30 Oktober 2026

Suahasil Nazara

MoneyTalk.id, Jakarta – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Keamanan dan Pertahanan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengingatkan bahwa dunia usaha tengah menghadapi tantangan yang perlu dijawab secara cepat, terpadu, dan penuh keyakinan. Pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan terhadap daya beli, serta koreksi di pasar modal tidak boleh dipandang sebagai persoalan sektoral, melainkan sebagai ujian terhadap kepercayaan pelaku ekonomi pada arah kebijakan nasional.

“Situasi ini harus kita hadapi dengan kepala dingin. Pemerintah, Bank Indonesia, OJK, BEI, perbankan, BUMN, dan dunia usaha harus bergerak dalam satu tujuan yang sama, yakni menjaga stabilitas rupiah, memperkuat daya beli rakyat, serta memastikan pasar modal tetap kredibel, transparan, dan menarik bagi investor,” ujar Bamsoet saat menghadiri penutupan Rapimnas KADIN Indonesia, Jumat (30/10/26).

Hadir antara lain Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri Perindustrian Sarmuji, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie serta para pengurus KADIN Indonesia. Satu hari sebelumnya juga hadir dari Mabes Polri, Gubernur BI, Ketua OJK, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani dan pengusaha nasional Hashim Djojohadikusumo.

Ketua DPR RI ke-15 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, tekanan eksternal memang masih tinggi. Rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS, sementara pasar saham mengalami volatilitas akibat kombinasi sentimen global, ketegangan geopolitik, arus modal, dan kekhawatiran investor terhadap tata kelola pasar. Namun, fondasi ekonomi nasional tetap memiliki daya tahan. Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 masih sebesar USD146,3 miliar atau setara 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Inflasi September 2026 juga terkendali sebesar 3,28 persen secara tahunan dan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia.

“Jangan biarkan tekanan pasar berubah menjadi kepanikan ekonomi. Indikator kepercayaan konsumen masih berada pada zona optimistis di angka 118,1. Kredit perbankan tumbuh 13,26 persen secara tahunan, sementara rasio kecukupan modal perbankan berada di level kuat, yakni 24,10 persen. Artinya, kegiatan ekonomi kita masih berjalan. Yang dibutuhkan adalah respons yang tepat dan konsisten,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu segera diperkuat. Pertama, Bank Indonesia perlu melanjutkan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi yang terukur, pendalaman pasar valas domestik, optimalisasi instrumen lindung nilai, serta perluasan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dengan negara mitra. Kebijakan ini harus dikombinasikan dengan upaya menarik devisa hasil ekspor agar tetap berada dalam sistem keuangan nasional.

Kedua, pemerintah perlu menjaga daya beli melalui pengendalian harga pangan, kelancaran distribusi, perlindungan kelompok rentan, dan percepatan belanja negara yang produktif. Daya beli tidak cukup dijaga dengan bantuan jangka pendek, tetapi harus diperkuat melalui penciptaan lapangan kerja, kepastian usaha, dan peningkatan produktivitas sektor riil.

“Langkah berikutnya, penguatan pasar modal harus menjadi agenda bersama. Transparansi kepemilikan saham, penegakan hukum terhadap manipulasi pasar, peningkatan kualitas emiten, serta perlindungan investor ritel harus dilakukan tanpa kompromi. Pasar modal yang sehat bukan hanya tempat mencari dana, melainkan cermin kepercayaan terhadap masa depan perekonomian nasional,” papar Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, langkah keempat, dunia usaha perlu diberi kepastian regulasi, kemudahan investasi, akses pembiayaan, dan insentif untuk meningkatkan ekspor serta substitusi impor. Pelaku UMKM dan industri padat karya juga harus menjadi prioritas karena keduanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan langsung menopang konsumsi masyarakat.

“Dunia usaha membutuhkan kebijakan yang konsisten, penegakan hukum yang jelas, dan komunikasi otoritas fiskal dan moneter yang terbuka. Kalau kepastian itu terjaga, pelaku usaha akan lebih berani berinvestasi dan memperluas kegiatan usahanya. Indonesia punya pasar domestik yang besar, sumber daya melimpah, dan tenaga kerja produktif. Semua kekuatan tersebut harus kita manfaatkan agar optimisme ekonomi benar-benar terasa dalam kegiatan usaha dan kehidupan masyarakat,” pungkas Bamsoet.

MoneyTalk.id,Jakarta -Wacana penyaluran gaji jutaan aparatur sipil negara (ASN) melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memunculkan perbedaan pernyataan di internal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyebut skema tersebut telah diajukan kepada Kementerian Keuangan, tetapi Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan gaji ASN tetap dibayarkan melalui mekanisme transfer seperti yang berlaku saat ini.

Perbedaan pernyataan tersebut memancing kritik dari Guntur Romli. Ia menyindir komunikasi antar kementerian yang dinilainya menimbulkan pertanyaan mengenai koordinasi pemerintahan.

“Ini kabinet atau arisan dukun?” demikian sindiran Guntur Romli sebagaimana dikutip dari pernyataannya yang beredar

Ia juga mempertanyakan apakah gagasan penyaluran gaji PNS melalui koperasi desa tersebut berkaitan dengan cerita tentang wangsit yang sebelumnya disampaikan Ferry mengenai gagasan pendirian Koperasi Desa Merah Putih.

Polemik ini menjadi perhatian karena menyangkut hak jutaan pegawai negara. Kebijakan mengenai penggajian ASN tidak cukup hanya diumumkan sebagai gagasan, tetapi memerlukan kejelasan mekanisme, landasan hukum, kesiapan sistem pembayaran, serta koordinasi antara kementerian terkait.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa mekanisme pembayaran gaji ASN tidak berubah. Pemerintah tetap menyalurkan gaji melalui sistem perbankan yang selama ini digunakan.

“Akan tetap seperti sekarang, saya tetap mentransfer seperti sekarang,” kata Suahasil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Penegasan itu disampaikan ketika muncul wacana bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan dilibatkan dalam pembayaran gaji pegawai negeri sipil.

Sikap Kementerian Keuangan tersebut memperlihatkan bahwa usulan dari Kementerian Koperasi belum otomatis menjadi kebijakan pemerintah. Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada keputusan resmi yang mengubah mekanisme pembayaran gaji ASN.

Suahasil juga menegaskan bahwa gaji dibayarkan langsung dari kas negara. Dengan demikian, wacana pelibatan koperasi perlu dibedakan dari keputusan resmi mengenai sistem penggajian pegawai pemerintah.

Sebelumnya, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan bahwa usulan penyaluran gaji ASN melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah disampaikan kepada Kementerian Keuangan.

Pernyataan itu disampaikan Ferry setelah menghadiri rapat koordinasi terbatas mengenai KDKMP di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Ia menyebut anggaran dan mekanisme pembayaran tengah dipersiapkan.

Pernyataan Ferry tersebut menimbulkan kesan bahwa rencana penyaluran gaji melalui koperasi sudah memasuki tahap persiapan pelaksanaan. Namun, Kementerian Keuangan kemudian menegaskan bahwa pembayaran gaji tetap menggunakan mekanisme yang berjalan saat ini.

Pada Rabu (21/10/2026), Ferry menyatakan telah berbicara dengan Suahasil di sela-sela Sidang Kabinet Paripurna. Keduanya akan membahas usulan tersebut dalam rapat bersama.

Ferry juga menjelaskan bahwa koperasi bukan satu-satunya instrumen yang dapat digunakan untuk pembayaran gaji pegawai dan pensiunan. Menurut dia, pelibatan koperasi masih berupa tawaran yang perlu didiskusikan lebih lanjut.

Artinya, hingga tahap tersebut, belum ada kepastian mengenai perubahan sistem penggajian ASN, jadwal penerapan, ataupun mekanisme teknis penyalurannya.

Sorotan Guntur Romli juga bersinggungan dengan pernyataan Ferry pada Juli 2026 mengenai awal gagasan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Dalam pemberitaan Tirto.id pada 16 Juli 2026, Ferry mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto pernah menyampaikan memperoleh “wangsit” untuk mendirikan koperasi desa di seluruh Indonesia. Cerita itu, menurut Ferry, merujuk pada rapat kabinet terbatas pada Maret 2025.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan sindiran ketika muncul gagasan baru untuk melibatkan koperasi dalam penyaluran gaji ASN.

Guntur mempertanyakan apakah rencana pembayaran gaji jutaan PNS melalui koperasi juga berangkat dari gagasan yang belum dibicarakan secara matang antarkementerian.

Sindiran itu merupakan kritik politik terhadap komunikasi dan koordinasi pemerintah, bukan bukti bahwa usulan tersebut benar-benar berasal dari wangsit. Secara administratif, rencana penyaluran gaji ASN tetap harus dinilai berdasarkan dokumen kebijakan, aturan yang berlaku, dan kesiapan pelaksanaannya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan masih menyisakan tanda tanya. Salah satu isu yang mengemuka adalah ketegangan terkait rencana perombakan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan, terutama Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Syahganda Nainggolan mengungkapkan cerita mengenai komunikasi Purbaya dengan Presiden Prabowo Subianto terkait posisi Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama.

Syahganda mengatakan, cerita tersebut disampaikan Purbaya kepadanya ketika mereka makan bersama di kawasan Senayan.

Menurut Syahganda, saat itu Purbaya mengaku pernah menanyakan langsung kepada Presiden Prabowo mengenai posisi Djaka Budhi Utama.

“Gua tanya Presiden kan soal orang ini. Dirjen Bea Cukai Pak Djaka Budi Utama ini, Pak Djaka ini gimana? Oh, jangan dulu. Kata Presiden, kita kasih dia kesempatan dulu,” ujar Syahganda, mengutip pembicaraannya dengan Purbaya di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (18/9/2026).

Pernyataan tersebut menjadi menarik karena Purbaya sebelumnya memang diketahui melakukan sejumlah penataan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan sebelum akhirnya digantikan Suahasil Nazara pada 14 September 2026.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sendiri mengonfirmasi bahwa terdapat penataan personel yang dilakukan pada masa Purbaya. Djaka Budhi Utama mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dan tindak lanjut dari kantor pusat Kementerian Keuangan terkait personel yang dipindahkan.

Syahganda kemudian mengungkapkan bahwa keinginan melakukan perubahan di tubuh Kementerian Keuangan bukan sesuatu yang baru bagi Purbaya.

“Pak Purbaya itu dari dulu juga memang saya tahu pengin mengganti dua Dirjen itu, termasuk Sekjen yang lama kemudian Dirjen Anggaran,” kata Syahganda.

Namun, ia mempertanyakan siapa pihak yang mendorong Purbaya apabila benar terdapat rencana mengganti dua direktur jenderal tersebut.

“Kalau betul isunya Pak Purbaya minta Dirjen dua Dirjen diganti, siapa yang mendorong Purbaya ini?” ujarnya.

Syahganda menilai posisi Dirjen Bea dan Cukai memiliki karakter khusus karena penggantian pejabat pada level tersebut bukan sepenuhnya berada di tangan menteri.

“Pak Djaka ini yang bisa ngeganti dia cuma Presiden, bukan Purbaya,” katanya.

Ia juga menilai dinamika tersebut harus dilihat dari struktur kewenangan pemerintahan. Menurut dia, apabila pergantian pejabat berlangsung hingga level eselon II, terdapat mekanisme dan kewenangan tertentu yang perlu diperhatikan.

“Kalau misalkan Dirjen ngeluh, level eselon 2 ke bawah diganti oleh menterinya itu enggak normal,” ujar Syahganda.

Isu tersebut semakin mengemuka setelah Purbaya diberhentikan sebagai Menteri Keuangan dan digantikan Suahasil Nazara. Reuters melaporkan bahwa pergantian tersebut antara lain dikaitkan dengan perselisihan internal mengenai perombakan besar-besaran pejabat di Kementerian Keuangan. Namun, laporan itu bersumber dari sejumlah sumber pemerintah yang dikutip Reuters, sementara pemerintah tidak secara resmi menyatakan bahwa konflik dengan Dirjen menjadi alasan tunggal pergantian Purbaya.

Djaka Budhi Utama sendiri membantah keras adanya konflik dengan Purbaya. Ia menyebut kabar tersebut tidak benar ketika ditanya wartawan pada 15 September 2026.

“Kata siapa? Lu ngarang-ngarang aja,” kata Djaka. Ia juga menegaskan bahwa kabar mengenai konflik tersebut adalah bohong.

Purbaya pun sebelumnya menyatakan bahwa pergantian dirinya merupakan hak prerogatif Presiden. Ia juga membantah adanya gesekan dengan pejabat di bawahnya.

Dalam pandangan Syahganda, keputusan Prabowo untuk tidak langsung mengganti Djaka tidak otomatis menunjukkan bahwa Presiden memberikan penilaian negatif terhadap Purbaya.

“Prabowo bukan enggak sayang sama Pak Purbaya karena dia tadi target aku nih bagaimana,” kata Syahganda.

Ia mengatakan perubahan di tengah situasi pemerintahan dapat menimbulkan kegoncangan apabila tidak dikelola dengan hati-hati.

“Kalau ada kegoncangan, dengan enam variabel yang saya sebut tadi, bisa targetnya hilang,” ujarnya.

Syahganda juga menilai perjalanan karier Purbaya ke depan masih sulit dipastikan. Ia menanggapi spekulasi yang menyebut Purbaya berpotensi menjadi kandidat kuat untuk posisi strategis lain, termasuk Gubernur Bank Indonesia.

“Bisa aja dipanggil kembali. Tempat mana yang merasa cocok, Bank Indonesia jadi gubernur bank sentral kan Purbaya ini akan mencelat menjadi rising star baru?” kata Syahganda.

Namun, ia mengaku tidak yakin Purbaya akan otomatis menjadi “rising star” politik.

“Enggak yakin saya, enggak yakin,” tegasnya.

Menurut Syahganda, karakter Purbaya berbeda dengan figur politik yang membangun popularitas melalui pencitraan dan aktivitas politik elektoral.

“Pak Purbaya ini memang orangnya bekerja dalam institusi. Dia bukan tipe Dedi Mulyadi yang memang orang politik menggunakan pencitraan untuk merangkak terus supaya menjadi salah satu kandidat,” ujar Syahganda.

Di sisi lain, fakta bahwa Djaka masih menjabat sebagai Dirjen Bea dan Cukai menunjukkan bahwa isu pergantian tersebut belum menjadi keputusan publik. Profil resmi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat Djaka Budhi Utama tetap menjabat sebagai Dirjen Bea dan Cukai.

Dengan demikian, cerita mengenai rencana Purbaya mengganti sejumlah pejabat Kementerian Keuangan masih berada pada wilayah informasi dan analisis yang perlu dibedakan dari keputusan resmi pemerintah. Yang sudah terkonfirmasi adalah pergantian Purbaya sebagai Menteri Keuangan, sementara Djaka tetap menjalankan tugasnya sebagai Dirjen Bea dan Cukai di bawah Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dinilai belum tentu membawa perubahan mendasar dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ekonom Ferry Latuhihin mengatakan persoalan utama fiskal Indonesia bukan hanya siapa yang menduduki kursi Menteri Keuangan, melainkan tarik-menarik antara menjaga kredibilitas fiskal dan membiayai program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Fakta atau opini, pengganti Purbaya sama saja, tidak akan ada perubahan dalam mengelola APBN,” kata Ferry, Kamis (17/9/2026).

Ferry menilai Purbaya sebelumnya berada dalam posisi sulit karena harus menjaga keseimbangan antara kredibilitas fiskal dengan agenda prioritas pemerintah.

“Di satu pihak kredibilitas daripada fiskal kita. Di lain pihak itu prioritas program-program Pak Presiden,” ujarnya.

Menurut Ferry, salah satu program yang menjadi perhatian dari sisi kebutuhan anggaran adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut besarnya kebutuhan pendanaan program tersebut menjadi salah satu sumber tekanan yang harus dihadapi pengelola fiskal.

Ferry sebelumnya juga pernah mengkritik MBG dan menyebutnya sebagai program yang berpotensi menjadi beban berat bagi APBN. Pada Juni 2026, ia menyatakan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), dan Danantara menjadi tiga program yang menurutnya memberikan tekanan terhadap kesehatan fiskal.

“Di sinilah Purbaya mencoba mencari keseimbangan dan ternyata dia gagal,” kata Ferry.

Ia mengatakan persoalan tersebut tidak otomatis selesai hanya karena terjadi pergantian Menteri Keuangan. Menurutnya, selama ketegangan antara kebutuhan menjaga kredibilitas APBN dan pelaksanaan program prioritas pemerintah tetap tinggi, menteri baru akan menghadapi persoalan yang sama.

Suahasil sendiri setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan menyatakan mendapat arahan Presiden Prabowo untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Ia juga menegaskan APBN harus tetap sehat agar mampu membiayai program prioritas pemerintah.

Bahkan, Suahasil menyatakan pergantian dirinya dari Purbaya bukan berarti perubahan arah kebijakan keuangan negara. Ia mengatakan akan melanjutkan pekerjaan yang sudah berjalan di Kementerian Keuangan.

Pernyataan tersebut menjadi dasar bagi Ferry untuk mempertanyakan seberapa besar perubahan yang dapat dihasilkan dari pergantian menteri apabila kebijakan fiskal pemerintah tidak mengalami perubahan fundamental.

“Kalau seandainya diganti orang pun, apakah itu berhasil atau tidak berhasil, ya sama saja. Selama tegangan ini masih tetap tinggi,” ujar Ferry.

Ferry berharap setidaknya Suahasil dapat memperbaiki administrasi dan tata kelola fiskal. Namun, ia menilai ekspektasi terhadap perubahan kebijakan yang fundamental belum besar apabila arah program pemerintah tetap sama.

“Harapannya mungkin Suahasil bisa merapikan administrasinya dengan baik,” katanya.

Ferry juga menyoroti pergerakan pasar setelah pergantian Menteri Keuangan. Menurut dia, respons pasar menunjukkan bahwa investor tidak hanya menunggu siapa yang menjadi Menteri Keuangan, tetapi terutama mengamati apakah terjadi perubahan kebijakan fiskal.

“Market kemarin rebound dari minus 150 sampai minus single digit, itu merayakan kepergian Pak Purbaya,” ujar Ferry.

Ia kemudian mengaitkan pelemahan pasar setelah pengangkatan Suahasil dengan persepsi bahwa tidak terjadi perubahan kebijakan yang signifikan.

“Tadi market minus lagi itu merayakan kedatangan Pak Suahasil,” katanya sambil bergurau.

Secara resmi, Suahasil memang menyatakan kebijakan yang telah berjalan akan dilanjutkan. Ia juga belum memberikan keputusan mengenai kebijakan Purbaya yang akan dievaluasi atau ditinjau ulang.

Ferry menilai pernyataan tersebut membuat pasar kembali menunggu perubahan kebijakan yang lebih konkret.

“Yang ditunggu-tunggu oleh market adalah perubahan kebijakan,” ujarnya.

Ferry juga mengaku tidak yakin target menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) akan mudah dicapai apabila tekanan belanja pemerintah tetap tinggi.

“Saya enggak yakin budget kita bisa defisitnya di bawah 3 persen,” kata Ferry.

Target menjaga defisit di bawah 3 persen sendiri menjadi perhatian utama pemerintah. Suahasil mendapat mandat untuk menjaga kredibilitas APBN sekaligus memastikan anggaran tetap mampu membiayai program prioritas pemerintah.

Karena itu, menurut Ferry, persoalan yang dihadapi Suahasil bukan hanya persoalan teknis administrasi Kementerian Keuangan. Tantangan utamanya adalah bagaimana menjaga disiplin fiskal sekaligus memenuhi agenda belanja yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kalau tegangan tadi tidak diubah, menurut saya ini cuma sekadar…” ujar Ferry.

Ia kemudian menilai pergantian Purbaya lebih tepat dipahami sebagai upaya mencari figur baru untuk mengelola persoalan yang sama.

“Daripada gagal dengan orang ini, kita coba sama orang lain. Tapi jangan rubah strateginya,” kata Ferry.

Pergantian Purbaya menjadi Suahasil berlangsung pada 14 September 2026. Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan kemudian dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan baru.

Di tengah pergantian tersebut, perhatian pasar dan publik kini tertuju pada langkah konkret Suahasil dalam menjaga kredibilitas APBN, mengendalikan defisit, serta memastikan program prioritas pemerintah tetap berjalan tanpa menimbulkan tekanan fiskal yang semakin besar.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan disebut bukan semata-mata berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi, tetapi dipicu perseteruan internal di lingkungan Kementerian Keuangan.

Reuters dalam laporan 16 September 2026 menyebut, tiga sumber pemerintah mengatakan Purbaya dicopot Presiden Prabowo Subianto setelah terlibat konflik dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama. Perselisihan itu disebut berkaitan dengan perombakan ratusan pejabat di Kementerian Keuangan, terutama di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Menurut sumber Reuters, Djaka dan Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto keberatan dengan rotasi tersebut karena mereka tidak menyetujuinya. Djaka kemudian disebut menyampaikan keberatan itu langsung kepada Prabowo.

Dalam laporan Reuters, kedua pejabat tersebut berada di bawah Menteri Keuangan, tetapi disebut dipilih langsung oleh Prabowo. Djaka juga disebut pernah menjadi bagian dari tim pasukan khusus Prabowo ketika masih berdinas di militer.

Salah satu sumber Reuters bahkan menyebut Djaka memiliki akses langsung yang cukup kuat kepada Prabowo. Sumber yang sama mengatakan Purbaya membutuhkan persetujuan dari lingkaran dalam presiden untuk mendapatkan pertemuan dengan kepala negara.

Perselisihan tersebut disebut mencapai puncaknya pada acara pelantikan ratusan pejabat Kementerian Keuangan pada Kamis pekan lalu. Dalam acara itu, Purbaya menyampaikan bahwa rotasi dilakukan berdasarkan penilaian profesional sekaligus melalui konsultasi dengan pejabat terkait.

Namun, dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Djaka kemudian mempersoalkan keputusan itu dan menyampaikannya langsung kepada Prabowo pada Jumat, sebelum Presiden bertolak ke India untuk menghadiri KTT BRICS.

Prabowo kembali ke Jakarta pada Senin. Pada hari yang sama, Purbaya disebut mendapat pemberitahuan mengenai pencopotannya melalui sambungan telepon dari Menteri Sekretaris Negara ketika dirinya sedang mengikuti rapat dengan DPD membahas rancangan anggaran pemerintah 2027.

Purbaya kemudian menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada Suahasil Nazara dalam seremoni singkat. Setelah serah terima, Purbaya mengakui bahwa persoalan perombakan internal turut berperan dalam pencopotannya, meski tidak menjelaskan secara rinci.

“Saya mengikuti kebijakan Presiden,” kata Purbaya, sebagaimana diberitakan Reuters.

Reuters juga melaporkan, sumber pertama menyebut terdapat perbedaan antara Purbaya dan Bimo Wijayanto mengenai pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau tax refund.

Bimo disebut mendukung pengembalian dana secara tepat waktu. Sementara itu, Purbaya cenderung menunda pengembalian dengan alasan klaim perusahaan perlu diperiksa secara ketat guna mencegah kebocoran penerimaan negara.

Di sisi lain, Purbaya disebut menjelaskan kepada Prabowo bahwa rotasi pejabat diperlukan untuk meningkatkan penerimaan negara melalui kedua direktorat tersebut.

Namun, setelah ditunjuk menggantikan Purbaya, Suahasil Nazara mengatakan akan meninjau kembali seluruh penempatan pejabat.

Reuters juga melaporkan adanya pesan WhatsApp Suahasil kepada pejabat senior Kementerian Keuangan pada Jumat yang menyebut dirinya telah menyarankan Purbaya menunda acara pelantikan sampai keberatan dari pimpinan Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai diselesaikan.

Kantor Bea dan Cukai kemudian menyatakan masih menunggu arahan dari Menteri Keuangan yang baru terkait penempatan para pejabat tersebut.

Perselisihan dengan Djaka disebut bukan satu-satunya hubungan yang tegang antara Purbaya dengan pejabat tinggi lainnya.

Reuters mencatat Purbaya sebelumnya pernah berbeda pandangan dengan mantan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo terkait kebijakan penempatan dana pemerintah pada bank-bank BUMN untuk mendorong penyaluran kredit.

Purbaya juga sempat berbeda pandangan dengan Kepala Danantara Rosan Roeslani setelah Purbaya mengatakan sovereign wealth fund tersebut akan mentransfer keuntungan sebesar Rp120 triliun untuk membantu memenuhi target defisit fiskal tahun berjalan.

Rosan kemudian mengatakan tidak pernah ada pembahasan mengenai rencana tersebut.

Laporan Reuters juga mengaitkan kasus tersebut dengan gaya pemerintahan Prabowo yang dinilai sejumlah analis lebih mengandalkan orang-orang kepercayaan dan loyalisnya.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan Prabowo menempatkan loyalitas sebagai sesuatu yang penting. Menurut dia, hal itu dapat dipahami mengingat panjangnya periode Prabowo berada di luar pemerintahan, tetapi berpotensi menimbulkan persoalan apabila mengorbankan sistem berbasis merit.

“Untuk sebuah negara agar berhasil, sistem politiknya harus sehat dan teknokratis, dan birokrasinya harus berdasarkan meritokrasi,” ujar Wijayanto, sebagaimana dikutip Reuters.

Prabowo sendiri sebelumnya mengatakan pemimpin yang berhasil harus memilih orang-orang “terbaik” untuk berada dalam timnya, bukan karena hubungan keluarga, pertemanan ataupun ikatan kepentingan.

Pencopotan Purbaya dengan demikian membuka kembali perdebatan mengenai sejauh mana pertimbangan teknokratis dan hubungan kepercayaan politik berperan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan Prabowo.

Reuters menyebut sejumlah analis dan investor menyambut pergantian tersebut sebagai langkah yang dinilai dapat membantu memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Namun, tiga sumber pemerintah yang dikutip Reuters memberikan penjelasan berbeda mengenai pemicu langsung pencopotan Purbaya, yakni perselisihan internal mengenai rotasi pejabat di Kementerian Keuangan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama membantah adanya konflik yang mendahului pencopotan tersebut. Sementara Bimo Wijayanto dan pihak Kantor Kepresidenan tidak memberikan tanggapan kepada Reuters.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pemberhentian Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan kembali memunculkan sorotan terhadap arah pengelolaan keuangan negara di tengah besarnya agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Henri Subiakto menilai, pergantian tersebut justru dapat dimaknai sebagai upaya menyelamatkan Purbaya dari situasi yang berpotensi semakin kontroversial.

Menurut Henri, siapapun yang menduduki posisi Menteri Keuangan dalam kondisi seperti sekarang akan menghadapi tekanan yang sangat berat.

“Dipecatnya Purbaya sebagai Menteri Keuangan berarti ia diselamatkan dari kondisi kontroversial yang lebih dalam. Siapapun Menteri Keuangannya dalam kondisi seperti sekarang, hanya akan membuat pejabatnya berada di bawah tekanan yang amat berat,” kata Henri di akun X (Twitter) miliknya, Rabu (16/9/2026).

Henri menjelaskan, posisi Menteri Keuangan berada di antara dua kepentingan besar. Di satu sisi, Menteri Keuangan harus menjaga kesehatan keuangan pemerintah dan keuangan negara. Namun di sisi lain, menurut dia, terdapat tuntutan politik untuk tetap membiayai berbagai program pemerintah.

“Di satu sisi harus menyelamatkan keuangan pemerintah dan keuangan negara, di sisi yang lain harus melayani ambisi seorang Presiden yang keras kepala dalam kebijakan politik yang ingin terus membiayai program-program dengan tata kelola buruk yang akan menjerumuskan Indonesia ke dalam keadaan yang makin buruk lagi,” ujarnya.

Purbaya sendiri diberhentikan Presiden Prabowo pada 14 September 2026 setelah sekitar satu tahun menjabat Menteri Keuangan. Posisinya kemudian digantikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Serah terima jabatan keduanya berlangsung di Kementerian Keuangan pada 15 September 2026.

Purbaya mengaku sudah memperkirakan kemungkinan dirinya dicopot. Ia menyebut peluang pergantian tersebut sebelumnya berada pada posisi sekitar 50:50.

Pergantian itu juga terjadi ketika pemerintah menghadapi tantangan dalam menjaga kredibilitas fiskal dan kepercayaan investor. Reuters melaporkan bahwa masa jabatan Purbaya diwarnai pelemahan rupiah, pelebaran defisit fiskal serta kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal.

Sementara itu, Suahasil setelah dilantik mendapatkan arahan dari Presiden Prabowo untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara.

Henri kemudian memperingatkan bahwa persoalan yang lebih besar bukan hanya menyangkut pergantian seorang Menteri Keuangan.

Menurut dia, apabila kebijakan pemerintahan terus dijalankan dengan pola top down dan mengabaikan prosedur serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, maka risiko bagi pejabat pelaksana akan semakin besar.

“Nanti akan semakin banyak lagi korban, orang-orang yang tersingkir bahkan masuk penjara karena risiko mengikuti perintah top down yang banyak menabrak prosedur dan prinsip tata kelola pemerintahan, clean and good governance,” kata Henri.

Pernyataan tersebut menempatkan pergantian Purbaya bukan hanya sebagai persoalan pergantian pejabat, tetapi juga sebagai sorotan terhadap hubungan antara agenda politik pemerintah, pengelolaan fiskal dan kepatuhan terhadap tata kelola pemerintahan.

Di sisi lain, pemerintah melalui pergantian tersebut menempatkan Suahasil Nazara sebagai pejabat yang bertugas menjaga kredibilitas keuangan negara sekaligus mendukung program-program pemerintahan Prabowo.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan tidak cukup dilihat sebagai pergantian personal di Kabinet Merah Putih.

Menurut Amir, persoalan yang lebih penting adalah arah kebijakan fiskal dan hubungan antara kekuatan politik, pemodal, Danantara, pemerintah, serta Bank Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 memang mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara. Reuters melaporkan pergantian tersebut menjadi pergantian menteri keuangan ketiga Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun.

Amir menilai sejumlah kebijakan Purbaya selama menjabat menunjukkan adanya upaya menjaga agar beban tertentu tidak langsung dialihkan kepada APBN.

Salah satu contohnya adalah persoalan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Purbaya sebelumnya berulang kali menyatakan penyelesaian utang Whoosh harus semaksimal mungkin tidak membebani APBN. Pada Juli 2026, Purbaya mengatakan penggunaan dana APBN untuk membayar kewajiban Whoosh akan diminimalkan dan pemerintah dapat menggunakan instrumen di luar APBN, termasuk Special Mission Vehicle (SMV).

Bahkan pada Oktober 2025, Purbaya pernah menyatakan pembayaran utang Whoosh semestinya menjadi tanggung jawab Danantara karena lembaga tersebut menerima dividen dari BUMN. Ia menyebut Danantara menerima dividen sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun, sementara kebutuhan pembayaran tahunan Whoosh sekitar Rp2 triliun.

Menurut Amir, sikap tersebut memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang mengenai siapa yang harus menanggung beban finansial dari aset dan proyek BUMN.

“Kalau banyak kebijakan Purbaya tidak menguntungkan pihak pemodal, misalnya APBN menolak membiayai utang Whoosh, kemudian Purbaya meminta keuntungan Danantara diberikan kepada negara, tentu ini menjadi persoalan politik ekonomi yang harus dilihat lebih jauh,” ujar Amir.

Amir juga menyoroti tuntutan Purbaya agar Danantara tidak melempar persoalan Whoosh kepada pemerintah melalui APBN.

Menurut dia, pernyataan Purbaya bahwa Danantara memiliki sumber dana sendiri menunjukkan adanya upaya menempatkan pengelolaan aset negara secara lebih bertanggung jawab.

“Danantara punya keuntungan, punya dividen dari BUMN. Kalau ada keuntungan, negara juga harus mendapatkan manfaat. Jangan ketika untung untuk mereka, tetapi ketika ada beban kemudian kembali kepada negara,” katanya.

Amir kemudian mengaitkan pergantian Purbaya dengan persoalan konsolidasi kekuasaan di sekitar Presiden Prabowo.

Ia mempertanyakan apakah pergantian menteri tersebut benar-benar membawa perubahan sistem atau justru mempertahankan pola lama di Kementerian Keuangan.

“Sejak awal ada tuntutan agar Prabowo tidak menggunakan orang-orang lama. Tetapi sekarang kelihatannya Prabowo tetap menggunakan mereka. Ini bagian dari konsolidasi,” ujar Amir.

Suahasil Nazara sendiri bukan figur baru di Kementerian Keuangan. Reuters menyebut Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal. Ia juga dipandang sebagai teknokrat yang berpengalaman di kementerian tersebut.

Karena itu, menurut Amir, pergantian Purbaya perlu dibaca dalam kerangka yang lebih luas, bukan hanya persoalan pergantian pejabat.

“Yang harus diubah adalah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau sistemnya tidak berubah, siapa pun yang menjadi Menteri Keuangan akan menghadapi persoalan yang sama,” katanya.

Amir mengingatkan Presiden Prabowo agar berhati-hati menentukan arah kebijakan ekonomi dan fiskal.

Menurut dia, Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai kepentingan, baik domestik maupun global. Kesalahan dalam menentukan strategi dapat membawa dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan politik nasional.

“Kalau strategi Prabowo keliru, Indonesia bisa bubar. Ini bukan menakut-nakuti. Kita harus melihat bagaimana struktur ekonomi dan politik bekerja,” kata Amir.

Ia mengaitkan pandangannya dengan buku Indonesia Paradoks, yang menurutnya menggambarkan berbagai kontradiksi dalam pengelolaan sumber daya dan kekuatan ekonomi Indonesia.

Amir juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam, khususnya sektor kehutanan.

Menurutnya, pemerintah harus membuka informasi secara lebih transparan mengenai pengelolaan hutan, termasuk berapa kewajiban perusahaan kepada negara.

“Pengawasan pengelolaan hutan sampai sekarang harus benar-benar dibuka. Perusahaan harus membayar berapa kepada negara? Itu harus jelas. Kalau tidak transparan, ini akan memengaruhi keuangan Indonesia,” ujarnya.

Fiskal dan Moneter Harus Seimbang

Amir juga mengingatkan bahwa kebijakan fiskal tidak dapat berjalan sendiri tanpa memperhitungkan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Menurut dia, kritik atau kebijakan Menteri Keuangan yang berhubungan dengan likuiditas, pembiayaan dan fiskal pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap ruang kerja bank sentral.

Karena itu, menurut Amir, hubungan antara pemerintah dan Bank Indonesia harus dijaga agar tetap seimbang.

“Pengelolaan keuangan negara bisa memengaruhi Bank Indonesia yang mengurusi moneter. Fiskal dan moneter harus seimbang. Jangan sampai satu kebijakan justru membuat kebijakan yang lain menjadi sulit,” katanya.

Pergantian Purbaya sendiri terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kredibilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam perspektif geopolitik, Amir juga menyinggung posisi Indonesia dalam BRICS.

Menurutnya, keanggotaan Indonesia di BRICS dapat menjadi instrumen untuk memperluas pilihan ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan keuangan global yang selama ini didominasi negara-negara Barat.

Namun, Amir mengingatkan bahwa secara praktik Indonesia belum sepenuhnya bebas dari sistem keuangan global.

“Prabowo tidak tergantung kepada kekuatan global karena Indonesia masuk BRICS. Tetapi kenyataannya kita masih berada dalam sistem yang juga berhubungan dengan IMF,” ujarnya.

Ia menyebut agenda BRICS mengenai penggunaan mata uang lokal dan pengurangan dominasi dolar atau de-dolarisasi merupakan salah satu perkembangan penting dalam geopolitik ekonomi dunia. Namun, proses tersebut tidak serta-merta membuat negara anggota terbebas dari tekanan lembaga keuangan internasional.

Pada April 2026, Purbaya memang menyatakan menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia. Ia mengatakan Indonesia belum membutuhkan pinjaman tersebut karena memiliki cadangan sekitar US$25 miliar. Tawaran yang disiapkan kedua lembaga tersebut disebut berada pada kisaran US$20 miliar hingga US$30 miliar.

Bagi Amir, sikap Purbaya tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang perlu dicermati.

“BRICS itu membawa gagasan de-dolarisasi. Tetapi jangan menganggap kemudian IMF tidak bisa melakukan tekanan. Tekanan global tetap ada,” katanya.

Karena itu, Amir menilai persoalan utama setelah pencopotan Purbaya bukan siapa penggantinya, melainkan apakah pemerintahan Prabowo berani melakukan perubahan struktural dalam pengelolaan ekonomi negara.

“Harus diubah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau hanya mengganti menteri, tetapi mekanisme dan kepentingan yang bekerja di belakang kebijakan tetap sama, persoalannya tidak akan selesai,” pungkas Amir.

MoneyTalk.id,Jakarta – Purbaya Yudhi Sadewa masih duduk sebagai Menteri Keuangan ketika membahas RAPBN 2027 bersama Komite IV DPD RI pada Senin, 14 September 2026. Ia datang sebagai pejabat yang masih memegang otoritas atas keuangan negara, menjelaskan angka-angka APBN dan agenda pembangunan yang akan menentukan arah fiskal pemerintahan Prabowo Subianto.

Namun, di tengah rapat, sebuah telepon membuatnya meninggalkan ruang pertemuan dan gedung parlemen. Beberapa jam kemudian, publik mendapati kenyataan bahwa kursi yang pagi itu masih diduduki Purbaya telah berpindah kepada Suahasil Nazara. Pergantian itu sah secara konstitusional, tetapi kecepatannya membuat satu pertanyaan sederhana sulit dihindari: apa sebenarnya yang sedang berubah?

Pertanyaan tersebut tidak boleh buru-buru diubah menjadi tuduhan. Presiden memang mempunyai hak prerogatif untuk mengganti menteri, dan pemerintah tidak wajib mempertahankan seseorang hanya karena masih menjalankan agenda resmi pada pagi harinya.

Namun, ketika pergantian terjadi begitu mendadak dan alasan spesifik tidak segera dijelaskan, ruang publik secara alamiah akan mencari penjelasan.

Di sinilah pemerintah seharusnya hadir bukan untuk membungkam pertanyaan, melainkan memberikan konteks yang memadai. Sebab transparansi bukan berarti Presiden kehilangan kewenangannya, tetapi publik memperoleh alasan yang rasional atas keputusan yang menyangkut pengelolaan keuangan negara. Apalagi jabatan Menteri Keuangan bukan posisi biasa karena di dalamnya terdapat kepentingan APBN, utang, pajak, subsidi, belanja negara, dan kepercayaan pasar.

Purbaya sendiri meninggalkan sejumlah kebijakan dan pernyataan yang layak dianalisis, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memahami kemungkinan persoalan yang sedang dihadapi pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan pengelolaan likuiditas dan berbagai langkah fiskal yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Kebijakan semacam itu memang selalu memiliki dua sisi: dapat mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga harus dihitung secara hati-hati agar tidak menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan. Karena itu, mengganti pejabat tidak otomatis berarti kebijakan sebelumnya salah, sebagaimana mempertahankan pejabat juga tidak otomatis berarti seluruh kebijakannya benar.

Ukuran yang seharusnya digunakan adalah dampak kebijakan terhadap pertumbuhan, stabilitas, kredibilitas APBN, dan kemampuan negara mengelola risiko.

Persoalan menjadi semakin menarik ketika pernyataan Purbaya mengenai utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kembali muncul ke permukaan. Beberapa hari sebelum pergantian, Purbaya berbicara mengenai restrukturisasi utang proyek tersebut dan menyebut cicilannya sekitar Rp1 triliun per tahun dengan tenor yang sangat panjang.

Pernyataan itu kemudian mendapat sorotan dari pengamat ekonomi Defiyan Cori yang menilai persoalan sebesar Whoosh semestinya disampaikan melalui analisis yang lebih komprehensif karena menyangkut BUMN, struktur pembiayaan, kerja sama dengan China, kepemilikan, serta potensi konsekuensi terhadap keuangan negara. Tetapi dari sini kita harus berhenti sebelum melangkah terlalu jauh: tidak ada keterangan resmi bahwa pernyataan mengenai Whoosh menjadi penyebab Purbaya dicopot. Hubungan waktu antara dua peristiwa memang dapat menjadi bahan pertanyaan, tetapi belum cukup menjadi bukti hubungan sebab-akibat.

Justru yang lebih penting adalah persoalan yang berada di balik Whoosh itu sendiri. Sebuah proyek infrastruktur besar tidak cukup dinilai dari apakah keretanya beroperasi atau berapa cepat perjalanan Jakarta-Bandung ditempuh.

Ia juga harus dilihat dari struktur pembiayaan, kemampuan menghasilkan pendapatan, kewajiban utang, posisi BUMN, dan siapa yang pada akhirnya menanggung risiko apabila proyeksi bisnis tidak berjalan seperti yang diharapkan. Di sinilah peran Menteri Keuangan menjadi penting karena setiap keputusan mengenai pembiayaan negara pada akhirnya bersentuhan dengan ruang fiskal. Publik tidak perlu menuduh bahwa proyek tertentu telah membebani APBN jika faktanya belum demikian, tetapi publik berhak meminta penjelasan mengenai siapa yang menanggung risiko dan bagaimana risiko tersebut dikelola. Dengan demikian, Whoosh seharusnya menjadi pintu masuk untuk membahas tata kelola pembiayaan pembangunan, bukan sekadar bahan untuk menyerang seorang mantan menteri.

Menariknya lagi, Purbaya bukan figur yang dapat dikatakan kehilangan seluruh dukungan publik. Survei Indonesia Political Opinion periode 27 Juli–3 Agustus 2026 menempatkannya sebagai menteri dengan penilaian kinerja terbaik dengan angka 42,8 persen.

Angka tersebut tentu bukan ukuran mutlak keberhasilan seorang Menteri Keuangan karena persepsi publik berbeda dengan evaluasi teknokratis di dalam pemerintahan.

Namun, fakta itu menunjukkan bahwa pergantian Purbaya tidak mudah dijelaskan hanya dengan argumen bahwa ia tidak disukai masyarakat atau gagal membangun citra publik.

Ada kemungkinan terdapat pertimbangan lain yang tidak terlihat dalam survei, seperti koordinasi antarlembaga, konsistensi kebijakan, komunikasi internal, atau kebutuhan Presiden terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Semua kemungkinan itu masih harus dibuktikan melalui kebijakan dan penjelasan resmi, bukan melalui spekulasi.

Pengangkatan Suahasil Nazara kemudian memberikan petunjuk lain. Ia bukan orang luar yang tiba-tiba masuk ke Kementerian Keuangan, melainkan sosok yang memahami mesin fiskal dari dalam. Ia mengetahui bagaimana APBN disusun, bagaimana kebijakan fiskal bekerja, dan bagaimana birokrasi Kementerian Keuangan mengelola keuangan negara.

Ketika Prabowo menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta mempertahankan defisit di bawah 3 persen PDB, pesan yang muncul cukup jelas: disiplin fiskal tetap menjadi salah satu perhatian utama. Tetapi pertanyaannya kemudian bukan apakah Suahasil mampu menjaga APBN, melainkan apakah ia akan membawa pendekatan yang berbeda dari pendahulunya.

Perubahan itu baru dapat dibaca setelah masyarakat melihat keputusan nyata, bukan sekadar mendengar pernyataan pada hari pelantikan.

Di sinilah pergantian Purbaya seharusnya dibaca lebih luas. Pemerintahan Prabowo memiliki agenda pembangunan yang besar dan membutuhkan anggaran yang juga besar. Makan Bergizi Gratis membutuhkan pembiayaan, pembangunan infrastruktur membutuhkan dana, subsidi membutuhkan ruang fiskal, sementara kewajiban utang dan pembayaran bunga terus berjalan.

Pada saat yang sama, penerimaan negara tidak dapat diasumsikan selalu tumbuh sesuai dengan kebutuhan belanja. Ada batas antara ambisi pembangunan dan kemampuan kas negara, dan Menteri Keuangan berada tepat di garis batas tersebut. Karena itu, tugas seorang Menteri Keuangan bukan sekadar menyediakan uang untuk semua program pemerintah, tetapi juga memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dasar, manfaat, dan sumber pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

APBN pada akhirnya adalah penguji yang paling dingin. Ia tidak peduli seberapa bagus pidato pejabat, seberapa tinggi popularitas menteri, atau seberapa meriah pelantikan di Istana.

Angka defisit akan tetap menunjukkan kondisi fiskal, rasio utang akan tetap dihitung, pembayaran bunga tetap jatuh tempo, dan ruang fiskal tetap memiliki batas. Jika program pemerintah bertambah sementara penerimaan tidak mampu mengejar kebutuhan belanja, pemerintah harus memilih antara melakukan efisiensi, meningkatkan penerimaan, mengurangi belanja, atau mencari pembiayaan tambahan. Tidak ada makan siang gratis dalam pengelolaan keuangan negara. Setiap program yang hari ini disebut sebagai prioritas pada akhirnya memiliki konsekuensi fiskal yang harus dibayar sekarang atau pada masa mendatang.

Karena itu, pergantian Menteri Keuangan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang dicopot dan siapa yang dilantik. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah pemerintah sedang mengubah cara mengelola APBN.

Jika Purbaya diganti karena pemerintah menginginkan koordinasi yang lebih kuat, publik perlu melihat apakah kebijakan fiskal setelah ini menjadi lebih konsisten. Jika tujuannya memperkuat kepercayaan pasar, indikatornya harus terlihat pada stabilitas fiskal dan kredibilitas kebijakan. Jika pemerintah ingin mempercepat program prioritas, publik perlu mengetahui dari mana pembiayaannya dan bagaimana risiko fiskalnya dikendalikan. Sebab perubahan personel tanpa perubahan kualitas kebijakan pada akhirnya hanya menghasilkan pergantian nama di pintu kantor.

Purbaya pergi, tetapi persoalan yang dihadapinya tidak ikut pergi. Utang Whoosh tetap harus dikelola, APBN tetap harus dijaga, program prioritas tetap membutuhkan uang, dan kewajiban negara tetap harus dibayar. Suahasil sekarang menerima meja kerja yang sama dengan tumpukan persoalan yang tidak jauh berbeda. Karena itu, pergantian ini akan diuji bukan oleh alasan yang beredar di media sosial, melainkan oleh hasil pengelolaan fiskal beberapa bulan ke depan. Apakah defisit terkendali, apakah utang dikelola secara sehat, apakah belanja semakin efektif, apakah penerimaan negara membaik, dan apakah ruang fiskal tetap cukup untuk membiayai program pemerintah tanpa menciptakan beban yang berlebihan.

Pagi hari Purbaya masih membicarakan APBN, siang hari sebuah telepon membuatnya meninggalkan rapat, dan sore hari orang lain sudah mengucapkan sumpah sebagai Menteri Keuangan. Adegan itu memang terlalu cepat untuk tidak menimbulkan pertanyaan. Tetapi pertanyaan yang sehat tidak boleh berubah menjadi tuduhan tanpa bukti. Justru karena pemerintah memiliki kewenangan mengganti menteri, pemerintah juga seharusnya memiliki keberanian menjelaskan arah perubahan tersebut kepada masyarakat.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar karier Purbaya atau masa depan politik Suahasil, melainkan cara negara mengelola uang rakyat. Dan jika yang berubah bukan hanya orangnya, melainkan arah fiskalnya, maka publik berhak mengetahui ke mana sebenarnya setir ekonomi pemerintahan Prabowo sedang dibelokkan.

Penulis : Rokhmat Widodo, Pengamat politik dan ekonomi

MoneyTalk.id,Jakarta – Keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan dan menunjuk Suahasil Nazara dinilai sebagai langkah tepat untuk memperbaiki pengelolaan fiskal sekaligus memperkuat koordinasi pemerintahan.

Aktivis sosial sekaligus Eksponen Angkatan Reformasi 98, Andrianto menilai pergantian tersebut tidak dapat dilihat hanya sebagai rotasi jabatan. Menurutnya, posisi Menteri Keuangan sangat strategis karena menyangkut arah APBN, hubungan keuangan pusat dan daerah, serta kemampuan pemerintah menjalankan program-program prioritas Presiden Prabowo.

“Ini tepat. Karena masalah fiskal. Purbaya melakukan tindakan yang tidak selaras dengan Presiden Prabowo,” kata Andrianto dalam pernyataan kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).

Presiden Prabowo melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026). Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan menggantikan Purbaya yang baru sekitar satu tahun menjabat sebagai bendahara negara.

Menurut Andrianto, persoalan utama bukan semata-mata mengenai gaya komunikasi seorang menteri, melainkan bagaimana seorang Menteri Keuangan mampu menerjemahkan agenda Presiden ke dalam kebijakan fiskal yang terkoordinasi.

Ia menilai Purbaya tidak cukup berhasil melakukan harmonisasi di internal Kementerian Keuangan maupun dengan kementerian dan lembaga lain.

“Masalahnya Purbaya tidak melakukan harmonisasi di Kementerian Keuangan. Dia juga tidak mampu mengakomodasi kepala daerah terkait Transfer Keuangan Daerah (TKD),” ujarnya.

Andrianto melihat hubungan pusat dan daerah menjadi salah satu titik penting dalam pengelolaan fiskal. TKD bukan hanya persoalan angka dalam APBN, tetapi berkaitan langsung dengan kemampuan pemerintah daerah membiayai pelayanan publik, pembangunan infrastruktur dan program sosial.

Karena itu, menurut dia, kebijakan fiskal pemerintah pusat membutuhkan komunikasi politik dan administratif yang kuat dengan kepala daerah. “Komunikasi Purbaya buruk,” tegas Andrianto.

Andrianto menilai Menteri Keuangan harus mampu menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dengan kebutuhan pembangunan. Apalagi pemerintahan Prabowo membawa sejumlah program besar yang membutuhkan dukungan anggaran dan koordinasi lintas kementerian.

Dalam situasi seperti itu, Menteri Keuangan tidak cukup hanya menghitung kemampuan kas negara. Ia juga harus mampu memastikan kebijakan fiskal sejalan dengan prioritas Presiden, kementerian teknis, pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bappenas, serta lembaga negara lainnya.

Pergantian Purbaya dengan Suahasil, menurut Andrianto, menunjukkan kebutuhan Presiden terhadap sosok Menkeu yang lebih kuat dalam koordinasi dan komunikasi birokrasi.

Suahasil bukan orang baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia merupakan ekonom dan akademisi yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Ia juga pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

“Suahasil sudah memahami dapur Kementerian Keuangan. Dia tahu bagaimana kebijakan fiskal disusun, bagaimana berkoordinasi dengan kementerian lain dan bagaimana menjaga komunikasi dengan pemerintah daerah,” kata Andrianto.

Menurut Andrianto, tantangan Suahasil bukan pekerjaan ringan. Menteri Keuangan baru harus segera membangun kembali komunikasi dengan kepala daerah dan memastikan kebijakan transfer ke daerah tidak menimbulkan ketegangan baru antara pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, Suahasil juga dituntut menjaga kredibilitas APBN di tengah kebutuhan pembiayaan program-program pemerintahan Prabowo.

“Presiden membutuhkan Menteri Keuangan yang bisa menjadi bagian dari orkestrasi pemerintahan, bukan berjalan dengan agenda sendiri,” ujarnya.

Andrianto mengatakan, ke depan keberhasilan Suahasil tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuan teknokratisnya, tetapi juga kemampuannya membangun komunikasi politik.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah harmonisasi. Antara Presiden, Kementerian Keuangan, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, DPR, DPD dan Bank Indonesia. Jangan sampai kebijakan fiskal berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Menurut dia, APBN merupakan instrumen utama untuk menerjemahkan visi politik pemerintahan ke dalam program konkret. Karena itu, Menteri Keuangan harus mampu menjadi penghubung antara kepentingan fiskal dengan agenda pembangunan nasional.

“Kalau koordinasinya kuat, fiskal bisa menjadi mesin pembangunan. Tetapi kalau komunikasi buruk dan kebijakan tidak harmonis, yang muncul justru konflik kepentingan antara pusat dan daerah,” pungkas Andrianto.

MoneyTalk.id,Jakarta –  Akun media sosial Independen Sumatra mengunggah sebuah tulisan pada 14 September 2026 yang mempertanyakan latar belakang politik di balik pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Tulisan tersebut mengangkat rekam jejak Suahasil Nazara yang sebelumnya telah berada di pemerintahan pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Suahasil Nazara naik jadi Menkeu. Jejak Jokowi makin kuat di pemerintahan Prabowo?” demikian judul yang dicantumkan Independen Sumatra dalam unggahannya.

Independen Sumatra menulis bahwa ada fakta yang menurut mereka tidak bisa diabaikan.

“Suahasil Nazara bukan wajah baru di pemerintahan.” ucapnya.

“Pada 2019, ketika Jokowi masih menjadi Presiden, Suahasil diminta langsung menempati posisi Wakil Menteri Keuangan. Saat itu ia merupakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu.” sambungnya.

Menurut tulisan tersebut, posisi itu membuat Suahasil menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.

“Artinya, Suahasil adalah bagian dari mesin pemerintahan Jokowi sejak Kabinet Indonesia Maju.” jelasnya.

Independen Sumatra kemudian menyoroti keberlanjutan karier Suahasil setelah pemerintahan berganti.

“Setelah pemerintahan berganti, Suahasil ternyata tetap bertahan.” katanya.

Tulisan itu menyebut Suahasil kembali menjadi Wakil Menteri Keuangan pada Kabinet Merah Putih setelah dilantik pada Oktober 2024. Pada 14 September 2026, menurut unggahan tersebut, Prabowo menaikkan Suahasil menjadi Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Nah, di sinilah pertanyaan politiknya mulai menarik wak.” kata dia.

Independen Sumatra kemudian mempertanyakan apakah pengangkatan tersebut semata-mata didasarkan pada kompetensi atau juga memiliki pertimbangan politik.

“Apakah ini murni soal kompetensi? Atau ada kalkulasi politik yang jauh lebih besar?” tanyanya.

Menurut tulisan itu, pertanyaan tersebut muncul karena Suahasil sebelumnya dibesarkan dalam pemerintahan Jokowi dan kini memperoleh posisi strategis dalam pemerintahan Prabowo.

“Sebab orang yang dibesarkan dalam pemerintahan Jokowi kini mendapatkan posisi yang sangat strategis di pemerintahan Prabowo.” lanjutnya.

Tulisan tersebut juga menekankan strategisnya posisi Menteri Keuangan.

“MENKEU BUKAN JABATAN BIASA.” jelasnya.

Independen Sumatra menyebut Menteri Keuangan memiliki kendali atas sejumlah aspek penting pengelolaan keuangan negara.

“Di tangan Menkeu ada kendali atas APBN, penerimaan negara, belanja negara, kebijakan fiskal, pembiayaan dan arah pengelolaan keuangan negara.” bebernya.

Karena itu, menurut mereka, siapa pun yang menduduki posisi tersebut memiliki konsekuensi politik dan ekonomi yang besar.

Namun, tulisan tersebut juga memberikan sejumlah batasan terhadap kesimpulan politik yang diajukan.

“Awak tidak mengatakan Suahasil adalah ORANG JOKOWI.” kata dia.

“Awak juga tidak punya bukti untuk mengatakan dia adalah PROKSI GENG SOLO.” sambungnya.

Independen Sumatra menegaskan bahwa yang mereka anggap sebagai fakta adalah rekam jejak Suahasil dalam pemerintahan Jokowi.

“Tapi rekam jejaknya dengan pemerintahan Jokowi adalah fakta.” kata dia.

Selanjutnya, tulisan itu mempertanyakan apakah pengangkatan Suahasil merupakan profesionalisme atau bagian dari desain politik yang lebih besar.

“Maka publik berhak bertanya: APAKAH INI SEKADAR PROFESIONALISME? ATAU ADA DESAIN POLITIK YANG LEBIH BESAR?” tanyanya.

Independen Sumatra juga menyampaikan kemungkinan mengenai adanya upaya mempertahankan pengaruh politik era sebelumnya, tetapi tidak menyatakan hal tersebut sebagai fakta.

“Kalau benar ada kelompok yang sedang berusaha mempertahankan pengaruh politik era lama di dalam pemerintahan baru, maka kursi Menkeu tentu menjadi salah satu titik paling strategis.” tanyanya kembali.

Tulisan itu kemudian kembali memberikan penyangkalan terhadap kesimpulan bahwa Suahasil pasti terlibat dalam skenario tersebut.

“Bukan berarti Suahasil pasti bagian dari skenario tersebut. Belum ada bukti untuk menyimpulkan sejauh itu.” tukasnya.

Dalam konteks tersebut, Independen Sumatra mengatakan politik bukan hanya menyangkut orang yang menduduki jabatan, tetapi juga proses di balik penunjukan dan akses terhadap pusat kekuasaan.

“Tetapi politik tidak hanya berbicara tentang siapa yang duduk di kursi. Politik juga berbicara tentang SIAPA YANG MEMILIH, SIAPA YANG DIPERTAHANKAN, DAN SIAPA YANG MENDAPATKAN AKSES KE PUSAT KEKUASAAN.” terangnya.

Tulisan tersebut kemudian mengajukan dua kemungkinan mengenai arah politik pemerintahan Prabowo.

“APAKAH PRABOWO SEDANG MEMPERKUAT PEMERINTAHANNYA SENDIRI? ATAU TANPA DISADARI, JUSTRU MEMBERI RUANG BAGI JARINGAN KEKUASAAN LAMA UNTUK KEMBALI BEKERJA DARI DALAM?” tanyanya menegasnya

Independen Sumatra menutup tulisannya dengan menekankan bahwa kesimpulan mengenai adanya operasi politik tidak dapat dibuat tanpa bukti.

“Kalau kelak muncul bukti bahwa ada operasi politik untuk melemahkan Prabowo dari dalam, barulah publik bisa menilai apakah semua ini hanya kebetulan… atau memang ada permainan besar di baliknya.” tuturnya.

Tulisan itu diakhiri dengan seruan:

“JANGAN MENUDUH TANPA BUKTI. TAPI JANGAN JUGA BERHENTI BERTANYA.” tandasnya.

Materi tersebut merupakan analisis dan pertanyaan politik yang disampaikan oleh Independen Sumatra, bukan bukti bahwa Suahasil Nazara merupakan “orang Jokowi”, “proksi Geng Solo”, atau terlibat dalam operasi politik untuk melemahkan Prabowo.

Dengan demikian, dugaan mengenai adanya “desain politik” atau “jaringan kekuasaan lama” perlu dibedakan dari fakta mengenai rekam jejak jabatan Suahasil. Tanpa bukti tambahan atau pernyataan dari pihak-pihak yang dituding maupun pihak pemerintah, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Dari sisi pemerintahan Prabowo, pengangkatan seorang pejabat yang telah berpengalaman di Kementerian Keuangan juga dapat dipandang sebagai keputusan berbasis pengalaman dan kompetensi administratif. Karena itu, alasan resmi dan pertimbangan Presiden Prabowo dalam memilih Suahasil Nazara menjadi penting untuk melihat apakah keputusan tersebut terutama merupakan pertimbangan profesional, politik, atau kombinasi keduanya.