8 November 2026

Direktur CBA (Center For Budget Analisis) Uchok Sky Khadafi

MoneyTalk,Jakarta – PAM Jaya sekitar tahun 2020 – 2022 borong meubelair senilai Rp.403.822.500 yang terdiri dari meja manager, kursi manager, kursi hadap, lemari, meja rapat, kursi rapat, meja receptionist, kursi receptionist, meja staf, kursi staf, lemari taman, kitchen set, meja ruang kontrol dan sofa lobi.

Dan ternyata misalnya kursi rapat di ruang rapat tidak lagi ada pada tempatnya. Dari 28 unit kursi rapat hanya ditemukan hanya 21 unit saja. Dan kursi rapat Ini telah berpindah tempat dari ruang rapat.

Menanggapi banyak aset tidak jelas atau hilang di PAM Jaya, menurut Ketua Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (FORMASI), Jalih Pitoeng memperlihatkan bahwa PAM Jaya secara administrasi ambradul. Dan ini sebuah kesengajaan agar dapat diambil atau dicolong oleh siapapun.

Sebaiknya kata Jalih Pitoeng PAM Jaya membuat daftar aset investaris aset dong agar tertib dan rapi secara administrasi. Semua aset barang harus diberi penomoran register dong.

Ini mah pegawai PAM Jaya minta mobil mewah, gaji dan tunjangan yang gede. Tetapi malas untuk mengurus aset perusahaan. Agar asetnya bisa dikorupsi tambah ketua FORMASI.

Kemudian menurut Direktur CBA (Center For Budget Analisis, Uchok Sky Khadafi korupsi itu dimulai dari ambradulnya administrasi. Dengan tidak rapi dan tertib administrasi maka akan menjadi lahan korupsi.

Bukan hanya meubelair yang hilang atau bisa dihilangkan.Tetapi pencatatan Properti Investasi atas tanah juga aneh bin janggal. Sehingga harus segera disidik oleh Kejati DKI Jakarta, kata Uchok Sky Khadafi.

Ambil saja satu kasus properti investasi PAM Jaya di Jl. Lontar Nomor 151-152, RT.03/RW.013, Kel. Kebon Melati, Kec. Tanah Abang. Dimana nilai perolehan untuk tanah dan bangunan di Jl. Lontar Nomor 151 senilai Rp.750.000.000,00 dan di Jl. Lontar Nomor 152 senilai Rp.400.000.000,00 sehingga total nilai perolehan untuk tanah dan bangunan di Jl. Lontar Nomor 151-152 adalah senilai Rp1.150.000.000,00 Jelas Uchok Sky.

Tetapi dalam dokumen rincian Properti Investasi PAM Jaya hanya tercatat nilai perolehan atas tanah senilai Rp1.050.000.000,00, dan tidak ada nilai bangunan serta akumulasi penyusutannya pungkas Uchok Sky

MoneyTalk,Jakarta – Hallo KPK, mengapa kasus Polana Banguningsih Pramesti diam di tempat, kata Direktur CBA (Center For Budget Analisis) Uchok Sky Khadafi ketika menanggapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus mendalami dugaan aliran uang dalam kaitan korupsi proyek fiktif PT Amarta Karya.

Untuk diketahui Polana terakhir diperiksa penyidik KPK pada Agustus 2023. Saat itu, Polana diperiksa hanya sebagai saksi untuk melengkapi berkas perkara mantan Dirut PT Amarta Karya, Catur Prabowo.

Saat ini PT Amarta Karya diisukan akan ditutup oleh pemerintah. Karena PT. Amarta Karya bagian dari 14 BUMN yang bermasalah dan sedang dikaji kelanjutan usahanya oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

Makanya Uchok Sky Meminta KPK serius untuk menyelesaikan proyek fiktif PT Amarta Karya tersebut. Proyek fiktif sebanyak 60 pengadaan fiktif Wajar dong,PT. Amarta Karya masuk pasien yang perlu “dirawat” alias dikaji oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

Ditambah lagi perusahaan sedang menjalankan proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap sejumlah investor gara gara proyek Bukit Algoritma,tambah Uchok Sky.

Jadi dalam pengadaan fiktif ini, jelas tidak masuk akal, kalau KPK hanya bisa menjerat Direktur Utama PT Amarta Karya (Persero) Catur Prabowo dan mantan Direktur Keuangan PT Amarta Karya (Persero) Trisna Sutisna.

Dan Kasus ini harus ditambahi lagi tersangkanya, atau KPK harus mengembangkan kasus 60 pengadaan fiktif biar ada keadilan dan menikmati uang proyek fiktif tersebut harus ada hukuman dong, jelas Uchok Sky

Kemudian belum diketahui laman resmi PT. Amarta Karya adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, manufaktur, dan investasi. Adapun kantor pusatnya berada di Bekasi, Jawa Barat.