MoneyTalk, Jakarta – Ada tudingan bahwa aksi 25-30 Agustus kelabu itu dibelakangnya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI), kecurigaan itu memanfaatkan situasi kekisruhan di aksi terhadap militer TNI. Banyaknya kalangan bertanya ada apa sesungguhnya?
Jendral Gatot Nurmantyo Deklarator KAMI hadir posdhast dipandu Hersubeno Arief di akun youtube Hersubeno Point pada Rabu 11/9/2025.
Jendral Gatot Nurmantyo mengatakan BAIS yang di Palembang itu ada kesamaan, kesamaannya ditunjukkan KTA-nya. KTA-nya ini kan foto kemudian viral di beberapa flatporm media sosial.
“Dua-duanya terencana,” ujar Jendral Gatot Nurmantyo.
“Jadi dua-duanya yang merencanakan TNI,” potong Hersubeno
“Bukankah. Yang nangkaplah. Artinya apa? Ada pembentukan opini,” kata jendral Gatot Nurmantyo.
“Untuk apa,” desak Hersu.
“Mendeskreditkan TNI, buktinya berhasil,” jelas Gatot Nurmantyo.
Gatot menyebutkan penyamaran sebagai BAIS berhasil ketika membawa KTA, Pistol dalam tugas.
“Yang sebut sebagai BAIS itu, membawa kartu anggota, membawa pistol pendek, berarti dia melakukan tugas dong. ‘BAIS’ itu melaksanakan tugas untuk mencari provokator, skema, siapa yang mengendalikan. Untuk siapa? Karena kan untuk polisi juga. Karena mereka tidak melakukan penindakan,” ungkap GN panggilan Gatot Nurmantyo.
“Informasi itu kerjasama seperti itu untuk saling mendukung. Kalau kemudian “BAIS” nya ada yang ketangkap sebagai provokator, berarti penyamarannya sudah benar atau berhasil,” jelasnya.
Gatot menyebutkan operasi inteligen yang ketangkap harusnya dibawa ke pos militer untuk diinterogasi
“Seharusnya begitu ketangkap maka dibawa ke pos, diinterogasi mengenai KTA, senjata dan nomornya, tanya kepada kematiannya apakah benar anda punya anggota apakah benar punya anggota seperti ini, apakah benar ditugaskan?,” jelasnya.
“Bukannya langsung diviralkan seperti yang sudah tersebar di media sosial,” tambah GN.
Gatot merasa kecewa jika memang benar TNI yang berbuat di aksi tersebut mestinya ada prosedurnya.
“Ini yang saya lihat ada kesamaan semacam ini. Ada apa sebenarnya ini? Hanya dua contoh seperi ini sudah menjustifikasi bahwa TNI provokator kan gitu,” ujarnya.
“Ini yang sangat saya sayangkan, prosedurnya tidak boleh seperti itu. Begitu ketahuan tanda anggotanya langsung disembunyikan. Harusnya dibawa ke pos dan diinterogasi,” ungkap GN.
Lantas dia menyebutkan kalau ini terjadi, setengah agen, 60% Agen akan tertangkap semuanya. Bagaimana untuk mendapatkan informasi organisasi apa yang terlarang tanpa bisa masuk ke dalamnya.
“Kalau kejadiannya operasi intelijen seperti ini kan cepat terbongkar,” ucap dia.
Menurutnya bahaya jika TNI disebut provokator maka akan terpisah TNI dengan rakyat. Central of gravity kekuatan Indonesia antara TNI, rakyat dan Polri. Selama ada persatuan ketiganya ini maka tidak akan bisa diganggu oleh kekuatan apapun.


