6 November 2026

Sherly Annavita

MoneyTalk, Jakarta – Rentetan teror yang menimpa sejumlah influencer dan aktivis belakangan ini dinilai bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai kuat adanya “penumpang gelap” yang sengaja menunggangi situasi untuk membangun opini negatif terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Amir, pola teror yang muncul secara beruntun terhadap tokoh-tokoh dengan latar belakang berbeda mengindikasikan adanya rekayasa persepsi publik yang diarahkan pada satu kesimpulan: seolah-olah negara atau pemerintahan Prabowo berada di balik tindakan intimidatif tersebut.

“Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada pola dan momentum yang dimainkan. Teror terhadap influencer dan aktivis ini kemudian diarahkan untuk membentuk opini bahwa pemerintahan Prabowo anti-kritik dan represif. Padahal itu tidak sesuai dengan karakter Prabowo,” ujar Amir Hamzah, Rabu (31/12/2025).

Sejumlah kasus yang mencuat ke publik dalam beberapa hari terakhir antara lain:

1. Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, yang mengaku mendapat ancaman teror dari orang tak dikenal pada Selasa pagi, 30 Desember 2025.

2. Sherly Annavita, influencer dan pengamat kebijakan publik, yang diduga menerima teror setelah menyampaikan pandangannya terkait penanganan bencana di Sumatera.

3. Ramond Dony Adam atau DJ Donny, yang mengalami teror paling ekstrem berupa pelemparan bom molotov ke rumahnya pada Rabu, 31 Desember 2025.

Kasus-kasus tersebut dengan cepat menyebar luas di media sosial dan memicu narasi bahwa kritik terhadap pemerintah berujung pada ancaman keselamatan.

Amir Hamzah menegaskan, dari sudut pandang intelijen, peristiwa semacam ini sering digunakan sebagai alat operasi psikologis (psyops) untuk melemahkan legitimasi pemerintahan yang baru berjalan.

“Dalam dunia geopolitik dan intelijen, menciptakan ketakutan dan rasa tidak aman di ruang publik adalah cara klasik untuk mendelegitimasi kekuasaan. Teror tidak harus dilakukan negara, cukup dibiarkan seolah-olah negara yang bertanggung jawab,” jelasnya.

Menurut Amir, kelompok penumpang gelap ini memanfaatkan:

-Sensitivitas publik terhadap isu HAM dan kebebasan berpendapat

-Figur influencer yang memiliki basis massa besar

-Momentum awal pemerintahan Prabowo yang masih dalam tahap konsolidasi

“Begitu isu ini dilempar, publik langsung diarahkan pada satu kesimpulan: ‘rezim baru menakutkan’. Ini framing yang disengaja,” tegas Amir.

Amir Hamzah menepis anggapan bahwa Presiden Prabowo memiliki kecenderungan otoriter. Ia justru menilai Prabowo sebagai figur yang sangat menghormati demokrasi dan kebebasan berbicara.

“Prabowo itu seorang demokrat. Beliau dididik dalam tradisi Barat yang sangat menghormati kebebasan berekspresi. Dihina, dikritik, bahkan diserang secara personal pun tidak masalah bagi beliau,” katanya.

Amir menambahkan, sepanjang karier politiknya, Prabowo kerap menjadi sasaran kritik keras, stigma, bahkan fitnah, namun tidak pernah membalas dengan pembungkaman.

“Kalau mau jujur, Prabowo adalah salah satu tokoh yang paling sering dihantam isu, tapi justru tetap konsisten bicara soal demokrasi,” tambahnya.

Lebih jauh, Amir memperingatkan bahwa membiarkan opini sesat berkembang tanpa klarifikasi dan penegakan hukum yang tegas justru akan merugikan semua pihak.

“Kalau publik dibiarkan percaya bahwa negara meneror warganya, ini berbahaya. Bisa memicu distrust, chaos, dan bahkan delegitimasi institusi negara,” katanya.

Ia menekankan pentingnya aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus-kasus teror tersebut secara transparan dan profesional agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengacaukan stabilitas nasional.

Amir menutup analisanya dengan menegaskan bahwa penumpang gelap ini merupakan perusak demokrasi.

“Mereka bukan membela kebebasan berbicara, tapi justru merusaknya dengan menciptakan ketakutan. Demokrasi tidak dibangun lewat teror, tetapi lewat dialog dan hukum,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Di tengah belum pulihnya Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera dari bencana alam banjir, publik dikejutkan oleh kabar teror dan ancaman yang dialami influencer sekaligus pegiat kemanusiaan, Sherly Annavita. Teror tersebut muncul tak lama setelah Sherly menyuarakan kritik terbuka terkait penanganan bencana Aceh dan Sumatera di berbagai media nasional.

Kabar ini pertama kali mencuat setelah Sherly Annavita mengunggah status di akun Facebook pribadinya dengan pesan mencolok bertuliskan huruf kapital: “SAYA DITEROR!!! YUK BAGIKAN AGAR JADI KESADARAN BERSAMA.” Dalam unggahan tersebut, Sherly membeberkan rangkaian ancaman dan intimidasi yang ia terima secara beruntun dalam beberapa hari terakhir.

Bentuk teror yang dialami Sherly tidak hanya berupa ancaman melalui pesan singkat, DM Instagram, serta makian dari akun-akun anonim, tetapi juga menjurus ke aksi fisik. Mobil miliknya disemprot cat merah, ia dikirimi telur busuk, disertai pesan bernada ancaman yang mengganggu rasa aman.

Menurut pengakuan Sherly, teror tersebut mulai ia terima setelah pulang dari Aceh dan menyampaikan pengalamannya secara terbuka kepada publik, termasuk dalam program diskusi nasional “Rakyat Bersuara” di iNews TV edisi Selasa malam (23/12). Dalam program tersebut, Sherly hadir bersama Advokat dan Aktivis Ahmad Khozinudin, S.H.

Dalam forum itu, Sherly menyampaikan dua kritik utama terhadap penanganan bencana di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya.

Pertama, ia menyoroti hilangnya kepemimpinan dan komando dari pemerintah pusat dalam penanganan bencana. Kondisi tersebut, menurut Sherly, membuat relawan dan pemerintah daerah kesulitan melakukan koordinasi dan sinergi. Ia menegaskan bahwa keberadaan komando pusat sangat krusial untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya, baik pemerintah maupun relawan, agar penanggulangan bencana berjalan efektif dan terarah.

Kedua, Sherly mendorong pemerintah agar menetapkan bencana banjir Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional, sekaligus membuka ruang untuk menerima bantuan internasional. Dalam konteks ini, Sherly menggunakan analogi yang cukup tajam, mempertanyakan alasan penolakan bantuan asing tanpa bunga, sementara pemerintah selama ini tidak ragu menerima utang luar negeri yang justru berbunga.

Sementara itu, Ahmad Khozinudin dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (30/12/2025) mengkritik pemerintah dari perspektif kepemimpinan moral dan konstitusional. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai ra’in (pelayan rakyat) dan junnah (perisai atau pelindung rakyat). Pandangan tersebut ia sandarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW tentang tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya.

Khozinudin juga menyoroti akar struktural bencana banjir, khususnya deforestasi akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Ia mengungkap hasil audit sekitar 9 juta hektare lahan sawit yang dilakukan pada era Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, di mana ditemukan sekitar 3,3 juta hektare sawit ilegal yang berada di kawasan hutan. Namun, alih-alih diproses secara hukum, lahan-lahan tersebut justru dinilai “diputihkan”.

Ia pun mengkritik gaya sebagian pejabat yang dinilai masih mencari panggung pencitraan di tengah bencana, mulai dari aksi simbolik hingga klaim kondisi yang tidak sesuai fakta di lapangan.

Menariknya, sehari setelah program tersebut, Presiden Prabowo Subianto memimpin konferensi pers penyitaan triliunan rupiah dari perusahaan sawit bermasalah. Namun, menurut Khozinudin, langkah tersebut masih menyisakan pertanyaan publik, terutama terkait siapa pihak yang bertanggung jawab secara pidana.

Khozinudin menilai, jika dibandingkan, kritik yang ia sampaikan justru jauh lebih keras daripada yang diutarakan Sherly Annavita. Namun, sasaran teror justru dialamatkan kepada Sherly. Ia menyebut hal tersebut sebagai tindakan pengecut, karena pelaku teror cenderung menyasar perempuan yang dianggap lebih lemah.

Padahal, menurutnya, Sherly adalah sosok perempuan Aceh yang tangguh dan berani. Ia menegaskan bahwa teror dan intimidasi tidak akan melemahkan perjuangan kemanusiaan Sherly Annavita.

“Keliru besar jika berharap teror akan menghentikan suara kemanusiaan,” tegas Khozinudin.

Ia pun mengajak masyarakat untuk terus memberikan dukungan moral dan solidaritas kepada Sherly Annavita serta para pejuang kemanusiaan lainnya. Menurutnya, perjuangan melawan perusakan lingkungan, oligarki perusak hutan, dan ancaman terhadap ruang hidup rakyat tidak boleh berhenti hanya karena intimidasi.

“Jangan pernah lelah menjaga negeri ini,” pungkasnya.