30 Oktober 2026

ijazah Jokowi palsu

MoneyTalk.id, Jakarta – Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menjadi sorotan. Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel Purnawirawan Sri Radjasa Chandra, mengaku memiliki keyakinan penuh bahwa ijazah Jokowi palsu.

Pernyataan tersebut disampaikan Sri Radjasa ketika membicarakan informasi yang diperolehnya dari lingkungan Pasar Pramuka, Jakarta. Ia menyebut memiliki relasi lama dengan sejumlah orang di kawasan tersebut, termasuk seseorang bernama Kana sebagai keponakan Paiman dan bekerja di Pasar Pramuka.

Menurut Sri Radjasa, dirinya mengenal kawasan Pasar Pramuka sejak lama karena pernah beraktivitas di sana ketika masih menjalankan tugas intelijen. Dari hubungan tersebut, ia mengaku memperoleh informasi mengenai situasi yang berkembang ketika isu ijazah Jokowi mulai ramai dibicarakan pada 2025.

Sri Radjasa kemudian mengaitkan informasi tersebut dengan sosok Paiman Raharjo. Ia mempertanyakan posisi Paiman yang menurutnya memperoleh sejumlah jabatan strategis, termasuk pernah menjadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi serta menduduki posisi komisaris.

Ia juga menyebut adanya informasi dari orang-orang di sekitar Pasar Pramuka mengenai Paiman ketika isu ijazah Jokowi mulai mencuat. Namun, informasi tersebut menurut Sri Radjasa semestinya tidak berhenti sebagai percakapan di lingkungan informal.

“Kasihan Om Paiman,” ujar Sri Radjasa, mengutip percakapan yang menurutnya pernah muncul di lingkungan tersebut di channel YouTube Refly Harun, Selasa (15/9/2026).

Lebih jauh, Sri Radjasa menilai aparat penegak hukum seharusnya menelusuri setiap informasi yang berkaitan dengan polemik ijazah Jokowi. Ia menduga masih terdapat informasi lain yang dapat dikembangkan untuk mengetahui pihak-pihak yang berada di balik persoalan tersebut.

Menurut dia, apabila ada pihak yang mengetahui proses atau pihak yang disebut-sebut berada di belakang pembuatan dokumen yang dipersoalkan, keterangan tersebut semestinya diperiksa dan diverifikasi secara hukum.

“Seharusnya polisi mengembangkan,” tegasnya.

Sri Radjasa bahkan menyatakan keyakinannya terhadap dugaan ijazah palsu Jokowi 100 persen.

MoneyTalk.id,Jakarta – Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, melontarkan pernyataan kontroversial terkait polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Sri Radjasa Chandra mengaku memiliki keyakinan penuh bahwa ijazah Jokowi palsu. Bahkan, ia menyebut tingkat keyakinannya mencapai 100 persen.

“Anda yakin ijazah Jokowi palsu atau Anda yakin bahwa ijazah Jokowi asli?” demikian pertanyaan yang diajukan Refly Harun dalam sebuah perbincangan di channel YouTube Refly Harun, Rabu (9/9/2026).

“Palsu. Palsu. Yakin, saya yakin,” jawab Sri Radjasa Chandra.

Ketika kembali ditanya mengenai tingkat keyakinannya, ia menjawab tegas, “100 persen.”

Tak berhenti di situ, Sri Radjasa Chandra juga mengklaim bahwa Presiden mengetahui persoalan tersebut. Ia menegaskan pernyataannya disampaikan secara terbuka di ruang publik.

“Presiden tahu,” kata Sri Radjasa Chandra ketika ditanya apakah Presiden mengetahui bahwa ijazah Jokowi disebut palsu.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pandangan Sri Radjasa Chandra mengenai berbagai persoalan politik yang menurutnya berkaitan dengan kekuasaan dan lingkaran elite politik.

Dalam kesempatan yang sama, Sri Radjasa Chandra juga menyinggung dinamika Partai Golkar. Ia mengaitkan posisi Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar dengan pengaruh Jokowi.

Menurut dia, keberhasilan Jokowi mempertahankan pengaruh politiknya antara lain terlihat dari penempatan Bahlil di pucuk pimpinan Partai Golkar.

“Berhasil dengan menempatkan Bahlil,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah Ketua Umum Golkar tersebut hanya menjadi perpanjangan tangan Jokowi, Sri Radjasa Chandra menjawab tegas.

“Jelas,” katanya.

Sri Radjasa Chandra kemudian menghubungkan pembicaraannya dengan perkara PT Asuransi Jiwasraya dan PT Asabri.

Ia menyebut terdapat nama-nama besar yang menurutnya belum tersentuh secara hukum dalam proses penanganan perkara tersebut.

“Di Jiwasraya ada Bakrie diduga menguapkan empat triliun. Di Asabri ada Airlangga,” ujarnya.

Sri Radjasa Chandra kemudian mempertanyakan mengapa pihak-pihak yang ia sebut tersebut, menurut versinya, tidak tersentuh hukum dalam proses kasus Jiwasraya dan Asabri.

Ia juga membawa nama mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, dalam narasi yang disampaikannya.

Menurut Sri Radjasa Chandra, terdapat kelompok-kelompok kepentingan yang mendapatkan dukungan dari lingkaran kekuasaan berbeda.

“Satu geng itu dibackup istana baru, satu geng dibackup istana lama,” katanya.

Lebih jauh, Sri Radjasa Chandra menilai Febrie Adriansyah memiliki loyalitas yang kuat kepada Jokowi. Ia bahkan menggunakan istilah “algojo” untuk menggambarkan peran yang menurutnya dijalankan Febrie dalam penanganan sejumlah perkara.

“Ketika Febrie loyalitasnya kepada Jokowi, begitu hebat dia jadi algojo, begitu hebat dia menyajikan proses skandal Jiwasraya yang menguntungkan Jokowi,” ujar Sri Radjasa Chandra.