7 November 2026

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai kebijakan penghapusan tantiem bagi direksi dan komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dan Kepala Danantara Rosan Perkasa Roeslani hanya sebatas wacana atau “omon-omon” belaka.

Pasalnya, menurut Uchok, masih ada BUMN sektor perbankan yang tetap memberikan tantiem bernilai fantastis kepada direksi dan komisarisnya.

“Pernyataan Presiden Prabowo dan Rosan Perkasa Roeslani hanya omon-omon saja. Ada BUMN perbankan yang tidak menjalankan perintah Presiden dan Danantara tersebut,” kata Uchok Sky dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan menghapus tantiem untuk jajaran komisaris dan direksi BUMN karena menilai banyak praktik yang tidak masuk akal di perusahaan pelat merah. Menurutnya, ada perusahaan yang merugi namun memiliki komisaris terlalu banyak.

Kepala Danantara Rosan Perkasa Roeslani juga memastikan kebijakan penghapusan tantiem bagi komisaris dan direksi BUMN telah berjalan. Hal itu disampaikan Rosan dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen pada 19 Agustus 2025.

Namun, Uchok menilai fakta di lapangan justru berbeda. Ia menyoroti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang masih mengalokasikan tantiem bagi direksi dan komisaris.

Menurut data yang ditemukan CBA dalam laporan keuangan BRI tahun 2025, perusahaan masih memberikan tantiem kepada direksi sebesar Rp181 miliar dan tantiem kepada dewan komisaris sebesar Rp12,4 miliar.

“Angka yang bikin rakyat biasa pusing menghitung nol-nya,” sindir Uchok.

Uchok juga menyoroti Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, yang dinilai tidak menjalankan arahan Presiden dan Danantara terkait penghapusan tantiem.

“Dari data tantiem di atas, sepertinya Direktur Utama BRI Hery Gunardi hanya mau mendengar perintah Presiden saja. Dan tidak menjalankan lantaran belum tentu Presiden Prabowo dan Rosan bisa membaca laporan keuangan BRI,” ujarnya.

Menurut Uchok, kebijakan penghapusan tantiem seolah hanya berlaku bagi BUMN lain, sementara di BRI praktik tersebut tetap berjalan seperti biasa.

“Buat Hery Gunardi aturan itu hanya cuma kata-kata Rosan saja. Dan perintah Presiden Prabowo cuma arahan umum. Kebijakan penghapusan tantiem itu seolah cuma berlaku untuk BUMN yang lain saja. Kalau BRI, ya jalan terus seperti biasa,” tegasnya.

Ia juga mengkritik gaya kepemimpinan manajemen BRI yang dinilai bertolak belakang dengan arahan pemerintah.

“Benar-benar gaya kepemimpinan yang unik di manajemen BRI ini. Mendengar perintah, mengangguk hormat, lalu diam-diam melakukan hal sebaliknya. Yang bikin heran, bagaimana mungkin pembangkangan seterang ini bisa terjadi di badan usaha milik negara tanpa ada yang menegur dan tanpa ada yang memprotes,” katanya.

Selain tantiem, Uchok mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 BRI juga mengeluarkan anggaran gaji dan tunjangan direksi mencapai Rp240,8 miliar serta gaji dan tunjangan dewan komisaris sebesar Rp80,2 miliar.

Tak hanya itu, perusahaan juga mengalokasikan bonus dan insentif manajemen kunci sebesar Rp396,3 miliar.

Uchok menilai kondisi tersebut menunjukkan belum adanya keseriusan dalam melakukan efisiensi di tubuh BUMN, khususnya sektor perbankan pelat merah.

MoneyTalk, Jakarta – Panggung politik nasional kembali memanas setelah mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, secara terbuka melancarkan serangan tajam yang ditujukan langsung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Melalui pernyataan kerasnya, Said Didu bertekad untuk membongkar apa yang ia sebut sebagai “kebohongan” pemerintah terkait dua aset strategis negara, PT Freeport Indonesia dan Blok Rokan.

Pernyataannya yang provokatif ini pertama kali dilontarkan melalui akun media sosial X miliknya, yang dengan cepat menarik perhatian publik.

“Saatnya semua kebohongan Jokowi kita bongkar,” tulis Said Didu dalam unggahannya di X, Rabu (22/10/2025).

Tidak berhenti di situ, Said Didu mengelaborasi tudingannya dalam sebuah siniar di kanal YouTube Keadilan TV. Ia secara spesifik membantah narasi yang selama ini digaungkan oleh pemerintah, bahwa negara di bawah kepemimpinan Jokowi telah berhasil mengambil alih tambang emas terbesar di Papua itu.

“Dia selalu mengatakan, dia berhasil mengambil Freeport. Tidak pernah negara mengambil Freeport,” tegas Said Didu.

Menurutnya, fakta yang terjadi bukanlah pengambilalihan oleh negara, melainkan sebuah aksi korporasi murni yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menjelaskan bahwa BUMN yang ditugaskan saat itu hanya membeli sebagian saham milik mitra Freeport, bukan merebut kendali penuh dari tangan asing secara cuma-cuma.

“BUMN membeli saham Rio Tinto yang ada di Freeport,” jelasnya.

Said Didu menilai, narasi pengambilalihan ini sengaja dibangun untuk memoles citra Presiden Jokowi agar terlihat hebat di mata publik.

“Itulah hebatnya Jokowi berbohong,” sambung pria asal Pinrang, Sulawesi Selatan tersebut.

Kritik tajamnya tidak berhenti pada Freeport. Said Didu juga menyoroti klaim pemerintah terkait Blok Rokan, wilayah kerja minyak dan gas (migas) raksasa di Riau. Sama seperti Freeport, ia membantah keras narasi bahwa negara berhasil merebut kembali Blok Rokan berkat upaya Jokowi.

“Dia selalu menyatakan bahwa dia berhasil mengambil Blok Rokan. Tidak pernah negara mengambil blok Rokan,” ucapnya.

Said Didu memaparkan bahwa kembalinya Blok Rokan ke pangkuan Indonesia adalah sebuah keniscayaan hukum yang tidak bisa dihindari. Hal itu terjadi karena kontrak pengelolaan dengan operator sebelumnya, Chevron, memang telah berakhir.

“Blok Rokan itu habis masa kontraknya, sesuai Undang-Undang,” ujarnya.

Saking yakinnya bahwa proses itu berjalan otomatis, ia melontarkan kalimat satire yang sangat menohok. Menurutnya, siapa pun presidennya, Blok Rokan pasti akan kembali ke Indonesia sesuai amanat regulasi.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan pedas datang dari Benix, kreator konten ekonomi yang kerap melontarkan kritik tajam terhadap pengelolaan keuangan negara. Dalam kanal YouTube-nya pada Rabu (20/8/2025), ia membongkar skandal pembagian tantiem bonus bagi direksi dan komisaris BUMN yang justru membuat negara berpotensi merugi hingga Rp18 triliun per tahun.

Benix mempertanyakan logika di balik kebijakan Menteri BUMN yang mengizinkan perusahaan rugi tetap membagi tantiem.

“Kok bisa-bisanya ya perusahaan rugi masih bagi bonus? Apa landasan berpikirnya? Ini gila banget,” tegas Benix.

Ia mencontohkan bank-bank pelat merah seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI yang pertumbuhan laba hanya naik tipis (0,3–2%), tetapi bonus direksi dan komisaris justru meroket hingga 70–80%.

Bank Mandiri: Laba naik 1,3%, tapi tantiem direksi-komisaris tembus Rp1,3 triliun.

Bank BRI: Laba hanya tumbuh 0,36%, tapi bonus naik 61% jadi Rp900 miliar.

Bank BNI: Laba naik 2,7%, tapi bonus melonjak 82% jadi Rp576 miliar.

Bahkan, kata Benix, perusahaan yang jelas-jelas merugi seperti Wijaya Karya tetap bagi-bagi bonus miliaran rupiah.

Kritik keras itu ternyata sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2025 lalu, Prabowo menegaskan bahwa tantiem untuk BUMN rugi harus dihapus.

“Saya tidak mengerti apa arti tantiem itu. Itu akal-akalan saja. Komisaris sebulan rapat sekali, dapat Rp40 miliar setahun. Ini gila,” ujar Presiden.

Prabowo bahkan memerintahkan agar jumlah komisaris dipangkas, maksimal enam orang, untuk mengurangi pemborosan.

Data yang dikutip Benix menyebutkan, dengan menghapus tantiem dan bonus serupa, negara bisa menghemat Rp18 triliun per tahun. Uang sebesar itu, kata Benix, bisa digunakan untuk membangun ribuan sekolah, jembatan, atau memberi makan anak-anak kurang mampu.

“Bayangkan, rakyat masih banyak yang makan saja susah, tapi pejabat-pejabat BUMN pesta pora dengan puluhan miliar bonus tiap kepala. Ini pengkhianatan terhadap akal sehat,” ujarnya.

Peraturan BUMN yang Bermasalah,

Benix juga menyoroti Permen BUMN Nomor 3/2023, yang memungkinkan perusahaan rugi tetap memberi bonus asal kerugiannya tidak bertambah. Menurutnya, aturan itu jelas bertentangan dengan definisi tantiem dalam KBBI, yaitu bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada karyawan.

“Kalau perusahaannya rugi, berarti tidak ada keuntungan. Jadi logikanya apa bagi-bagi bonus?” kritiknya.

Untungnya, kata Benix, saat ini pemerintah membentuk Danantara, lembaga pengawas investasi negara. Lewat aturan baru yang diteken CEO Danantara Rosan Roeslani (30/7/2025), komisaris dan direksi BUMN dilarang menerima tantiem maupun insentif serupa.

“Ini langkah luar biasa. Kita bisa selamatkan uang negara puluhan triliun,” puji Benix.

Skandal tantiem membuka mata publik tentang bagaimana aliran uang negara selama ini kerap bocor di tangan elite BUMN. Benix menegaskan, bonus hanya pantas diberikan jika kinerja nyata terbukti membawa keuntungan signifikan bagi negara.

MoneyTalk,Jakarta  – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendampingi Presiden RI ke 8 Prabowo Subianto meresmikan Proyek Strategis Ketenagalistrikan di 18 Provinsi. Dimana dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/1/2025).

Selain Menteri BUMN Erick Thohir hadir pula menteri dari Kabinet Merah Putih, Menteri ESDM, Pak Bahlil Lahadalia dan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Pak Dody Hanggodo.

“26 pembangkit listrik yang diresmikan, Senin (20/1/2025) ini, 89% berasal dari energi hijau seperti dari air, gas, dan solar panel. Proyek ini akan menghasilkan 3,2 GigaWatt energi listrik dan kemungkinan besar menjadi salah satu peresmian energi terbesar di dunia,” jelas Erick Thohir dalam rilisnya, diterima wartawan senior Syafrudin Budiman, Selasa pagi (20/1/2025).

Menurut Erick Thohir BUMN melalui PT PLN berkomitmen dalam pengembangan energi hijau di tanah air, dengan memprioritaskan sumber energi baru dan terbarukan.

“Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju Indonesia sebagai negara mandiri. Terutama melalui swasembada energi sesuai dengan asta cita Bapak Presiden Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto,” pungkas Ketua Umum PSSI ini.

MoneyTalk,Jakarta – dr Jimmy Waworuntu adalah mertua dari Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, ST, MBA. Dimana Simon Aloysius Mantiri secara resmi menggantikan Nicke Widyawati sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero).

Langsung Simon ditunjuk oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada hari Senin, 4 November 2024.

Selain mengurus Minyak, sebaik Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri juga harus memperbaiki tata kelola kesehatan pekerja termasuk alat kesehatan (Alkes) dan obat obatan di Perusahaan Pertamina.

Disinyalir mafia kesehatan di Pertamina bisa disebut gila – gilaan. Para mafia umumnya bermain di Alat kesehatan dan obat obatan. Ada modus alat kesehatan yang diduga Mark up. Dan juga ada modus lainnya yang bertentangan dengan tata kelola perusahaan yang baik dan benar.

Gara gara mafia kesehatan bermain di Pertamina, yang menjadi tumbal pertama adalah dr Jimmy Waworuntu Mertua dari Direktur Utama Pertamina sendiri.

Dimana waktu itu, dr Jimmy bertugas di kesehatan Pertamina, dan oleh atasannya kemudian dipindahkan ke rumah sakit di Sorong. Dan Rumah sakit Sorong ini, dr Jimmy yang lugu dan polos dijebak oleh permainan canggih para mafia alat kesehatan dan Obat obatan.

Maka untuk itu, Direktur Eksekutif CBA(Center For Budget Analisis) Uchok Sky Khadafi meminta kepada Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri untuk segera membersihkan para mafia yang bermain di alat alat kesehatan dan obat obatan.

Jangan ada lagi korban atau tumbal seperti yang sudah dialami oleh dr Jimmy Waworuntu. Perusahaan Pertamina harus dibersihkan dari segala macam mafia termasuk mafia di bidang kesehatan dan obat obatan, ujar Uchok Sky

Para mafia ini harus disikat agar perusahaan Pertamina selalu dalam kinerja yang baik dan terganggu dalam memberikan pelayanan kepada rakyat dan negara,tutup Uchok Sky.