7 November 2026

Dasco

MoneyTalk.id, Jakarta – “Yang merasa Indonesia suram, silahkan kalau mau cari ke negara lain.”

Presiden Prabowo menghardik rakyat yang “kurang kooperatif” dalam pidato memperingati Hari Koperasi Nasional. Kemudian, ketika menghadiri Harlah PKB, Ia menghardik cangkir kopi: “Ini cangkir isinya teh, bukan kopi. Kopi itu senjata rahasia saya. Kalau saya minum kopi, saya jadi pinter. Brengsek.”

Dalam pidato di depan kader PKB itu, Prabowo menyebut Muhaimin, Dasco, dan Bahlil adalah “tiga kancil” politik. Bukan sebagai hardikan, meskipun dalam cerita rakyat, Kancil dikenal sebagai hewan yang suka mengakali. Ia justru menghardik wartawan, aktivis LSM, atau pengamat yang kritis pada pemerintahannya sebagai londo ireng. “Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu, dan handphonemu siapa?” Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan pidato, ia melontarkan berbagai kosa kata hardikan: ndasmu, antek asing, bajingan, omon-omon, nyenye-nyenye.

Pidato Presiden Prabowo kini semakin ditunggu, publik ingin tahu, keceplosan bicara apa lagi. Presiden mustinya paham, pidato bukan sekadar rangkaian kata, tapi cerminan pemikiran, kebijakan, dan tindakan. Ketika presiden asal bicara, secara impulsif dan spontan, muncul pertanyaaan, apakah ini cuma gaya retorika, atau ada problem kognitif? Kata makian jelas kurang patut dipidatokan, tapi lebih aneh lagi mengomentari pidatonya sendiri. Akting bertanya, apa boleh mengucapkan “bajingan”? Demi mendapat tepuk tangan dan tawa audiens?

Tentu, bahkan dalam pidato resmi, ada ruang untuk bercanda, berimprovisasi, atau membuat lelucon. Masalahnya ketika candaan menjadi esensi, maka urgensi isi pidato menjadi basi. Lenyap dalam gemuruh tawa hadirin — yang terpaksa harus ketawa demi menghormati. Pidato formal presiden yang menyelipkan umpatan, atau kelucuan ala stand-up-comedy, hanya menjadi hiburan.

Gaya bicara spontan tanpa teks, ala Prabowo dalam dunia psiko-literasi dikenal sebagai stream of consciousness (SoC). Aliran pikiran bawah sadar, perasaan yang harus dikeluarkan, tanpa disaring. Pikiran acak, melompat, ekspresi lepas yang tidak teratur, dan inkoheren. Kalau saja ini diekspresikan sebagai karya sastra–ala Ulysses (mahakarya James Joyce)–tentu tidak soal. Tapi menjadi persoalan sebagai pidato spontan.

Saat berpidato, bergaya SoC, presiden tidak hanya berbicara di hadapan ratusan orang di ruangan. Ia berbicara kepada dunia, juga pada algoritma. Setiap ucapan sensasional akan terus diputar ulang. Di era media sosial, setiap kalimat aneh dan inkoheren yang terucap dari mulut presiden, menjadi soundbytes.Menjadi sensasi klip satu menit yang direkam, dipenggal, sebagai meme untuk diviralkan. Konteks pidato dilupakan, selain potongan kata atau kalimat sensasional. Inilah pentingnya kompetensi retorika, yang bukan sekadar kemampuan berpidato. Aristoteles, dua ribu limaratus tahun lalu membagi retorika menjadi tiga unsur: ethos (kredibilitas), logos(logika), dan pathos  (emosi). Siapa yang berbicara, apa yang dikatakan, dan bagaimana pesan dirasakan oleh audiens.

Pidato bergaya SoC tidak khas cuma Prabowo di Indonesia, beberapa politikus populis di berbagai negara menunjukkan pola serupa. Presiden Donald Trump di Amerika, Duterte di Philipina, Charlos Menem di Argentina, dikenal memiliki pola komunikasi yang mirip. Sering meloncat dari satu topik ke topik lain, mengulang frasa, menggunakan hiperbola, serta menyampaikan klaim yang tidak didukung data atau argumentasi yang runtut.

Politikus populis menghindari bahasa formal yang runut dan rapi demi ingin mengesankan sebagai “orang biasa”. Dalam komunikasi politik, strategi ini untuk membangun kesan “dekat dengan rakyat.” Pierre Ostiguy, dalam “Populism: A Socio-Cultural Approach”, The Oxford Handbook of Populism (2017) mengintroduksi istilah “Flaunting the Low”. Menjelaskan bagaimana politikus populis berpidato untuk jual lagak dan pamer _(flaunt)_, gaya bicara “rendah”. Memakai bahasa jalanan, umpatan, gaya preman, sebagai cara membangun ikatan emosi dengan massa.

Menjadi cilaka jika gaya bicara jalanan itu bukan soal inkompetensi–gagal berperilaku pantas– tapi sebagai kesengajaan atau strategi politis. Melontarkan “bajingan, endasmu, londo ireng, omon-omon, nyenye-nyenye” sebagai flaunting the low, seolah merakyat. Bukan untuk membangun ikatan emosi, tapi untuk mengalihkan dari persoalan substantif. Bukan soal estetika politik, tapi soal menghindari akuntabilitas.

Pidato presiden bukan urusan personal, tapi representasi negara. Kalimat yang keluar dari mulut presiden akan dikutip media internasional, dianalisis investor, dicermati diplomat, bahkan menjadi referensi sejarah. Disiplin berbicara teratur, menahan diri untuk tidak menghardik, bukan cuma soal etiket pergaulan. Melainkan bagian dari tata kelola manajemen pemerintahan dalam mengelola negara. Di era ketika setiap pidato menjadi arsip permanen internet—sebagai rekam jejak—bicara spontanitas adalah liability. Impulsivitas adalah banalitas.

Publik juga akan bertanya: Jika saat pidato presiden tidak mampu menata kata-kata, bagaimana pula ia bisa menata negara?

Penulis :

MoneyTalk, Jakarta – Isu judi online di Indonesia bukan sekadar problem moral atau kejahatan digital, melainkan telah menjelma menjadi hantu besar yang menyelinap di balik kekuasaan. Setelah mencuatnya dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dalam pusaran bisnis haram ini—meski telah dibantah oleh yang bersangkutan dan sejumlah koleganya dari Partai Gerindra serta aktivis 98—kini sorotan publik beralih pada nama lain yang tak kalah besar: Budi Arie Setiadi, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) yang juga Ketua Umum Projo, relawan pendukung mantan Presiden Jokowi. Budi Arie menjadi Menteri Koperasi di Pemerintahan Prabowo.

Majalah Tempo dan sejumlah media lain menjadi pemantik wacana ini, tetapi yang paling mencengangkan adalah informasi bahwa dugaan terhadap Budi Arie sudah sampai di meja Kejaksaan Agung, bahkan dilengkapi bukti fisik. Lebih mengejutkan lagi, Islah Bahrawi—pengamat terorisme yang selama ini dikenal dekat dengan aparat kepolisian menyampaikan kesaksiannya di media bahwa Budi Arie pernah menerima uang Rp 500 juta yang diserahkan dalam bungkusan bekas kopi di rumah dinasnya di Widya Chandra. Suatu detail yang terlalu spesifik untuk disebut sekadar rumor.

Pertama, karena ini bukan hanya soal Budi Arie atau Dasco. Ini soal pola. Judi online bukan sekadar kejahatan lintas batas, tapi telah menjelma menjadi sindikat transnasional yang membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang memiliki akses terhadap sistem hukum, politik, dan teknologi. Dan siapa yang lebih strategis untuk dilibatkan (secara sukarela atau terpaksa) selain pejabat tinggi negara yang punya kuasa menentukan arah kebijakan komunikasi digital di negeri ini?

Kedua, posisi Budi Arie sebagai mantan Menkominfo memberi ironi tersendiri. Dalam pidato-pidatonya, ia kerap bicara soal pentingnya memberantas judi online, membentengi masyarakat dari pengaruh negatif internet, dan membangun ekosistem digital yang sehat. Namun di saat yang sama, namanya muncul dalam dugaan sebagai pelindung atau bahkan bagian dari jaringan bisnis judi online itu sendiri.

Fakta bahwa dua nama yang kini menjadi sorotan—Dasco dari Gerindra dan Budi Arie dari Projo—berasal dari poros kekuasaan yang menopang pemerintah menimbulkan pertanyaan serius: apakah sindikat judi online telah menjangkau titik-titik kunci dalam struktur pemerintahan dan kekuasaan politik kita?

Gerindra saat ini adalah partai besar yang tengah menjadi partai penguasa, dengan Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih. Projo adalah jaringan relawan pendukung Jokowi yang kerap mengklaim diri sebagai penentu kemenangan sejak 2014. Bila dua kekuatan ini disusupi atau bahkan secara aktif melindungi jejaring judi online, maka kita sedang berhadapan dengan krisis integritas negara.

Pernyataan Islah Bahrawi soal penyerahan uang tunai di rumah dinas Budi Arie tentu bukan sekadar celoteh. Ia menyebut ada orang yang menyetor uang dalam bungkus kopi. Ini mengindikasikan praktik-praktik yang sangat khas dari dunia hitam: menyamarkan transaksi, menghindari jejak digital, dan memanfaatkan lokasi strategis seperti rumah dinas sebagai tempat bertemu yang “aman”.

Pertanyaannya: siapa yang menyerahkan uang tersebut? Dalam konteks judi online, apakah itu bagian dari setoran bulanan? Apakah ada imbal balik berupa perlindungan hukum, atau mungkin “pengabaian” dari pemblokiran situs-situs ilegal?

Kalau benar bukti-bukti ini sudah di tangan Kejaksaan Agung, maka publik harus menuntut transparansi. Kejaksaan tak boleh berhenti hanya pada pemeriksaan teknis atau pencitraan penegakan hukum yang selektif. Harus ada pengusutan tuntas hingga ke akar-akar politiknya.

Kasus ini juga harus dibaca dalam konteks yang lebih besar: mengapa selama ini pemberantasan judi online seolah tidak pernah efektif? Situs-situs diblokir, tapi bermunculan kembali dengan domain baru. Operatornya ditangkap, tapi jaringan bisnisnya terus hidup. Semua ini menunjukkan bahwa ada kekuatan besar yang bekerja di balik layar, melindungi dan memfasilitasi operasi haram ini.

Kemungkinan keterlibatan pejabat tinggi negara bukan hanya membuat pemberantasan judi online menjadi ilusi, tapi juga membuat rakyat kehilangan kepercayaan terhadap negara.

Apa yang Harus Dilakukan?

-Audit Komprehensif

Perlu dilakukan audit menyeluruh terhadap aktivitas pemblokiran situs judi online oleh Kominfo. Apakah selama ini efektif? Siapa penyedia jasa IT yang bekerja sama? Apakah ada praktik kolusi di balik kontrak-kontrak tersebut?

-Pemanggilan dan Klarifikasi Publik

Kejaksaan Agung dan KPK harus secara terbuka menjelaskan status penyelidikan terhadap Budi Arie. Klarifikasi resmi diperlukan agar tidak berkembang menjadi kabar liar yang kontraproduktif.

-Gerakan Sipil dan Media Independen

Media dan LSM harus berani menuntut transparansi dan membongkar fakta-fakta yang ada. Demokrasi tak akan sehat jika kejahatan terselubung seperti ini dibiarkan menjadi bagian dari sistem.

Presiden Harus Bersikap

Presiden Prabowo Subianto harus menunjukkan bahwa tidak akan menoleransi kejahatan yang membonceng kekuasaan. Mereka harus mendorong proses hukum berjalan tanpa intervensi politik.

Jika elite kekuasaan tidak membersihkan diri dari lingkaran judi online, maka negeri ini tak sedang berada di ambang krisis, tapi sudah masuk ke dalamnya. Maka langkah pertama untuk menyelamatkan republik ini adalah jujur melihat ke dalam cermin: siapa di antara kita yang diam-diam menjadi kaki tangan kejahatan itu?

Majalah Tempo pernah menulis dugaan keterkaitan Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco dalam dugaan keterlibatan judi online. Dasco, beberapa petinggi Gerindra dan aktivis 98 membantah keterlibatan Wakil Ketua DPR itu dalam judi online di Kamboja.

Namun berita yang paling mengejutkan dan sudah ada dalam bukti di Kejaksaan Agung dugaan keterlibatan Budi Arie dalam judi online. Bahkan pengamat teroris yang dekat kepolisian Islah Bahrawi menyakini Budi Arie terlibat judi online.

Islah mengungkapkan, ada beberapa orang menyetorkan uang Rp 500 juta dibungkus bekas pembubkus kopi diantar di rumah dinas Budi Arie di Widya Chandra.

Penulis : Muslim Arbi pengamat politik

MoneyTalk, Jakarta – Ingat kedatangan Habiburrahman dan Dasco orang dekat Prabowo ke Petamburan? tentu “kedua orang besar partai pemenang”, karena fakta de yure ketumnya menjadi Presiden RI ke- 8, maka pastinya ada misi dan seizin (saat itu bakal) Presiden RI. Utamanya ada fenomena manufer Jokowi-sme, melalui PASBATA dan gerakan bela Jokowi dan keluarga sampai mati, pra 20 Oktober 2024 atau, pra pelantikan presiden-wapres, disertai adanya kondisi gejala-gejala kehidupan (geo politik) tanah air yang banyak para tokoh maupun umumnya publik lantang speak up “adili Jokowi dan keluarga” juga disertai tekanan dan teriakan diberbagai medsos yang soundingnya “singkirkan Gibran”, akibat penghinaan yang dilakukan akun Fufu Fafa terhadap pribadi Prabowo dan keluarga dengan kata-kata kotor, dan sialnya pemilik akun Fufu Fafa menurut Para netizen dan hasil analisis seorang pakar IT. 99 % lebih atau 99,9 % pemiliknya adalah sosok Gibran Bin Jokowi si bakal wapres.

Maka, kesemua peristiwa gejala-gejala perkembangan politik inilah salah satunya, alasan primer Prabowo mengutus dua orang kepercayaannya menemui HRS dan strategy cooling system (Proses pendinginan suhu politik) dan termasuk politik antisipasi, diantaranya dengan umrohnya HRS selama hampir 60 hari menjelang pelantikan dan pasca pelantikan.

Terlebih seorang politisi senior kelas tinggi dan bekal ilmu intelijen yang Jendral Prabowo miliki, yakin sadari kekuatan aksi muslim terbesar di tanah air yang bakal bisa merepotkan sepanjang kepemimpinannya khusunya di Ibu Kota Jakarta dan menimbang, mengingat dan menyadari HRS dan umat serta simpatisan HRS yang pernah mendukungnya, lalu Ia sakiti.

Jangankan tipikal Prabowo pengincar asli kursi jabatan nomor satu RI dan beda basic , serta “terpaksa” berbuat khianat terlebih dikelilingi politisi hitam dan abu-abu dengan kostum politik pragmatis, karena kenyataannya di sekeliling beliau pun ada juga makhluk kaplingan sempit nalar, hobi nyunat atau makar komando beliau, ini riil.

Pokoknya banyak manusia nano-nano sesuai fenomena dan dinamika kehidupan di dunia fana, yang takdirnya memang rupa-rupa.

Maka tiada lain, ini strategi politik HRS diawali pemberikan dukungan kepada RK-Sus walau Beliau tahu sebagai orang cerdas bahwa metode politik yang Beliau gunakan tidak populer serta bakal high risk mengundang cemoohan, baik dari internal yang gercos atau simpatisan HRS dengan pola gerakan tidak hadir di TPS. maupun resiko mendapatkan cemoohan liar yang datang justru bukan dari orang yang capek berjuang di pemilu pilpres 2019 (dibaca orang yang bukan mendukung kepada Prabowo kala pilpres 2019), namun sekedar provokator karena tidak kebagian remah-remah pembangunan-isme atau politik kue-isme.

Yang jadi masalah publik simpatisan beliau diluar Organisasi FPI, Persada 212 dan diluar GNP Ulama cikal bakal GNPFU kelompok keras pelawan Ahok penista agama, yang akhirnya menjadi alumni 212 dari sabang hingga merauke walau bukan berarti mutatis mutandis alumnus 212 bisa di klaim menjadi anggota Persada 212 maka yang paling aman dan halal sebut saja kelompok simpatisan Dr. Habib Riziek Shihab/ HRS.

Kenapa aman? alumni dan simpatisan tidak perlu ada kartu anggota, tidak ada simpatisan kadaluwarsa, torak ada simpatisan dan alumni dapat dipecat dan digugurkan sekalipun melalui pengadilan negeri maupun mahkamah akhirat.

Kembali dihubungkan dengan judul artikel, menjadi jelas HRS pragmatis dalam substantif kecerdasan DEMI KEADILAN, SIAP DIFITNAH, DIRUJAK OLEH PARA GERCOS atau OLEH PARA SIMPATISAN YANG BELUM ATAU GAK KENAL ATAU KENAL LAMA NAMUN “NALAR OLENG”.

Penulis, sebagai seorang alumni 212 dan sepanjang pra aksi Ahok dan yang turut serta melaporkan Ahok yang keturunan bangsa China antrian ke 2, karena pola kepemimpinannya kadang menyakitkan, dan dalam membuat analogi tidak bijaksana sehingga pernah diberi gelar oleh para netizen “si mulut jamban”, laporan untuk kali kedua terjadi setelah Ahok sempat diperiksa namun kembali berulah mengulang narasi, “akan membuat pasword wifi dikantor gubernur dengan nama Al Maidah 51, saat duduk bersama Djarot wakil Gubernur DKI.

Laporan kedua sekaligus sebagai kwalitas daya dorong agar “Ahok eks putra idealis Jokowi” dapat dijadikan TSK serta diadili, bahkan Ahok di ruang sidang sempat merampang kepada penulis lalu dilerai hakim ketua majelis.

Dan perspektif atau misi pendekatan politik sesungguhnya HRS memberi dukungan kepada Prabowo selain memang keharusan menghormati Prabowo (islamilogi) sebagai umaro atau amir dari ulilamr, dan HRS hanya prioritas kepentingan ummat, hanya demi keadilan semata-mata. Diantaranya salah satunya adalah keadilan yang bakal dituntut oleh HRS adalah membuka ulang tabir pembunuhan sadis (unlawful killing ) KM. 50 yang walau para pelakunya pernah diadili namun tranparansi dari sisi kacamata hukum sekedar “peradilan dagelan” yang tidak menyentuh kebenaran materil (materiele waarheid). Siapa otak pelaku, siapa penyerta lainnya diluar terdakwa yang diputus noodweer vide pasal 49 KUHP. (bebas oleh sebab anggota polri terpaksa karena berat lawan, lawan para pejuang yang ditembak mati) entah berat lawan, oleh sebab karena persenjataan para korban terbunuh lebih banyak dan bersenjata canggih, atau tepaksa surveilance dengan surat penjejakan resmi di tengah malam? Yang mestinya penyidik tunggal tunggu terperiksa (HRS) esok pagi diruangan ber AC? Ini penyidik pakai asas asas atau teori hukum pidana apa atau asas legalitas pasal kitab hukum apa?

Dan pengungkapan dugaan publik atas pembunuhan terhadap 894 para korban pejuang Pemilu 2019 yang meninggal karena kecapekan secara rame-rame!

Namun penulis yang eks pengacara Beliau, namun pastinya bukan mantan simpatisan, yang begitu dekat era 2015-2020 dan sering, capa kali sampai menjelang adzan subuh bercakap via chat WhatsAp,(2017-2020) dan kala HRS diperiksa oleh penyidik dalam tuduhan yang menyangkut “kebebasan menyampaikan pendapat, atau dalam konstruksi hukum “peran serta masyarakat”, alhamdulillah semua kasus stagnan dan sebagian SP.3. Bahkan sejarahnya penulis dan rekan kelompok pecinta beliau akan balas lapor ke yang berwenang atau hinakan orang-orang yang hinakan beliau, walau sekalipun mereka “penduduk istana maupun artis top berakhlak jorok derajat sales dendeng basah”, gak ada urusan, bahkan penulis untuk beberapa kali menjadi Korlap aksi damai.

Penulis yang ikut mendampingi Beliau, andai penyidik hanya mengizinkan 5 orang bahkan hanya boleh dua orang, maka diantara 5 dan 2 seorangnya adalah penulis.

Lalu pertanyaan simpatisan HRS apakah ada hitam diatas putih terhadap PRABOWO IS FINISH apakah gak bakal masuk ke lubang yang sama dua kali ?

HRS Penulis tahu (amat tahu) bukan jarang, namun sering dikhianati oleh kawan politisi yang didukungnya, bahkan pengikut internalnya (kepercayaannya). Beliau biasa hanya cukup pegang janji ucapan, umumnya kebiasaan para ulama shalih, bukan ulama su’u. DAN PRABOWO TIDAK ADA DATA EMPIRIK PERNAH KHIANATI HRS SAAT MENJADI PRESIDEN, KARENA PRABOWO BARU INI KALI MENJADI PRESIDEN RI.

Lalu apa jadinya jika HRS dan pengikutnya dikhianati seperti saat pasca 2019? Mesti dipahami, itu akibat strategi politik Jokowi yang ingin menghancurkan pendukung Prabowo, diantaranya HRS dan para pengikutnya? Dan nyata Prabowo pun memperalat Jokowi untuk menjadi RI.1.

Terlepas dari Itu semua, pertanyaannya adalah, bagaimana andai Prabowo khianat lagi HRS dan para pengikut dan simpatisan HRS. Mak andai benar terjadi, ini lah wujud daripada sejarah kepemimpinan bangsa, ini urusan sejarah dan ilmu sosiologi-politik dan hukum, serta ranah kompetensi absolut mahkamah akhirat. Karena tanpa ada khianat tidak ada kata juang? Maka terimalah konsekuensi jadilah pengikut sang imam yang konsisten, apapun yang tejadi, karena mengkhianati beliau adalah mengkhianati para sahabat dan umat simpatisan, dan hakekatnya khianati semua manusia saat dan efek setelahnya didalam kehidupan. Lalu semua yang dikhianati bakal bersisa bekal ibadah dan pahala, upah juang dan penghapus sebagian dosa, akibat patuh melaksanakan petuah orang shalih, namaun dikhianati si politisi,.terserah pilih mana?

Lalu konklusi penting, umat pecinta Beliau jangan khawatir, Beliau akan tancapkan bendera perlawanan kepada Prabowo Subianto, andai dalam waktu yang “diperjanjikan” ternyata tidak ditepati oleh sang kawan baru namun nan kenal lama.

Penulis simpatisan HRS dan HRS satu-satunya yang sanggup memerintahkan penulis yang bodoh (al fakir ilmu) menjadi pengamat hukum dan politik mujahid 212.

Penulis : Damai Hari Lubis,Pengamat Hukum & Politik MUjahid 212

MoneyTalk,Jakarta – Sudah lama penulis nyatakan “Jokowi akan terkena karma politik” dan karma tersebut beberapa nya sudah mulai terbukti menyerempet tubuh Jokowi pra lengser keprabon, maka logika perspektif politiknya tentu bakal membesar paska Jokowi lengser, karena faktor hilangnya kekuasaan ?

(lebih…)