6 November 2026

Yulian Paonganan

MoneyTalk.id, Jakarta – Aktivis 98 Yulian Paonganan alias Ongen melontarkan kritik tajam terhadap keberadaan Projo yang selama ini dikenal sebagai organisasi relawan pendukung Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Ongen menyebut Projo sebagai relawan semu yang dinilai tidak memiliki bentuk gerakan politik yang jelas dan cenderung kembali mencuat ketika momentum politik mulai menghangat.

“Projo itu relawan semu. Ramai ketika ada kepentingan politik, setelah itu tidak jelas arahnya,” ujar Ongen dalam pernyataannya kepada wartawan, Selasa (25/8/2026).

Menurut Ongen, citra Projo sebagai organisasi relawan Jokowi membuat keberadaan kelompok tersebut sulit dilepaskan dari dinamika politik kekuasaan. Ia menilai aktivitas Projo lebih sering terlihat dalam mobilisasi politik dibandingkan gerakan kerelawanan yang konsisten.

Ongen bahkan menyebut fenomena tersebut secara satir mirip dengan istilah “kabinet bayangan” yang pernah digunakan Feri Amsari dan kawan-kawan untuk menggambarkan kelompok di luar struktur pemerintahan yang seolah memiliki pengaruh dalam menentukan arah politik.

“Kalau istilah kabinet bayangan yang dibikin Feri Amsari Cs itu, ya maksudnya cuma perumpamaan saja. Jangan dianggap sebagai kabinet resmi pemerintah,” kata Ongen.

Ia menegaskan Projo bukan bagian dari kabinet pemerintahan secara formal. Namun, menurutnya, kedekatan organisasi relawan dengan lingkaran kekuasaan sering membuat batas antara gerakan relawan dan kepentingan politik menjadi kabur.

“Projo identik dengan relawan Jokowi. Tapi pertanyaannya, setelah era Jokowi, Projo ini sebenarnya mau menjadi apa? Kalau hanya muncul ketika pemilu atau momentum politik, publik juga bisa menilai sendiri,” ujarnya.

Ongen juga menyindir sejumlah elite relawan yang menurutnya terlalu percaya diri dalam membaca arah politik nasional. Menurut dia, dinamika kekuasaan tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan pernyataan elite organisasi relawan.

“Jangan merasa relawan adalah penentu kekuasaan. Kekuasaan itu ada mekanismenya, ada konstitusinya, dan ada rakyat yang menentukan,” tegas Ongen.

Kritik tersebut menempatkan kembali Projo dalam sorotan di tengah dinamika politik nasional yang semakin panas. Bagi Ongen, organisasi yang lahir dari gerakan relawan seharusnya mampu menunjukkan konsistensi perjuangan, bukan sekadar aktif ketika kontestasi politik berlangsung.

“Kalau relawan cuma ramai menjelang pemilu, lalu setelah itu sibuk mencari posisi dan pengaruh, publik berhak bertanya: ini sebenarnya relawan atau kendaraan politik?” pungkasnya.

MoneyTalk.id, Jakarta – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan terjadinya perubahan politik lebih cepat dari Pemilu 2029 menuai sorotan. Aktivis 98 Yulian Paonganan alias Ongen menilai pernyataan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan justru berpotensi menimbulkan spekulasi politik di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ongen, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik keras era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sekaligus pendukung berat Presiden Prabowo, meminta Budi Arie tidak membangun narasi seolah-olah pemerintahan Prabowo tidak akan bertahan sampai 2029.

Menurut Ongen, pernyataan mengenai kemungkinan kekuasaan Prabowo berakhir sebelum masa jabatannya selesai harus memiliki dasar konstitusional dan fakta politik yang kuat, bukan sekadar berdasarkan “insting” ataupun spekulasi.

“Budi Arie jangan mimpi di siang bolong. Jangan karena kecewa atau dendam setelah kena reshuffle kemudian mengeluarkan statement yang tidak punya dasar bahwa kekuasaan Presiden Prabowo tidak sampai 2029,” kata Ongen dalam pernyataan kepada wartawan, Selasa (25/8/2026).

Pernyataan Ongen tersebut muncul setelah Budi Arie dalam sebuah video yang beredar berbicara mengenai kemungkinan terjadinya perubahan politik sebelum 2029. Budi Arie bahkan menyebut dirinya telah menyampaikan kepada Jokowi bahwa insting politiknya melihat sesuatu yang “lebih cepat dari 2029”.

Namun, pernyataan tersebut menjadi sorotan karena sebelumnya Budi Arie juga menegaskan bahwa Projo tetap mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sampai 2029.

Dalam peringatan HUT ke-12 Projo di Jakarta, Minggu (23/8/2026), Budi Arie menyatakan dukungan organisasinya terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tetap sesuai keputusan Kongres III Projo.

“Projo sesuai Kongres Ketiga Projo, tetap mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sampai 2029,” kata Budi Arie sebagaimana diberitakan sejumlah media.

Ongen menilai terdapat kontradiksi antara pernyataan Budi Arie yang menyatakan Projo mendukung pemerintahan Prabowo hingga 2029 dengan pernyataan lain yang membuka kemungkinan perubahan politik sebelum 2029.

Menurutnya, jika memang terdapat informasi serius mengenai ancaman terhadap keberlangsungan pemerintahan, seharusnya informasi tersebut disampaikan secara terbuka dengan dasar konstitusional dan fakta yang dapat diverifikasi.

“Kalau memang ada indikasi kuat pemerintahan akan berubah sebelum 2029, sampaikan dasarnya. Jangan hanya bicara insting politik. Negara ini berjalan berdasarkan konstitusi, bukan berdasarkan ramalan politik,” ujar Ongen.

Ongen juga mengingatkan bahwa Presiden Prabowo memperoleh mandat melalui Pemilu 2024 dan masa pemerintahan hasil pemilu tersebut secara konstitusional berlangsung hingga 2029.

Karena itu, menurut dia, pernyataan tentang kemungkinan berakhirnya pemerintahan sebelum 2029 tidak boleh diperlakukan sebagai sekadar permainan wacana.

Selain mempersoalkan pernyataan mengenai masa pemerintahan Prabowo, Ongen juga meminta Budi Arie memberikan klarifikasi secara terbuka mengenai berbagai informasi yang pernah muncul terkait perkara judi online.

Menurut Ongen, persoalan tersebut jauh lebih penting untuk dijelaskan daripada mengeluarkan pernyataan politik mengenai kemungkinan berakhirnya pemerintahan sebelum 2029.

“Budi Arie sebaiknya fokus melakukan klarifikasi mengenai adanya indikasi-indikasi yang mengaitkan dirinya dengan kasus judi online sebelum persoalan tersebut benar-benar bergulir lebih jauh,” ujar Ongen.

Ongen menilai polemik tersebut semestinya menjadi pelajaran bagi para elite politik agar tidak sembarangan melempar pernyataan yang dapat menimbulkan persepsi seolah-olah terjadi krisis konstitusional.

Menurutnya, jika Budi Arie memiliki kritik terhadap pemerintahan Prabowo, kritik tersebut sah disampaikan. Namun, apabila menyangkut masa jabatan Presiden, argumentasi yang digunakan harus jelas.

“Kalau ada kritik kepada Prabowo, silakan. Kalau ada evaluasi terhadap pemerintah, silakan. Tetapi jangan membuat seolah-olah pemerintahan Prabowo akan jatuh atau berakhir sebelum 2029 tanpa menjelaskan dasar dan mekanismenya,” kata Ongen.

MoneyTalk.id, Jakarta – Aktivis 98 sekaligus pakar maritim, Yulian Paonganan atau yang akrab disapa Ongen, menilai publik patut mencermati berbagai dugaan keterkaitan politik yang muncul di balik sejumlah aksi mahasiswa yang belakangan mengemuka di berbagai daerah.

Menurut Ongen, informasi yang disampaikan Aliansi BEM Bersatu terkait mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, layak mendapat perhatian publik karena dinilai membuka ruang pertanyaan mengenai kemungkinan adanya jejaring politik yang ikut memengaruhi dinamika gerakan mahasiswa.

“Kalau berbagai informasi yang disampaikan BEM Bersatu itu benar dan dapat dibuktikan, maka publik wajar bertanya apakah gerakan mahasiswa murni gerakan independen atau ada kepentingan politik yang ikut bermain di belakang layar,” kata Ongen kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).

Ongen menegaskan dirinya tidak menuduh secara langsung adanya keterlibatan partai politik tertentu. Namun, ia menilai berbagai fakta dan dugaan yang beredar perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi yang semakin luas di masyarakat.

Menurutnya, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah informasi yang disampaikan BEM Bersatu mengenai dugaan keterkaitan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dengan sejumlah tokoh yang memiliki kedekatan dengan kubu politik pendukung Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

BEM Bersatu sebelumnya mengungkap dugaan bahwa kendaraan Toyota Fortuner yang digunakan Tiyo disebut terdaftar atas nama Siti Nuraeni yang disebut merupakan adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Nama Setyo Sularso kemudian dikaitkan dengan hubungan keluarga dengan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa yang diketahui pernah menjadi salah satu tokoh penting dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo.

Selain itu, muncul pula sorotan atas kehadiran politikus PDIP Andi Widjajanto di tengah massa aksi mahasiswa yang kemudian memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik.

“Bila benar ada irisan antara sejumlah tokoh yang memiliki afiliasi politik dengan figur-figur yang aktif dalam aksi mahasiswa, tentu masyarakat berhak meminta penjelasan. Transparansi penting agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan legitimasi moralnya,” ujar Ongen.

Menurutnya, gerakan mahasiswa memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa yang berdiri independen dari kepentingan partai politik. Karena itu, setiap dugaan adanya penetrasi kepentingan politik ke dalam gerakan mahasiswa harus dijelaskan secara terbuka agar tidak merusak kepercayaan publik.

Selain menyoroti dugaan keterkaitan sejumlah tokoh dengan aksi mahasiswa, Ongen juga menilai terdapat pola yang menarik di media sosial. Ia mengamati sejumlah kader dan simpatisan PDIP aktif mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui berbagai platform digital.

Menurut Ongen, salah satu figur yang paling sering menjadi perhatian publik adalah politikus PDIP Guntur Romli yang kerap menyampaikan kritik keras terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

“Tidak ada yang salah dengan kritik. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi ketika kritik dilakukan secara terus-menerus dengan narasi yang sama dan muncul bersamaan dengan berbagai aksi jalanan, tentu masyarakat akan menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya,” kata Ongen.

Ia mengatakan publik akhirnya bertanya-tanya apakah berbagai kritik yang berkembang merupakan ekspresi politik biasa atau bagian dari strategi oposisi yang lebih besar.

“Yang perlu dijaga adalah jangan sampai ruang demokrasi digunakan untuk menciptakan persepsi seolah-olah negara sedang berada dalam kondisi krisis permanen,” ujarnya.

Ongen juga menyoroti dinamika politik yang terjadi di Kota Malang terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, munculnya penolakan atau kritik terhadap program tersebut oleh sejumlah pihak perlu dilihat secara objektif. Namun, ia menilai publik juga berhak mengetahui latar belakang politik para tokoh yang terlibat dalam perdebatan tersebut.

Ia menyinggung fakta bahwa Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, merupakan kader PDIP.

“Publik berhak mengetahui konteks politik dari setiap perdebatan kebijakan. Ketika ada penolakan terhadap program strategis pemerintah, masyarakat tentu akan melihat apakah ada dimensi politik di dalamnya atau murni soal substansi kebijakan,” ujar Ongen.

Lebih lanjut, Ongen menyoroti pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang membela aksi mahasiswa saat memberikan pidato dalam acara peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026).

Menurut Ongen, pernyataan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang turut memicu perhatian publik terhadap hubungan antara gerakan mahasiswa dan elite politik.

Meski demikian, Ongen mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh dijadikan instrumen politik oleh kelompok mana pun. Ia menegaskan sejarah Indonesia menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa selalu dihormati karena keberaniannya menyuarakan kepentingan rakyat tanpa menjadi perpanjangan tangan kekuatan politik tertentu.

“Kalau mahasiswa mulai dipersepsikan sebagai alat partai, maka yang rugi bukan hanya mahasiswa, tetapi juga demokrasi Indonesia. Karena itu semua pihak harus menjaga independensi gerakan mahasiswa,” katanya.

Ongen berharap berbagai dugaan yang berkembang saat ini dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak terkait sehingga tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.

Menurutnya, transparansi merupakan cara terbaik untuk mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kalau memang tidak ada hubungan politik, jelaskan kepada publik. Kalau ada hubungan, juga harus jujur disampaikan. Yang terpenting adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi, gerakan mahasiswa, dan institusi politik itu sendiri,” pungkas Ongen.

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Yulian Paonganan atau yang akrab disapa Ongen, melontarkan kritik tajam kepada sejumlah tokoh yang belakangan vokal mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Melalui akun X (Twitter) @ongen_id, Ongen menyindir beberapa nama seperti Feri Amsari, Saiful Mujani, dan Said Didu yang dinilainya terlalu mudah membawa narasi “1998” dalam kritik politik saat ini.

Dalam cuitannya, Ongen menegaskan bahwa peristiwa Reformasi 1998 bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan.

“Reformasi 1998 itu bukan ujug-ujug pidato halal bihalal lalu tiba-tiba mahasiswa dan rakyat turun ke jalan. Itu butuh proses panjang sejak akhir 1980-an,” tulis Ongen, Minggu (12/4/2026).

Ia juga menyindir pihak-pihak yang menurutnya tidak terlibat langsung dalam gerakan reformasi, tetapi kini merasa paling memahami dinamika perjuangan saat itu.

“Kalian ini kebanyakan tiba-tiba merasa paling ‘98’. Aktivis jadi-jadian, koar-koar mau mengulang 1998, padahal saat itu bersembunyi,” sindirnya.

Lebih jauh, Ongen menyinggung perubahan sikap sebagian pengkritik yang dulu disebut-sebut justru mengkritik Joko Widodo (Jokowi) dan cenderung mendukung Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2014 dan 2019.

“Dulu para pengkritik Prabowo ini menghujat Jokowi dan cenderung berharap Prabowo menang pada 2014 dan 2019. Ketika Prabowo menang 2024, baru satu setengah tahun sudah dihujat,” lanjutnya.

Ia pun mempertanyakan motif kritik yang dilayangkan saat ini, bahkan menyinggung kemungkinan preferensi politik tertentu.

“Kalian ini maunya siapa yang jadi presiden? Apakah maunya Anies?” tulisnya, merujuk pada Anies Baswedan.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan Dr. Yulian Paonganan atau Ongen kembali menggugah kesadaran publik tentang makna sejati menjadi seorang aktivis. Dalam sebuah refleksi yang ia sampaikan, Ongen menegaskan bahwa seorang aktivis sejati tidak pernah merasa perlu mendeklarasikan dirinya sebagai aktivis, sebab pada akhirnya sejarahlah yang akan mencatat siapa yang benar-benar layak disebut aktivis.

“Menyandang predikat sebagai aktivis itu berat, sodara-sodara. Aktivis sejati tidak akan mau mendeklarasikan diri… tapi sejarah yang mencatat siapa aktivis sebenarnya,” ujar Ongen, eks tahanan politik/napol di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), Sabtu (23/8/2025).

Di tengah derasnya arus politik praktis dan klaim sepihak dari banyak pihak yang menyebut dirinya “aktivis”, pernyataan Ongen terasa relevan. Aktivisme, menurutnya, bukanlah sebuah gelar yang bisa dipajang atau dikapitalisasi demi kepentingan pribadi, melainkan konsekuensi dari perjuangan panjang, konsistensi, serta keberanian menghadapi risiko.

Aktivis, dalam sejarah Indonesia, selalu hadir di titik-titik kritis perjalanan bangsa: mulai dari gerakan mahasiswa era Orde Lama, perjuangan 1966, demonstrasi 1974, gerakan reformasi 1998, hingga berbagai aksi menuntut keadilan sosial di era demokrasi sekarang. Mereka yang benar-benar terjun ke jalan, berhadapan dengan aparat, bahkan rela kehilangan kebebasan, adalah wajah nyata aktivisme bukan sekadar klaim.

Sebagai eks Tapol/Napol, Ongen memiliki pengalaman langsung bagaimana predikat “aktivis” membawa konsekuensi berat. Ia pernah merasakan kurungan karena sikap kritisnya terhadap kebijakan pemerintah di masa Presiden Jokowi. Pengalaman itu meneguhkan pandangannya bahwa aktivisme sejati selalu dibayar mahal dengan pengorbanan kebebasan, rasa aman, bahkan masa depan.

Ongen menolak narasi aktivisme yang hanya berhenti pada pencitraan. Baginya, perjuangan seorang aktivis selalu tercatat, sekalipun ia sendiri tidak mengklaimnya. Sejarah dan masyarakatlah yang menilai.

Pernyataan Ongen juga bisa dibaca sebagai kritik tajam terhadap fenomena yang kini marak: munculnya “aktivis instan” atau “aktivis deklaratif” yang hanya mengandalkan panggung politik atau media sosial untuk menyebut dirinya aktivis.

Contoh paling mutakhir adalah mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel, yang selama ini lantang mengklaim dirinya sebagai bagian dari “aktivis 98”. Noel menempatkan diri seolah pejuang reformasi, namun ironisnya, kini ia justru terjerat kasus dugaan korupsi. Noel diduga terlibat dalam praktik perampokan uang negara, sebuah ironi yang mencoreng nama besar gerakan mahasiswa 1998.

Fenomena Noel menunjukkan bahwa klaim sebagai aktivis tidak menjamin integritas seseorang. Label “aktivis 98” yang sering ia gunakan ternyata justru runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan hukum. Bagi Ongen, hal ini menegaskan bahwa sejarah dan publiklah yang berhak menilai, bukan klaim sepihak.

Bila merujuk sejarah, banyak tokoh besar bangsa yang awalnya muncul dari gerakan aktivisme. Soe Hok Gie misalnya, tidak pernah mendeklarasikan dirinya aktivis, namun catatan sejarah mengenangnya sebagai simbol perlawanan mahasiswa terhadap ketidakadilan. Demikian juga dengan mahasiswa 1998, yang tanpa perlu klaim diri, tercatat sebagai pahlawan reformasi.

Hal inilah yang ditegaskan Ongen: aktivis sejati tidak pernah perlu menegaskan dirinya. Jejak langkah, keberanian, dan konsistensi mereka akan abadi dalam catatan sejarah bangsa.

Pernyataan Ongen sekaligus menjadi pesan renungan untuk generasi muda saat ini. Di era digital, ketika panggung aktivisme bisa dengan mudah diciptakan melalui gawai, perlu ada perbedaan jelas antara aktivisme sejati dengan aktivisme simbolik.

Generasi muda diingatkan agar tidak terjebak pada euforia label, melainkan membangun tradisi perjuangan yang nyata. Karena, sebagaimana dikatakan Ongen, hanya sejarah yang bisa memberi pengakuan otentik tentang siapa aktivis sejati – dan siapa yang hanya menjadikan label aktivis sebagai kendaraan politik atau alat memperkaya diri.