8 November 2026

Bajingan Tolol

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik Iyyas Subiakto melontarkan kritik keras terhadap sejumlah pihak yang menurutnya terus membela pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia bahkan menggunakan istilah kasar untuk menyindir pihak yang dinilainya terlalu membela program pemerintah tersebut.

Dalam pernyataannya, Iyyas menyebut sosok yang menurutnya kini mendapat julukan “bajingan tolol” adalah Rocky Gerung. Pernyataan itu disampaikan ketika Iyyas mengkritik argumen yang meminta guru maupun petugas di lapangan mencicipi makanan MBG sebagai bagian dari pengawasan keamanan pangan.

“Penyandang bajingan tolol saat ini adalah Rocky Gerung,” kata Iyyas dalam pernyataannya, Sabtu (19/9/2026).

Ia kemudian menyinggung seorang profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menurutnya pernah menyampaikan gagasan agar makanan MBG diperiksa dengan cara dicium atau dicicipi sebelum dikonsumsi.

“Sekarang ada orang-orang tolol seperti profesor dari IPB itu. Setiap guru disuruh nyium dulu, nyicipin dulu. Kemarin ada kepala SPPG juga nyicipin itu, mual perutnya,” ujar Iyyas.

Menurut dia, metode tersebut tidak realistis apabila diterapkan secara rutin kepada guru. Ia menggambarkan seorang guru yang harus memeriksa ribuan porsi makanan setiap hari.

“Guru setiap hari disuruh nyiumin 3.000 porsi. Begitu maksudnya, dicicipin seperti itu. Masuk porsi ke-10, ya sudah pingsan gurunya,” katanya.

Iyyas juga mempertanyakan kualitas argumentasi akademik yang menurutnya justru dapat mempermalukan kalangan intelektual ketika digunakan untuk membela kebijakan pemerintah tanpa membongkar persoalan utama.

“Ngomong seorang profesor kok jebol otaknya. Jadi malu-maluin saya,” ujarnya.

Iyyas kemudian mengaitkan perdebatan tersebut dengan Rocky Gerung. Menurut dia, pembelaan terhadap MBG seharusnya tidak berhenti pada upaya mempertahankan pelaksanaan program, tetapi harus menyentuh persoalan tata kelola, pengawasan, pembiayaan, serta efektivitas program.

Ia menilai persoalan MBG perlu dibedah dari akar masalahnya dan dilakukan pemetaan ulang berdasarkan karakteristik wilayah.

“Kalau kalian membela SPPG dengan cara yang seperti sekarang, tidak dibongkar akar masalahnya, sudah pasti tidak ada jalan keluar,” katanya.

Iyyas mengusulkan agar pengelolaan program dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi daerah.

“Di-breakdown saja, dikembalikan ke desa. Kalau itu mau diteruskan, saya pikir di-klaster ulang saja, di-mapping ulang,” ujarnya.

Menurut Iyyas, kebutuhan program juga seharusnya mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masing-masing daerah. Ia mempertanyakan pelaksanaan program dengan pola seragam di wilayah yang dianggap sudah memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

“Di daerah-daerah perkotaan yang memang sudah mampu, buat apa lagi MBG itu?” katanya.

Kritik Iyyas kemudian melebar pada persoalan anggaran negara. Ia mempertanyakan manfaat jangka panjang MBG apabila pelaksanaannya justru dibarengi tekanan terhadap fiskal.

Ia mengatakan manfaat peningkatan gizi memang membutuhkan waktu untuk terlihat, sementara konsekuensi anggaran dirasakan dalam jangka pendek.

“Mau dibilang jangka panjang ngasih gizi, hasilnya kalaupun itu bergizi semua, 20 tahun ke depan itu baru dapat apa hasilnya. Sementara yang jangka pendek apa? Utang kita yang bertambah, fiskal kita hancur dan sebagainya,” ujar Iyyas.

Iyyas juga menyoroti munculnya persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka bagaimana memastikan makanan yang didistribusikan benar-benar aman dikonsumsi.

“Duitnya habis, orang keracunan, hasilnya nggak jelas,” katanya.

Pernyataan tersebut merupakan kritik Iyyas terhadap pelaksanaan program dan bukan kesimpulan independen mengenai keseluruhan program MBG.

Iyyas selanjutnya mengkritik gaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mempertanyakan capaian pemerintahan yang menurutnya belum memberikan hasil yang cukup terasa bagi masyarakat.

Ia juga menyinggung kondisi antrean bahan bakar di sejumlah daerah. Iyyas menyebut antrean panjang yang diklaim mencapai beberapa kilometer sebagai tanda persoalan yang harus segera ditangani pemerintah.

“Sekarang antrean bensin, antrean solar. Lihat itu Makassar tujuh kilometer antre,” ujarnya.

Dalam pernyataan yang sama, Iyyas juga menyinggung Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia mempertanyakan keberadaan menteri tersebut ketika muncul persoalan distribusi bahan bakar.

“Bahlilnya mana itu?” kata Iyyas.

Namun, terkait video yang menurutnya memperlihatkan Bahlil menggunakan pesawat pribadi untuk bepergian bersama keluarga, Iyyas sendiri mengakui tidak mengetahui secara pasti kapan video tersebut dibuat.

“Video kapan saya nggak tahu. Tapi yang jelas sekarang Kalimantan Tengah, Makassar, sudah terasa,” ujarnya.

Karena itu, klaim mengenai waktu dan konteks video tersebut masih memerlukan verifikasi tersendiri.

Di bagian lain pernyataannya, Iyyas menegaskan bahwa pemerintah dipilih rakyat untuk mengelola negara, bukan untuk menganggap negara sebagai milik kelompok atau keluarga tertentu.

“Kalian itu dipilih rakyat itu untuk mengelola negara, bukan memiliki negara. Negara ini tetap miliknya rakyat, bukan milik kalian,” tegasnya.

Ia juga meminta pemerintah melakukan introspeksi terhadap kebijakan yang dinilainya menimbulkan keresahan publik.

“Coba berkaca, coba introspeksi, coba tafakur supaya kita sama-sama dapat solusi,” katanya.

Iyyas mengaku kritik tersebut bukan didorong kebencian pribadi terhadap Prabowo. Ia bahkan menyatakan pernah memberikan suara kepada Prabowo.

“Saya tidak pernah membenci seorang Prabowo Subianto karena saya ikut memilih. Tapi kalau perilakunya seperti ini, ini membuat sesak napas masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Iyyas, pemerintah masih memiliki waktu untuk memperbaiki pengelolaan negara hingga akhir masa pemerintahan.

Ia memperingatkan bahwa apabila persoalan ekonomi, energi, fiskal, dan program pemerintah tidak segera dibenahi, keresahan masyarakat dapat semakin besar.

“Jadi urusi dengan baik negara ini. Jangan kayak kalian punya negara sendiri. Negara ini kita punya bersama, bukan kalian yang punya,” pungkas Iyyas.

MoneyTalk, Jakarta – “Ada yang mengatakan saya tolol, gak apa-apa.”, “ada juga yang menyebut saya bajingan tolol, saya enggak mau menyebut ini siapa, tapi kalian sudah tahulah siapa”, demikian petikan pidato Prabowo Subianto di acara Harlah 102 NU kemarin. Prabowo kecewa dengan jajaran di kepemimpinannya yang sudah berkali-kali diingatkan masih belum faham. Namun, katanya, setelah 100 hari, jika masih bandel, ndablek dan tidak mengikuti aliran ideologis perjuangan rakyat, akan disingkirkannya.

Persoalan yang akan saya bahas di sini adalah soal “bajingan tolol”. Sebab, bajingan tolol adalah kosa kata yang hanya terkait seorang tokoh, yakni Rocky Gerung. Istilah ini hampir mengantarkan Rocky ke penjara beberapa waktu lalu.

Istilah Bajingan Tolol ini dialamatkan Rocky kepada Jokowi, ketika berbicara dihadapan para pemimpin buruh pimpinan Jumhur Hidayat saat lalu. Rocky mengatakan bahwa gerakan gerakan buruh hanya bisa mendapatkan keadilan dari jalanan. Maka, Rocky mendukung rencana aksi sejuta buruh saat itu untuk menuntut penghapusan UU Omnibuslaw Ciptaker dan tuntutan lainnya. “Duduki jalan-jalan, jalan tol, pabrik-pabrik”, dorong Rocky. Lalu Rocky mengatakan bahwa mengharap pemerintah saat itu, di bawah rezim Jokowi, tidak mungkin. Karena, menurutnya, Jokowi hanya peduli dengan dirinya sendiri, keluarga dan keturunannya. Jokowi tidak peduli dengan nasib bangsa dan buruh. Jokowi adalah Bajingan Tolol, kata Rocky.

Potongan video acara itu, dihadapan buruh pimpinan Jumhur Hidayat, viral. Berbagai pimpinan PDIP menggerakkan orang-orang mengejar Rocky dan melaporkan Rocky ke polisi. Bahkan, ketika di kantor polisi, aktifis perempuan PDIP Vina Bule, melabrak Rocky dan memaki-maki dia. Semua ini dilakukan jajaran PDIP karena begitu cintanya pada Jokowi.

Jajaran (oknum) elit Gerindra yang dekat dengan Prabowo membela Rocky. Mereka bekerja keras membantu Rocky agar tidak di penjara. Saya sendiri berkali-kali perang debat di TV One dengan pecinta Jokowi, seperti Ngabalin KSP, Dedi Sitorus PDIP dan Irma Chaniago Nasdem. Menurut saya, istilah Bajingan Tolol yang disematkan kepada Jokowi adalah istilah yang tepat dan proporsional.

Problemnya beberapa waktu kemudian, saat dulu itu, Rocky podcast dengan sebuah podcaster, tentang bajingan tolol. Pada saat itu Rocky mengulang bahwa memang Jokowi adalah bajingan tolol. Namun, ada satu bagian Rocky “slip of tongue” alias keselip lidah menyebut presiden ke delapan. Lalu, Rocky dalam podcast itu meralat maksudnya presiden ketujuh. Sayangnya, bagian podcast presiden kedelapan itu dipotong dan diedit seolah-olah Bajingan Tolol itu presiden kedelapan. Akhirnya geger viral seolah olah Rocky menuduh Prabowo bajingan tolol, karena presiden kedelapan kita adalah Prabowo.

Beberapa petinggi Gerindra berusaha memverifikasi hal ini kepada Rocky. Salah satu petinggi Gerindra, mengundang Rocky ke kantornya di Kemang, telah mendengar penjelasan Rocky. Saya dan Jumhur ada di situ. Di sisi lain, Rocky juga ketemu petinggi Gerindra lainnya. Menjelaskan video viral itu editan dan fitnah.

Rocky Kritik Ganjar di Pilpres

Dalam pilpres lalu Rocky bukan lah penentang Prabowo. Ada tiga hal yang menjadi jejak digital tentang itu. Pertama, Rocky menolak dan kecewa ketika barisan pendukung Anies pimpinan Tamsil Linrung ingin memakaikan jaket Anies ketika dia diundang pidato di sana. Rocky melempar jaket itu dan menyentak publik. Dia mengatakan datang untuk pencerahan massa, bukan untuk mendukung. Ini hanya karena sebuah co-eksistensi antara nilai yang ditawarkan Anies, yakni perubahan, dengan perjuangan Rocky selama itu. Kedua, Rocky menghadiri acara gathering Prabowo Mania, yang dilakukan Iwan Bule dan Immanuel Ebenezer di Solo ketika kampanye. Ketiga, Rocky marah terbuka diberbagai media, ketika Ganjar menyatakan jangan pilih presiden pelanggan HAM. Di sini Rocky mengatakan tidak ada hak Ganjar melakukan statement itu, sebab PDIP sudah mendukung Prabowo pada 2009. Ketiga jejak ini menunjukkan bahwa Rocky bukan anti Prabowo.

Selama Pilpres memang Rocky hanya menunjukkan ketidak sukaan pada Ganjar. Dalam berbagai kesempatan tertutup, Rocky mengatakan istilah “ABG”, asal bukan Ganjar, saat itu.

Rocky dan Prabowo 

Rocky ada filsuf besar. Dia adalah pewaris kelompok pemikir yang turun temurun sejak jaman penjajahan, yakni kelompok PSI (Partai Sosialis Indonesia). Terakhir kelompok ini bersama Dr. Syahrir dan Rahman Tolleng mendirikan Partai Indonesia Baru (PIB). Tradisi berpikir kritis kelompok ini merupakan tradisi yang dibangun Dr. Sutan Syahrir dan Professor Sumitro Djojohadikusumo (ayah Prabowo). Inti pemikirannya adalah sosialistik. Salah, satu tokoh mereka di era orde baru, yakni Prof Sarbini Soemawinata, pendiri fakultas ekonomi UI bersama Prof Soemitro, menggagas pembangunan dari desa dengan penggelontoran uang sebesar besarnya di desa. Tentang ideologi mereka, salah satu guru politik saya, Adi Sasono, cucu pendiri Masyumi, mengatakan beda Masyumi dan PSI cuma satu, Masyumi ke Masjid kalau PSI ke pesta dansa, selebihnya sama.

Prabowo sendiri sebagai anak pendiri PSI itu pastilah pula memiliki garis ideologi sosialistik. Disini sebenarnya mengapa diberbagai rentang waktu terlihat Rocky adalah pendukung hebat Prabowo. Seperti pada kampanye 2019 untuk calon presiden, Prabowo sangat mengandalkan Rocky Gerung.

Keterpisahan Prabowo dan Rocky tentu dipahami karena adanya Jokowi sebagai “pembatas”. Demikian pula banyak aktifis lainnya mengalami “beda jalan”. Namun, seiring kemenangan Prabowo dan kembalinya Prabowo menunjukkan taringnya, maka sudah saatnya pejuang-pejuang kerakyatan saling bahu-membahu menyukseskan cita-cita Prabowo.

Pidato terakhir Prabowo di harlah NU kemarin, yang akan menyingkirkan para “kutu busuk”, adalah pekerjaan besar. Saatnya ke depan Rocky Gerung bisa secara terbuka bekerja keras untuk mendukung Prabowo. Semoga para petinggi Gerindra yang dahulu dapat informasi bahwa istilah Bajingan Tolol dan Rocky itu adalah fitnah semata, bisa meneruskan kepada Prabowo.

Penutup

Pidato Prabowo yang akan menyingkirkan orang-orang ndablek, bandel dan bekerja bukan untuk rakyat sangat memukau. Prabowo berpura-pura bodoh selam 100 hari pertama, tapi akan menyingkirkan mereka secepatnya jika tetap tidak faham tentang perjuangan kerakyatan Prabowo.

Sayangnya, dalam pidato itu Prabowo masih menyindir soal istilah “Bajingan Tolol” yang disematkan padanya oleh seseorang, yang pastinya semua orang tahu siapa dia. Istilah ini, Bajingan Tolol, terasosiasi dengan Rocky Gerung, yang hampir di penjara karena menuduh Jokowi Bajingan Tolol beberapa waktu lalu. Namun, istilah Bajingan Tolol dikaitkan dengan Prabowo adalah hanya karena editan podcast yang viral. Saat itu Rocky keseleo lidah menyebut presiden kedelapan. Namun, video aslinya utuh sudah diralat, maksudnya ke-7, Jokowi. Sayangnya yang viral versi editan yang memojokkan dan fitnah terhadap Rocky.

Pekerjaan besar presiden ke depan terlalu besar dan berliku. Sejauh 100 hari ini Prabowo sudah menunjukkan jati dirinya, pemimpin rakyat yang ideologis. Dia samasekali bukanlah Bajingan Tolol. Kita berharap Prabowo akan bersama Rocky menggusur si Bajingan Tolol yang asli.

Penulis : Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle