MoneyTalk.id,Jakarta – Tidak semua pemimpin mampu membuat orang lain memahami gagasannya. Ada yang berbicara panjang lebar, tetapi meninggalkan kebingungan. Ada pula yang menyampaikan sesuatu dengan bahasa sederhana, runtut, dan tertata, hingga orang yang mendengarnya spontan mengangguk karena merasa mengerti.
Arief Nasrudin termasuk sosok yang memiliki kemampuan tersebut.
Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya (PAM JAYA) ini dikenal mampu menyampaikan pemikiran dengan bahasa yang mudah dipahami. Tutur katanya teratur, penjelasannya mengalir, dan gagasannya disampaikan tanpa harus dibungkus istilah-istilah rumit.
Namun, di balik sosok eksekutif yang kini memimpin salah satu perusahaan daerah strategis di Ibu Kota, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu berada di ruang rapat, meja direksi, atau lingkungan birokrasi.
Kariernya bermula dari dunia perbankan, berlanjut ke lorong-lorong supermarket, berkembang menjadi pimpinan perusahaan swasta, kemudian membawanya ke lingkungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta.
Ada satu sisi lain yang menarik dari Arief. Di tengah kesibukan mengelola perusahaan dan menjalankan tanggung jawab publik, ia dikenal sebagai pribadi religius yang gemar berbagi. Kebaikan itu, menurut penuturan orang-orang yang mengenalnya, tidak selalu diumumkan atau dipertontonkan.
Ia disebut memiliki kebiasaan menyantuni anak-anak yatim tanpa menjadikannya bahan publikasi.
Sebuah sikap yang memperlihatkan bahwa kepemimpinan, baginya, tidak hanya berkaitan dengan jabatan dan pencapaian, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama.
Arief Nasrudin lahir di Jakarta pada 26 November 1972. Ia bukan sosok yang tiba-tiba muncul di puncak kepemimpinan perusahaan daerah. Jejak profesionalnya memperlihatkan proses panjang, dimulai dari pekerjaan operasional hingga dipercaya menduduki posisi strategis.
Karier profesionalnya diawali di Lippo Bank melalui program pengembangan manajemen. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami dunia korporasi, kedisiplinan organisasi, serta bagaimana sebuah perusahaan dijalankan.
Pada Februari 1996, Arief bergabung dengan PT Hero Supermarket Tbk sebagai Assistant Store Manager di Hero Cilegon.
Posisi tersebut mungkin terdengar jauh dari dunia pelayanan air minum yang kini menjadi tanggung jawabnya. Namun, dari lingkungan ritel itulah ia memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan operasional, pelayanan konsumen, kepemimpinan tim, dan dinamika bisnis yang berhadapan dengan kebutuhan masyarakat setiap hari.
Perjalanan kariernya di Hero Group berlangsung hampir dua dekade. Ia menapaki sejumlah posisi penting, mulai dari Regional Operation Manager pada 2007 hingga 2011, kemudian Chief Operating Director Giant Supermarket Indonesia pada 2011 hingga Agustus 2013.
Pada September 2013, ia dipercaya menjadi Learning and Development Director Hero Group hingga Agustus 2014.
Perjalanan tersebut memperlihatkan perkembangan karier yang bertahap. Dari mengelola operasional sebuah gerai, Arief kemudian dipercaya menangani wilayah yang lebih luas, memimpin organisasi, hingga mengembangkan sumber daya manusia di tingkat perusahaan.
Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia kepemimpinan yang lebih kompleks.
Dari Bisnis Ritel ke Dunia Penerbangan
Pada Agustus 2014, Arief melanjutkan kariernya di PT Cardig Aero Services Tbk. Ia menjabat sebagai Chief Operating Officer atau Group Operation Food Solution Director hingga April atau Mei 2016, sebagaimana tercatat dalam riwayat karier perusahaan.
Perpindahan ini memperluas pengalamannya dari industri ritel menuju sektor jasa yang memiliki karakter operasional berbeda.
Dunia bisnis mengajarkannya bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh perencanaan di atas kertas. Ada manusia yang harus digerakkan, sistem yang harus dijalankan, serta pelayanan yang harus dijaga kualitasnya.
Pengalaman tersebut kelak menjadi bagian dari modal kepemimpinannya di lingkungan BUMD.
Enam Tahun Memimpin Pasar Jaya
Tahun 2016 menjadi titik perubahan penting dalam perjalanan hidup Arief Nasrudin.
Ia meninggalkan dunia korporasi swasta dan memasuki lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta setelah dipercaya menjadi Direktur Utama Perumda Pasar Jaya.
Pasar Jaya bukan perusahaan biasa. Di dalamnya terdapat denyut kehidupan ekonomi masyarakat Jakarta. Pasar tradisional menjadi tempat bertemunya pedagang, pembeli, pemasok, dan berbagai kelompok masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada aktivitas perdagangan.
Memimpin perusahaan tersebut membutuhkan pemahaman mengenai bisnis sekaligus kepekaan terhadap persoalan sosial.
Arief menjalankan tugas itu selama sekitar enam tahun, hingga 2022.
Pengalaman memimpin Pasar Jaya menjadi babak penting yang mempertemukannya dengan karakter pelayanan publik. Jika di sektor swasta ukuran keberhasilan perusahaan banyak dikaitkan dengan kinerja bisnis, di lingkungan BUMD terdapat tanggung jawab tambahan, yakni memastikan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sinilah perjalanan Arief mulai memasuki wilayah yang lebih luas daripada sekadar pengelolaan korporasi.
Menjaga Air untuk Jakarta
Pada 14 Juli 2022, Arief Nasrudin dipercaya menjadi Direktur Utama PAM JAYA.
Penugasan tersebut menghadirkan tantangan yang berbeda dari pengalaman sebelumnya. Air bukan komoditas biasa. Ia merupakan kebutuhan dasar yang menyentuh kehidupan setiap rumah tangga.
Di balik keran yang dibuka masyarakat, terdapat sistem pengelolaan yang rumit, mulai dari sumber air baku, pengolahan, jaringan distribusi, hingga pelayanan pelanggan.
Arief sendiri pernah mengakui bahwa perpindahan dari pengelolaan komoditas pangan ke sektor air minum merupakan tantangan tersendiri karena latar belakang profesionalnya bukan bidang teknik.
Pengakuan itu memperlihatkan sisi manusiawi seorang pemimpin. Tidak semua penugasan datang dari bidang yang sepenuhnya dikuasai sejak awal. Ada proses belajar, penyesuaian, dan kemampuan membangun kerja sama dengan orang-orang yang memiliki keahlian berbeda.
Sebagai Direktur Utama PAM JAYA, ia harus memimpin organisasi yang bekerja di persimpangan antara kebutuhan masyarakat, keberlanjutan perusahaan, dan tanggung jawab pemerintah daerah.
Air yang mengalir ke rumah warga mungkin terlihat sederhana. Namun, memastikan aliran tersebut tersedia dan terkelola dengan baik membutuhkan kerja kolektif yang tidak sederhana.
Di situlah tantangan kepemimpinan Arief berada.
Perjalanan Arief tidak hanya ditandai oleh pengalaman kerja. Ia juga menempuh pendidikan lintas disiplin, mulai dari ekonomi, hukum, kesejahteraan sosial, hingga pemerintahan dan kajian strategis.
Berdasarkan Laporan Tahunan PAM JAYA 2023 dan 2024, riwayat pendidikan formalnya mencakup:
-Sarjana Ekonomi dari Universitas Perbanas, 2012.
-Sarjana Hukum Syariah dari Universitas Islam Bandung, 2013.
-Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial, tercatat pada laporan 2023.
-Pascasarjana Ketahanan Nasional Universitas Indonesia, 2023.
-Magister Terapan Studi Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2023.
-Program Doktor Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia.
-Program Doktor Ilmu Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
Dua program doktor tersebut tercatat masih berlangsung dalam laporan tahunan yang tersedia. Status penyelesaiannya perlu dikonfirmasi melalui pembaruan akademik terbaru.
Riwayat pendidikan tersebut memperlihatkan minat Arief terhadap berbagai bidang ilmu. Ekonomi dan hukum memberikan landasan untuk memahami tata kelola organisasi, sementara kesejahteraan sosial, ketahanan nasional, serta ilmu pemerintahan memperluas cakrawala pemikirannya mengenai hubungan antara institusi dan masyarakat.
Bagi seorang pemimpin BUMD, pengetahuan semacam ini memiliki relevansi tersendiri. Sebab, perusahaan daerah tidak berdiri terpisah dari persoalan sosial, kebijakan publik, dan kepentingan warga.
*Religiusitas yang Tidak Selalu Memerlukan Panggung*
Ada sisi Arief Nasrudin yang tidak tercantum dalam laporan tahunan perusahaan, tetapi menarik untuk dikenali lebih dekat.
Di tengah aktivitasnya sebagai eksekutif, ia dikenal sebagai pribadi religius. Orang-orang yang mengenalnya menuturkan bahwa ia memiliki kepedulian terhadap anak-anak yatim dan kerap memberikan santunan tanpa menjadikannya konsumsi publik.
Tidak ada panggung, tidak pula tuntutan agar kebaikan tersebut diketahui banyak orang.
Kisah seperti ini menghadirkan dimensi berbeda dalam membaca perjalanan seorang pemimpin. Di tengah dunia yang semakin akrab dengan pencitraan dan publikasi, tindakan berbagi yang dilakukan tanpa sorotan mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan tidak selalu membutuhkan pengakuan.
Tentu, ukuran kepemimpinan publik tetap harus dilihat dari kinerja, integritas, transparansi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Namun, nilai-nilai personal seperti kepedulian dan kerendahan hati dapat menjadi bagian dari karakter yang membentuk cara seseorang menjalankan tanggung jawabnya.
Pada diri Arief, sisi religius tersebut menjadi bagian dari cerita tentang seorang manusia yang menjalani dua ruang kehidupan: tanggung jawab profesional dan kewajiban moral terhadap sesama.
Salah satu hal yang menarik dari Arief adalah cara menyampaikan gagasan.
Ia mampu menjelaskan persoalan dengan runtut dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Pendengar tidak harus memiliki latar belakang teknis atau pengetahuan mendalam mengenai perusahaan untuk mengikuti alur penjelasannya.
Kemampuan berkomunikasi seperti ini penting dalam kepemimpinan perusahaan pelayanan publik. Sebab, keberhasilan sebuah organisasi tidak cukup diukur dari apa yang dikerjakan di dalam kantor. Masyarakat juga perlu memahami arah kebijakan, persoalan yang dihadapi, dan hasil yang hendak dicapai.
Bahasa yang sederhana dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan pemahaman publik.
Namun, kesederhanaan dalam berbicara bukan berarti menyederhanakan persoalan. Justru, kemampuan menjelaskan hal rumit dengan bahasa yang mudah dipahami menuntut penguasaan substansi dan ketepatan dalam menyampaikan pesan.
Di tengah berbagai tantangan pelayanan air minum Jakarta, komunikasi yang terbuka menjadi salah satu unsur penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Dari Lippo Bank, Hero Supermarket, Cardig Aero Services, Perumda Pasar Jaya, hingga PAM JAYA, perjalanan Arief Nasrudin memperlihatkan lintasan karier yang panjang dan beragam.
Ia memulai dari posisi operasional, tumbuh menjadi eksekutif korporasi, kemudian memasuki dunia pelayanan publik dan dipercaya memimpin dua BUMD strategis di Jakarta.
Namun, jabatan bukanlah akhir dari perjalanan. Kepemimpinan di perusahaan daerah selalu berhadapan dengan tuntutan yang terus berkembang, terutama ketika menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Bagi Arief, tantangan itu kini bernama air. Sesuatu yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memiliki arti besar bagi jutaan warga Jakarta.
Dan mungkin, di luar semua angka, target, rapat, serta keputusan perusahaan, ada satu hal yang membuat kisahnya menarik untuk ditelusuri: seorang pemimpin yang berbicara dengan bahasa sederhana, menapaki karier melalui proses panjang, dan menurut orang-orang terdekatnya, tetap berusaha menjaga ruang kebaikan dalam kehidupan pribadi.
Sebab, pada akhirnya, perjalanan seorang pemimpin tidak hanya ditulis oleh jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga oleh jejak yang ditinggalkan bagi orang lain.





