30 Oktober 2026

channel YouTube Refly Harun

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik Anton Permana menilai dinamika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini tidak dapat dilepaskan dari kultur politik yang terbentuk selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Anton, salah satu persoalan mendasar dalam pemerintahan adalah bagaimana mengelola konflik internal agar tidak berkembang menjadi ancaman terhadap kekuasaan.

Ia mengibaratkan pengelolaan konflik tersebut dengan pengalaman ketika dirinya pernah bekerja sebagai HRD di sebuah perusahaan di Batam.

“Saya pernah jadi seorang HRD, sosial departemen di sebuah perusahaan waktu saya masih kerja di Batam. Kita diajarkan, jangan bikin karyawan kamu kompak,” kata Anton di channel YouTube Refly Harun, Jumat (18/9/2026).

Menurut dia, para karyawan justru didorong untuk berkompetisi sehingga tidak membentuk kekuatan kolektif yang dapat mengancam posisi pimpinan.

“Mereka bikin mereka berkompetisi terhadap kamu sebagai tuannya. Karena kalau mereka kompak, mereka bisa melakukan kudeta terhadap kita kapan saja. Ini pengalaman saya di perusahaan yang kecil,” ujarnya.

Anto mengatakan prinsip tersebut, menurut pandangannya, dapat menjadi gambaran bagaimana konflik dikelola dalam organisasi yang lebih besar, termasuk pemerintahan.

“Itu diajarkan, apalagi dalam mengelola sebuah negara,” katanya.

Anto melihat terdapat benturan antara idealisme dan pragmatisme dalam politik Indonesia.

Ia menilai perubahan sikap atau pendekatan politik dapat terjadi ketika gagasan ideal yang disampaikan pada awal pemerintahan berhadapan dengan realitas kekuasaan.

“Ketika dia menunjuk Prabowo ketika itu kan baru-baru, idealisme begitu, menggebu-gebu, sangat ultra patriotik,” ujar Anton.

Namun, menurut dia, setelah menjalankan pemerintahan, berbagai tekanan politik dan persoalan negara membuat realitas yang dihadapi tidak selalu sesuai dengan ekspektasi awal.

“Tapi setelah berjalan tentu Prabowo melihat, ini kok begini. Tekanan terhadap tidak seindahnya, tidak semudah itu,” katanya.

Anton menilai konflik dalam pemerintahan merupakan sesuatu yang tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan. Persoalannya adalah bagaimana konflik tersebut dikelola agar tidak berubah menjadi ancaman politik.

“Dalam politik pemerintahan itu konflik itu akan selalu ada. Jadi bagaimana konflik itu tidak menjadi ancaman, ya manajemennya dibikin,” ujarnya.

Anto juga menyoroti terbentuknya kelompok-kelompok kepentingan di lingkungan pemerintahan. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan kultur politik yang menurutnya telah terbentuk selama satu dekade pemerintahan Jokowi.

“Kita tentu enggak bisa melihat apa yang terjadi hari ini. Pasti ada faktor-faktor yang sebelumnya terjadi,” katanya.

Menurut Anton, persoalan tersebut berkaitan dengan warisan kultur politik yang terbentuk selama 10 tahun pemerintahan Jokowi.

“Nah, ini yang merusak 10 tahun selama pemerintahan Jokowi, ada sebuah kultur yang terbentuk,” ujar Anton.

Ia kemudian membagi kelompok dalam pemerintahan ke dalam tiga kategori, yakni kelompok ideologis, oportunis, dan pragmatis.

“Kalau kita kelompokkan kelompok di pemerintahan itu hanya tiga saja. Kelompok ideologis, oportunis dan pragmatis,” katanya.

Anton menilai keberadaan berbagai kelompok dengan kepentingan dan orientasi berbeda membuat soliditas pemerintahan menjadi persoalan tersendiri.

Lebih jauh, Anton juga mempertanyakan praktik hubungan antara presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dengan para pembantunya.

Menurut dia, dalam sistem ketatanegaraan, posisi dan kewenangan masing-masing lembaga maupun pejabat harus tetap mengacu pada konstitusi.

“Sekarang saja kita enggak jelas presiden, kepala negara, kepala pemerintahan. Campur aduk saja saya lihat,” katanya.

Anton kemudian menyinggung posisi Panglima TNI dan Kapolri serta hubungan keduanya dengan presiden dalam struktur pemerintahan.

Ia menilai persoalan loyalitas dan soliditas pembantu presiden juga menjadi bagian dari dinamika politik yang perlu diperhatikan.

“Kalau secara konstitusi, lebih paham Kapolri, Panglima TNI itu seharusnya di rapat kabinet, tidak bisa di luar,” ujarnya.

Anto juga menyebut adanya persepsi di antara sebagian pejabat bahwa masa jabatan pemerintahan Prabowo hanya berlangsung sekitar dua tahun dalam fase awal tertentu, yang menurutnya dapat memengaruhi cara sebagian orang membaca posisi dan loyalitas politik.

“Di kepala mereka itu, Prabowo itu cuma dua tahun,” kata Anton.

Pernyataan tersebut, menurut Anto, menunjukkan bahwa persoalan soliditas dalam pemerintahan tidak hanya berkaitan dengan perbedaan kepentingan, tetapi juga bagaimana para elite membaca arah kekuasaan dan masa depan politik.

Bagi Anton, dinamika tersebut menjadi bagian dari persoalan yang harus dikelola oleh pemerintahan Prabowo agar konflik antar kelompok tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu jalannya pemerintahan.

MoneyTalk.id,Jakarta – Fenomena rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo yang dijuluki “Tembok Ratapan Solo” kembali menjadi sorotan. Kali ini, seorang warga yang mengaku sebagai tetangga Jokowi, Wuri Baret, mempertanyakan fenomena kedatangan masyarakat ke kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Solo.

Wuri Baret mengungkapkan pengamatannya mengenai rombongan warga yang datang ke kawasan rumah Jokowi. Ia bahkan menyebut adanya warga yang sebelumnya berada di sebuah masjid di Solo kemudian dibawa menggunakan bus menuju kediaman Jokowi.

Menurut Wuri, informasi tersebut juga diperolehnya dari pengalaman saudaranya yang pernah datang ke Masjid Sheikh Zayed. Ia mengatakan, dari lokasi tersebut saudaranya melihat adanya rombongan yang kemudian diarahkan dan dibawa menggunakan bus.

“Saudara saya ke sana itu merasa dari sana di Masjid Sheikh Zayed kayak semacam digiring, dikoordinasi, dibawa naik bis. Bisnya itu langsung menuju ke rumahnya Bapak Jokowi,” kata Wuri di channel YouTube Refly Harun, Kamis (17/9/2026).

Wuri mengaku dirinya cukup sering melintas di kawasan Sumber. Menurut pengamatannya, ia beberapa kali melihat rombongan masyarakat datang ke sekitar kediaman Jokowi.

Ia mengatakan para pengunjung tersebut disebut berasal dari berbagai daerah, termasuk dari luar Solo dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

“Yang saya lihat seminggu tiga kali, kadang saya jalan di daerah Sumber dan melihat bahwasanya di sana itu memang ada orang-orang dari Masjid Sheikh Zayed yang terkenal di Solo,” ujarnya.

Wuri kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan munculnya istilah “Tembok Ratapan Solo” yang sempat viral di media sosial.

Istilah tersebut memang pernah digunakan warganet untuk menyebut kediaman Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Pada Februari 2026, rumah Jokowi sempat muncul dengan label “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps dan menjadi perbincangan luas di media sosial.

Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, saat itu mengatakan rumah tersebut merupakan kediaman pribadi Jokowi dan bukan tempat wisata. Ia juga menyebut tidak ada pembatasan khusus bagi masyarakat yang datang, meski mengimbau agar warga tidak melakukan aksi seperti “meratap” di depan rumah.

Menurut Wuri, istilah “Tembok Ratapan Solo” kemudian menjadi kiasan terhadap masyarakat yang datang ke rumah Jokowi.

Ia mengaku mendengar adanya pengunjung yang memperoleh kaus dan amplop setelah datang ke lokasi tersebut. Namun, Wuri menegaskan dirinya tidak mengetahui secara pasti isi amplop maupun siapa yang memberikan.

“Ada yang bilang bahwasanya di sana mendapatkan kaos berikut amplopan. Saya enggak tahu amplopannya itu isinya berapa ribu. Saya kurang tahu. Ada yang bilang 50, ada yang bilang 100,” ujarnya.

Wuri menyampaikan pernyataan tersebut sebagai informasi yang ia dengar, bukan sebagai sesuatu yang menurutnya telah ia saksikan sendiri.

Ia juga mempertanyakan narasi mengenai banyaknya masyarakat yang disebut masih datang ke rumah Jokowi karena kecintaan dan dukungan terhadap mantan presiden tersebut.

Wuri mengaku pernah mendengar pernyataan Andi Aswan dalam sebuah podcast yang menyebut jumlah orang yang datang ke rumah Jokowi dapat mencapai sekitar 500 orang dalam sehari.

Namun, sebagai warga yang tinggal di Solo, Wuri mengaku memiliki pengamatan berbeda.

“Padahal jujur saya yang dari Solo melihat bahwasanya saya tuh hal seperti itu saya lihat sepertinya kok enggak ada 500 orang,” sambungnya.

Wuri kemudian mempertanyakan apakah keramaian di rumah Jokowi tersebut sepenuhnya menggambarkan dukungan spontan masyarakat atau terdapat pengorganisasian rombongan.

“Karena hal-hal seperti itu juga diambil dari Masjid Sheikh Zayed itu orang dikoordinir, sebetulnya dia enggak tahu arahnya ke mana,” katanya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menyoroti keputusan Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini belum mengganti Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menurutnya, keberadaan figur-figur yang masih memiliki kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya perlu dibaca dalam dinamika politik menuju Pilpres 2029.

Selamat menilai hubungan politik antara Presiden ke-7 Joko Widodo dan Prabowo Subianto belum sepenuhnya terputus. Ia menduga Jokowi masih membutuhkan Prabowo dalam menghadapi dinamika politik menuju 2029, terutama karena adanya kekhawatiran bahwa dukungan politik terhadap keluarga Jokowi dapat berubah.

“Jokowi masih membutuhkan Prabowo untuk Pilpres 2029 karena dia merasa bahwa ini berpotensi ditinggalkan,” kata Selamat Ginting di channel YouTube Refly Harun, Rabu (16/9/2026).

Ia kemudian meminta publik melihat posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai bagian dari konfigurasi politik tersebut. Menurut Selamat, politik Jokowi hingga sekarang belum dapat dibaca sebagai sikap meninggalkan arena kekuasaan.

“Gibran itu harus dibaca casing-nya. Politik Jokowi itu sampai sekarang belum mau meninggalkan jabatan kepresidenan,” ujarnya.

Dalam pandangan Selamat, posisi Kapolri dan Jaksa Agung menjadi penting ketika dikaitkan dengan sejumlah perkara hukum yang tengah menjadi perhatian publik.

Ia mencontohkan perkara terkait isu ijazah Joko Widodo. Menurutnya, penanganan perkara tersebut secara politik dan hukum dapat menjadi berbeda apabila terjadi pergantian Kapolri maupun Jaksa Agung.

“Kasus ijazah menurut saya akan berbeda penanganannya kalau sudah terjadi pergantian Kapolri dan Jaksa Agung. Penanganannya akan beda,” katanya.

Selamat juga menyoroti panjangnya masa jabatan Listyo Sigit sebagai Kapolri. Listyo dilantik menjadi Kapolri pada November 2021 dan tetap menjabat di pemerintahan Prabowo. Sebelumnya, ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Jenderal Idham Azis.

Keberlanjutan jabatan Listyo Sigit sejak era Jokowi hingga pemerintahan Prabowo sebelumnya juga telah menjadi bahan analisis Selamat Ginting. Dalam sejumlah pernyataannya, ia mengaitkan posisi Kapolri dengan dinamika hubungan kekuasaan dan reformasi kepolisian.

Selamat kemudian memberikan peringatan kepada Prabowo agar mempertimbangkan kembali konfigurasi kekuasaan di lingkaran aparat penegak hukum.

Menurut dia, apabila Prabowo tidak melakukan reshuffle kabinet sekaligus mengganti Kapolri, terdapat risiko politik yang harus diperhitungkan.

“Kalau Prabowo itu tidak melakukan reshuffle kabinet termasuk mengganti Kapolri, saya kira Prabowo sedang memelihara anak macan yang nanti justru akan menerkam,” ujar Selamat.

Analisis mengenai posisi Kapolri ini bukan hal baru dari Selamat. Pada Juni 2026, ia juga menyoroti kemungkinan panjangnya masa jabatan Listyo Sigit apabila perubahan aturan mengenai usia pensiun aparat diberlakukan. Saat itu Selamat mempertanyakan kemungkinan seorang Kapolri dapat bertahan sangat lama dalam jabatan tersebut dan mengaitkannya dengan dinamika politik menuju 2029.

Sementara itu, pada September 2025 Selamat juga pernah menyoroti hubungan antara Presiden Prabowo dan kepemimpinan Polri dalam agenda reformasi kepolisian. Ia menilai langkah Prabowo menunjuk Ahmad Dofiri sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Kamtibmas dan Reformasi Polri merupakan sinyal bahwa Presiden ingin memiliki kendali lebih besar terhadap agenda reformasi kepolisian.

Bagi Selamat, keputusan Prabowo mempertahankan atau mengganti pejabat strategis tersebut pada akhirnya akan menjadi bagian penting dari arah konsolidasi kekuasaan pemerintahannya.

MoneyTalk.id, Jakarta – Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menjadi sorotan. Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel Purnawirawan Sri Radjasa Chandra, mengaku memiliki keyakinan penuh bahwa ijazah Jokowi palsu.

Pernyataan tersebut disampaikan Sri Radjasa ketika membicarakan informasi yang diperolehnya dari lingkungan Pasar Pramuka, Jakarta. Ia menyebut memiliki relasi lama dengan sejumlah orang di kawasan tersebut, termasuk seseorang bernama Kana sebagai keponakan Paiman dan bekerja di Pasar Pramuka.

Menurut Sri Radjasa, dirinya mengenal kawasan Pasar Pramuka sejak lama karena pernah beraktivitas di sana ketika masih menjalankan tugas intelijen. Dari hubungan tersebut, ia mengaku memperoleh informasi mengenai situasi yang berkembang ketika isu ijazah Jokowi mulai ramai dibicarakan pada 2025.

Sri Radjasa kemudian mengaitkan informasi tersebut dengan sosok Paiman Raharjo. Ia mempertanyakan posisi Paiman yang menurutnya memperoleh sejumlah jabatan strategis, termasuk pernah menjadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi serta menduduki posisi komisaris.

Ia juga menyebut adanya informasi dari orang-orang di sekitar Pasar Pramuka mengenai Paiman ketika isu ijazah Jokowi mulai mencuat. Namun, informasi tersebut menurut Sri Radjasa semestinya tidak berhenti sebagai percakapan di lingkungan informal.

“Kasihan Om Paiman,” ujar Sri Radjasa, mengutip percakapan yang menurutnya pernah muncul di lingkungan tersebut di channel YouTube Refly Harun, Selasa (15/9/2026).

Lebih jauh, Sri Radjasa menilai aparat penegak hukum seharusnya menelusuri setiap informasi yang berkaitan dengan polemik ijazah Jokowi. Ia menduga masih terdapat informasi lain yang dapat dikembangkan untuk mengetahui pihak-pihak yang berada di balik persoalan tersebut.

Menurut dia, apabila ada pihak yang mengetahui proses atau pihak yang disebut-sebut berada di belakang pembuatan dokumen yang dipersoalkan, keterangan tersebut semestinya diperiksa dan diverifikasi secara hukum.

“Seharusnya polisi mengembangkan,” tegasnya.

Sri Radjasa bahkan menyatakan keyakinannya terhadap dugaan ijazah palsu Jokowi 100 persen.

MoneyTalk.id,Jakarta – Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, melontarkan pernyataan kontroversial terkait polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Sri Radjasa Chandra mengaku memiliki keyakinan penuh bahwa ijazah Jokowi palsu. Bahkan, ia menyebut tingkat keyakinannya mencapai 100 persen.

“Anda yakin ijazah Jokowi palsu atau Anda yakin bahwa ijazah Jokowi asli?” demikian pertanyaan yang diajukan Refly Harun dalam sebuah perbincangan di channel YouTube Refly Harun, Rabu (9/9/2026).

“Palsu. Palsu. Yakin, saya yakin,” jawab Sri Radjasa Chandra.

Ketika kembali ditanya mengenai tingkat keyakinannya, ia menjawab tegas, “100 persen.”

Tak berhenti di situ, Sri Radjasa Chandra juga mengklaim bahwa Presiden mengetahui persoalan tersebut. Ia menegaskan pernyataannya disampaikan secara terbuka di ruang publik.

“Presiden tahu,” kata Sri Radjasa Chandra ketika ditanya apakah Presiden mengetahui bahwa ijazah Jokowi disebut palsu.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pandangan Sri Radjasa Chandra mengenai berbagai persoalan politik yang menurutnya berkaitan dengan kekuasaan dan lingkaran elite politik.

Dalam kesempatan yang sama, Sri Radjasa Chandra juga menyinggung dinamika Partai Golkar. Ia mengaitkan posisi Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar dengan pengaruh Jokowi.

Menurut dia, keberhasilan Jokowi mempertahankan pengaruh politiknya antara lain terlihat dari penempatan Bahlil di pucuk pimpinan Partai Golkar.

“Berhasil dengan menempatkan Bahlil,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah Ketua Umum Golkar tersebut hanya menjadi perpanjangan tangan Jokowi, Sri Radjasa Chandra menjawab tegas.

“Jelas,” katanya.

Sri Radjasa Chandra kemudian menghubungkan pembicaraannya dengan perkara PT Asuransi Jiwasraya dan PT Asabri.

Ia menyebut terdapat nama-nama besar yang menurutnya belum tersentuh secara hukum dalam proses penanganan perkara tersebut.

“Di Jiwasraya ada Bakrie diduga menguapkan empat triliun. Di Asabri ada Airlangga,” ujarnya.

Sri Radjasa Chandra kemudian mempertanyakan mengapa pihak-pihak yang ia sebut tersebut, menurut versinya, tidak tersentuh hukum dalam proses kasus Jiwasraya dan Asabri.

Ia juga membawa nama mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, dalam narasi yang disampaikannya.

Menurut Sri Radjasa Chandra, terdapat kelompok-kelompok kepentingan yang mendapatkan dukungan dari lingkaran kekuasaan berbeda.

“Satu geng itu dibackup istana baru, satu geng dibackup istana lama,” katanya.

Lebih jauh, Sri Radjasa Chandra menilai Febrie Adriansyah memiliki loyalitas yang kuat kepada Jokowi. Ia bahkan menggunakan istilah “algojo” untuk menggambarkan peran yang menurutnya dijalankan Febrie dalam penanganan sejumlah perkara.

“Ketika Febrie loyalitasnya kepada Jokowi, begitu hebat dia jadi algojo, begitu hebat dia menyajikan proses skandal Jiwasraya yang menguntungkan Jokowi,” ujar Sri Radjasa Chandra.