8 November 2026

Wakil Ketua DPR RI

MoneyTalk, Jakarta –  Aksi protes terhadap aktivitas pertambangan nikel di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara, kembali mencuat. Koordinator Aliansi Suara Rakyat (ASR) Sultra, La Ode Hidayat, melontarkan dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dalam aktivitas tambang milik PT Tonia Mitra Sejahtera (TMS) yang diduga ilegal.(8/9/25).

‎Pernyataan tersebut disampaikan dalam audiensi publik(2/9) bersama Ketua DPRD Sultra, sejumlah anggota dewan, Wakil Gubernur Sultra, Kapolda Sultra, dan Danrem 143/HO, usai aksi demonstrasi di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara,

‎Kami mendapat informasi bahwa PT TMS tetap melakukan pengapalan nikel di tengah aksi dan sorotan publik. Yang lebih mengkhawatirkan, muncul dugaan kuat bahwa Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, berada di belakang aktivitas tambang tersebut,” ujar La Ode Hidayat dalam pernyataannya.

‎La Ode menegaskan bahwa dugaan tersebut tidak berdasar pada rumor semata. Ia menyebut informasi yang diterima ASR memiliki kesamaan dengan laporan intelijen dan data resmi, termasuk terkait kuota ekspor PT TMS yang mencapai 2,15 juta metrik ton pada 2025.

‎“Ini bukan isu main-main. Jika benar ada keterlibatan elit politik, maka ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

‎ASR berencana membawa persoalan ini ke tingkat nasional, termasuk dengan melayangkan surat resmi ke DPP Partai Gerindra. La Ode juga menyampaikan harapan agar kader-kader Gerindra di daerah turut mengambil sikap terhadap aktivitas tambang ilegal tersebut.

‎“Kami cinta Prabowo, dan kami ingin partai ini bersih dari keterlibatan dalam bisnis ilegal. Ini menyangkut hajat hidup rakyat Sultra,” tegasnya.

‎Selain itu, ASR menyoroti dasar hukum yang melarang eksploitasi di Pulau Kabaena. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-XXI/2023, wilayah tersebut seharusnya bebas dari aktivitas pertambangan.

‎Lebih lanjut, La Ode juga merujuk pada putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor 580/PK/PDT/2023, yang menyatakan bahwa PT TMS bersama PT Bintang Delapan Tujuh Abadi terbukti melakukan penambangan tanpa Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) sejak 2019 di kawasan hutan lindung seluas 147 hektar.

‎Temuan tersebut juga diperkuat oleh hasil pemeriksaan BPK RI, yang mencatat bahwa PT TMS telah melakukan kegiatan di luar area yang diizinkan dalam Surat Keputusan PPKH.

‎ASR menyatakan akan membentuk “pansus rakyat” dan melakukan investigasi lapangan langsung ke Pulau Kabaena. Mereka juga meminta dukungan keamanan dari aparat TNI dan Polri dalam proses tersebut.

‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PT TMS maupun dari Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan oleh media ini.

MoneyTalk, Jakarta – Gelombang aksi unjuk rasa yang berujung anarkis di Jakarta pada akhir Agustus hingga awal September 2025 menyisakan pertanyaan besar mengenai sikap sejumlah elite politik. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra.

Pengamat politik Muslim Arbi menilai, absennya figur Dasco dalam meredam situasi demonstrasi yang memanas bisa berimplikasi serius terhadap posisinya di parlemen maupun partai. Bahkan, ia menyebut Presiden Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Gerindra memiliki kewenangan penuh untuk mencopot Dasco dari dua jabatan strategis tersebut.

Menurut Muslim Arbi, keberadaan Dasco di panggung politik nasional bukan sekadar formalitas jabatan. Ia dikenal sebagai tangan kanan Prabowo dengan jaringan kuat, terutama di kalangan Aktivis 98 yang selama ini dianggap mampu menjadi jembatan komunikasi antara kekuasaan dan kelompok masyarakat sipil.

“Sebagai orang kepercayaan Prabowo, seharusnya Dasco muncul ke publik. Ia bisa langsung mengajak dialog kelompok-kelompok yang melakukan tuntutan. Itu yang diharapkan rakyat dalam situasi genting,” ujar Muslim Arbi, Jumat (5/9/2025)

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ketika demonstrasi mulai ricuh dan memicu bentrokan dengan aparat, publik tak melihat langkah nyata dari Dasco untuk tampil menenangkan keadaan. Ketiadaan itu membuatnya seolah “menghilang” di tengah krisis.

Muslim Arbi menekankan, Dasco memiliki kapasitas dan jalur komunikasi yang berbeda dengan pejabat negara lainnya. Jika sejumlah menteri atau aparat keamanan cenderung menggunakan pendekatan formal dan represif, Dasco dengan latar belakang aktivisme dianggap bisa menjadi penengah.

“Dasco punya jaringan Aktivis 98 yang solid. Seharusnya itu bisa digerakkan untuk mencegah kekacauan. Kemampuan meredam yang selama ini kerap diperlihatkan Dasco, ironisnya justru tidak muncul saat negara sedang menghadapi situasi kritis,” tambahnya.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah absennya Dasco murni karena faktor pribadi, atau ada dinamika internal Gerindra yang membuatnya memilih diam?

Absennya figur kunci seperti Dasco dalam momentum krisis tidak hanya merugikan citra pribadinya, tetapi juga bisa berimbas pada posisi Partai Gerindra sebagai partai penguasa. Prabowo, yang kini menjabat sebagai Presiden, tentu menginginkan seluruh jajaran partainya bisa menjadi “penopang stabilitas” di tengah gejolak.

“Kalau publik melihat orang kepercayaan Presiden tak mampu hadir di lapangan, maka kredibilitas kepemimpinan ikut terpengaruh. Prabowo tentu tak bisa tinggal diam,” jelas Muslim Arbi.

Ia bahkan membuka kemungkinan adanya reshuffle internal di Gerindra. “Prabowo bisa mencopot Dasco dari Ketua Harian Gerindra maupun dari posisi Wakil Ketua DPR. Itu bukan hal yang mustahil jika dianggap perlu untuk menjaga wibawa kepemimpinan,” ujarnya.

Situasi ini, menurut Muslim, bisa menjadi ujian loyalitas sekaligus kapasitas Dasco. Sebagai orang dekat Prabowo, Dasco bukan sekadar pejabat struktural. Ia memikul beban moral untuk tampil di garda terdepan ketika negara dilanda krisis politik dan sosial.

Di sisi lain, absennya Dasco bisa dimaknai sebagai tanda adanya “jarak” antara dirinya dengan basis massa yang dulu ia klaim kuasai. Jika benar jaringan Aktivis 98 masih solid, mengapa ia tak memanfaatkannya untuk menurunkan tensi demo?

Dari perspektif internal partai, Gerindra kini menghadapi tantangan menjaga citra sebagai partai penguasa yang responsif terhadap aspirasi rakyat. Diamnya figur penting seperti Dasco bisa menjadi titik lemah yang dimanfaatkan lawan politik untuk menekan Prabowo.

Kini bola ada di tangan Prabowo Subianto. Apakah ia akan memberi teguran keras kepada Dasco agar lebih sigap di masa depan, atau justru mengambil langkah tegas dengan mencopotnya dari jabatan strategis?

Bagi Prabowo, menjaga stabilitas politik di periode awal kepemimpinannya adalah prioritas utama. Sementara bagi Dasco, absennya saat demo rusuh bisa menjadi catatan hitam yang sulit dihapus, kecuali ia segera membuktikan kembali kapasitasnya sebagai jembatan komunikasi antara rakyat dan kekuasaan.