7 November 2026

Zita Anjani

MoneyTalk.id, Jakarta – Direktur Eksekutif Center for Budget Analisis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai posisi Zulkifli Hasan (Zulhas) sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) untuk periode 2024–2029 masih sangat kuat dan sulit digoyahkan oleh pihak luar.

Menurut Uchok, tidak ada kekuatan eksternal yang mampu menggeser kepemimpinan Zulhas di PAN. Ia mengibaratkan posisi Zulhas layaknya pohon tua yang memiliki akar sangat kuat sehingga tidak mudah dicabut.

“Kalau dari luar Partai PAN, tidak ada yang bisa menggoyangkan jabatan Ketua Umum PAN. Kedudukan Zulhas ibarat pohon tua yang akarnya menjerat kuat ke dalam tanah, aman dari gangguan orang luar,” kata Uchok dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).

Meski demikian, Uchok menilai tantangan terbesar bagi Zulhas justru berpotensi datang dari internal partai sendiri.

“Seperti pepatah lama, dinding paling kokoh sering kali bolongnya dari dalam. Kalau mau merebut takhta, jangan cari musuh di luar, cari saja di ruang rapat sendiri,” ujarnya.

Uchok kemudian menyebut nama Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, sebagai salah satu kader PAN yang dinilainya memiliki potensi besar apabila suatu saat ingin maju memperebutkan kursi Ketua Umum PAN.

Selain menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Trenggono juga merupakan Wakil Ketua Umum DPP PAN sekaligus Ketua DPW PAN Jawa Tengah.

Menurut Uchok, Trenggono memiliki sejumlah modal politik yang dinilai kuat, mulai dari jejaring sosial hingga kemampuan finansial.

“Trenggono punya modal sosial dan kekayaan. Itu menjadi amunisi yang sulit ditandingi apabila suatu saat terjadi kontestasi kepemimpinan di PAN,” katanya.

Sebagai gambaran, Uchok mengacu pada data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang menunjukkan total kekayaan Trenggono mencapai sekitar Rp2,97 triliun.

Sementara itu, lanjutnya, berdasarkan data LHKPN, kekayaan Zulhas tercatat sekitar Rp59 miliar. Uchok juga menyinggung laporan harta kekayaan putri Zulhas, Zita Anjani, yang menurutnya mencapai sekitar Rp109,32 miliar.

“Dari segi harta kekayaan saja, Zulhas tidak mampu mengimbangi Sakti Wahyu Trenggono. Bahkan jika digabung dengan kekayaan Zita Anjani sekalipun, nilainya masih jauh di bawah Trenggono,” ucapnya.

Meski memiliki modal besar, Uchok menilai Trenggono bukan sosok yang akan bergerak secara terbuka.

“Trenggono itu orang Jawa, pintar memainkan strategi. Bukan tipe yang berteriak-teriak seperti gaya lama. Ia bekerja senyap, menghitung waktu, menunggu momentum yang tepat. Saat semua orang baru sadar, bisa saja namanya sudah tercetak sebagai Ketua Umum PAN,” pungkas Uchok.

Hingga berita ini ditulis, tidak terdapat pernyataan dari pihak PAN, Zulkifli Hasan, maupun Sakti Wahyu Trenggono terkait pandangan yang disampaikan Uchok Sky tersebut.

MoneyTalk.id,Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, melontarkan kritik tajam terhadap meningkatnya kekayaan sejumlah petinggi Partai Amanat Nasional (PAN).

Kritik tersebut disampaikan melalui akun media sosial X miliknya pada Selasa, 17 Juni 2026.

Selamat ya — “sukses” buat PAN meningkatkan kekayaan pimpinannya sebagai pejabat negara, kata Muhammad Said Didu

Soroti Sejumlah Pemberitaan

Dalam unggahannya, Said Didu menyoroti beberapa pemberitaan media mengenai lonjakan harta kekayaan para pejabat yang berasal dari PAN.

Beberapa judul pemberitaan yang ia kutip antara lain:

1. “Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun”

2. “Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun”

3. “Harta Menteri dari PAN Dudy Purwagandhi Melonjak Rp35 Miliar dalam Dua Tahun”

4. “Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun”

Respons Warganet Beragam

Unggahan Said Didu tersebut langsung menuai beragam respons dari warganet. Sebagian mendukung kritik tersebut dan meminta transparansi lebih lanjut mengenai sumber kenaikan kekayaan para pejabat, sementara sebagian lainnya menilai peningkatan harta tidak selalu identik dengan penyalahgunaan jabatan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari PAN maupun para pejabat yang disebut dalam unggahan tersebut.

Sebagai informasi, data kekayaan pejabat negara umumnya dilaporkan melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dikelola oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

MoneyTalk, Jakarta – Entah apa yang ada di kepala Zita Anjani. Namanya, yang kini menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, mendadak jadi perbincangan. Bukan karena prestasi, melainkan karena ketidakhadirannya.

Unpad, salah satu kampus terbaik di Indonesia, sudah menyiapkan segalanya: seminar, mahasiswa, panitia. Semua siap menyambut Zita, sang tamu istimewa.

Bukan persiapan satu atau dua hari. Panitia sudah berbulan-bulan bolak-balik berkoordinasi. Bahkan ketika Zita meminta format acara diubah dari luring menjadi daring, mereka turuti. Sesi tanya jawab pun dihapus demi menyesuaikan keinginannya. Namun, Zita tidak datang.

Seminar molor, panitia kalang kabut, peserta kecewa. Padahal waktu itu sangat berharga waktu yang tak bisa dibeli. Yang lebih mengherankan, di saat bersamaan Zita justru mengunggah foto-foto aktivitasnya di gym. Publik marah. Wajar saja. Bagaimana mungkin seorang pejabat yang sudah berjanji, justru mengkhianati janjinya sendiri?

Zita kemudian membuat klarifikasi dan permintaan maaf yang bertebaran di media sosial. Katanya, foto-foto itu hanya “latepost” dan jadwalnya padat.

Tapi alasan itu menimbulkan pertanyaan lain: jika jadwal begitu padat, mengapa masih sempat mengunggah foto di media sosial? Dari sekian banyak agenda, mengapa seminar di kampus di depan para calon pemimpin masa depan justru yang diabaikan?

Ini bukan sekadar soal Zita Anjani. Ini soal etika, profesionalisme, dan tanggung jawab. Jabatan Utusan Khusus Presiden bukanlah jabatan main-main. Di baliknya ada nama Presiden, ada harapan rakyat.

Ketika seorang pejabat tidak menghargai waktu orang lain dan institusi pendidikan, itu berarti ia tidak menghargai jabatannya sendiri. Lebih fatal lagi, ia mengabaikan kepercayaan publik.

Mungkin sudah saatnya kita meninjau kembali: apakah jabatan-jabatan seperti ini masih relevan? Atau jangan-jangan hanya tempelan untuk kepentingan pencitraan?

Zita memang sudah meminta maaf. Tapi, apakah maaf itu cukup? Publik kini lebih cerdas. Mereka tidak hanya menilai kata-kata, tetapi juga perbuatan.

Seharusnya, seorang pemimpin datang ketika janji sudah terucap. Karena kehormatan seorang pemimpin terletak pada kata-katanya.

Penulis : ET Hadi Saputra (Alumni Warung Bu Tatang Fikom Unpad Sekeloa)

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nicho Silalahi menyoroti tindakan Zita Anjani, putri Ketua Umum PAN sekaligus Utusan Presiden Bidang Pariwisata, yang mendadak membatalkan kehadiran sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Magister (Magpar) Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 26 Juni 2025. Nicho menilai perilaku tersebut mencederai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan meminta presiden segera mengevaluasi bahkan memecat Zita.

Menurut Nicho, sikap Zita yang membatalkan agenda kampus secara tiba-tiba dan di saat yang sama terlihat berolahraga di gym berpotensi menimbulkan kekecewaan publik dan “amuk massa”.

“Saat ini pejabat publik di sorot masyarakat melalui media sosial,” papar Nicho, Jumat (12/9/2025).

Menanggapi sorotan tersebut, Zita Anjani menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagramnya, Jumat (12/9/2025). Ia mengakui keputusan membatalkan secara mendadak merupakan kesalahan dirinya dan tim.

“Keputusan membatalkan secara mendadak adalah kekeliruan saya dan tim. Saat itu saya sudah berada dalam agenda lain yang dimulai sebelum acara kampus berlangsung, namun ternyata tidak selesai sesuai rencana,” tulis Zita.

Zita juga mengklarifikasi unggahan dirinya di gym yang menimbulkan kesalahpahaman. “Adapun unggahan saya setelahnya yang menimbulkan salah paham, yaitu saya berada di gym, merupakan late post yang telah dijadwalkan sebelumnya,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak berniat menyepelekan undangan Unpad dan memahami kekecewaan banyak pihak. “Saya memahami bagaimana itu bisa memicu persepsi yang keliru. Oleh karenanya saya mohon maaf,” pungkasnya.