Oreo Disorot: 3 Keping Biskuit, 14 Gram Gula, Lebih dari Separuh Batas Ideal WHO

  • Bagikan
Oreo Disorot: 3 Keping Biskuit, 14 Gram Gula, Lebih dari Separuh Batas Ideal WHO
Oreo Disorot: 3 Keping Biskuit, 14 Gram Gula, Lebih dari Separuh Batas Ideal WHO

MoneyTalk.id,Jakarta – Biskuit Oreo yang selama ini dikenal sebagai camilan populer kembali menarik perhatian dari sisi kandungan gula. Di balik rasa manis dan tekstur krim cokelatnya, tiga keping Oreo Original mengandung 14 gram gula, berdasarkan informasi nutrisi yang dipublikasikan secara resmi oleh OREO.

Dalam informasi produk tersebut, ukuran satu porsi Oreo adalah tiga keping atau sekitar 34 gram. Setiap porsi mengandung 160 kalori, 25 gram karbohidrat, 7 gram lemak, 2 gram lemak jenuh, 130 miligram natrium, serta 14 gram gula dan 14 gram gula tambahan.

Angka 14 gram gula itu menjadi penting apabila dibandingkan dengan rekomendasi kesehatan mengenai konsumsi gula harian.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan agar konsumsi free sugars dibatasi kurang dari 10 persen total energi harian. WHO juga menyatakan bahwa pembatasan hingga sekitar 5 persen atau 25 gram per hari dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Dengan menggunakan angka 25 gram sebagai batas tambahan tersebut, tiga keping Oreo yang mengandung 14 gram gula setara sekitar 56 persen dari angka 25 gram.

Artinya, tiga keping Oreo saja sudah mengambil porsi cukup besar dari asupan gula harian yang dianjurkan untuk dibatasi tersebut. Padahal, konsumsi gula seseorang tidak hanya berasal dari biskuit, tetapi juga bisa berasal dari teh manis, kopi dengan gula, minuman kemasan, roti, kue, permen, saus, dan berbagai makanan olahan lainnya.

Bukan Berarti Oreo Langsung Berbahaya

Meski demikian, data tersebut tidak berarti mengonsumsi Oreo otomatis menyebabkan penyakit.

Yang menjadi perhatian adalah jumlah dan frekuensi konsumsi, serta keseluruhan pola makan seseorang.

WHO menjelaskan bahwa konsumsi free sugars yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Konsumsi gula yang lebih rendah juga dikaitkan dengan risiko karies gigi yang lebih rendah.

WHO dalam pedoman pola makan sehat terbaru juga menekankan pentingnya moderasi, keberagaman makanan, serta membatasi makanan yang tinggi gula bebas, lemak tidak sehat, dan natrium.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang boleh makan Oreo atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah berapa banyak dan seberapa sering biskuit tersebut dikonsumsi.

Bagaimana dengan Pengawet?

Isu lain yang kerap muncul ketika membahas makanan kemasan adalah pengawet.

Pada daftar bahan Oreo Original yang dipublikasikan di situs resmi OREO, tercantum antara lain tepung gandum, gula, minyak sawit, minyak kedelai dan/atau minyak kanola, kakao, high fructose corn syrup, bahan pengembang, garam, lesitin kedelai, cokelat dan perisa buatan. Pengawet tidak tercantum sebagai bahan tersendiri dalam daftar tersebut.

Karena itu, tudingan bahwa Oreo Original mengandung “banyak pengawet berbahaya” tidak dapat disimpulkan hanya dari daftar bahan resmi tersebut.

Formula produk juga dapat berbeda menurut negara dan jenis produk. Konsumen sebaiknya memeriksa langsung komposisi serta Informasi Nilai Gizi pada kemasan Oreo yang dibeli.

BPOM Dorong Masyarakat Membaca Label

Perhatian terhadap kandungan gula pada pangan olahan juga sejalan dengan kebijakan pemerintah.

BPOM pada April 2026 menyatakan mendukung pembatasan konsumsi gula, garam dan lemak sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit tidak menular. BPOM juga memperkenalkan kebijakan Nutri-Level pada pelabelan bagian depan kemasan untuk membantu masyarakat mengenali kandungan gula, garam dan lemak pada pangan olahan.

Dalam sistem tersebut, produk akan dikategorikan dari A sampai D. Level yang lebih rendah kandungan gula, garam dan lemaknya berada pada kategori yang lebih baik, sedangkan kategori D menunjukkan produk yang perlu dibatasi sesuai kebutuhan atau kondisi kesehatan. BPOM menegaskan bahwa sistem tersebut merupakan panduan bagi konsumen, bukan larangan mengonsumsi suatu produk.

BPOM juga mengimbau masyarakat membiasakan membaca Informasi Nilai Gizi sebelum membeli dan mengonsumsi pangan olahan agar terhindar dari konsumsi gula, garam dan lemak secara berlebihan.

Jangan Hanya Salah Menilai Satu Produk

Data kandungan gula Oreo tersebut sebaiknya dilihat dalam konteks pola makan sehari-hari.

Jika seseorang mengonsumsi tiga keping Oreo sesekali sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, angka 14 gram gula tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa orang tersebut akan mengalami gangguan kesehatan.

Sebaliknya, jika biskuit manis dikonsumsi berkali-kali dalam sehari dan ditambah minuman berpemanis, permen, kue serta makanan tinggi gula lainnya, akumulasi gula dapat menjadi persoalan.

Bahkan, BPOM menyebut konsumsi gula, garam dan lemak melebihi anjuran sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko penyakit tidak menular.

Karena itu, Oreo lebih tepat ditempatkan sebagai camilan manis yang perlu dikonsumsi secara bijak, bukan serta-merta dicap sebagai makanan berbahaya.

Bagi konsumen, terutama orang tua yang memberikan camilan kepada anak, angka pada label justru menjadi informasi penting. Tiga keping mungkin terlihat sedikit, tetapi berdasarkan label resmi, jumlah tersebut sudah mengandung 14 gram gula.

Jadi, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak makan Oreo”, melainkan seberapa sering, berapa banyak, dan berapa besar total gula yang dikonsumsi sepanjang hari.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *