Setiyardi Budiono, Obor Rakyat Reborn dan Kebenaran yang Tertunda

  • Bagikan

MoneyTalk.id,Jakarta – Dalam dunia politik, ada satu pelajaran yang terus berulang dari masa ke masa: tidak semua hal dapat dinilai dengan ukuran hari ini. Ada peristiwa yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian. Ada orang yang dahulu dicemooh, tetapi belakangan dipandang berbeda. Ada pula gagasan yang semula dianggap menyimpang, namun akhirnya menjadi bahan pembicaraan arus utama.

Nama Setiyardi Budiono berada dalam pusaran peristiwa semacam itu. Bagi generasi yang mengikuti Pilpres 2014, nama Setiyardi tidak bisa dipisahkan dari Tabloid Obor Rakyat. Publik masih mengingat bagaimana tabloid tersebut menjadi salah satu media yang paling kontroversial pada zamannya. Di tengah euforia politik yang mengiringi kemunculan Joko Widodo (Jokowi) sebagai tokoh harapan baru, Tabloid Obor Rakyat hadir dengan berbagai laporan dan kritik yang berseberangan dengan arus besar pemberitaan saat itu. Akibatnya tidak main-main.

Setiyardi menjadi sasaran kritik dari berbagai arah. Ia dituduh menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Banyak kalangan media mengambil jarak. Bahkan sejumlah rekan lama yang pernah bekerja bersamanya ikut menyampaikan kecaman.

Di tengah situasi tersebut, sedikit orang yang berusaha melihat persoalan dari sudut kebebasan pers. Perdebatan lebih banyak berkisar pada benar atau salahnya isi pemberitaan, sementara pertanyaan yang lebih mendasar sering luput dibahas: sampai sejauh mana kritik terhadap tokoh politik boleh disampaikan tanpa berujung pada kriminalisasi?

Pertanyaan itu masih relevan hingga hari ini. Setiyardi kemudian harus menjalani proses hukum yang panjang. Ia ditahan selama delapan bulan dalam kasus yang berkaitan dengan pemberitaan mengenai Jokowi. Bagi para pendukungnya, peristiwa itu menjadi simbol bahwa kritik terhadap penguasa memiliki risiko yang besar. Bagi pihak yang berseberangan, proses hukum tersebut dianggap sebagai konsekuensi dari produk jurnalistik yang dinilai bermasalah. Perdebatan itu tidak pernah benar-benar selesai.

Setelah lebih dari satu dekade berlalu, Setiyardi kembali muncul melalui kanal YouTube Obor Rakyat Reborn. Kehadirannya menghidupkan kembali diskusi lama mengenai pers, kekuasaan, dan pencarian kebenaran.

Menariknya, Obor Rakyat Reborn tidak memilih jalan yang sama seperti masa lalu. Jika dahulu Tabloid Obor Rakyat dikenal melalui pemberitaan politik yang tajam, kini Setiyardi lebih banyak tampil sebagai pewawancara yang memberi ruang kepada orang-orang yang merasa pernah menjadi korban kebijakan, tekanan, maupun tindakan represif aparat di Era Jokowi.

Di kanal tersebut muncul berbagai kesaksian yang selama ini jarang mendapatkan perhatian luas. Mantan dosen IPB Abdul Basith, misalnya, menyampaikan pengalamannya yang mengaku mengalami penyiksaan. Ustadz Irshad Ahmad juga menceritakan perlakuan yang menurut pengakuannya melibatkan tindakan kekerasan oleh oknum aparat. Nama lain seperti Akhbar Husein turut menyampaikan pengalaman yang tidak kalah mengejutkan.

Kanal YouTube Obor Rakyat juga mengikuti perkembangan mutakhir seperti perang Iran vs AS-Israel dengan menghadirkan nara sumber pengamat Timur Tengah yang juga mantan wartawan Majalah Tempo Faisal Assegaf.

Terlepas dari perdebatan mengenai berbagai pengakuan tersebut, satu hal yang menarik adalah munculnya ruang bagi suara-suara yang selama ini merasa tidak memiliki panggung yang memadai.

Di sinilah kekuatan media alternatif bekerja. Media alternatif sering hadir bukan karena ingin menggantikan media arus utama, melainkan karena ada kelompok masyarakat yang merasa belum terwakili. Ketika sebagian cerita tidak memperoleh perhatian yang cukup, akan muncul saluran-saluran baru yang mencoba mengisi ruang kosong tersebut.

Fenomena itulah yang sedang terjadi pada Obor Rakyat Reborn. Di tengah menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap media besar, kanal-kanal independen memperoleh tempat tersendiri. Publik tidak lagi hanya mengonsumsi berita yang sudah dikemas oleh redaksi besar. Mereka ingin mendengar langsung dari narasumber. Mereka ingin melihat ekspresi wajah, intonasi suara, dan alur cerita tanpa banyak potongan.

Karena itu tidak mengherankan apabila banyak video Obor Rakyat Reborn memperoleh perhatian besar.

Namun bila ingin berkembang menjadi institusi media yang memiliki pengaruh jangka panjang, langkah berikutnya harus lebih besar daripada hanya mengandalkan platform YouTube.

Obor Rakyat Reborn memerlukan sebuah website yang profesional dan dikelola secara serius.

Website tersebut dapat menjadi pusat dokumentasi seluruh hasil kerja jurnalistik yang diproduksi. Wawancara yang berlangsung selama satu atau dua jam dapat diolah menjadi artikel panjang yang lebih mudah dibaca. Pernyataan-pernyataan penting dapat diperkuat dengan data, dokumen, dan penelusuran lapangan.

Lebih jauh lagi, website tersebut dapat menjadi ruang bagi laporan investigasi yang tidak ditemukan di media lain.

Indonesia membutuhkan lebih banyak jurnalisme investigatif. Persaingan media saat ini terlalu banyak berputar pada kecepatan. Semua berlomba menjadi yang pertama. Padahal yang sering dibutuhkan publik justru bukan siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling dalam menggali persoalan.

Obor Rakyat Reborn memiliki peluang mengisi kebutuhan tersebut. Setiyardi bukan orang baru dalam dunia jurnalistik. Ia memahami bagaimana membangun jaringan sumber informasi. Ia mengerti cara menyusun laporan yang menarik perhatian pembaca. Pengalaman puluhan tahun di dunia media merupakan modal yang tidak dimiliki banyak orang.

Karena itu akan sangat disayangkan apabila potensi tersebut hanya berhenti pada konten video.

Membangun website investigasi dapat menjadi lompatan besar yang memperkuat pengaruh Obor Rakyat Reborn di masa mendatang.

Gagasan lain yang juga menarik adalah forum diskusi rutin setiap hari Sabtu yang selama ini diselenggarakan Obor Rakyat Reborn.

Di era ketika ruang dialog semakin sempit dan perdebatan publik sering berubah menjadi saling serang di media sosial, forum semacam ini memiliki nilai yang penting.

Bangsa yang sehat membutuhkan ruang diskusi yang hidup. Bukan ruang yang hanya berisi orang-orang yang sepakat satu sama lain, melainkan ruang yang mempertemukan berbagai pandangan. Dari perbedaan itulah lahir pemahaman yang lebih matang.

Jika dikelola secara konsisten, forum Sabtu tersebut dapat berkembang menjadi salah satu pusat diskusi publik yang diperhitungkan. Akademisi, aktivis, mantan pejabat, tokoh agama, peneliti, dan jurnalis dapat bertemu dalam satu forum untuk membahas berbagai persoalan bangsa secara terbuka.

Tradisi intelektual semacam itu pernah menjadi kekuatan besar dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Pada akhirnya, perjalanan Setiyardi Budiono mengajarkan bahwa sejarah tidak pernah berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang dipuji. Ada masa ketika orang yang sama dicela. Ada masa ketika ia dianggap salah. Ada masa ketika sebagian pandangan terhadap dirinya mulai berubah.

Waktu sering menjadi hakim yang lebih tenang dibandingkan manusia. Karena itu, keberadaan Obor Rakyat Reborn tidak hanya berbicara tentang satu kanal YouTube atau satu tokoh bernama Setiyardi Budiono. Ia berbicara tentang keberanian mempertahankan keyakinan, tentang pentingnya ruang bagi suara yang berbeda, dan tentang pencarian panjang terhadap kebenaran yang sering kali datang terlambat.

Mungkin tidak semua orang akan sepakat dengan Setiyardi. Mungkin tidak semua orang menyukai Obor Rakyat Reborn. Itu adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi.

Namun selama masih ada keberanian untuk bertanya, keberanian untuk mengkritik, dan keberanian untuk membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan, maka obor itu akan terus menyala.

Dan dalam perjalanan panjang kehidupan berbangsa, sering kali nyala kecil itulah yang akhirnya membantu masyarakat melihat bagian-bagian yang selama ini tersembunyi di balik terang kekuasaan.

Penulis : Achsin El-Qudsy, Pemerhati Politik

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *