6 November 2026

Banjir Sumatera

MoneyTalk, Jakarta – Tokoh muda Nahdlatul Ulama sekaligus pengelola pesantren ekologi, Roy Murtadho atau yang akrab disapa Gus Murtadho, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait kelapa sawit di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Menurut Gus Murtadho, pernyataan Prabowo yang kembali menyinggung pentingnya sawit sebagai sumber energi terbarukan justru menunjukkan hilangnya kepekaan sosial dan empati terhadap situasi yang terjadi.

“Urat malu dan nurani Prabowo sudah hilang. Di tengah bencana akibat perusakan lingkungan, masih saja bahas sawit. Padahal deforestasi terbesar disebabkan perluasan perkebunan sawit dan tambang. Begini jadinya kalau pelanggar HAM jadi presiden. Hilang hati nuraninya,ʺ ujar Gus Murtadho dalam keterangannya, Sabtu (6/12/2025).

Kritik ini muncul setelah Prabowo dalam sebuah acara pada Rabu (3/12/2025) menekankan pentingnya kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan kelapa sawit.

“Saudara-saudara, kalau kita tergantung impor, kita enggak mampu bayar nanti harga BBM. Tapi kita diberikan karunia oleh Yang Maha Kuasa, kita punya kelapa sawit, kelapa sawit bisa jadi BBM, bisa jadi solar, bisa jadi bensin, juga kita punya teknologinya,” ungkap Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan saat banjir bandang dan tanah longsor tengah melanda berbagai wilayah di Sumatera, yang sebagian besar diyakini para pemerhati lingkungan sebagai dampak dari deforestasi dan alih fungsi lahan berskala besar.

Gus Murtadho menilai, pemerintah seharusnya berbicara soal mitigasi bencana, perbaikan tata kelola lingkungan, penindakan terhadap perusahaan nakal, hingga rehabilitasi hutan bukan justru mempromosikan sawit di saat puluhan ribu warga terdampak bencana.

“Bencana ini terjadi karena kerakusan industri ekstraktif. Masyarakat menderita, rumah-rumah hancur, lahan-lahan rusak. Tapi yang disoroti justru sawit. Ini sangat menyedihkan,” tegasnya.

Gus Murtadho mendesak agar Presiden Prabowo mengedepankan pendekatan ekologis yang lebih serius. Ia mengingatkan bahwa promosi sawit tanpa memperhatikan dampak ekologis dapat memperburuk kondisi lingkungan di masa mendatang.

“Kita butuh presiden yang menggunakan hati, bukan sekadar hitung-hitungan ekonomi. Kalau lingkungan rusak, semua rugi,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak Istana terkait kritik tersebut.

MoneyTalk, Jakarta -Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Tamrin Amal Tomagola, melontarkan kritik keras terhadap Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), yang ia sebut sebagai “pendosa ekologis” di tengah bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Menurut Tamrin, kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pemberian izin-izin eksploitasi hutan harus dipertanggungjawabkan oleh para pemegang kebijakan, termasuk Zulhas. Ia menilai banjir yang merendam rumah warga, merusak lahan pertanian, hingga memutus akses transportasi merupakan buah dari kebijakan yang mengabaikan faktor ekologi.

“Zulkifli Hasan adalah pendosa ekologis yang sedang memanggul setumpukan dosa-dosa kebijakan untuk dipertanggungjawabkan di mahkamah para korban banjir Sumatera,” ujar Tamrin dalam pernyataannya, Kamis (4/12/2025).

Ia menambahkan, deforestasi masif dan alih fungsi lahan yang longgar dalam pengawasan telah membuat banyak daerah kehilangan daya dukung ekologisnya. “Kita melihat pola yang sama berulang: hujan datang, daerah tidak lagi mampu menahan debit air, dan rakyat menjadi korban.”

Tamrin juga mendesak pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh terhadap izin-izin kehutanan yang terbit selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, transparansi dan pertanggungjawaban publik menjadi kunci untuk memutus rantai kerusakan ekologis.

Sementara itu, berbagai kelompok masyarakat sipil dan aktivis lingkungan juga ikut menyoroti peran pejabat yang dianggap lalai dalam menjaga kelestarian hutan. Mereka menuntut agar pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap temuan-temuan lapangan terkait pembukaan hutan yang diduga berkontribusi terhadap banjir di Sumatera.

Banjir besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan kerugian material dan non-material yang sangat besar. Ribuan warga terpaksa mengungsi, puluhan desa terisolasi, dan infrastruktur rusak parah.

Tamrin menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum perbaikan tata kelola lingkungan nasional. “Jika negara terus abai, maka banjir berikutnya bukan hanya akan lebih besar, tetapi juga akan membawa beban moral yang semakin berat bagi para pemegang kebijakan.”

MoneyTalk, Jakarta – Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam dua pekan terakhir kembali membuka perdebatan soal kerusakan lingkungan dan tata kelola hutan. Belum pulih trauma masyarakat di Tapanuli, Mandailing Natal, dan berbagai daerah lain, gelombang kritik mengarah ke pemerintah pusat, terutama kepada dua menteri yang dinilai memiliki tanggung jawab strategis: Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni serta Menko Pangan Zulkifli Hasan.

Desakan paling keras datang dari aktivis politik Rahman Simatupang, yang meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle terhadap kedua pejabat tersebut. Rahman menilai keduanya gagal menghadirkan pengawasan efektif, bahkan memiliki rekam jejak kebijakan yang memperparah deforestasi.

Dalam pernyataannya, Rahman mengatakan banjir yang berulang di Sumatera tidak dapat dilepaskan dari masifnya pembukaan hutan, ekspansi perkebunan skala besar, dan melemahnya fungsi kawasan lindung.

Menurutnya, Menteri LHK Raja Juli Antoni tidak menunjukkan langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola kehutanan. “Sudah hampir setahun menjabat, Raja Juli tidak terlihat membawa terobosan. Penegakan hukum lemah, izin-izin lama yang bermasalah tidak dievaluasi, sementara banjir terus menelan korban. Ini jabatan teknis yang memerlukan kompetensi kuat, bukan sekadar jabatan politik,” ujar Rahman, Rabu (3/12/2025).

Ia juga menyoroti lambatnya respons kementerian dalam mengevaluasi perusahaan pemegang konsesi yang wilayah operasinya berada di sekitar daerah-daerah terdampak banjir.

Tidak hanya Raja Juli, Rahman juga menuding Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN yang kini menjabat Menko Pangan, memiliki jejak panjang kebijakan kehutanan yang bermasalah saat ia menjadi Menteri Kehutanan periode 2009–2014.

Menurut Rahman, sejumlah program pelepasan kawasan hutan yang dilakukan pada masa itu menjadi awal degradasi ekosistem di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan. “Banyak izin pelepasan kawasan hutan diterbitkan pada era Zulkifli. Banyak lahan berubah jadi perkebunan sawit, banyak konflik agraria dimulai dari sana. Dampaknya bertahun-tahun baru kita rasakan: banjir, longsor, hilangnya daerah resapan,” papar Rahman.

Rahman menambahkan, posisinya sekarang sebagai Menko Pangan membuatnya memiliki kekuasaan besar dalam kebijakan pangan-rantai pasok komoditas, yang menurutnya tidak boleh lagi bersinggungan dengan praktik perluasan lahan sawit atau komoditas perkebunan lain.

Sejumlah daerah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau dilanda banjir besar yang meluluhlantakkan infrastruktur dan lahan pertanian. Ratusan ribu warga terdampak, puluhan jembatan putus, dan ribuan rumah terendam.

Beberapa pengamat lingkungan menilai banjir kali ini dipengaruhi:

Kerusakan hutan di daerah tangkapan air

Pembukaan perkebunan skala besar

Perambahan di kawasan konservasi

Melemahnya fungsi DAS (Daerah Aliran Sungai)

Penelitian beberapa lembaga konservasi regional juga menunjukkan bahwa tingkat deforestasi di Sumatera meningkat kembali dalam dua tahun terakhir.

Desakan reshuffle bukan hanya datang dari aktivis, tetapi juga mulai muncul dari beberapa kelompok masyarakat sipil, akademisi kehutanan, hingga internal partai politik pendukung pemerintah.

Pengamat politik menilai, apabila banjir Sumatera menjadi isu nasional berkepanjangan dan menyentuh sentimen publik, Prabowo mungkin harus mengambil langkah tegas demi memperbaiki citra dan efektivitas pemerintahannya.

Rahman menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keselamatan warga dan keberlanjutan lingkungan harus menjadi prioritas utama. “Kalau para menteri tidak mampu atau punya rekam jejak yang merusak, ya reshuffle. Tidak ada alasan mempertahankan menteri yang membuat negara rugi dan rakyat sengsara,” katanya.

Ia juga berharap Presiden Prabowo melakukan evaluasi besar-besaran terhadap izin-izin kehutanan yang berpotensi menyebabkan bencana ekologis.

Di lingkaran politik Jakarta, spekulasi mengenai reshuffle kabinet memang terus bergulir dalam beberapa minggu terakhir. Isu lingkungan, ketahanan pangan, dan tata kelola lahan menjadi topik yang paling banyak mendapat sorotan.

Beberapa sumber internal menyebutkan bahwa Presiden Prabowo telah menerima sejumlah laporan mengenai perusahaan-perusahaan yang diduga melanggar aturan kehutanan di Sumatera, termasuk konsesi yang berada di kawasan rawan bencana.

MoneyTalk, Jakarta – Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menuai kritik keras dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Alih-alih menyentuh akar persoalan tata kelola, Prabowo dinilai hanya mengulang narasi normatif soal “kesadaran lingkungan” tanpa menyentuh peran negara dalam meluasnya izin tambang, perkebunan, dan proyek energi besar di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS).

Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan duka atas bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sambil menyebut pemanasan global serta kerusakan lingkungan sebagai penyebab utama. Ia mengajak guru dan murid untuk menjaga hutan, sungai, dan meningkatkan pendidikan lingkungan sejak dini.

Namun, bagi para aktivis lingkungan, pernyataan itu justru terdengar seperti kemunafikan politik. Kritik paling tajam datang dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), yang menyebut bahwa pidato Prabowo “menggeser tanggung jawab negara” kepada individu dan sekolah, serta mengabaikan fakta bahwa kebijakan pemerintah sendiri menjadi penyebab utama memburuknya kondisi ekologis di hulu Sumatera.

Analisis JATAM menunjukkan bahwa banjir bandang yang melanda Sumatera dalam sepekan terakhir tidak bisa dilepaskan dari ledakan izin pertambangan mineral dan batubara, ekspansi kebun skala besar, serta pembangunan proyek energi seperti PLTA dan PLTP di kawasan penyangga dan hulu sungai. Aktivitas tersebut disebut mengubah bentang alam, merusak kawasan resapan, dan mengganggu aliran sungai, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor.

“Yang merusak hutan bukan murid sekolah. Yang mengubah aliran sungai bukan guru. Itu hasil dari kebijakan negara yang membuka ruang hidup masyarakat untuk dieksploitasi korporasi,” tegas JATAM dalam laporannya, Sabtu (29/11/2025).

Sejak awal pemerintahannya, Prabowo mendorong percepatan hilirisasi tambang, memperluas proyek energi besar, dan mengonsolidasikan kekuasaan sumber daya di hulu DAS dengan dalih kedaulatan energi dan percepatan pembangunan. Kritik menyebut kebijakan tersebut mempertebal ketergantungan pada ekonomi ekstraktif, sekaligus melemahkan daya dukung lingkungan dan keselamatan warga di wilayah rawan bencana.

“Himbauan Prabowo agar masyarakat menjaga hutan dan sungai tidak menyentuh substansi. Ini bentuk cuci tangan politik di atas puing rumah warga yang terseret banjir,” ujarnya.

Para aktivis mendesak pemerintah untuk menghentikan pola pikir pembangunan yang berbasis eksploitasi hulu DAS, melakukan audit lingkungan menyeluruh, dan mencabut izin-izin yang terbukti menyebabkan kerusakan ekologis.

Bagi warga Sumatera yang terdampak, banjir kali ini kembali menjadi pengingat bahwa bencana bukan semata soal cuaca ekstrem, melainkan kegagalan tata kelola sumber daya alam yang berlangsung selama bertahun-tahun.