7 November 2026

Baterai Listrik

JAKARTA, MoneyTalk – PT Merdeka Battery Materials Tbk (kode saham: MBMA), perusahaan yang melaksanakan hilirisasi dalam rantai nilai baterai kendaraan bermotor listrik, resmi mencatatkan saham perdananya atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Total saham yang dilepas melalui IPO ini sebanyak 11.549.999.900 saham baru yang dikeluarkan dari portepel perusahaan atau dari total saham, MBMA meraup sekitar Rp 9,2 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 85,9 triliun. MBMA menjadi emiten ke – 34 di BEI pada 2023.

Selama proses penawaran umum, minat investor di porsi penjatahan terpusat cukup tinggi hingga terjadi kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak 19,9 kali.

Besarnya minat investor terhadap saham MBMA ini membuat perusahaan menerbitkan tambahan sebanyak 549.999.900 saham baru.

“Kami bersyukur IPO MBMA dapat berjalan dengan lancar dan sukses mendapatkan dukungan dari berbagai investor institusi baik dari dalam maupun luar negeri. Aksi korporasi ini sangat penting untuk mewujudkan visi MBMA sebagai pemain global yang terintegrasi secara vertikal dalam rantai nilai mineral strategis dan bahan baku baterai kendaraan bermotor listrik,” kata Presiden Direktur MBMA Devin Ridwan.

MBMA berencana menggunakan dana hasil IPO antara lain untuk membiayai pembangunan dan pengembangan sejumlah proyek pemrosesan nikel seperti fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) I tahap I dengan kapasitas 60.000 ton per tahun untuk menghasilkan material dalam rantai nilai bahan baku baterai kendaraan bermotor listrik.

Sebagian lainnya akan digunakan untuk memperkuat modal kerja anak usaha, diantaranya PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang merupakan perusahaan tambang nikel dengan salah satu sumber daya terbesar di dunia dalam hal kandungan nikel.

Saat ini SCM memiliki sumber daya lebih dari 1,1 miliar bijih dry metric tonne yang mengandung 13,8 juta ton nikel dengan kadar 1,22% Ni dan 1,0 juta ton kobalt pada kadar 0,08% Co. Kapasitas produksi tambang SCM diperkirakan akan mencapai 14,6 juta wet metric tonnes pada 2024. MBMA juga akan memakai dana IPO untuk melunasi pinjaman.

David Agus, Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk selaku salah satu Penjamin Emisi, mengatakan sebagian besar saham MBMA dialokasikan kepada investor institusi.

Namun, antusiasme investor ritel dalam IPO ini yang mencapai lebih dari 33.000 pemesan sangat menggembirakan bagi industri pasar modal dan energi terbarukan di Indonesia. Besarnya minat investor untuk terlibat dalam IPO MBMA ini sudah terlihat sejak penawaran awal.

“Besarnya penawaran saham yang masuk menandakan bahwa investor juga sangat optimistis dengan prospek bisnis hilirisasi tambang nikel dan pengembangan rantai nilai bahan baku Electric Vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan bermotor listrik yang dikembangkan oleh MBMA. IPO MBMA ini sejalan dengan momentum global yang mendorong lebih banyak penggunaan energi bersih, termasuk penggunaan EV battery,” kata David.

MBMA telah mengoperasikan smelter RKEF yang memproduksi Nickel Pig Iron (NPI) dengan kapasitas terpasang produksi agregat mencapai 38.000 Ni per tahun per 30 September 2022.

Setelah pembangunan atau komisioning smelter RKEF baru, tambang SCM dan proyek AIM I, MBMA diproyeksikan menghasilkan 88.000 Ni per tahun dan 1,2 juta ton asam per tahun.

Devin menjelaskan MBMA akan terus membangun dan mengembangkan berbagai proyek yang merupakan rantai nilai hilirisasi nikel hingga menjadi bahan baku EV battery.

Pengoperasian dan pengembangan berbagai proyek strategis tersebut melibatkan berbagai grup bisnis yang merupakan pemain global terdepan dalam rantai nilai baterai kendaraan bermotor listrik, seperti grup Tsingshan, Huayou, serta CATL.

Didukung oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebagai induk usaha yang memiliki pengalaman matang dalam pengembangan proyek pertambangan yang signifikan, MBMA memiliki komitmen kuat untuk menjalankan proses bisnis sesuai dengan prinsip tata kelola Environmental, Social and Governance atau ESG. Dalam menjalankan usaha, MBMA senantiasa mengikuti regulasi yang ditetapkan oleh Pemerintah.

“Keberlanjutan adalah landasan bisnis kami. Kami meyakini bahwa keberlanjutan perusahaan kami tidak hanya bergantung pada bisnis yang efisien dan menguntungkan, tetapi juga pada kesehatan dan keselamatan kerja karyawan, pengelolaan lingkungan hidup yang baik, hubungan yang harmonis dengan semua pemangku kepentingan, juga kontribusi signifikan kami kepada kesejahteraan masyarakat,” jelas Devin.

JAKARTA, MoneyTalk – PT KILATS ENERGY INDONESIA (“KILATS”), anak perusahaan KILATS PTE LTD Singapura di Indonesia, telah mendapatkan hak eksklusif untuk mendistribusikan armada baru dan sistem penggantian baterai NIU di Indonesia.

Dengan mengusung merek GOVA yang baru diluncurkan ini, Indonesia akan menjadi negara penyebaran pertama di dunia yang akan menikmati motor listrik yang dibangun dan dirancang bersama dengan KILATS.

NIU telah menjual sepeda motor listrik di Indonesia sejak awal tahun 2020 bersama KILATS dan memahami apa arti sepeda motor listrik bagi konsumen.

Di bawah distribusi ekslusif oleh ATPM, GOVA F600 sendiri adalah sebuah motor listrik yang dirancang dengan menggabungkan tenaga, kenyamanan, dan juga keamanan untuk memberikan pengalaman berkendara sepeda motor listrik yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi jalan di Indonesia.

GOVA F600 dilengkapi dengan motor 3000W yang menghasilkan torsi 24Nm dan kecepatan maksimum yang dikendalikan pada 70 KM/JAM. Kami bermitra dengan salah satu perusahaan baterai terbesar untuk 2W, Phylion.

Bersama dengan NIU, CEO KILATS Vincent Yap, merancang baterai 72V20ah untuk memberikan pengalaman penukaran baterai (Battery Swap) bagi konsumen.

Dengan 2 baterai, GOVA F600 dapat menempuh jarak antara 80KM hingga 120km. Profilnya yang lebih panjang, ground clearance yang tinggi, dan suspensi ganda memberikan kenyamanan, keamanan, dan keserbagunaan yang sesuai.

GOVA F600 juga dirakit dengan menggunakan suku cadang yang tersedia di pasar Indonesia yang memang dirancang untuk perilaku berkendara sepeda motor serta kondisi jalan di Indonesia.

Berkantor pusat di Singapura, THE KILATS GROUP memiliki dan mengoperasikan Universal Battery Swap System yang menyediakan layanan penukaran baterai untuk semua motor listrik berkapasitas voltase dan jenis baterai yang sama, KILATS juga menghadirkan sepeda motor listrik dengan desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar lokal di Asia Tenggara.

KILATS telah ada di Indonesia sejak awal 2020 dan setelah melihat dan mengalami secara langsung tantangan dalam pengadopsian sepeda motor listrik di Indonesia, KILATS menghadirkan KILATS SWAP 2.0 dengan mengadopsi teknologi komponen power-train, penyelarasan supply-chain untuk penyediaan komponen lokal terbaik dengan bekerjasama dengan mitra regional.

JAKARTA, MoneyTalk – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto minta Pemerintah mencopot Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho. Hal itu karena dianggap gagal mengelola perusahaan sesuai target yang ditetapkan.

“Saya minta pemegang saham korporasi baterai listrik Indonesia yakni Pertamina, PLN, MIND-ID, dan Antam mengganti Dirut IBC. Karena tidak cukup membawa kemajuan yang berarti bagi perusahaan setelah bekerja lebih dari tiga tahun,” ujar Mulyanto dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Dirut Mind-ID, Dirut Antam dan Dirut IBC, Senayan, Jakarta, Rabu (12/4/2023).

Dijelaskan Mulyanto, selama ini Dirut IBC lebih banyak membuat kajian yang menelan biaya hampir Rp100 milyar untuk membayar konsultan. Tapi sayangnya tidak terlihat langkah-langkah konkretnya.

Apalagi belakangan baru diketahui ternyata Dirut IBC ini sebelumnya menjabat sebagai Dirut Petral, perusahaan Migas berbasis di Singapura yang membuat heboh, dan akhirnya diusulkan untuk dibubarkan oleh Tim Pemberantasan Mafia Migas.

“Secara etika publik, ini kan tidak elok. Masak Dirut perusahaan yang bermasalah serta bikin gempar dunia Migas nasional, yang akhirnya dibubarkan oleh Tim Pemberantasan Mafia Migas malah diangkat lagi sebagai Dirut IBC yang sangat strategis dalam mendukung pengembangan EBET nasional. Ini mengkhawatirkan masa depan energi hijau kita,” tegasnya.

Terlebih lagi menurut Politisi dari Fraksi PKS ini, Toto juga tidak menguasai seluk-beluk bisnis terkait teknologi baterai listrik. Padahal, sejatinya IBC ini melibatkan berbagai lembaga riset yang sebelumnya terkonsolidasikan oleh Kemenristek (sekarang BRIN) dalam konsorsium riset baterai listrik.

“Sayang kalau akumulasi pengetahuan yang ada selama ini dalam lembaga-lembaga riset pemerintah menguap begitu saja,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Mulyanto juga mempertanyakan kasus kerjasama dengan perusahaan Korea, yakni LG Energy Solution (LG) yang terancam bubar. Padahal teknologi baterai listriknya dimiliki perusahaan tersebut.

Ia menilai, hal itu mirip dengan kasus mundurnya perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals Inc. dalam konsorsium gasifikasi batubara untuk DME, yang justru memegang teknologi kunci DME.

“Kenapa bisa terjadi? Jangan sampai investasi senilai hampir Rp122 Triliun ini gagal terwujud dan berdampak buruk bagi pengembangan ekosistem baterei kendaraan listrik di Indonesia,”pungkasnya.