlumpur dekat area proyek. Para mama Papua duduk sambil menatap hutan yang mulai gundul. Orang-orang tua mengenang masa ketika sungai masih jernih dan binatang buruan masih mudah ditemukan.

Visual-visual itu menghadirkan pesan yang kuat: pembangunan yang memutus hubungan manusia dengan alam pada akhirnya akan menciptakan kehancuran sosial.

Kehadiran proyek food estate di Papua juga menimbulkan kekhawatiran besar. Program yang digadang-gadang sebagai solusi ketahanan pangan nasional justru dinilai banyak pihak berpotensi mengancam ekosistem hutan Papua yang selama ini menjadi salah satu paru-paru dunia.

Papua bukan tanah kosong yang menunggu dibuka. Papua adalah rumah bagi masyarakat adat dengan pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun. Ketika hutan dibabat secara masif untuk kepentingan proyek besar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya pohon-pohon, tetapi masa depan generasi Papua sendiri.

Indonesia perlu belajar dari banyak kegagalan proyek besar di masa lalu. Tidak semua pendekatan pembangunan dari Jawa bisa dipindahkan begitu saja ke Papua. Karakter sosial, budaya, geografis, dan ekologis Papua sangat berbeda. Pendekatan yang terlalu sentralistik justru berisiko memperbesar ketimpangan dan konflik.

Yang dibutuhkan Papua bukan hanya investasi besar, tetapi pembangunan yang menghormati manusia Papua sebagai subjek utama.

Selama ini, masyarakat Papua terlalu sering menjadi penonton. Keputusan tentang tanah Papua banyak dibuat di luar Papua. Model pembangunan ditentukan tanpa mendengar suara masyarakat adat secara sungguh-sungguh. Akibatnya, muncul rasa keterasingan yang semakin dalam.

Film “Pesta Babi” membuka ruang refleksi nasional bahwa keadilan sosial belum sepenuhnya hadir di Papua.

Harapan masyarakat Papua sebenarnya sederhana. Mereka ingin dihargai sebagai manusia. Mereka ingin tanah adat dihormati. Mereka ingin anak-anak Papua mendapat pendidikan yang layak. Mereka ingin rumah sakit yang memadai. Mereka ingin pembangunan yang tidak menghancurkan hutan dan budaya mereka.

Mereka ingin hidup bermartabat di tanah sendiri.

Karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi secara serius arah pembangunan Papua. Pendekatan keamanan semata tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan. Papua membutuhkan dialog yang jujur, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, serta distribusi hasil kekayaan alam yang lebih adil.

Negara juga harus memastikan bahwa perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Papua benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal, bukan hanya keuntungan bagi elite ekonomi dan politik. Transparansi izin lahan, perlindungan hutan adat, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan harus menjadi prioritas.

Papua tidak membutuhkan belas kasihan. Papua membutuhkan keadilan.

Film “Pesta Babi” pada akhirnya bukan hanya cerita tentang penderitaan. Film ini adalah alarm moral bagi Indonesia. Bahwa di balik berbagai pidato tentang kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, masih ada masyarakat yang merasa ditinggalkan.

Dan selama ketidakadilan itu terus berlangsung, luka Papua tidak akan pernah benar-benar sembuh.

Indonesia harus memilih: apakah Papua akan terus dipandang sebagai ladang eksploitasi sumber daya alam, atau sebagai tanah manusia-manusia yang memiliki hak untuk hidup sejahtera, dihormati budaya dan martabatnya?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan Papua dan wajah kemanusiaan Indonesia di mata sejarah.

Penulis : Sandra Caya Binthahir, Aktivis 98 Asal Papua