3 November 2026

Jendral Gatot Nurmantyo

MoneyTalk, Jakarta – Ada tudingan bahwa aksi 25-30 Agustus kelabu itu dibelakangnya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI), kecurigaan itu memanfaatkan situasi kekisruhan di aksi terhadap militer TNI. Banyaknya kalangan bertanya ada apa sesungguhnya?

Jendral Gatot Nurmantyo Deklarator KAMI hadir posdhast dipandu Hersubeno Arief di akun youtube Hersubeno Point pada Rabu 11/9/2025.

Jendral Gatot Nurmantyo mengatakan BAIS yang di Palembang itu ada kesamaan, kesamaannya ditunjukkan KTA-nya. KTA-nya ini kan foto kemudian viral di beberapa flatporm media sosial.

“Dua-duanya terencana,” ujar Jendral Gatot Nurmantyo.

“Jadi dua-duanya yang merencanakan TNI,” potong Hersubeno

“Bukankah. Yang nangkaplah. Artinya apa? Ada pembentukan opini,” kata jendral Gatot Nurmantyo.

“Untuk apa,” desak Hersu.

“Mendeskreditkan TNI, buktinya berhasil,” jelas Gatot Nurmantyo.

Gatot menyebutkan penyamaran sebagai BAIS berhasil ketika membawa KTA, Pistol dalam tugas.

“Yang sebut sebagai BAIS itu, membawa kartu anggota, membawa pistol pendek, berarti dia melakukan tugas dong. ‘BAIS’ itu melaksanakan tugas untuk mencari provokator, skema, siapa yang mengendalikan. Untuk siapa? Karena kan untuk polisi juga. Karena mereka tidak melakukan penindakan,” ungkap GN panggilan Gatot Nurmantyo.

“Informasi itu kerjasama seperti itu untuk saling mendukung. Kalau kemudian “BAIS” nya ada yang ketangkap sebagai provokator, berarti penyamarannya sudah benar atau berhasil,” jelasnya.

Gatot menyebutkan operasi inteligen yang ketangkap harusnya dibawa ke pos militer untuk diinterogasi

“Seharusnya begitu ketangkap maka dibawa ke pos, diinterogasi mengenai KTA, senjata dan nomornya, tanya kepada kematiannya apakah benar anda punya anggota apakah benar punya anggota seperti ini, apakah benar ditugaskan?,” jelasnya.

“Bukannya langsung diviralkan seperti yang sudah tersebar di media sosial,” tambah GN.

Gatot merasa kecewa jika memang benar TNI yang berbuat di aksi tersebut mestinya ada prosedurnya.

“Ini yang saya lihat ada kesamaan semacam ini. Ada apa sebenarnya ini? Hanya dua contoh seperi ini sudah menjustifikasi bahwa TNI provokator kan gitu,” ujarnya.

“Ini yang sangat saya sayangkan, prosedurnya tidak boleh seperti itu. Begitu ketahuan tanda anggotanya langsung disembunyikan. Harusnya dibawa ke pos dan diinterogasi,” ungkap GN.

Lantas dia menyebutkan kalau ini terjadi, setengah agen, 60% Agen akan tertangkap semuanya. Bagaimana untuk mendapatkan informasi organisasi apa yang terlarang tanpa bisa masuk ke dalamnya.

“Kalau kejadiannya operasi intelijen seperti ini kan cepat terbongkar,” ucap dia.

Menurutnya bahaya jika TNI disebut provokator maka akan terpisah TNI dengan rakyat. Central of gravity kekuatan Indonesia antara TNI, rakyat dan Polri. Selama ada persatuan ketiganya ini maka tidak akan bisa diganggu oleh kekuatan apapun.

MoneyTalk, Jakarta – Jubir Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie Mawardi hadiri Halaqah secara daring di @Abdul Wahid Maktub dengan tema “Hukum Demonstrasi” Pada Sabtu 6/9/2025.

Adhie Massardi mengawali bicara dengan menyampaikan baru saja menyaksikan sesuatu yang ironis. Karena sepekan setelah kita merayakan hari ulang tahu Proklamasi kemerdekaan dimana para pembesar negara tampaknya sangat senang sehingga berjoged-joged. Tapi sepekan kemudian terjadilah pergolakan di hampir seluruh Indonesia. Beberapa diantaranya penuh dengan kemarahan, ada api dan lain-lain.

“Saya bersama Din Syamsuddin, Rahmat Wahab, Jendral Gatot Nurmantyo dan kawan-kawan lainnya kalangan intelektual, cendekia , Tokoh-tokoh masyarakat membuat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) tahun 2020 diresmikan tanggal 18 Agustus 2020,” ujar Adhie Massardi.

Landasan membentuk KAMI karena KAMI melihat periode ke dua pemerintahan Joko Widodo ini makin jauh menyimpang dari apa yang dicita-citakan oleh para founding fathers kita tentang kemerdekaan. Hampir semua hal dilanggar. KAMI ingin menjadi bercermin bagi pemerintahan. Tentu saja cermin yang menjadi bingkai dengan bingkai konstitusi dan pancasila sehingga kalau ada tingkah laku atau kebijakan-kebijakan pemerintah, kita kasih cermin : Ini lho !. Ini apakah lebijakan ini mencerdaskan kehidupan bangsa? Melindungi segenap Bangsa? Mensejahterakan bangsa atau tidak, ada perikemanusiaannya, ada keadilan sosial apa ngga?

“Nah rupanya ketika kita tampilkan cermin kepada pemerintah, mungkin dia melihat sesuatu yang menakutkan yakni yang buruk sehingga kemudian seperti biasalah buruk muka cermin dibelah,” kata Deklarator KAMI ini.

“Kemudian Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia dianggap sebagai organisasi terlarang. Beberapa kawan saya seperti Syahganda, Jumhur Hidayat, Anton Permana dan lain-lain, di daerah ditangkapin dengan alasan yang tidak jelas,” imbuhnya.

Dari situ kerusakan ini yang kita semua sudah tahu lanjut Adhie, mulai dari penggunaan APBN yang hampir tanpa perhitungan sehingga melahirkan situasi fiskal yang kuar biasa parahnya. Kemudian Pemerintah Pusat, Kementerian Keuangan Sri Mulyani melakukan desentralisasi fiskal anggaran untuk daerah dan lalu dipotongnya sehingga daerah diminta untuk mencari uang sendiri.

“Itulah sebabnya kenapa daerah-daerah menaikkan pajak PBB dan retribusi karena pendapatan daerah ngga ada lain lagi kecuali PBB dan retribusi. Dan inilah meledaknya daerah mulai dari Pati , kemudian yang sebelumnya banyak tin bukan masalah,” ungkapnya.

Dan kata Adhie, kita semua tahu di banyak hal soal bagaimana Konstitusi dilanggar, diperkosa sampailah lahirnya anak haram konstitusi. Kemudian lagi, membuat 300 doktor, Guru Besar melakukan aksi Amicus Curae ke Mahkamah Konstitusi agar menegakkan keadilan sesuai dengan Konstitusi kita. Namun hal ini diabaikan.

Soal Infrastruktur

Infrastruktur, hampir semuanya tanpa AMDAL, tanpa studi yang membuat anggaran menjadi berantakan. Kebijakan yang dibuat Sri Mulyani bahwa negara yang akhirnya membolehkan BUMN yang ditunjuk oleh Presiden untuk menjalankan proyek-proyek infrastruktur berhutang.

“Dari itu akibatnya apa? Akibatnya BUMN menjadi bangkrut karena tidak bisa bayar hutang,” ujarnya.

Sementara tol Infrastruktur Adhie menuturkan, yang dibuatnya dengan cara-cara mark up dan penyimpangan-penyimpangan akhirnya jatuh menjadi mahal. Kemahalan pembuatan tol itu dibebankan kepada rakyat sehingga tidak efektif untuk menjadi stimulus ekonomi seperti di negara – negara lain. Kemudian lagi pelanggaran HAM seperti Kanjuruhan, KM 50 dan masih banyak lagi lainnya.

Semua itu harus ada pertanggungjawabannya dan ekonomi makin berantakan juga. Banyak hal yang membuat masyarakat menjadi marah selama bertahun-tahun, selama 10 tahun.

Belum lagi IKN, kereta cepat yang bagi rakyat itu tidak layak dan belum diperlukan. Kereta cepat menggunakan APBN dan faktanya merampas APBN. Kemudian lagi survey, disebutkan kepuasan publik 85%. Kepalsuan-kepalsuan ini terus terjadi hingga muncul Presiden baru yakni Presiden Prabowo.

“Apa yang terjadi setelah ganti Presiden baru Prabowo ? Joko Widodo tetap intervensi memasukan orang-orangnya, karena dia lah yang menjadikan Prabowo maju sebagai Presiden. Nah persoalan terus terakumulasi,” jelas Adhie.

Pada tanggal 18 Agustus 2025, KAMI lakukan Reuni di Jogja di antaranya dinyatakan bahwa ada sabotase di dalam struktur pemerintahan Prabowo dari orang-orangnya Jokowi yang akan merusak reputasi Prabowo. Jadi KAMI sudah ingatkan terkait hal ini. Dengan mem-breakdown beberapa persoalan misalnya tanah itu punya negara bukan punya rakyat. Saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, tidak punya tanah satu incipun. Sekarang negara mau mengambil dan membagikan kepada taipan-taipan. Hal-hal seperti itu membuat rakyat marah.

“KAMI sudah mengingatkan kepada Prabowo bahwa akan terjadi pendongkelan oleh orang-orangnya Jokowi, malah dijawab oleh Prabowo dengan memberikan gelar kehormatan Maha Putra kepada para pejabat. Padahal KAMI tahu keadaan sedang tidak dalam keadaan baik,” kata Adhie.

Adhie mengatakan berkaca dari pergolakan kemarin terjadi demonstrasi pada tanggal 25-30 Agustus. Demonstrasi bukan barang baru di negeri di Republik ini. Marilah kita perbaiki, kejadian lebih besar jangan terulang kembali.