7 November 2026

George Soros

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengingatkan bahwa perang politik global di era modern tidak lagi selalu dilakukan melalui operasi militer terbuka atau intervensi ekonomi langsung. Menurutnya, salah satu instrumen yang paling efektif untuk menggoyang stabilitas sebuah pemerintahan justru dilakukan melalui operasi propaganda berbasis budaya populer, film, media digital, jaringan LSM, hingga pembentukan opini publik internasional.

Dalam analisa geopolitik yang disampaikannya, Amir Hamzah menilai pemerintahan Prabowo Subianto berpotensi menghadapi tekanan besar dari kekuatan global yang memiliki kepentingan terhadap arah kebijakan nasional Indonesia, terutama jika pemerintahan Prabowo dianggap terlalu kuat dalam membangun kemandirian ekonomi, memperkuat nasionalisme sumber daya alam, serta memperbesar posisi tawar Indonesia di tengah rivalitas global.

Menurut Amir, pola operasi semacam ini bukan hal baru dalam percaturan internasional. Banyak negara berkembang yang mengalami tekanan politik melalui instrumen “soft power warfare”, yakni perang pengaruh yang dimainkan melalui narasi demokrasi, isu HAM, lingkungan, film dokumenter, gerakan sosial, hingga kampanye media internasional.

“Sekarang perang bukan lagi semata perang senjata. Yang jauh lebih berbahaya adalah perang persepsi. Pemerintahan bisa dilemahkan bukan dengan tank, tetapi dengan narasi yang terus-menerus dibangun melalui film, media sosial, NGO, aktivisme internasional, dan propaganda digital,” ujar Amir Hamzah kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).

Ia kemudian menyinggung nama George Soros yang selama ini kerap dikaitkan berbagai kalangan geopolitik dengan pendanaan jaringan masyarakat sipil global, demokratisasi, hingga gerakan politik transnasional di berbagai negara.

Meski demikian, Amir menegaskan bahwa respons pemerintah tidak boleh emosional dan reaktif, terutama dengan langkah pelarangan film atau pembungkaman karya budaya. Menurutnya, langkah semacam itu justru dapat menjadi jebakan strategis yang memperbesar tekanan internasional terhadap pemerintah.

“Kalau ada film propaganda lalu negara langsung melarang, itu justru bisa dipakai untuk membangun narasi bahwa pemerintah anti-demokrasi, anti-kebebasan berekspresi, dan represif. Di situlah operasi propaganda berhasil,” katanya.

Ia menilai pelarangan karya justru dapat memperluas simpati publik terhadap narasi yang sedang dibangun lawan politik global. Dalam era digital, sebuah film yang dilarang malah berpotensi menjadi viral dan mendapatkan legitimasi internasional lebih besar.

Amir menyebut fenomena ini sebagai “strategi victimization propaganda”, yakni menciptakan situasi di mana kelompok tertentu tampil sebagai korban represi negara sehingga memperoleh dukungan publik yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Karena itu, menurutnya, strategi terbaik bukan pelarangan, melainkan melakukan kontra narasi secara cerdas dan sistematis. Salah satunya melalui produksi film tandingan, penguatan ekosistem budaya nasional, serta pembangunan literasi geopolitik masyarakat.

“Kalau ada film propaganda, lawan dengan film. Lawan dengan data. Lawan dengan karya budaya yang lebih kuat. Negara harus hadir membangun narasi sendiri, bukan sibuk melakukan sensor yang justru kontraproduktif,” ujarnya.

Dalam pandangannya, industri perfilman dan konten digital kini telah menjadi arena perebutan pengaruh global. Negara-negara besar menggunakan budaya populer untuk membentuk persepsi masyarakat dunia terhadap isu politik, konflik, hingga legitimasi pemerintahan tertentu.

Amir menilai Indonesia tidak boleh memandang film hanya sebagai hiburan semata. Menurutnya, film dapat menjadi instrumen geopolitik yang sangat efektif dalam mempengaruhi psikologi massa dan membentuk kesadaran politik generasi muda.

Ia mencontohkan bagaimana banyak negara menggunakan serial dokumenter, film independen, hingga platform streaming global untuk membangun opini mengenai demokrasi, korupsi, lingkungan hidup, hingga pelanggaran HAM. Dalam konteks tertentu, narasi tersebut bisa diarahkan untuk melemahkan legitimasi negara atau pemerintahan tertentu.

“Pertarungan abad ini adalah pertarungan algoritma dan persepsi. Siapa yang menguasai narasi, dia menguasai opini publik,” katanya.

Lebih jauh, Amir menilai pemerintahan Prabowo perlu memperkuat ketahanan nasional bukan hanya di sektor militer dan ekonomi, tetapi juga pada bidang informasi dan budaya. Ia menyebut perang modern telah bergerak ke arah hybrid warfare atau perang hibrida yang menggabungkan tekanan media, ekonomi, politik, siber, dan budaya sekaligus.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan strategi intelijen kebudayaan yang mampu membaca pola operasi pengaruh asing secara lebih dini tanpa harus terjebak pada pendekatan represif.

Amir juga mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia harus semakin kritis dalam menerima berbagai narasi global yang beredar melalui media sosial maupun produk budaya internasional. Ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa di balik sebuah produksi film atau kampanye internasional, sering kali terdapat pertarungan kepentingan geopolitik yang sangat kompleks.

Meski demikian, ia menegaskan pentingnya menjaga demokrasi dan kebebasan berekspresi sebagai fondasi utama negara. Baginya, kekuatan pemerintah justru diuji dari kemampuannya menghadapi kritik dan propaganda secara terbuka, cerdas, dan strategis.

“Negara yang percaya diri tidak takut pada film. Negara yang kuat justru mampu memenangkan pertarungan ide dan narasi,” tegasnya.

Dalam situasi geopolitik global yang semakin keras, Amir memprediksi perang propaganda akan menjadi salah satu instrumen utama perebutan pengaruh terhadap negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya besar dan posisi strategis seperti Indonesia.

Karena itu, ia menilai pemerintahan Prabowo Subianto harus mulai membangun arsitektur pertahanan informasi nasional yang modern, adaptif, dan mampu menghadapi operasi pengaruh global tanpa mengorbankan demokrasi.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengemukakan analisa tajam terkait dinamika global yang dinilainya berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas politik Indonesia. Dalam pandangannya, ada indikasi permainan kekuatan global yang mencoba memanfaatkan momentum krisis untuk menggoyang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Amir menyoroti narasi yang berkembang mengenai dugaan aliran dana dari tokoh global George Soros yang disebut-sebut memiliki kepentingan dalam mendorong perubahan politik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, skenario yang dibangun mengarah pada penciptaan kondisi mirip dengan krisis besar yang pernah terjadi pada Reformasi 1998.

Dalam analisisnya, Amir menyebut bahwa salah satu tujuan dari tekanan global tersebut adalah mendorong perubahan konstitusi, khususnya amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 ke arah yang lebih liberal.

Ia menilai, perubahan konstitusi sering kali tidak berdiri sendiri, melainkan muncul sebagai konsekuensi dari instabilitas politik dan tekanan ekonomi. “Jika kondisi dibuat kacau, maka ruang untuk mendorong perubahan sistem akan terbuka lebar,” ujarnya, Ahad (22/3/2026).

Lebih jauh, Amir mengaitkan situasi ini dengan kondisi global yang tengah tidak stabil—mulai dari potensi krisis ekonomi, konflik geopolitik, hingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Dalam konteks Indonesia, kondisi tersebut dinilai bisa memicu:

-Krisis moneter

-Penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah

-Lonjakan ketidakpuasan sosial

“Ketika krisis ekonomi terjadi, maka legitimasi politik ikut tergerus. Ini pola klasik yang sudah berulang di banyak negara,” kata Amir.

Amir juga menyoroti dinamika elite dalam negeri yang disebutnya sebagai praktik “politik saling menunggangi”. Dalam situasi krisis, berbagai kekuatan politik dapat memanfaatkan momentum untuk memperkuat posisi masing-masing.

Ia menggambarkan, apabila pemerintahan Prabowo Subianto mengalami tekanan berat hingga jatuh, maka secara konstitusional posisi presiden akan diisi oleh wakil presiden, yakni Gibran Rakabuming Raka.

“Dalam sistem kita, suksesi sudah jelas. Ketika presiden tidak dapat melanjutkan, maka wakil presiden naik. Ini yang kemudian menjadi bagian dari kalkulasi politik,” jelasnya.

Dalam analisa tersebut, Amir juga menyinggung masih kuatnya pengaruh politik Joko Widodo (Jokowi) di berbagai lini kekuasaan. Ia menilai, kekuatan ini bisa menjadi faktor penting dalam dinamika suksesi kepemimpinan nasional.

Menurutnya, ada persepsi di publik bahwa sebagian kekuatan politik menginginkan Gibran Rakabuming Raka naik menjadi presiden dalam skenario tertentu.

“Ini bukan soal benar atau salah, tapi bagaimana persepsi itu berkembang di publik dan menjadi bagian dari dinamika politik,” ujarnya.

Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dalam analisa Amir adalah peran media sosial. Ia menilai, platform digital saat ini memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik sekaligus menggerakkan aksi massa.

Menurutnya, narasi negatif terhadap pemerintah yang masif di media sosial berpotensi menjadi pemicu demonstrasi besar, terutama jika dikombinasikan dengan tekanan ekonomi.

“Media sosial hari ini bukan hanya alat komunikasi, tapi juga alat mobilisasi. Dalam situasi krisis, ini bisa menjadi pemantik gerakan besar,” tegasnya.

Di akhir analisanya, Amir Hamzah menekankan pentingnya kewaspadaan seluruh elemen bangsa terhadap berbagai kemungkinan skenario yang berkembang, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia menyarankan agar pemerintah memperkuat stabilitas ekonomi, menjaga kepercayaan publik, serta mengelola komunikasi politik secara efektif guna meredam potensi gejolak.

“Sejarah mengajarkan bahwa krisis tidak datang tiba-tiba. Ia dibentuk oleh banyak faktor—ekonomi, politik, dan persepsi publik. Karena itu, antisipasi menjadi kunci utama,” pungkasnya

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyoroti adanya indikasi kuat bahwa gerakan jaringan internasional yang dikendalikan oleh George Soros tengah aktif di Indonesia. Menurutnya, jaringan tersebut memanfaatkan jalur LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan lembaga-lembaga donor global untuk mengintervensi kedaulatan ekonomi dan politik nasional di Pemerintahan Prabowo Subianto.

Amir Hamzah menjelaskan bahwa strategi global Soros selama beberapa dekade terakhir selalu berbasis pada pola yang sama melemahkan moneter nasional suatu negara, memicu instabilitas politik, kemudian membuka ruang intervensi ekonomi melalui mekanisme utang dan investasi lintas negara.

“Gerakan George Soros melalui jaringan LSM tampak seperti advokasi demokrasi atau HAM, tapi sesungguhnya itu adalah operasi lunak (soft operation) untuk merusak stabilitas moneter nasional, agar negara sasaran kehilangan kemandirian dalam mengelola sumber daya alamnya,” ungkap Amir Hamzah kepada wartawan, Selasa (28/10/2025).

Amir menjelaskan bahwa hubungan antara Soros dan China tidak bisa dilepaskan dari struktur modal global. Berdasarkan pengamatannya, sekitar 50 persen investasi asing di China memiliki latar belakang pemodal Yahudi (Zionis) yang sebagian besar terkait dengan aset dan likuiditas Soros yang beroperasi di bawah berbagai payung perusahaan keuangan internasional.

“Selama pemerintahan Jokowi, kondisi ini aman karena tidak ada kebijakan konfrontatif terhadap China. Tapi ketika pemerintahan Prabowo mulai melakukan penataan ulang terhadap investasi dan pinjaman luar negeri, terutama dari China, ini otomatis menimbulkan efek domino terhadap jaringan modal Soros di Asia,” kata Amir.

Kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini tengah mengkaji ulang sejumlah perjanjian investasi besar termasuk proyek Kereta Cepat Jakarta–Padalarang (KCJB) dan pembiayaan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi titik perhatian penting.

Amir menyebut langkah Purbaya ini merupakan gerakan berani, namun berpotensi menimbulkan gesekan strategis dengan kepentingan finansial global, terutama yang berafiliasi dengan Soros.

“Ketika Indonesia mulai menata ulang arah investasi asing dan tidak lagi menjadi pasar bebas bagi modal spekulatif, maka jaringan global akan merasa terganggu. Mereka bisa menggunakan berbagai cara untuk menekan, termasuk menggerakkan LSM, media, dan opini publik untuk mendeligitimasi pemerintah,” tambahnya.

Amir menguraikan bahwa tanda-tanda gerakan sistematis ini bisa dilihat dari naiknya tensi sosial dan politik dalam beberapa bulan terakhir, terutama di sektor ekonomi, energi, dan keamanan digital. Ia menyebut munculnya isu-isu “rekayasa krisis” seperti demonstrasi bertema lingkungan atau protes investasi asing sebagai bagian dari proxy movement yang beroperasi dalam jaringan lembaga nonpemerintah.

“Kalau diamati, pola gerakannya sama dengan yang dulu terjadi di Eropa Timur dan Amerika Latin: mulai dari advokasi hak sipil, kemudian berlanjut ke delegitimasi kebijakan pemerintah, lalu memicu instabilitas pasar dan pelemahan nilai tukar. Semua diarahkan untuk membuka ruang bagi intervensi finansial,” ujar Amir.

Dalam konteks Indonesia, Amir menilai target utamanya bukan sekadar ekonomi, tapi juga kedaulatan geopolitik. Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis di Indo-Pasifik menjadi kunci persaingan antara blok modal Barat dan Timur.

“Kita sekarang berada di tengah pertarungan besar antara kekuatan dolar dan yuan. Soros memegang posisi penting di jembatan antara dua kekuatan ini. Maka, setiap langkah Indonesia yang berpotensi mengubah keseimbangan investasi, pasti akan disikapi dengan reaksi intelijen global,” jelasnya.

Amir menegaskan bahwa negara harus siap menghadapi perang non-konvensional di era global saat ini. Ia menilai perang modern tidak lagi mengandalkan senjata, melainkan manipulasi data, opini publik, dan tekanan ekonomi.

“Skenario yang sedang berjalan adalah operasi destabilisasi. Targetnya bukan menggulingkan pemerintahan secara langsung, melainkan melemahkan konsolidasi ekonomi agar kebijakan kemandirian finansial tidak berhasil. Ini adalah bentuk perang hibrida,” katanya.

Oleh karena itu, Amir menyarankan pemerintah memperkuat sistem pertahanan non-militer, termasuk intelijen ekonomi dan siber, memperketat audit lembaga donor dan LSM asing, serta memperkuat posisi hukum nasional terhadap aliran dana lintas batas.

“Langkah Prabowo yang menegaskan kedaulatan ekonomi nasional harus diikuti dengan kesiapsiagaan intelijen. Jangan sampai kita lengah karena perang ini tidak terlihat secara kasat mata,” tutupnya.