Iyyas Subiakto Sebut Rocky Gerung ‘Bajingan Tolol’ 

  • Bagikan
Iyyas Subiakto Sebut Rocky Gerung 'Bajingan Tolol' 
Iyyas Subiakto Sebut Rocky Gerung 'Bajingan Tolol' 

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik Iyyas Subiakto melontarkan kritik keras terhadap sejumlah pihak yang menurutnya terus membela pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia bahkan menggunakan istilah kasar untuk menyindir pihak yang dinilainya terlalu membela program pemerintah tersebut.

Dalam pernyataannya, Iyyas menyebut sosok yang menurutnya kini mendapat julukan “bajingan tolol” adalah Rocky Gerung. Pernyataan itu disampaikan ketika Iyyas mengkritik argumen yang meminta guru maupun petugas di lapangan mencicipi makanan MBG sebagai bagian dari pengawasan keamanan pangan.

“Penyandang bajingan tolol saat ini adalah Rocky Gerung,” kata Iyyas dalam pernyataannya, Sabtu (19/9/2026).

Ia kemudian menyinggung seorang profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menurutnya pernah menyampaikan gagasan agar makanan MBG diperiksa dengan cara dicium atau dicicipi sebelum dikonsumsi.

“Sekarang ada orang-orang tolol seperti profesor dari IPB itu. Setiap guru disuruh nyium dulu, nyicipin dulu. Kemarin ada kepala SPPG juga nyicipin itu, mual perutnya,” ujar Iyyas.

Menurut dia, metode tersebut tidak realistis apabila diterapkan secara rutin kepada guru. Ia menggambarkan seorang guru yang harus memeriksa ribuan porsi makanan setiap hari.

“Guru setiap hari disuruh nyiumin 3.000 porsi. Begitu maksudnya, dicicipin seperti itu. Masuk porsi ke-10, ya sudah pingsan gurunya,” katanya.

Iyyas juga mempertanyakan kualitas argumentasi akademik yang menurutnya justru dapat mempermalukan kalangan intelektual ketika digunakan untuk membela kebijakan pemerintah tanpa membongkar persoalan utama.

“Ngomong seorang profesor kok jebol otaknya. Jadi malu-maluin saya,” ujarnya.

Iyyas kemudian mengaitkan perdebatan tersebut dengan Rocky Gerung. Menurut dia, pembelaan terhadap MBG seharusnya tidak berhenti pada upaya mempertahankan pelaksanaan program, tetapi harus menyentuh persoalan tata kelola, pengawasan, pembiayaan, serta efektivitas program.

Ia menilai persoalan MBG perlu dibedah dari akar masalahnya dan dilakukan pemetaan ulang berdasarkan karakteristik wilayah.

“Kalau kalian membela SPPG dengan cara yang seperti sekarang, tidak dibongkar akar masalahnya, sudah pasti tidak ada jalan keluar,” katanya.

Iyyas mengusulkan agar pengelolaan program dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi daerah.

“Di-breakdown saja, dikembalikan ke desa. Kalau itu mau diteruskan, saya pikir di-klaster ulang saja, di-mapping ulang,” ujarnya.

Menurut Iyyas, kebutuhan program juga seharusnya mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masing-masing daerah. Ia mempertanyakan pelaksanaan program dengan pola seragam di wilayah yang dianggap sudah memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

“Di daerah-daerah perkotaan yang memang sudah mampu, buat apa lagi MBG itu?” katanya.

Kritik Iyyas kemudian melebar pada persoalan anggaran negara. Ia mempertanyakan manfaat jangka panjang MBG apabila pelaksanaannya justru dibarengi tekanan terhadap fiskal.

Ia mengatakan manfaat peningkatan gizi memang membutuhkan waktu untuk terlihat, sementara konsekuensi anggaran dirasakan dalam jangka pendek.

“Mau dibilang jangka panjang ngasih gizi, hasilnya kalaupun itu bergizi semua, 20 tahun ke depan itu baru dapat apa hasilnya. Sementara yang jangka pendek apa? Utang kita yang bertambah, fiskal kita hancur dan sebagainya,” ujar Iyyas.

Iyyas juga menyoroti munculnya persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka bagaimana memastikan makanan yang didistribusikan benar-benar aman dikonsumsi.

“Duitnya habis, orang keracunan, hasilnya nggak jelas,” katanya.

Pernyataan tersebut merupakan kritik Iyyas terhadap pelaksanaan program dan bukan kesimpulan independen mengenai keseluruhan program MBG.

Iyyas selanjutnya mengkritik gaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mempertanyakan capaian pemerintahan yang menurutnya belum memberikan hasil yang cukup terasa bagi masyarakat.

Ia juga menyinggung kondisi antrean bahan bakar di sejumlah daerah. Iyyas menyebut antrean panjang yang diklaim mencapai beberapa kilometer sebagai tanda persoalan yang harus segera ditangani pemerintah.

“Sekarang antrean bensin, antrean solar. Lihat itu Makassar tujuh kilometer antre,” ujarnya.

Dalam pernyataan yang sama, Iyyas juga menyinggung Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia mempertanyakan keberadaan menteri tersebut ketika muncul persoalan distribusi bahan bakar.

“Bahlilnya mana itu?” kata Iyyas.

Namun, terkait video yang menurutnya memperlihatkan Bahlil menggunakan pesawat pribadi untuk bepergian bersama keluarga, Iyyas sendiri mengakui tidak mengetahui secara pasti kapan video tersebut dibuat.

“Video kapan saya nggak tahu. Tapi yang jelas sekarang Kalimantan Tengah, Makassar, sudah terasa,” ujarnya.

Karena itu, klaim mengenai waktu dan konteks video tersebut masih memerlukan verifikasi tersendiri.

Di bagian lain pernyataannya, Iyyas menegaskan bahwa pemerintah dipilih rakyat untuk mengelola negara, bukan untuk menganggap negara sebagai milik kelompok atau keluarga tertentu.

“Kalian itu dipilih rakyat itu untuk mengelola negara, bukan memiliki negara. Negara ini tetap miliknya rakyat, bukan milik kalian,” tegasnya.

Ia juga meminta pemerintah melakukan introspeksi terhadap kebijakan yang dinilainya menimbulkan keresahan publik.

“Coba berkaca, coba introspeksi, coba tafakur supaya kita sama-sama dapat solusi,” katanya.

Iyyas mengaku kritik tersebut bukan didorong kebencian pribadi terhadap Prabowo. Ia bahkan menyatakan pernah memberikan suara kepada Prabowo.

“Saya tidak pernah membenci seorang Prabowo Subianto karena saya ikut memilih. Tapi kalau perilakunya seperti ini, ini membuat sesak napas masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Iyyas, pemerintah masih memiliki waktu untuk memperbaiki pengelolaan negara hingga akhir masa pemerintahan.

Ia memperingatkan bahwa apabila persoalan ekonomi, energi, fiskal, dan program pemerintah tidak segera dibenahi, keresahan masyarakat dapat semakin besar.

“Jadi urusi dengan baik negara ini. Jangan kayak kalian punya negara sendiri. Negara ini kita punya bersama, bukan kalian yang punya,” pungkas Iyyas.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *